Nabi Adam menaati Iblis

April 17th 2013 by Abu Muawiah |

Nabi Adam menaati Iblis

وعن ابن عباس في الآية: “قال لما تغشاها آدم حملت فأتاهما إبليس فقال: إني صاحبكما الذي أخرجتكما من الجنة لتطيعاني  أو لأجعلن له قرني أيل، فيخرج من بطنك فيشقه، ولأفعلن ولأفعلن يخوفهما، سمياه عبد الحارث. فأبيا أن يطيعاه فخرج ميتا، ثم حملت فأتاهما فقال مثل قوله، فأبيا أن يطيعاه، فخرج ميتا. ثم حملت فأتاهما فذكر لهما فأدركهما حب الولد فسمياه عبد الحارث، فذلك قوله {جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا}” رواه ابن أبي حاتم.

Dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut (QS. Al-A’raaf : 190) ia berkata : ”Setelah Adam menggauli istrinya Hawaa’, maka ia pun hamil. Lalu Iblis datang kepada mereka berdua dan berkata : ”Sunguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkanmu dari surga. Demi Allah, hendaknya kamu mentaatiku. Kalau tidak, niscaya akan kujadikan anakmu itu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya. Demi Allah, pasti akan aku lakukan”. Demikianlah Iblis menakut-nakuti mereka berdua. Iblis melanjutkan : ”Namailah anakmu itu ’Abdul-Haarits”. Tetapi keduanya menolak untuk mematuhinya. Ketika bayi mereka lahir, lahirlah ia dalam keadaan mati. Kemudian Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dengan mengatakan seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Tetapi mereka berdua tetap menolak untuk mematuhinya, dan bayi mereka pun lahir lagi dalam keadaan mati. Selanjutnya, Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dan mengingatkan mereka apa yang pernah ia katakan. Karena Adam dan Hawwa’ lebih menginginkan keselamatan anaknya, akhirnya mereka mematuhi Iblis dengan memberi kepada anak mereka nama ’Abdul-Haarits. Itulah tafsiran firman Allah : ’Mereka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang Dia karuniakan kepada mereka”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (5/1634 no. 8654). Dibawakan pula oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (6/483),

Sanad hadits ini adalah dla’if karena perawi yang bernama Syuraik dan Khashiif.

Hadits ini dilemahkan oleh para muhaqqiqiin Tafsir Ibni Katsir (6/483). Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Asy-Syaikh Mahmud Syaakir juga mengingkari riwayat-riwayat yang mempunyai matan sebagaimana di atas dalam Tahqiq wa Takhrij ’alaa Tafsir Ath-Thabariy (13/309-310). Beliau mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi Nabi Adam ’alaihis-salaam berbuat kesyirikan menuruti perintah Iblis hanya demi seorang anak. Asy-Syaikh Al-Albani juga men-dla’if-kan hadits serupa dari jalur yang lain sebagaimana terdapat dalam Silsilah Adl-Dla’ifah (1/516-517 no. 342).

Catatan : Tidak dipungkiri bahwa riwayat sebagaimana di atas telah ternukil dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma dari para shahabatnya, diantaranya Mujaahid, Sa’id bin Jubair, dan ’Ikrimah. Juga dari ulama pada thabaqah kedua seperti Qataadah, As-Suddiy, dan banyak yang lainnya dari ulama salaf. Begitu juga jama’ah dari ulama khalaf. Ibnu Katsir (6/484) memberi penjelasan tentang ini bahwa sepertinya riwayat tersebut berasal dari ahli kitab, yaitu dimana Ibnu ’Abbas mengambilnya dari Ubay bin Ka’b radliyallaahu ’anhum sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (5/1633 no. 8653).

(Source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 17th, 2013 at 10:07 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.