Muhammad Hamba Allah dan Rasul-Nya

November 1st 2008 by Abu Muawiah |

Muhammad Hamba Allah dan Rasul-Nya

Syahadat Muhammad Rasulullah atau dengan redaksi yang lebih lengkap Muhammad Abdullahi wa Rasuluhu (Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya) mempunyai dua dasar pokok yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan:
1. Nabi Muhammad adalah Abdullah (Hamba Allah), yaitu kita meyakini bahwa kedudukan beliau (dari satu sisi) sama dengan semua makhluk di hadapan Allah. Beliau dihidupkan, diatur, dikuasai dan dimatikan oleh Allah Ta’ala dan beliau juga tunduk, merendah dan menyembah hanya kepada Allah Ta’ala sama seperti makhluk-makhluk Allah yang lain, walaupun tingkat penyembahan beliau jelas lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk yang lain.
2. Nabi Muhammad adalah Rasulullah (Utusan Allah), yaitu kita menetapkan bahwa kedudukan beliau  (dari sisi yag lain) lebih tinggi di atas makhluk yang lain karena beliau adalah seorang rasul.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang hamba (orang yang menyembah) maka tidak boleh disembah, dan beliau juga seorang rasul maka tidak boleh didustakan”.
Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah Ta’ala di akhir surat Al-Kahfi ayat 110, “Katakan (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku bahwasanya sesembahan kalian hanyalah sesembahan yang Esa”.
Dalam hadits Ubadah bin Ash-Shamit yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Siapa yang bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya …”.

Pokok Yang Pertama : Kedudukannya sebagai hamba.
Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh berkata, “Hamba  maknanya adalah yang dimiliki, yang menyembah yaitu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan dia tidak punya sedikitpun dari sifat-sifat Rububiyah dan sifat-sifat Uluhiyah sesungguhnya dia (Muhammad) hanyalah seorang hamba yang dekat di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla”. Lihat : Taysir ‘Azizil Hamid hal. 81-82.
Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Dan keharusan dari syahadat ini adalah tidak boleh diyakini bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam punya hak dalam rububiyah dan mengatur alam semesta atau punya hak dalam ibadah (hak untuk disembah). Bahkan dia (Rasulullah) seorang hamba tidak disembah dan Rasul tidak didustakan dan dia tidak memiliki sedikitpun kemampuan untuk memberi manfaat ataupun mudharat baik kepada dirinya ataupun selain dirinya kecuali apa yang Allah kehendaki sebagaimana firman Allah, “Katakanlah (wahai Muhammad): “saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi saya perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. saya tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. (Q.S.Al-An’am : 50)
Maka dia hamba diperintahkan untuk mengikuti apa-apa yang diperintahkan dengannya. Dan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Jin ayat 21, “Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya saya tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk”.
Dan firman Allah Ta’ala, “Katakanlah (wahai Muhammad) : “Saya tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan. saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. Lihat : Syarah Tsalasah Al-Ushul hal.71.

Hanya saja yang perlu diingat bahwa Allah telah menjadikan sifat ubudiah (penghambaan) sebagai sifat kesempurnaan pada seorang makhluk, dimana makhluk yang paling dekat di sisi-Nya adalah makhluk yang paling tinggi tingkat penghambaannya. Karenanyalah Allah menyifatkan para nabi dan rasul-Nya dengan sifat ubudiah ini. Seperti pada firman-Nya dalam surah An-Nisa` ayat 172, “Al-Masih sekali-sekali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak pula enggan malaikat-malaikat yang terdekat kepada Allah.” Juga firman-Nya dalam surah Shad ayat 17, “Dan ingatlah hamba Kami Daud,” pada ayat 41, “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub,” pada ayat 45, “Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishak dan Ya’qub”.
Karenanya Allah juga memuji Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dengan sifat ubudiah ini. Bahkan pada keadaan-keadaan yang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pantas untuk dipuji, Allah hanya memujinya dengan satu sifat, yaitu sebagai seorang hamba:
1. Ketika menantang orang-orang yang ragu terhadap mukjizat beliau, “Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami maka datangkanlah satu surah sepertinya”. (QS. Al-Baqarah: 25)
2. Ketika disebutkan bahwa beliau mendapat Al-Kitab, “Maha berkah Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hambaNya”. (QS. Al-Furqan: 1)
3. Ketika beliau sedang shalat, “Dan sesungguhnya tatkala berdiri hamba Allah berdoa kepada-Nya.” (QS. Al-Jin: 19)
4. Pada peristiwa Isra`, “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada satu malam”. (QS. Al-Isra`: 1) Dan pada keadaan-keadaan mulia lainnya.
Karenanya Nabi -shollallahu alaihi wasallam- menjadikan ihsan dalam ubudiyah sebagai tingkatan paling tinggi dalam beragama sebagaimana dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Muslim, tatkala beliau ditanya oleh tentang Ihsan, maka beliau menjawab, “Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Baca : kitab Madarij As-Salikin jilid 1 hal.115-117.

Akan tetapi ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui yaitu bahwa ubudiah kepada Allah tidak akan lepas (berhenti) dari seorang hamba selama dia hidup di dunia bahkan di alam barzakh dan di hari kemudian, walaupun ubudiah di dunia tentunya berbeda dengan di alam barzakh dan di hari kemudian. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya dalam surah Al-Hijr ayat 99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan”. Keyakinan di sini adalah kematian menurut kesepakatan para ulama tafsir, berdasarkan firman Allah, “Dan kami dahulu mendustakan hari kemudian sampai datang kepada kami keyakinan”. (QS. Al-Muddatstsir: 46-47) Juga sabda beliau tentang kematian Utsman bin Mazh’un, “Adapun ‘Utsman maka sesungguhnya telah datang kepadanya keyakinan dari Rabbnya,” yaitu kematian. (HR. Al-Bukhari)
Maka barangsiapa yang menyangka bahwasanya dia telah sampai pada kedudukan dimana telah gugur dari dirinya semua kewajiban untuk menyembah Allah maka dia adalah zindiq lagi kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan jika kedudukan seorang hamba semakin kuat dan kokoh dalam penghambaan maka kewajibannya dari ubudiyahnya juga semakin banyak dan lebih besar daripada yang dibawah kedudukannya. Karenanya kewajiban Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam- bahkan semua rasul-rasul lebih besar dan lebih banyak dari pada kewajiban umat mereka. Dan kewajiban ulul ‘azmi dari rasul-rasul lebih banyak dari selain ulul ‘azmi, kewajiban bagi ulama lebih besar dari selainnya, setiap hamba tergantung pada kedudukannya (martabatnya). Lihat : Madarij As-Salikin jilid 1 hal.118.

Pokok Kedua : Kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul.
Umat Islam meyakini bahwasanya martabat kenabian adalah murni pilihan dari Allah, Allah menentukan hamba-hambaNya yang terpilih dari seluruh manusia untuk diangkan menjadi nabi. Allah mengkhususkannya dengan rahmat-Nya, memilihnya dengan keutamaan dan nikmat-Nya bukan sekedar karena adanya sifat-sifat lebih pada dirinya. Karenanya, jenjang kenabian ini tidak akan bisa diperoleh dengan ilmu atau latihan atau karena banyaknya ibadah dan ketaatan dan semacamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah ayat 105, “Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Allah memilih dari malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan dan juga dari manusia, Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia berikan risalah-Nya, maka Allah khususkan nabi-Nya dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan yang lainnya, dengan akal dan agama. Dia dipersiapkan untuk Dia khususkan dengan keutamaan-Nya dan rahmat-Nya sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Zukhruf ayat 31-32, “Dan mereka berkata: “Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Lihat : Minhaj As-Sunnah 2/416.
Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah menetapkan dengan lisan dan beriman dengan hati bahwasanya Muhammad bin Abdullah Al-Qurasi Al-Hasyimi adalah utusan Allah Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56)
Dan tidak ada ibadah kepada Allah kecuali dengan jalan wahyu yang Muhammad -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- datang dengannya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Furqan ayat 1, “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.

Wallahu a’lam bishshawab

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, November 1st, 2008 at 9:42 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.