Meraih Shalawat 70000 Malaikat

May 29th 2010 by Abu Muawiah |

14 Jumadil Akhir

Meraih Shalawat 70000 Malaikat

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ
“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin”. (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)
Dari Tsauban -budak- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ قَالَ جَنَاهَا
“Barangsiapa yang menjenguk orang yang sakit, maka orang itu senantiasa berada dalam khurfah surga.” Beliau ditanya, “Apa itu khurfah surga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kebun yang penuh dengan buah-buahan yang dapat dipetiknya.” (HR. Muslim no. 2568)
Ali radhiallahu anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lainnya pada pagi hari, kecuali 70000 malaikat akan bershalawat untuknya hingga sore hari. Jika dia menjenguknya di sore hari, maka 70000 malaikat akan bershalawat untuknya hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan kebun yang penuh berisi buah-buahan di surga kelak.” (HR. At-Tirmizi no. 969 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5767)
Makna shalawat dari malaikat adalah malaikat akan mendoakan agar Allah mengampuni dan merahmatinya.

Penjelasan ringkas:
Di antara akhlak mulia yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya adalah menjenguk saudaranya yang sakit, karena hal itu bisa meringankan penyakit yang diderita oleh saudaranya tersebut dan juga bisa menghibur hatinya. Bahkan menjenguk muslim yang sakit hukumnya adalah wajib karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikannya sebagai hak seorang muslim atas saudaranya muslim yang lain. Dan ini berlaku umum baik yang sakit adalah anak-anak maupun dewasa, lelaki maupun wanita, karib kerabat maupun bukan, hanya saja jika yang sakit itu adalah karib kerabat maka kewajibannya lebih ditekankan.

Adab-adab bagi para penjenguk:
1.    Mengingatkan orang yang sakit untuk selalu bersabar atas takdir Allah atas dirinya.

2.    Mewasiatkan kepada orang yang sakit untuk banyak-banyak bertaubat dan beristighfar kepada Allah.

3.    Dibolehkan menjenguk orang kafir jika ada peluang dia mau masuk Islam. Ini berdasarkan hadits Anas bin Malik riwayat Al-Bukhari no. 5657 dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menjenguk seorang pemuda Yahudi -yang menjadi pelayan beliau- ketika dia sakit.

4.    Menjenguk orang yang sakit boleh kapan saja selama tidak mengganggu orang yang sakit tersebut.

5.    Tidak terlalu lama menjenguk karena bisa mengganggu istirahat orang yang sakit, kecuali jika orang yang sakit meminta dia untuk tinggal lebih lama.

6.    Dianjurkan untuk duduk di samping kepala orang yang sakit.
Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam saat menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di samping kepalanya”. (HR. Al-Bukhari no. 536 dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab no. 416)

7.    Menanyakan keadaan orang yang sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika menjenguk Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tengah sakit. (HR. Al-Bukhari no. 5654 dan Muslim no. 1376)

8.    Mendoakan kebaikan dan kesembuhan untuk orang yang sakit, karena para malaikat akan mengaminkannya.
Dari Ummu Salamah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا حَضرْتُمْ اْلَمرِيْضَ أَوْ اْلَميِّتَ فَقُوْلُوْا خَيْرًا فَإِنَّ اْلَملاَئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلىَ مَا تَقُوْلُوْنَ
“Apabila kalian menjenguk orang yang sedang sakit atau yang telah meninggal maka ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik, karena sesungguhnya para malaikat akan mengaminkan apa yang kalian katakan.” (HR. Muslim no. 1527)

9.    Di antara doa-doa yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:
لاَبَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Tidak mengapa, insya Allah penyakit ini penyuci (dari dosa-dosa).” (HR. Al-Bukhari no. 3616)
اللّهُمَّ اشْـفِ فُلاَنًا
“Ya Allah, sembuhkanlah si fulan.” (HR. Al-Bukhari no. 5659 dan Muslim no. 1628)
Atau dia boleh meruqyah orang yang sakit tersebut dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepadanya.

10.    Tidak membawakan bunga kepada orang yang sakit karena itu merupakan kebiasaan orang-orang non muslim. Sebaiknya dia membawakan makanan atau hal lain yang dia senangi.

11.    Jika sakitnya terlihat sangat parah dan dikhawatirkan akan meninggal, maka disyariatkan bagi penjenguk untuk mentalqin kalimat ‘laa ilaha illallah’ kepada yang sakit.
[Diringkas dari risalah Adab ‘Iyadah Al-Maridh karya Majid bin Su’ud Al-‘Ausyan]

Pembahasan mengenai adab-adab menjenguk orang yang sakit secara lengkap bisa didownload di bawah. Filenya merupakan terjemahan dari kitab Fiqh Al-Adab karya Fuad bin Abdil Aziz Asy-Syalhub pada bab Adab Menjenguk Orang yang Sakit.

Download adab menjenguk

Incoming search terms:

  • SHALAWAT MALAIKAT
  • sholawat malaikat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, May 29th, 2010 at 2:46 pm and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Meraih Shalawat 70000 Malaikat”

  1. imam said:

    ustadz, bgmn klo yg sakit itu adalah seorang yg senantiasa melakukan ke bid’ahan?

    Butuh dibedakan apakan dia sudah sampai taraf ahli bid’ah atau belum. Jika belum maka kita tetap wajib menjenguknya. Tapi jika sudah sampai taraf ahli bid’ah maka butuh dipertimbangkan antara masalahat dengan mafsadat yang akan muncul jika kita menjenguknya. Jika maslahat lebih besar maka dia dikunjungi tapi jika mafsadat lebih besar maka sebaiknya tidak dikunjungi

  2. imam said:

    Berarti tidak setiap orang yang selalu bahkan setiap hari melakukan kebid’ahan tergolong ahli bid’ah ? Kapan seseorang itu bisa dikategorikan ahli bid ah? dan siapa yang berhak untuk memvonis seseorang ahli bid’ah ato bukan ? mohon penjelasan ringkasnya, supaya saya tidak salah paham..

    Asy-Syathibi rahimahullah menyebutkan dua perkara yang menyebabkan seorang keluar dari ahlussunnah:
    1. Menyelisihi salah satu dari ushul aqidah ahlissunnah.
    2. Memperbanyak menyelisihi furu’ yang disepakati oleh ahlussunnah.
    Yang berhak menghukumi seseorang sebagai ahli bid’ah adalah orang yang bisa menegakkan hujjah atasnya dalam artian menghilangkan semua kebingungannya dan tidak ada padanya faktor penghalang untuk dia dihukumi.

  3. rubak sayyia said:

    very good… mdh2an allah selalu meridhoi setiap langkah kita.aamiin

  4. rubak sayyia said:

    gmn nich saya mo tny…! apakah setiap kali kita berzikir kepada allah,baik itu baca alqur’an atau dzikir2 yg lain apa ada malaikat yang masuk ketubuh kita? soalnya ada rasa enak dan tentrem kalo udah dzikir. mohon penjelasan

    Itu adalah khurafat. Adapun rasa enak dan tentram, maka itu adalah ketenangan yang Allah berikan kepada setiap orang yang berdzikir kepadanya, bukan dikarenakan ada yang merasuk ke dalam tubuhnya.