Menyoal Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf -’alaihis salam-

September 2nd 2012 by Abu Muawiah |

Menyoal Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf -’alaihis salam-

Disebutkan dalam Surah Yusuf bahwa beliau memiliki saudara-saudara yang pernah menyakitinya, lalu mereka bertobat. Permasalahan yang sering muncul, “Apakah saudara-saudara Yusuf adalah para nabi ataukah bukan nabi?!”

Pertanyaan seperti ini pernah dijawab oleh Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah-,

“Dalam hal saudara-saudara Yusuf –alaihis salam-, terdapat dua pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang dipijaki oleh mayoritas ulama salaf dan kholaf (belakangan) bahwa mereka bukanlah nabi!! Adapun para salaf, maka tak pernah dinukil dari seorang pun diantara mereka yang menyatakan kenabian mereka. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah.

Aku tak pernah mengetahui hal itu dari seorang pun diantara para tabi’in. Adapun para tabi’ut tabi’in, maka ternukil dari Ibnu Zaid bahwa ia menyatakan tentang kenabian mereka. Ibnu Zaid diikuti oleh sekelompok kecil atas pendapat ini. Namun pendapat ini diingkari oleh mayoritas tabi’ut tabi’in dan orang-orang setelahnya.

Adapun ulama belakangan, maka para ahli tafsir juga bermacam-macam. Diantara mereka ada yang berpendapat seperti pendapatnya Ibnu Zaid, seperti Al-Baghowiy. Diantara mereka ada juga yang serius dalam membantah (pendapat yang menyatakan kenabian mereka), seperti Al-Qurthubiy, Al-Imam Fakhruddin, Ibnu Katsir. Diantara mereka, ada yang hanya sekedar menyebutkan kedua pendapat itu, tanpa menguatkan (diantara salah satu dari kedua pendapat itu), seperti Ibnul Jawziy. Diantara mereka juga, ada yang tidak menyinggung masalah ini. Hanya saja ia menyebutkan sesuatu yang menunjukkan bahwa status mereka bukan nabi, seperti mereka menafsirkan kata “asbath” (الأَسْبَاطُ) bahwa mereka adalah orang-orang yang diangkat jadi nabi dari kalangan Bani Isra’il, seperti Abul Laits As-Samarqondiy dan Al-Wahidiy. Diantara mereka (para ahli tafsir), ada yang tidak menyebutkan sesuatu apapun. Akan tetapi, mereka menafsirkan kata “asbath” bahwa mereka adalah anak-anak Ya’qub. Karenanya, ada orang yang menyangka hal itu sebagai pendapat yang menyatakan kenabian mereka. Padahal yang dimaksudkan tentang mereka adalah anak cucunya, bukan anak kandung Ya’qub sebagaimana akan datang pemaparan hal itu.

Al-Qodhi Iyadh berkata dalam Asy-Syifa, “Saudara-saudara Yusuf tak nyata kenabian mereka”.

Penyebutan kata asbath (الأَسْبَاطُ) di dalam Al-Qur’an ketika menyebutkan para nabi, para ahli tafsir berkata, “Yang dimaksudkan, mereka yang diangkat menjadi nabi dari kalangan anak-anak asbath. Silakan lihat nukilan dari para ahli tafsir dari semisal Al-Qodhi.

Ibnu Katsir berkata, “Ketahuilah bahwa tak ada dalil suatu dalil tentang kenabian saudara-saudara Yusuf. Lahiriah konteks Al-Qur’an menunjukkan sesuatu yang menyalahi kenabian mereka. Diantara manusia ada yang mengklaim bahwa mereka diberi wahyu setelah itu. Namun pendapat ini perlu dikritik dan orang yang mengklaim demikian perlu dalil. Orang-orang yang berpendapat seperti ini tak menyebutkan, selain firman Allah -Ta’ala-,

…وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ… [البقرة : 136]

“…dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak cucu Ya’qub)…”. (QS. Al-Baqoroh : 136)

Ini pun masih mengandung kemungkinan lain. Sebab, anak keturunan Bani Isra’il juga disebut dengan “asbath” (الأَسْبَاطُ) sebagaimana halnya dikatakan keturunan bagi orang-orang Arab sebagai “qobilah” (kabilah) dan keturunan bagi orang-orang ajam disebut “sya’bun”.

Jadi, Allah -Ta’ala- menyebutkan bahwa Dia memberikan wahyu kepada para nabi dari kalangan asbath (anak cucu) Bani Isra’il. Allah sebutkan mereka secara global lantaran mereka banyak.

Akan tetapi setiap asbath (anak cucu) berasal dari anak keturunan saudara-saudara Yusuf. Tak ada dalil yang menunjukkan tentang pribadi-pribadi mereka itu bahwa mereka diberi wahyu”. Selesai ucapan Ibnu Katsir.

Al-Wahidiy berkata, “Asbath berasal dari anak keturunan Nabi Ishaq sekedudukan “qobilah” yang berasal dari keturunan Nabi Isma’il. Di antara para asbath, ada beberapa orang nabi.

Allah -Ta’ala- berfirman,

…وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ… [يوسف : 6]

“…dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub…” (QS. Yusuf : 6)

Maksudnya, orang-orang yang diistimewakan dengan kenabian diantara mereka.

As-Samarqondiy berkata tentang firman Allah -Ta’ala-,

…وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ… [البقرة : 136]

“…dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak cucu Ya’qub)…”. (QS. Al-Baqoroh : 136)

Kata “asbath” menurut bahasa mereka sama dengan kata “qobilah” bagi orang Arab. Wahyu hanyalah diturunkan kepada para nabi mereka, sedang mereka yang mengamalkannya. Itulah sebabnya, turunnya wahyu disandarkan kepada mereka sebagaimana halnya Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, namun turunnya wahyu disandarkan kepada umatnya. Makanya berfirman,

…وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا…

“…dan apa yang diturunkan kepada kami…” (QS. Al-Baqoroh : 136)

Nah, demikian pula para “asbath”; telah diturunkan wahyu kepada para nabi mereka, lalu Allah pun sandarkan perkara turunnya wahyu kepada para asbath (anak cucu Ya’qub), karena merekalah yang mengamalkan wahyu itu”.

As-Samarqondiy berkata tentang firman Allah -Ta’ala-,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ… [النساء : 163]

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak cucu Ya’qub)…”. (QS. An-Nisaa’ : 163)

Kata As-Samarqondiy, “Mereka adalah anak keturunan Ya’qub yang diberikan wahyu kepada para nabi mereka”. Selesai ucapan As-Suyuthiy [Lihat Al-Haawi lil Fataawa (1/298) karya As-Suyuthiy, dengan tahqiq Abdul Lathif Hasan Abdur Rahman, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1421 H]

Para pembaca yang budiman, apa yang dinyatakan oleh Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah-, sebelumnya telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berdasarkan argumen yang amat kuat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata,

“Pendapat yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an, bahasa Arab dan penelitian bahwa saudara-saudara Yusuf bukanlah nabi. Tak ada berita di dalam Al-Qur’an, dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya bahwa Allah -Ta’ala- mengangkat mereka sebagai nabi. Orang-orang yang berpendapat bahwa mereka adalah nabi hanyalah berhujjah dengan firman Allah, “(…والأسباط…)” dalam dua ayat dalam Surah Al-Baqoroh dan An-Nisaa’ (yakni dua ayat yang telah disebutkan oleh As-Suyuthiy di atas, -pen.).

Mereka menafsirkan kata “asbath” bahwa mereka adalah anak-anak Ya’qub. Pendapat yang benar bahwa bukanlah yang dimaksudkan dengannya anak-anak kandung Ya’qub, bahkan mereka adalah anak cucu Ya’qub, sebagaimana halnya mereka juga dinamai dengan “Bani Isra’il”.

Diantara anak cucu Ya’qub, ada beberapa orang nabi. Jadi, asbath (anak cucu Nabi Ya’qub) dari kalangan Bani Isra’il, seperti qobilah (kabilah) dari kalangan anak cucu Nabi Isma’il.

Abu Sa’id Adh-Dhorir[1], “Asal kata “asbath” adalah pepohonan yang lebat lagi banyak dahannya”.[2]

Jadi, mereka disebut “asbath”, saking banyaknya, sebagaimana halnya dahan-dahan berasal dari sebuah pohon, nah demikian pula para asbath (anak cucu) berasal dari Ya’qub. Kata “asbath” sama dengan kata “hafid” (anak cucu).

Hasan dan Husain adalah dua cucu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sedangkan “asbath” adalah anak cucu Nabi Ya’qub, yakni keturunan anak-anak beliau yang berjumlah 12.

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ (159) وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا  [الأعراف : 159-160]

“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang haq itulah mereka menjalankan keadilan. Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar…”. (QS. Al-A’raaf : 159-160)

Firman Allah ini amat gamblang menjelaskan bahwa “asbath” adalah umat-umat dari Bani Isra’il; setiap sibth (jamak dari kata asbath) adalah sebuah umat. Bukanlah asbath itu adalah anak-anak kandung Ya’qub yang berjumlah 12 orang. Bahkan tak ada gunanya menamai mereka demikian sebelum bertebarannya dari mereka anak keturunan dalam bentuk asbath (jumlah banyak). Jadi, keadaan sebenarnya bahwa sebuah sibth adalah kumpulan manusia.

Barangsiapa yang berkata (diantara para ulama), “Asbath adalah anak-anak Ya’qub”, maka ia tak memaksudkan bahwa mereka (asbath) adalah anak-anak kandung Ya’qub, bahkan ia maksudkan adalah keturunannya (anak cucunya), sebagaimana halnya dikatakan, “Bani Isra’il” (anak cucu Isra’il/Ya’qub), dan “Bani Adam” (Anak cucu Adam).

Jadi, mengkhususkan ayat itu dengan anak-anak kandung Ya’qub adalah sebuah kesalahan!!

Pengkhususan seperti ini tak ditunjukkan oleh lafazh dan makna (dari kata “asbath”). Barangsiapa siapa yang mengklaim hal itu, maka sungguh ia telah melakukan kekeliruan yang nyata.

Pendapat yang benar juga bahwa mereka disebut “asbath”, itu hanyalah terjadi sejak masanya Nabi Musa berdasarkan ayat yang lalu. Sejak itulah, diantara mereka ada kenabian. Sebab, tak diketahui bahwa diantara mereka ada seorang nabi sebelum Nabi Musa, kecuali Nabi Yusuf.

Diantara perkara yang mendukung hal ini bahwa Allah -Ta’ala-, tatkala menyebutkan para nabi dari kalangan anak cucu Ibrahim, maka Allah berfirman,

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86) وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87) [الأنعام : 84 – 87]

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.  Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan Saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (QS. Al-An’aam : 84-87)

Jadi, Allah sebutkan Nabi Yusuf dan nabi-nabi bersama beliau dan tidak menyebutkan asbath. Andaikan saudara-saudara Yusuf diangkat menjadi nabi sebagaimana halnya Yusuf diangkat sebagai nabi, maka sungguh mereka akan disebutkan bersama Nabi Yusuf.

Sungguh Allah juga menyebutkan tentang para nabi berupa pujian dan sanjungan yang selaras dengan kenabian mereka, walaupun itu sebelum kenabian sebagaimana Allah berfirman tentang Musa,

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [القصص : 14]

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Qoshosh : 14)

Allah juga berfirman seperti itu tentang Yusuf (yakni, dalam Surah Yusuf : 22, -pen.).

Di dalam sebuah hadits,

أكرمُ النَّاسِ يُوْسُفُ بْنُ يَعْقُوْبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ، نَبِيٌّ مِنْ نَبِيٍّ من نَبِيٍّ

“Manusia yang paling mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, seorang nabi dari seorang nabi dari seorang nabi”.[3]

Andaikan saudara-saudara Yusuf adalah nabi, maka tentunya mereka telah menyamai Yusuf dalam kemuliaan itu.

Allah -Ta’ala- ketika menyebutkan kisah Yusuf dan sesuatu yang mereka lakukan pada Yusuf, maka Allah menyebutkan pengakuan mereka tentang kesalahan mereka dan permintaan ampunan mereka dari bapak mereka.

Allah tidak menyebutkan diantara keutamaan mereka yang selaras dengan kenabian mereka dan tidak pula menyebutkan sedikitpun diantara kekhususan para nabi. Bahkan Allah tidak menyebutkan dari mereka tobat yang hebat, sebagaimana halnya Allah menyebutkan tentang dosanya, tanpa dosa mereka. Bahkan Allah hanya menyebutkan dari mereka pengakuan dan permintaan ampunan.

Allah –Subhanahu- juga tidak menyebutkan tentang seorang nabi pun –baik sebelum jadi nabi, maupun setelahnya- bahwa si nabi itu telah melakukan perkara-perkara besar seperti ini, berupa kedurhakaan kepada orang tua, memutuskan tali silaturahim, memperbudak manusia dan menjualnya ke negeri-negeri kafir, serta berdusta nyata dan selain itu berupa perkara yang Allah ceritakan tentang mereka.

Allah tidak menyebutkan sedikitpun sesuatu yang selaras dengan pemilihan dan pengkhususan yang mengharuskan kenabian mereka. Bahkan yang diceritakan oleh Allah menyelisihi hal itu, berbeda dengan perkara yang Allah sebutkan tentang Yusuf.

Kemudian, sungguh Al-Qur’an menunjukkan bahwa tak pernah ada seorang nabi pun yang pernah mendatangi Negeri Mesir, sebelum Musa, selain Nabi Yusuf, berdasarkan ayat dalam Surah Ghofir (ayat ke-34).

Andaikan diantara saudara-saudara Yusuf ada seorang nabi, maka pasti ia telah mendakwahi penduduk Mesir dan berita-berita kenabiannya akan tampak. Tatkala hal itu tak ada, maka diketahuilah bahwa tak ada seorang pun diantara mereka seorang nabi.

Ini beberapa segi yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.Para ahli sejarah telah menyebutkan bahwa saudara-saudara Yusuf, semuanya mati di Mesir dan juga Nabi Yusuf dan mewasiatkan agar dipindahkan ke negeri Syam. Akhirnya, Nabi Musa memindahkannya

Walhasil bahwa kesalahan tentang klaim kenabian mereka terjadi akibat sangkaan manusia bahwa saudara-saudara Yusuf adalah “asbath” (الأَسْبَاطُ). Padahal tidaklah demikian. Para “asbath” itu hanyalah anak cucu dari saudara-saudara Yusuf yang terbagi-bagi menjadi asbath (kaum yang berjumlah besar) sejak zaman Nabi Musa.

Setiap sibth (jamak asbath) umat yang besar. Andaikan yang dimaksud dengan asbath adalah anak-anak kandung Ya’qub, maka pasti Allah akan berkata, “…dan Ya’qub dan anak-anaknya…”. Karena, ini lebih ringkas dan gamblang. Nah, dipilihlah kata “asbath” atas kata “Bani Isra’il” untuk mengisyaratkan bahwa hanyalah terjadi di antara mereka sejak mereka dibagi-bagi menjadi beberapa “asbath” (umat yang besar) di zaman Nabi Musa. Wallahu A’lam”. [Lihat Jami’ Ar-Rosa’il (3/297-299) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dengan tahqiq Muhammad Uzair Syams, cet. Dar Alam al-Fawa’id, 1422 H]

[1] Dia adalah Ahmad bin Kholid Al-Baghdadiy, seorang ahli bahasa Arab. Lihat biografinya lebih luas dalam Lisan Al-Mizan (1/451/no. 494) karya Ibnu Hajar dan Bughyah Al-Wu’aah (no. 563) karya As-Suyuthiy.

[2] Lihat Lisan Al-Arab (7/308) karya Ibnu Manzhur Al-Afriqiy, cet. Dar Shodir,Beirut.

[3] Lafazh ini kami belum temukan. Namun disana ada riwayat yang semakna dengan hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 3382, 3390 dan 4688) dari Abu Hurairah secara marfu’.

[source: http://pesantren-alihsan.org/menyoal-kenabian-saudara-saudara-nabi-yusuf-alaihis-salam.html]

Incoming search terms:

  • saudara nabi yusuf
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, September 2nd, 2012 at 7:36 pm and is filed under Tanpa Kategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.