Menyalati Jenazah Fasiq

September 26th 2009 by Abu Muawiah |

Menyalati Jenazah Fasiq

Tanya:
Bolehkah tidak ikut menyelenggarakan jenazah si mayit yang semasa hidupnya tidak shalat? (08524212????)

Jawab:
Ini kembalinya kepada permasalahan apakah orang yang meninggalkan shalat secara terus-menerus karena malas itu kafir atau tidak? Yang benarnya dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas sahabat bahwa orang itu kafir jika telah tegak hujjah atasnya.
Jadi, jika si mayit ketika hidupnya telah dijelaskan kepadanya bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran dengan penjelasan yang betul-betul membuat dirinya yakin tapi dia tetap meninggalkan shalat, maka dia adalah orang yang kafir. Sehingga tidak perlu dimandikan, tidak perlu dishalati, dan tidak boleh dikubur di pekuburan kaum muslimin tapi dia dikuburkan begitu saja di tempat yang terpisah dari kaum muslimin atau digabungkan bersama kuburan orang-orang kafir.
Jika hujjah belum tegak atasnya atau padanya ada syubhat, maka kita harapkan orang ini masih muslim walaupun tetap dikhawatirkan atasnya kekafiran. Jika demikian keadaannya (yakni dia masih muslim) maka tetap wajib menyelenggarakan jenazahnya sebagaimana layaknya seorang muslim. Hanya saja perlu diketahui di sini bahwa:
Jika penanya adalah tokoh yang diikuti dan didengar ucapannya oleh masayarakat maka hendaknya dia tidak ikut dalam penyelenggaraan jenazah sebagai pelajaran bagi yang lain agar tidak meniru perbuatan si mayit. Sebagaimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah tidak ikut menshalati jenazah orang yang mati bunuh diri, tapi beliau hanya memerintahkan para shahabat untuk menyalatinya.
Tapi jika penanya bukanlah tokoh yang dianggap oleh masyarakat maka hendaknya dia tetap ikut dalam penyelenggaraan jenazah itu -jika dibutuhkan-, ikut menyalatinya dan mengantarkannya ke kubur. Karena jika dia tidak mengikutinya dikhawatirkan dia akan terkena sorotan dari masyarakat, dan bisa membahayakan dakwah dan ajaran agama yang dia amalkan di tempat tersebut.

Incoming search terms:

  • cara menyalati jenazah
  • menyalati jenazah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, September 26th, 2009 at 8:09 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Menyalati Jenazah Fasiq”

  1. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz ana mau tanya apakah orang yang meninggalkan shalat karena malas mengerjakan atau meremehkannya telah kafir dan murtad, bagaimana cara dia untuk bertaubat apakah perlu membaca 2 kalimat syahadat lagi dan mandi sebagaimana dilakukan oleh semua orang kafir yang baru masuk Islam ? Mohon penjelasannya

    Waalaikumussalam warahmatullah. Jika telah ditegakkan atasnya hujjah maka dia kafir menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama dan ini merupakan pendapat mayoritas sahabat. Cara bertaubat tentunya adalah dengan kembali ke dalam agama Islam dengan mengucapkan kembali 2 kalimat syahadat dan memperbaiki keislamannya. Adapun mandi diwajibkan sebelum mengucapkan 2 kalimat syahadat.

  2. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz jadi berdasarkan pendapat kuat tsb apakah setiap suami yang meninggalkan dan meremehkan shalat dan telah ditegakkan hujjah nyata dan jelas kepada suami tsb artinya sang suami telah bercerai dengan istrinya,mohon penjelasan Ustadz?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia, para ulama yang menguatkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat secara terus-menerus karena meremehkan atau malas, mereka menyatakan bahwa istri yang suaminya seperti itu dan telah ditegakkan atasnya hujjah maka dia harus meninggalkan suaminya karena tidak halal seorang muslimah bersuamikan lelaki musyrik. Antum bisa membaca beberapa fatwa ulama di zaman ini dalam masalah ini, seperti syaikh Ibnu Utsaimin, syaikh Muqbil, dan selainnya. Wallahu a’lam.

  3. Rizal said:

    Ustadz, pertanyaan ana kenapa sulit ya masuk ke artikel tanya jawab

    Wallahu a’lam, tapi seingat saya sejak bulan ramadhan kemarin ada beberapa pertanyaan antum yang ana jawab lewat situs ini tapi di bagian komentar.
    Insya Allah dalam waktu dekat akan kami buatkan tempat khusus untuk menuliskan pertanyaan, sementara kalau sulit bisa melalui email situs ini yang tertulis di bagian bahwa situs

  4. Rizal said:

    Tapi komentar yang terakhir bisa. padahal ana udah berulang kali mengirim bahkan sampai bertanya dibuku tamu. atas segala jawaban dan kebijaksanaan ustadz ana ucapkan Jazakallah khair.

    Waiyyakum

  5. Achmad Subchan said:

    Assalamu’alaikum wr. wb
    Tentang Kutbah Jum’at di masjid-masjid di Indonesia haruskah berbahasa arab, karena di masjid-masjid LDII mereka kutbah menggunakan bahasa arab, karena kutbah Jum’at adalah 2 rakaat shalat & 2 kutbah ?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Inti dari disyariatkannya khutbah adalah untuk mengingat Allah sebagaimana yang tersebut dalam surah Al-Jumuah. Karenanya jika semua jamaah yang mendengar paham bahasa arab, maka tidak ada masalah menggunakan bahasa arab. Hanya saja jika jamaahnya tidak paham bahasa arab -sebagaimana di Indonesia, termasuk di dalamnya jamaah LDII- maka tentunya khutbahnya dengan bahasa yang mereka bisa pahami agar mereka bisa mengingat Allah dengannya. Jika sang khatib menggunakan bahasa arab sementara jamaah tidak memahaminya maka bagaimana bisa mereka mendapatkan peringatan dan nasehat yang mana ini merupakan tujuan dari khutbah jumat?! Wallahu a’lam.

  6. Abdul said:

    Ustadz ana mau nanya, apakah kirkirah (pelayan nabi) termasuk kalangan shahabat? apakah Nabi menshalatkan jenazahnya?

    Ia dia termasuk sahabat. Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Ishabah (5/587) menggolongkan dia ke dalam sahabat, demikian halnya yang diperbuat oleh Ibnu Al-Atsir dalam Asadul Ghabah (4/497). Wallahu a’lam apakan Nabi menyolati jenazahnya, akan tetapi beliau bersabda tentang Kirkirah, “Dia berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 3074)

  7. Hamba Alloh said:

    Assalamu’alaikum ustadz…tlg beri kami jawaban atas permasalahan ini Ustadz :
    Jika ada kakek tua renta(skrg sudah agak tuli)dan semasa hidup tidak pernah menegakkan sholat (tidak tahu tatacaranya) apakah dia kafir?

    Di waktu muda dia menjadi wali nikah bagi anaknya (nikahnya disahkan oleh KUA) apakah pernikahan anaknya sah?

    Tegak hujjah itu yg bagaimana dan oleh siapa Ustadz?
    Terimakasih sekali atas jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Maaf kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang menjurus kepada orang tertentu seperti ini, karena ini berkenaan dengan masalah pengkafiran.
    Penegakan hujjah dilakukan oleh orang yang berilmu tentang permasalahan tersebut.

  8. eka puspa dewi said:

    assalamu’alaikum ustad…
    saya mo nanya ustad,sebenarnya apasih aspek-aspek pendidikan dalam penyelenggaraan yenazah. syukran sebelumnya atas semua jawaban ustad

    Waalaikumussalam.
    Maksud aspek2 pendidikan? kalau bisa lebih didetailkan