Menunda Menagih Piutang

September 10th 2010 by Abu Muawiah |

01 Syawal

Menunda Menagih Piutang

Dari Hudzaifah radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَلَقَّتْ الْمَلَائِكَةُ رُوحَ رَجُلٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَقَالُوا أَعَمِلْتَ مِنْ الْخَيْرِ شَيْئًا قَالَ لَا قَالُوا تَذَكَّرْ قَالَ كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ فَآمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُعْسِرَ وَيَتَجَوَّزُوا عَنْ الْمُوسِرِ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَجَوَّزُوا عَنْهُ
“Beberapa malaikat bertemu dengan ruh seseorang sebelum kalian, lalu mereka bertanya, “Apakah kamu pernah berbuat baik?” Dia menjawab, “Tidak.” Mereka berkata, “Cobalah kamu ingat-ingat!” Dia menjawab, “Memang dulunya saya pernah memberikan piutang kepada orang-orang, lantas saya perintahkan kepada pelayan-pelayanku agar memberikan tangguh kepada orang yang kesusahan, serta memberikan kelonggaran kepada berkecukupan.” Beliau bersabda, “Maka Allah Azza wa Jalla berfirman, “Hapuskanlah dosa-dosanya.” (HR. Muslim no. 1560)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَانَ الرَّجُلُ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا قَالَ فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
“Ada seorang laki-laki yang biasa memberi pinjaman (piutang) kepada orang lain dan dia berpesan kepada anaknya, “Jika kamu menagih orang yang dalam kesulitan maka bebaskanlah hutangnya, semoga dengan begitu Allah juga berkenan membebaskan (memaafkan dosa-dosa) kita.” Nabi bersabda, “Maka orang itu berjumpa dengan Allah (pada hari kiamat) lalu Allah membebaskannya (mengampuninya).” (HR. Al-Bukhari no. 3221 dan Muslim no. 1562)
Dari Abdullah bin Abu Qatadah bahwa Abu Qatadah pernah mencari seseorang yang berhutang kepadanya, tapi ternyata orang yang berhutang kepadanya itu berusaha bersembunyi dan menghindar. Ketika ditemukan, orang tersebut berkata, “Sungguh saya sedang dalam kesulitan.” Abu Qatadah berkata, “Demi Allah (apakah kamu berkata jujur)?” Dia berkata, “Demi Allah (saya berkata jujur).” Abu Qatadah melanjutkan, “Baiklah kalau begitu, sungguh saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللَّهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
“Barangsiapa yang mau diselamatkan Allah dari kesusahan pada hari kiamat, maka hendaklah dia memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan atau membebaskan hutangnya.” (HR. Muslim no. 1563)

Penjelasan ringkas:
Di antara syariat yang Allah tetapkan guna menjaga persatuan kaum muslimin dan memperkuat ukhuwah mereka adalah hendaknya pemilik piutang mengundurkan waktu penagihan dari yang berutang kepadanya jika memang orang tersebut betul-betul berada dalam kesusahan, bahkan kalau bisa dia membebaskan orang tersebut dari hutang. Dan sebagai ganti dari piutangnya, Allah Ta’ala akan memberikan kepadanya kemudahan dan keloggaran pada hari kiamat, bahkan lebih daripada itu Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Sebaliknya, Allah mewajibkan kepada setiap orang yang berutang untuk segera melunasi hutangnya ketika dia mempunyai kelonggaran. Dan Allah mengabarkan bahwa sehebat apapun amalan baik seseorang, maka semua itu tidak akan bisa menghapuskan hutangnya kepada manusia, sampai walaupun dia adalah seorang syahid di jalan Allah. Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ
“Yang terbunuh di jalan Allah (syahid) akan dihapuskan semua dosanya kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Karenanya, bagi siapa yang berkecukupan atau bahkan berlebihan tapi dia sengaja menunda-nunda pembayaran utangnya hingga memudharatkan orang yang mempunyai piutang. Maka pemilik piutang boleh menggugat orang tersebut di hakim agar hakim memaksa dia untuk membayar hutangnya atau menjual sebagian barangnya untuk menutupi hutangnya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, September 10th, 2010 at 4:02 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Menunda Menagih Piutang”

  1. aniez said:

    Alhamdulillah, artikel tersebut memberi pencerahan kepada saya, karena saya memiliki persoalan yang sama. Namun mungkin saya bukan orang yang bisa se’lega’ itu hatinya. Alasannya orang yang memiliki hutang pada saya selalu menunda2 pembayaran hutangnya meski diwaktu dia dalam kelonggaran, malah saya tahu dari orang lain dibelanjakan bukan untuk kebutuhan primer. Anehnya dibelakang saya dia bahkan menjelek-jelekkan nama saya. bagaimana menurut pandangan ustadz? Apa yang harus saya lakukan sehingga saya tidak lebih mudharat lagi?

    Semua terserah anda, anda berhak melakukan apapun, karena anda yang mempunyai hak dalam hal ini.

  2. wahid said:

    Bismillah,

    Ustadz, saya pernah mengikuti kajian yang membahas hutang piutang dan disebutkan disitu bahwa boleh bagi orang sebelum memberikan pinjaman kepada saudaranya sesama Muslim untuk mencari tahu apakah dia orang yang amanah dlm menunaikan hutangnya atau tidak, dan hal ini tidak termasuk ghibah yang diharamkan. (mohon koreksi kalau salah)

    Permasalahanya adalah saya mengetahui hal tsb (bolehnya mencari tahu ttg kejujuran/ke-amanahan calon peminjam) setelah saya memberikan pinjaman kepada seseorang. Apakah boleh juga mencari keterangan ttg kejujuran orang dimana saya telah terlanjur bertransaksi meminjamkan uang padanya ? Apalagi mulai terlihat tanda2 bahwa si peminjam ini susah untuk ditagih hutangnya setelah jatuh tempo

    Jazakallahu khaira

    Insyaallah tidak mengapa karena itu adalah haknya antum dan tidak dikategorikan dalam “Tajassus”,
    dan apapun hasilnya insyaAllah antum tetap mendapatkan pahala dari niat baik antum ketika memberikan pinjaman hutang dan lebih baik lagi jika antum memberi tangguh kepadanya,

    Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280). (MT)

  3. wahid said:

    Afwan ustadz, saya mau bertanya lagi..

    Ada contoh kasus seperti berikut :

    Seseorang pinjam uang sebanyak 4 juta rupiah dan berjanji melunasinya dlm tempo maximal 1 bulan. Setelah jatuh tempo si pemberi hutang menagih kepadanya, dan ternyata dia belum mampu membayar hutangnya dan minta udzur diperpanjang waktunya. Akhirnya si pemberi hutang memberi perpanjangan tempo sesuai yang disanggupi oleh si peminjam. Dan ternyata hal ini terulang beberapa kali, dimana setelah jatuh tempo & ditagih maka si peminjam kembali minta diberi udzur perpanjangan waktu pembayaran.

    Akhirnya si pemberi pinjaman menawarkan solusi yaitu boleh untuk membayar dengan dicicil semampunya, namun sayangnya si peminjam belum memberikan jawaban pasti akan solusi tersebut, apakah dia mau atau tidak mencicilnya.
    Tapi yang jelas dia menegaskan bahwa udzurnya menunda pembayaran hutangnya ini adalah udzur yang syar’i (tanpa menjelaskan lebih bagaimana syar’inya)

    Pertanyaannya :

    1. Apakah menawarkan pelunasan hutang dengan cara dicicil juga termasuk memberikan keringanan yang akan mendapatkan pahala ?

    2. Apa batasan Syariat Islam memberikan udzur kepada seseorang dlm hutangnya ? Maksudnya adalah kadar berapa miskinnya seseorang sehingga dia boleh menunda pembayaran hutangnya, walaupun sudah diberi keringanan dng mencicil semampunya ?

    Jazakallahu khaira

    1. Insya Allah itu termasuk kebaikan dan memberikan keringanan.
    2. Wallahu a’lam, kami tidak mengetahui kalau ada dalil yang membatasinya.