Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

October 9th 2011 by Abu Muawiah |

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

Copas (copy-paste) artikel atau link (dari blog lain) dalam dunia bloging sudah merupakan hal yang lumrah dan merupakan salah satu cara para bloger untuk mengisi content blog mereka. Dan sudah diketahui bersama bahwa ketika sebuah blog menukil artikel atau link dari blog lain, maka itu sama sekali tidak menunjukkan kalau kedua blog tersebut mempunyai koneksi atau hubungan atau kerjasama yang lebih khusus. Dan ini insya Allah yang dipahami oleh para bloger dan para pembaca blog. Hal itu karena terkadang seorang bloger menukil artikel dari blog lain dikarenakan dia setuju dengan isi artikel tersebut dan dia tidak bisa menulis sendiri atau dia tidak mempunyai referensi yang lengkap sebagaimana artikel yang akan dia nukil tersebut. Karenanya kita tidak bisa memastikan dua blog atau lebih itu mempunyai hubungan ‘khusus’ hanya berdasarkan salah satunya menukil artikel atau link dari blog yang lainnya.

Ini jika artikel yang dinukil adalah dalam masalah keduniaan, insya Allah bisa dipahami. Hanya saja permasalahan itu muncul jika artikel yang dinukil itu berkenaan dengan agama, dimana sebagian orang yang tidak jelas lagi jahil serta merta menghukumi dua blog atau lebih itu mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’ hanya karena salah satunya menukil artikel keagamaan dari yang lainnya. Padahal alasan bloger yang menukil dari blog lain biasanya juga sama seperti alasan penukilan artikel keduniaan di atas. Yakni: Karena bloger tersebut memandang isi artikel itu adalah kebenaran dan dia tidak mempunyai waktu untuk menulis seperti itu ataukah dia tidak mempunyai referensi yang dimiliki oleh artikel yang akan dinukil tersebut. Wallahul Musta’an. Dan tentunya, sudah menjadi etika dalam dunia bloging secara umum dan copas secara khusus, bahwa blog yang menukil haruslah menyertakan link asal artikel, sebagai bentuk amanat ilmiah darinya.

Demikian gambaran permasalahannya secara umum. Adapun secara khusus, masalahnya adalah: Ketika sebuah blog ahlussunnah menukil atau copas dari blog selain ahlussunnah, apakah langsung divonis jika kedua blog ini mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’?

Dari sisi kebiasaan yang berkembang dan ‘kode etik’ dalam dunia bloging sebagaimana yang tersebut di atas, jawabannya saya rasa sudah jelas bahwa: Kita tidak bisa langsung memvonis hal itu hanya karena masalah copas artikel atau penukilan link, dengan alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Adapun dari sisi hukum syar’i keagamaan, maka jawabannya sebenarnya juga sudah jelas, yakni boleh menukil ucapan selain ahlussunnah selama itu merupakan kebenaran dan itu tidak menunjukkan ahlussunnah tersebut mentazkiyah (merekomendasi) selain ahlussunnah tersebut. Jadi, sebenarnya hukum masalah ini sudah jelas. Akan tetapi ucapan dan tindakan dari sebagian orang yang tidak jelas yang dibangun di atas ketergesa-gesaan, kejahilan, dan kedengkian, membuat semuanya menjadi tidak jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Ilmu itu hanya setitik, akan tetapi dibuat banyak oleh orang-orang yang jahil.”

Karenanya artikel ini sengaja kami buat untuk meluruskan kesalahpahaman dan kejahilan yang terjadi dalam masalah ini, juga sebagai jawaban pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang masuk kepada kami mengenai masalah ini, dan sekaligus sebagai panduan bagi para bloger secara umum. Berikut penjabarannya:

Dalil-dalil akan wajibnya menerima kebenaran dan bahwa menerima kebenaran dari siapapun berada merupakan sifat orang-orang yang beriman.
Allah Ta’ala berfirman:
فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas, “Maka siapa saja yang Allah Subhanahu berikan hidayah kepadanya untuk mengambil kebenaran dimanapun kebenaran itu berada dan bersama siapapun kebenaran itu berada -walaupun kebenaran itu bersama dengan orang yang dia benci dan dia musuhi- dan untuk menolak kebatilan bersama siapapun kebatilan tersebut -walaupun kebatilan itu bersama dengan orang yang dia sayangi dan dia tolong-, maka orang seperti inilah yang tergolong ke dalam orang-orang yang diberi hidayah menuju kebenaran dalam setiap masalah yang diperselisihkan. Inilah orang yang paling berilmu, paling benar jalannya, dan paling kuat ucapannya.” (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah: 2/516)
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوأَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8 )
Dan di antara bentuk berbuat adil kepada musuh adalah menerima dan menyetujui kebenaran yang ada pada mereka. As-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya menafsirkan ayat di atas, “Sebagaimana kaliam bersaksi menguatkan teman kalian maka kalian juga harus bersaksi melawan teman kalian (jika dia memang salah, pent.). Dan sebagaimana kalian bersaksi melawan musuh kalian maka kalian juga harus bersaksi mendukungnya (jika dia memang benar, pent.). Maka walaupun musuh itu adalah orang kafir atau penganut bid’ah maka tetap wajib berlaku adil kepadanya dan wajib menerima kebenaran yang mereka bawa. Kita terima kebenaran itu bukan karena dia yang mengucapkannya (akan tetapi karena ucapannya itu memang kebenaran, pent.). Dan kebenaran tidak boleh ditolak hanya karena dia (musuh) yang mengucapkannya, karena perbuatan seperti ini adalah kezhaliman terhadap kebenaran.”
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا لَنَا لاَ نُؤْمِنُ بِاللّهِ وَمَا جَاءنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ
“Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Maidah: 84)
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas, “Maka wajib atas setiap manusia untuk membenarkan (baca: menerima) kebenaran yang diucapkan oleh orang lain, sebagaimana jika kebenaran itu diucapkan oleh dirinya sendiri. Dia tidak boleh mengimani makna ayat yang dia gunakan berdalil namun dia menolak makna ayat yang digunakan berdalil oleh lawannya. Dia tidak boleh menerima kebenaran hanya dari satu kelompok lalu dia menolak kebenaran dari kelompok lainnya.” (Dar`u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: 8/404)
Dari Qutailah radhiallahu anha -seorang wanita dari Juhainah-, bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata:
أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ
“Sesungguhnya kalian membuat tandingan (untuk Allah) dan sungguh kalian telah berbuat syirik. Kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak kamu’. Dan kalian katakan, ‘Demi Ka’bah’.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah untuk mengucapkan, ‘Demi Tuhan Pemilik Ka’bah’, dan mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak kamu’.” (HR. An-Nasai no. 3713)
Hadits ini jelas menunjukkan bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima kebenaran yang diucapkan oleh orang-orang Yahudi. Lalu beliau menetapkan hukum berdasarkan kebenaran yang beliau dengar dari Yahudi tersebut. Kebencian beliau kepada orang-orang Yahudi tidak menjadikan beliau menolak kebenaran yang mereka ucapkan.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia bercerita:
وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk menjaga harta zakat. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menyusup hendak mengambil makanan, maka aku pun menyergapnya seraya berkata, “Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..” lalu ia bercerita dan berkata, “Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah setan.” (HR. Al-Bukhari no. 4624)
Hadits ini yang paling sering digunakan oleh para ulama untuk berdalil wajibnya menerima kebenaran dari siapapun walaupun dari pihak musuh. Sisi pendalilannya jelas, bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam membenarkan dan menyetujui ucapan setan yang menganjurkan Abu Hurairah untuk membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dan sebaliknya, di antara karakteristik orang-orang kafir adalah menolak kebenaran jika kebenaran tersebut tidak diucapkan oleh golongan mereka.
Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاء اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 91)
Allah Ta’ala berfirman:
فَقَدْ كَذَّبُواْ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنبَاء مَا كَانُواْ بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
“Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An’am: 5)
Allah Ta’ala berfirman:
وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُل لَّسْتُ عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ
“Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.” (QS. Al-An’am: 66)
Allah Ta’ala berfirman:
بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَّرِيجٍ
“Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.” (QS. Qaf: 5)
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa menolak kebenaran, di pihak manapun kebenaran itu berada merupakan tindakan kesombongan yang nyata. Di dalam sabdanya:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain.” (HR. Muslim no. 131)

Menerima kebenaran dari siapapun merupakan fitrah manusia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan kami tunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Manusia dilahirkan secara fitrah untuk menerima kebenaran.”
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata dalam Syirkiyat wa ‘Aqa`id Shufiah (1/1), “Maka tidak ada seorangpun di antara kita kecuali Allah telah memberinya fitrah untuk menerima dan mencintai kebenaran.”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Karena Allah Ta’ala telah menciptakan hamba-hambaNya dalam keadaan hanif (bertauhid) dan mereka difitrahkan untuk menerima dan lebih mendahulukan kebenaran.”
Karenanya orang yang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu diucapkan oleh selain ahlussunnah, maka sungguh dia telah melenceng dari fitrahnya yang lurus, wallahul musta’an.

Ucapan para ulama ahlussunnah dalam wajibnya menerima kebenaran dari selain ahlussunnah.
Muadz bin Jabal radhiallahu anhu berkata:
اِقْبَلُوا الْحَقَّ مِنْ كُلِّ مَنْ جَاءَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ كَافِراً – أَوْ قَالَ فَاجِراً –
“Terimalah kebenaran dari siapa saja yang membawanya, walaupun dia adalah orang kafir -atau beliau berkata: Orang fasik-.” (Riwayat Al-Baihaqi)
Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Dan Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil dan lurus. Karenanya, jika ada orang yahudi atau nashrani -apalagi hanya orang syiah rafidhah- yang mengucapkan kebenaran, maka kita tidak boleh meninggalkannya atau menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi yang kita tolak hanyalah yang mengandung kebatilan, bukannya yang mengandung kebenaran.” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiah: 2/342)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Terimalah kebenaran dari setiap orang yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapa saja yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu sayangi.” (Madarij As-Salikin: 3/522)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah berkata dalam sebuah artikel yang berudul Qubul Al-Haq, “Kalian sudah mengetahui -semoga Allah menjaga kalian- bahwa dakwah ahlussunnah tegak di atas kebenaran: Mencari kebenaran, mempelajarinya, menerimanya, berdakwah kepadanya, bersabar menapakinya, dan membuang yang menentangnya.” Beliau juga berkata, “Maka terimalah kebenaran secara mutlak, baik kebenaran itu mendukungmu maupun kebenaran itu menentangmu.” [Artikel selengkapnya bisa dibaca di: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=237449]

Harus dibedakan antara menerima kebenaran dengan mencari kebenaran.
Maka harus dibedakan antara menerima kebenaran dengan mencari kebenaran, dan antara menerima ilmu yang benar dengan menuntut ilmu yang benar. Pembedaan ini dari sisi bahwa menerima kebenaran dan ilmu yang benar itu dari siapa saja -walaupun dari selain ahlussunnah- berdasarkan semua dalil yang telah berlalu. Sementara mencari kebenaran dan menuntut ilmu yang benar harus hanya kepada para ulama ahlussunnah, tidak kepada selain mereka.
Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah pernah ditanya dengan nash pertanyaan:
Apakah ucapan berikut ini benar? Dan tolong ditambahkan penjelasan tentangnya, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan, amin. Ucapan yang dimaksud adalah: Kebenaran diterima dari siapa saja yang mengucapkannya dan kebatilan ditolak dari siapa saja yang mengucapkannya. Karenanya jika seorang penganut bid’ah -bahkan walaupun itu setan- mengucapkan ucapan yang benar, maka kebenaran ini diterima dan disetujui darinya. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
Akan tetapi tidak boleh mengambil ilmu dan mencari kebenaran dari penganut bid’ah tersebut, sebagaimana yang sudah menjadi manhaj as-salaf ash-shaleh. Akan tetapi kebenaran hanya dicari dari para ulama yang beramal dengan kebenaran tersebut, yaitu para ulama ahlussunnah, bukan selain mereka.
Maka beliau menjawab:
Kaidah ini benar insya Allah. Kebenaran diterima dari siapapun yang membawanya, namun tidak semua orang mengucapkan kebenaran itu menjadi imam dalam kebenaran. Setan yang mengajari Abu Hurairah radhiallahu anhu ayat kursi, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya, “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta.” Dan juga sang rahib yahudi yang berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Abu Al-Qasim, sesungguhnya kami mendapati di dalam Taurat bahwa Allah mengangkat langit-langit di atas satu jari,” sampai akhir hadits. Mendengar hal itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bertasbih dengan membaca, “Subhanallah, subhanallah,” seraya tertawa hingga nampak geraham beliau karena membenarkan ucapan sang rahib.” (Dhawabith fi Mu’amalah As-Sunni li Al-Bid’i, pertanyaan no. 6)
Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullahu berkata, “Kebenaran diterima dari siapa saja yang datang membawanya walaupun dia adalah orang kafir. Sebagaimana diterimanya kebenaran dari setan, seperti yang tersebut dalam kisah yang masyhur antara Abu Hurairah bersama setan di dalam peristiwa penjagaan zakat fithri. Dimana setan datang mengambil (baca: hendak mencuri) namun Abu Hurairah menangkapnya. Kemudian dia datang lagi namun ditangkap lagi, kemudian dia datang lagi namun ditangkap lagi. Kemudian setan berkata kepadanya, “Maukah engkau aku tunjukkan sebuah ucapan yang apabila engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi aman atau kamu akan terjaga sepanjang malam? Bacalah ayat kursi setiap malam karena sesungguhnya engkau akan senantiasa pendapatkan penjagaan dari Allah sampai datangnya waktu pagi.” Kemudian Abu Hurairah mengabarkan hal ini kepada Nabi alaihishsholatu wassalam. Lalu Nabi alaihishsholatu wassalam bersabda: “Dia telah jujur padamu padahal dia adalah pendusta.” Beliau menerima pengajaran (setan) ini dan beliau mengambilnya padahal pengajaran ini berasal dari setan.” (Diterjemah dari Masaa`il fi Al-Hajri wa Maa Yata’allaqu Bihi via: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=23982)

Menukil dari selain ahlussunnah bukanlah tazkiah (rekomendasi) terhadap mereka.
Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata, ”Dan hal ini termasuk manhaj yang bersifat umum dalam penegakkan hujjah dan penjelasan hujjah dalam semua bab-bab permasalahan agama. Yaitu bahwasanya tidaklah melazimkan seseorang yang menukil dari sebuah buku bahwa itu artinya dia mentazkiyahnya secara mutlak. Seseorang terkadang menukil darinya yang sesuai dengan kebenaran dalam rangka menyokong kebenaran, walaupun dia (penulis buku itu) menyelisihi kebenaran dalam masalah lainnya. Maka tidaklah tercela orang yang menukil dari buku yang mengandung kebenaran dan kebatilan, apabila yang dia nukil adalah bagian mengandung kebenaran. Lagipula, memperbanyak penukilan (sebuah kebenaran, pent.) dari orang-orang bersamaan dengan berbeda-bedanya mazhab dan pemikiran mereka, hal ini menunjukkan bahwa kebenaran (yang dinukil) itu bukanlah hal yang tersembunyi, namun kebenaran tersebut sudah banyak tersebar luas.” (Diterjemah dari Masaa`il fi Al-Hajri wa Maa Yata’allaqu Bihi via: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=23982)
Kami juga pernah bertanya langsung kepada Asy-Syaikh Abdullah Mar’i tentang hukum membaca dan mengambil manfaat dari kitab yang ditulis oleh ulama yang dulunya ahlussunnah lalu belakangan dia menyimpang dari ahlussunnah, sementara kitab tersebut ditulis ketika dia masih berada dalam mazhab ahlussunnah.
Maka beliau hafizhahullah menyatakan bolehnya dengan catatan tetap mengingatkan (jika dia mengajarkan buku itu) bahwa penulisnya sekarang bukan lagi ahlussunnah. Maka ini juga menunjukkan kalau beliau membenarkan mengambil kebenaran yang ditulis oleh selain ahlussunnah.

Insya Allah inilah manhaj yang benar dan sikap yang inshaf serta adil dalam permasalahan ini, yaitu:
a.    Wajib menerima kebenaran walaupun yang mengucapkannya adalah selain ahlussunnah.
b.    Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah tidak sama seperti menuntut ilmu dari selain ahlussunnah. Yang pertama dibenarkan dan yang kedua dilarang.
c.    Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah bukanlah bentuk dukungan dan rekomendasi terhadap selain ahlussunnah tersebut, akan tetapi ini merupakan penunaian hak dari kebenaran. Dimana hak kebenaran adalah dia harus diterima darimanapun datangnya.

Contoh amalan ulama dalam masalah ini:
Karenanya, kita mendapati para ulama ahlussunnah dari dahulu hingga belakangan, mereka tidak segan-segan untuk menukil ucapan selain ahlussunnah di dalam tulisan atau ucapan mereka, jika ucapan tersebut memang mengandung kebenaran. Berikut di antara contohnya:
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdasi rahimahullah mengumpulkan hal-hal yang baik dari kitab Ihya` Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah lalu menyusunnya menjadi kitab Minhaj Al-Qashidin. Dan para ulama menyatakan bahwa Al-Ghazali rahimahullah tidak pernah menulis karya apapun setelah dia bertaubat. Sementara status kitab Al-Ihya` ini saya rasa sudah cukup jelas di kalangan para penuntut ilmu, mengenai banyaknya kekeliruan dan kesalahan yang tersebut di dalamnya, dan kitab itu jelas ditulis oleh Al-Ghazali rahimahullah sebelum dia bertaubat. Maka amalan Ibnu Qudamah ini jelas menunjukkan bolehnya menukil kebenaran dari buku yang ditulis oleh selain ahlissunnah.
Di dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Asy-Syaikh Al-Mubarakfuri, beliau mengutip ucapan dari kitab Husain Haikal, Sayyid Quthub, dan selainnya.
Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah menukil ucapan Sayyid Quthb dan Umar At-Tilmisani dalam Manhaj Al-Anbiya` fi Ad-Da’wah ilalllah hal. 181-186, yang berisi anjuran keduanya kepada para politikus untuk memperhatikan akidah.
Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Al-Ath’imah beberapa kali menukil ucapan Sayyid Quthb dari tafsir Fii Zhilal Al-Qur`an.
Dan masih banyak lagi contoh lainnya, insya Allah akan ditambahkan jika memang dirasa perlu untuk ditambahkan. Akan tetapi insya Allah contoh-contoh ini sudah mencukupi bagi orang yang berakal dan yang inshaf dalam berbuat. Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • terimalah kebenaran walau dari anak kecil
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, October 9th, 2011 at 5:05 pm and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

48 responses about “Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah”

  1. abuahmadsiraj said:

    Jazaakallaahu khairan atas pencerahan ini, ustadz.

  2. abuahmadsiraj said:

    oh iya ustadz, ada gambar perasaan/emotion setelah tulisan Q.S Al-Maidah:…. ). Mungkin itu adalah hal yang otomatis setelah menulis: “titik dua dan angka tertentu dan balas kurung”. jadi mungkin untuk menghilangkannya yakni dengan memberikan spasi pada setiap katakter. Baarakallaahu fiik.

    Jazakallahu khairan, sudah saya rubah.

  3. Nanang Al Makassary said:

    baarokalloohu fiik yaa ustadz…atas penjelasannya,
    ….semoga hati kita semua bisa tetap dipersatukan oleh Alloh ‘azza wa jalla di atas manhaj ahlussunnah ini dan tetap istiqomah sampe akhir hayat berada di atas manhaj salaf…
    Amiiin…

  4. Abu namira hasna said:

    Bismillah. Assalamualaykum. Alhamdulillah. Ustadz, artikel sangat bagus dan ilmiah sekali, jazakallah khairan. Ustadz ana minta izin untuk copas ke blog ana.

  5. ramadhan said:

    Semoga Allah menjaga saya dan pemilik web ini serta seluruh salafiyyun agar terus beramal di atas manhaj salaf.

  6. abu 'aisy4h said:

    Bismillah,

    Dari paragraf diatas:

    “Maka beliau hafizhahullah menyatakan bolehnya dengan catatan tetap mengingatkan (jika dia mengajarkan buku itu) bahwa penulisnya sekarang bukan lagi ahlussunnah..”

    pertanyaannya:

    1. Berarti “syarat yang harus ada” adalah kita harus menjelaskan kekeliruan penulis dari artikel yang kita nukil tersebut ya? Karena kalau tidak, justru bisa jadi orang awam akan menganggapnya sebagai rekomendasi atas website atau blog yang kita nukil tersebut, apalagi jika copas secara keseluruhan.

    Kesalah pahaman orang awam tersebut akan menjadikan dia mengambila juka artikel selain artikel yang kita nukil tersebut.

    jazakumulloh khoiron.

    Betul, hanya saja menjelaskan kesalahan adalah fardhu kifayah. Kapan sudah ada yang menjelaskan maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya. Ini menjadi salah satu alasan kepada al-atsariyyah.com tidak pernah menampilkan artikel/coment yang berisi kritikan kepada jamaah/individu tertentu, karena alhamdulillah sudah banyak blog ahlussunnah lain yang menjelaskannya.

  7. Abdullah said:

    Afwan, berarti boleh menukil tanpa menjelaskan kesalahan penulisnya? Bukankah itu membuat orang awam mengambil tulisan2 yg lain?

    Saya rasa contoh amalan ulama yang saya sebutkan di atas cukup sebagai contoh. Dimana menjelaskan kesalahan penulis yang bermasalah mempunyai tempat lain dan pada kesempatan yang lain. Asy-Syaikh Al-Fauzan menukil ucapan Sayyid Quthb karena saat itu dibutuhkan, namun di kesempatan lain beliau dan ulama lain tetap menjelaskan kekeliruannya. Dan perbuatan Asy-Syaikh ini insya Allah tidaklah membuat orang-orang awam bingung.

  8. abu 'aisy4h said:

    “Betul, hanya saja menjelaskan kesalahan adalah fardhu kifayah. Kapan sudah ada yang menjelaskan maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya. Ini menjadi salah satu alasan kepada al-atsariyyah.com tidak pernah menampilkan artikel/coment yang berisi kritikan kepada jamaah/individu tertentu, karena alhamdulillah sudah banyak blog ahlussunnah lain yang menjelaskannya.”

    Khusus untuk model copas artikel secara keseluruhan, dan jika tanpa menjelaskan kekeliruannya sama sekali, akan membuat orang awam bingung ustadz.

    Menurut saya walaupun tidak menjelaskan kekeliruannya secara langsung minimal juga harus menyertakan link ahlusunnah lainnya yang sudah menjelaskan artikel tersebut. Karena pada saat ini orang awam tidak tahu mana situs ahlusunnah dan mana yang bukan situs ahlusunnah jika tidak ditunjukkan, karena banyak yang mengaku sebagai situs ahlusunnah. Bagaimana menurut antum, ustadz?

    jazakumulloh khoiron.

    Betul, kalau memang ada link ahlussunnah yang membahasnya pembahasan yang sama dan dengan kesimpulan yang sama dengan apa yang kami pilih.

  9. abuahmadsiraj said:

    wajazaakallaahu khairan. 2 kali surah Al-Maidah, ustadz, yang satunya sudah, sementara yang satunya belum. Baarakallaahu fiik.

  10. fitri said:

    Assalamualaykum,
    Subhanallah,,, jazakallah khair atas artikelnya, saya juga sering copas wat blog saya, karena masih minim ilmu tapi ingin berbagi. Kalo sekedar share di facebook lama-lama bisa lupa apa aja yg dah dishare because dah ilang. Tapi kalo yang dishare ditulis ulang di web blog masih ada arsip2nya, jadi bisa dipelajari lagi. Beberapa artikel juga saya copy dari sini. Maaf kalo sebelumnya gak izin.
    Wassalamu’alaykum

  11. Achmad said:

    Bismillah,
    Ustadz, salah satu kekhawatiran yg ada adalah ketika pembaca web ini dari kalangan orang awam atau yg manhaj-nya masih bimbang kemudian tertarik dan mendalami web/blog non ahlus sunnah tsb.
    Bagaimana dengan kekhawatiran ini?

    Kami rasa, kekhawatiran itu kurang beralasan. Dan kalaupun ada yang melakukannya, maka dia telah menyalahartikan maksud artikel di atas.

  12. Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah | ~Ruang Belajar ABU RAMIZA~ said:

    […] http://al-atsariyyah.com/menukil-kebenaran-dari-selain-ahlussunnah.html#more-3433 Share this:FacebookTwitterEmailLike this:SukaBe the first to like this post. This entry was posted in Manhaj and tagged ahlul bid'ah, jalan kebenaran, mencari kebenaran, menerima kebenaran. Bookmark the permalink. ← Hukum Wanita Mengemudi Mobil […]

  13. abu ramiza said:

    jazakallohu khoir atas ilmunya..baarokallohufik

  14. abu umar said:

    assalamu’alaikum.ustadz apakah hukumnya harus minta ijin kalo ana mau copas artikel2 Al-Atsariyyah.com karena bukankah artikel2 yang ada bersifat umum/boleh dicopas siapa sajah ?selama menyebutkan sumbernya?kalo memang begitu adanya harus minta ijin,bersamaan dengan ini ana minta ijin Copas untuk berdakwah menyampaikan kebenaran…jazakallohukhoiron atas ijinnya.(bales)

    Waalaikumussalam.
    Jika dicopas beserta url sumbernya, maka insya Allah tidak perlu izin.

  15. Amir Prasetio said:

    Bismillah….
    Mau nanya,boleh ga menukil artikel dr situs hizbi.

    Jika memang isinya dipastikan kebenaran, insya Allah hal itu tidak mengapa. Karenanya orang yang tidak mempunyai ilmu agama tidak boleh melakukan hal ini, karena dia tidak bisa membedakan maka yang benar dan mana yang salah.

  16. fauzan said:

    Bismillaah

    Mudah-mudahan berfaidah bg kita semua:

    http://salafybpp.com/5-artikel-terbaru/173-hukum-menukil-ucapan-ahli-bidah-bag-1.html

    http://salafybpp.com/5-artikel-terbaru/174-hukum-menukil-ucapan-ahli-bidah-bag-2.html

    Waffaqanallaahu waiyyaakum

    Insya Allah sangat bermanfaat bagi kita semua. Kami sangat sepakat dengan isi kedua artikel tersebut dan lanjutannya insya Allah. Hanya saja isi artikel tersebut berbeda sudut pandangnya dari apa yang kami tulis di atas. Kami membahas satu masalah dan penulis artikel tersebut membahas masalah yang berbeda.
    Karena kedua artikel tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah bagaimana menyikapi kebenaran yang datang dari selain ahlussunnah, yang mana inti dari artikel yang kami tulis justru pada point tersebut, yaitu ‘hukum kebenaran diucapkan oleh selain ahlussunnah’.
    Jadi saya rasa tidak ada kontradiksi antara artikel tersebut dengan apa yang kami tulis. Siapa saja yang mempertentangkannya maka kalau bukan orang yang tidak paham permasalahan maka dia adalah orang yang mencari fitnah. Wallahul Musta’an.

  17. abdullah said:

    bismillah. Bagaimana jika saya tetap memilih berhati2 tidak menukil dari selain ahlussunah, meskipun ada kebenaran disana. Apakah saya bersalah karena tidak menyampaikan?

    Kalau memang belum mampu memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, maka seharusnya dia menjauh dari masalah ini. Karena yang dibahas di sini adalah yang mengetahui suatu kebenaran dan bisa membedakannya dari kesalahan.

  18. abu naufal said:

    Yg jadi pertanyaan adalah siapa yg ahlussunnah dan siapa yg bukan ahlussunnah. Terus terang di kalangan kita ada anggapan, yg tdk ngaji bersama kita namun ngajinya bersama ‘mereka’ maka dia bukan salafy! Sama halnya, bahwa siapa yg langganannya majalah ***** maka dia tergolong ahlussunnah dan siapa yg bacaannya majalah ***** atau ***** maka dia termasuk bukan ahlussunnah. Dan semua ini adalah kenyataan!

    Kalau boleh saya bilang, bahwa selama ini kita telah ‘terdoktrin’, KEBENARAN ITU HANYA ADA PADA KAMI, BUKAN MEREKA! Siapa yg tdk ngaji bersama kami maka dia bukan salafy. Shg sesuatu yg nyata2 al-haq pun bila diucapkan oleh ‘mereka’ tdk boleh kita tergesa2 mengambilnya, sampai al-haq itu jg diucapkan oleh ustadz2 kita. Dan ini kenyataan!

    Bahkan banyak ikhwan yg lebih ‘nyaman’ menyekolahkan anak2 mereka di sekolah2 **** dan amat menghindari sekolah2 yg tertuduh bukan ahlussunnah, padahal kalau mau jujur, lebih banyak kemungkaran yg ada di sekolah2 ***** ketimbang di tempat ‘mereka’, misalnya masalah gambar bernyawa juga ikhtilath. Wallahu a’lam.

    Jadi, apakah kita tetap sebut ‘mereka’ sbg ahlul bid’ah krn tdk berdakwah bersama kita? Sedangkan yg mereka dakwahkan sama spt yg kita dakwahkan? Mohon direnungkan..

    Apa2 yg kita tuduhkan kpd saudara kita tentunya harus disertai bukti krn kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

    Afwan, kalau ada yg keliru mohon diluruskan.

    Afwan, kami merubah sedikit komentar antum. Karena sebagaimana yang sudah diketahui, Al-Atsariyyah hanya akan memuat artikel dan komentar yang murni tentang ilmu. Karenanya semua artikel dan komentar yang tertuju kepada individu atau komunitas tertentu -kecuali yang sudah jelas seperti Khawarij, Mu’tazilah, dkk- tidak akan kami munculkan. Karena sudah sering kami jelaskan bahwa masalah ini sifatnya fardhu kifayah, dan alhamdulillah sudah ada blog2 ahlusunnah yang berbicara tentang itu.
    Jadi, kami hanya menampilkan komentar antum yang sifatnya umum sehingga bisa diambil pelajaran oleh semua pihak. Amin

  19. abu naufal said:

    Jujur saja, saya tdk pernah mengikuti ta’lim di tempat ‘mereka’ krn takut dihajr/diboikot oleh teman2, pdhl tempat ta’lim ‘mereka’ malah lebih dekat dari rumah. Saya hanya membaca2 artikel ‘mereka’ di internet, itu pun gara2 google-nya yg membawa saya ke situs2 ‘mereka’. Dan saya rasa, situs2 ‘mereka’ justru lebih beragam dalam membahas berbagai permasalahan keseharian yg kita butuhkan. Sementara, di situs2 salafy (kita) malah sering tdk update, kalau pun update kebanyakannya cuma info kajian yg begitu lewat tanggalnya berarti sudah kadaluarsa.

    (saya rasa hanya Al-Atsariyyah.com saja yg sering update berbagai permasalahan keseharian yg kita butuhkan, wallahu a’lam. Semoga saja Al-Atsariyyah.com tdk kena tahdzir yg akhirnya di-blacklist tdk boleh dikunjungi..)

    Kelihatannya doa antum tidak terkabul, soalnya kelihatannya sudah kena. Namun kami tetap meyakini bahwa ahlusunnah ini adalah milik Alllah dan Rasul-Nya, bukan milik individu tertentu yang dikultuskan, bukan milik komunitas tertentu yang mengklaimnya. Karenanya insya Allah kami sama sekali tidak cemas dan menganggap semua itu hanyalah kesalahpahaman. Wallahul Musta’an.

  20. Bangamir said:

    Tulisannya bermanfaat insya Allah. Barokallahu fikum Ustadz.

  21. abdurrahman said:

    Bismillah.
    Dari tulisan antum ini seakan pembacanya adalah orang yang sudah mampu memilih mana yg haq dan bathil dari ucapan :”Kalau memang belum mampu memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, maka seharusnya dia menjauh dari masalah ini. Karena yang dibahas di sini adalah yang mengetahui suatu kebenaran dan bisa membedakannya dari kesalahan” Padahal situs ini diperuntukkan untuk kaum muslimin secara umum baik yang sudah mampu membedakan seperti antum (penulis) dan bagi kaum muslimin scr umum yang masih belum mampu membedakan mana haq mana bathil. Maka tulisan yng mengambil sumber dari selain ahlussunnah diberi judul saja BAGI YANG SUDAH MAMPU MEMBEDAKAN YANG HAQ DAN BATHIL. Allahulmusta’an.

    Karena situs ini diperuntukkan untuk kaum muslimin, makanya kami semaksimal mungkin hanya memilih untuk kaum muslimin yang memang betul merupakan kebenaran insya Allah. Lagi pula, judul ‘Menukil KEBENARAN …’, sudah mengandung isyarat bahwa orang yang mau menukil itu harus memastikan itu merupakan kebenaran.
    Maka masalahnya dari sisi mana??? Wallahul Musta’an.

  22. abdurrahman said:

    Bismillah.
    Kenapa antum tidak bersabar untuk menulis atau menukil dari ahlussunnah saja? Padahal hal tersebut bukanlah bersifat darurat.

    Kenapa antum sempat menulis tulisan diatas yang cukup panjang lebar tetapi antum tidak sempat menulis permassalahan yang antum ambil dari selain ahlussunnah?

    Atau antum anggap bahwa tulisan yang antum nukil tsb penulisnya adalah ahlussunnah?

    Jazakumullahukhoiron atas jawawabnnya.

    Sabar akh, jangan tergesa-gesa.
    Ucapan dan amalan para ulama di atas jelas menunjukkan bolehnya menukil kebenaran dari ahlussunnah. Kalo antm tidak sepakat dengan para ulama ini, silakan ajukan argumen yang objektif lagi jelas, bukannya argumen subjektif seperti di atas.
    Kalo antum sepakat dengan para ulama di atas, berarti antum sepakat akan bolehnya. Nah, kalo hukumnya mubah/boleh, kenapa harus dipermasalahkan???
    Kalo mau inshaf, tanyakan juga pertanyaan antum di atas kepada para ulama di atas yang kami sebutkan namanya? Apa alasan mereka menukil padahal -menurut antum- itu bukan darurat? Jawaban mereka, itu juga jawaban saya.

  23. Farhan Abdurrahman said:

    Bismillah. Afwan Ustadz, mungkin utk ke depannya Al-Atsariyyah.com sebaiknya hanya menukil (copas) dari situs2 yg tdk berhubungan dgn ‘mereka’, karena meski ana tahu bahwa artikel2 yg dinukil dari ‘mereka’ tdk ada penyimpangannya, namun ‘salafiyin kita’ sudah telanjur alergi dgn hal2 yg berbau dgn ‘mereka’. Yg akhirnya muncul kesalahpahaman spt ini.

    Terus terang banyak anggapan jika Ustadz menukil dari ‘mereka’, itu artinya Ustadz telah ridha dgn penyimpangan yg ada pada ‘mereka’. Krn kalau tidak ridha tdk mungkin akan mengambil dari ‘mereka’. Wallahu a’lam.

    Justru anggapan seperti ini yang harus diluruskan dan mereka harus membuang jauh-jauh anggapan seperti ini. Apakah karena kebenaran itu dianggap salah oleh banyak orang, lantas kita menyembunyikan kebenaran tersebut?!
    Lagipula, alergi terhadap sesuatu yang mubah dan dibenarkan bahkan diamalkan oleh para ulama adalah alergi yang merupakan penyakit. Dan yang namanya penyakit itu harus disembuhkan, bukannya ditolerir.
    Karena anggapan salah dan penyakit alergi inilah yang menyebabkan kesalahpahaman. Maka jika kesalahpahaman ini mau dihilangkan maka anggapannya harus diluruskan dan alerginya harus disembuhkan. Wallahul Musta’an.

  24. Shafiya Asy-Syifa said:

    Tulisannya bermanfaat insya Allah, Jazakumullahu khair

  25. Muhammad S. said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, judul diatas MENUKIL KEBENARAN DARI SELAIN AHLUSSUNNAH, bs diartikan MENUKIL KEBENARAN DARI AHLUL BID’AH (krn yg slain ahlus sunnah pastilah ahlul bid’ah). Pertanyaannya: apk ‘mereka’ itu sdh layak qt sebut sbg ahlul bid’ah? Jazakumullah khairan.
    Waalaikumussalam.

    Mereka di sini siapa? Artikel di atas hanya merupakan pembahasan ilmiah, dan tidak terkait secara langsung dengan siapa-siapa, jadi kami harap isi artikel di atas tidak diarahkan kepada siapa-siapa karena memang disini kami berbicara mengenai hukum umum, tidak diperuntukkan untuk komunitas tertentu.

  26. Abu Zakariyya said:

    MasyaAllah Barakallahu fiykum Ustadz. ana sudah ceritakan kejadian yang terjadi di sini kepada Ustadz Rishkiy tentang permasalahan ini, untuk berjaga-jaga aja ustadz sepertinya (wallahu a’lam) dari apa yang saksikan mereka sedang mencari-cari peluang untuk menjatuhkan antum, Semoga Allah menjaga antum-antum semua dari kejelekan para pendengki. Tilmidzikum Mohd Tamrin – Madinah Al-Munawwarah.

  27. islamstreamers said:

    Senang sekali dengan pembahasan ustadz Hammad, sungguh kita bisa mengambil pelajaran yang ber harga dari penjelasan yang sarat ilmu dan makna ini.
    Ustadz, jangan ragu lagi bimbang menyuarakan kebenaran…karena seyogyanya kebenaran itu bukan stampel atau cap dari golongan tertentu saja, akan tetapi kebenaran itu datang nya dari Al Quran dan Al Hadist.
    Sesungguhnya, jalan kehidupan itu penuh onak dan duri…Bukankah inilah dinamika kehidupan!!!

    Jazakaullahu khaer wa barakaullahu fik.
    http://islamstreamers.com

  28. Abu Muhammad said:

    Assalamu ‘alaykum
    Ustadz, apa alasan ulama diatas sehingga menukil tulisan orang orang yang menyimpang dari al haq?

    Apakah tidak ahsannya diberi catatan kaki setelah menuliskan link situs situs “mereka” , dgn catatan kaki link yang menjelaskan hakekat dari kelompok tersebut.

    Waalaikumussalam.
    Saya rasa alasannya cukup jelas, karena kebenaran itu hakikatnya milik seorang muslim, sehingga dia berhak mengambilnya dimanapun dia berada. Dan kebenaran itu mempunyai hak, yaitu untuk diterima darimanapun dia datang, karenanya menolaknya adalah perbuatan kezhaliman kepada kebenaran.

  29. tuasamu_kailolo said:

    jazakumullahu khairan…. tulisan yg bermanfaat. hujjahnya jelas, InsyaAllah.

  30. Farhan Abdurrahman said:

    Masya Allah Ustadz, ana jadi miris. Barusan ana trima kabar via email kalau majalah ***** sdh beberapa edisi ini dihentikan penyebarannya di ***** dan ***** gara2 permasalahan ini. Jujur saja ana tdk habis pikir, hanya satu kesalahan (ini kalau boleh dibilang kesalahan) akibatnya hingga demikian parah, spt dosa yg tak terampuni! La haula wa la quwwata illa billah..

    Kami hanya bisa katakan: Innaa lillahi wainnaa ilaihi roji’un.

  31. abu dawud said:

    jazaakallohu khoiron atas pemahaman yg diberikan ustadz

  32. Ali said:

    Masya Allah tulisan dan jawaban antum terhadap komentator sangat bagus dan ‘mengena’ sekali ustadz..terutama komentar no.16,19,23.Semoga Allah ta’ala selalu meneguhkan antum dan kita semua kaum muslimin di jalan NYA yang lurus.

  33. utsman said:

    afwan ustadz, bahkan fitnahnya malah jadi sedmikian ustadz. dimau atau tidak dimau, bisa jadi krn sebab ini ustadz, malah menjadikan fitnah semakin besar atau malah sebaliknya..
    smg Alloh selalu membimbing kita semua diatas al-haq
    baarokallohu fiykum
    (yang sebelumnya salah nulis alamat email)

    Kami sangat berharap kalau hal ini menjadi langkah awal terbukanya pemikiran kawan-kawan akan hakikat masalah yang sebenarnya, dan semoga menjadikan kita semua inshaf dan adil dalam bersikap, baik kepada musuh maupun kepada lawan. Waki’ Ibnu Al-Jarrah rahimahullah pernah berkata, “Ahlussunnah membicarakan hal-hal yang mendukung mereka dan yang mengkritik mereka, sementara ahlul bid’ah itu hanya membicarakan hal-hal yang mendukung mereka saja.” Wallahul Musta’an.

  34. Abu Sa'id Ari said:

    @akhi farhan abdurrahman -: menurut ana, adanya tulisan dari dr.faiq -hafizhahullah wa ra’ah- tersebut yang ditujukan kepada al ustadz abu muawiyyah hammad -waffaqoniyallohu waiyyah- seyogyanya disikapi dengan arif dan bijak yang mrpkn suatu bentuk upaya menolong saudaranya kepada mencocoki alhaq… ana sbg agen majalah tsb, merasa bhw informasi beliau bisa memberikan tambahan ilmu menurut sisi pandang lain yang memang butuh bagi pihak yang beliau (dr.faiq) tuju pada tulisan tsb untuk bersikap lapang dada dan ruju’ jika memang ada yang kurang tepat dalam langkahnya.. Wallahu a’lam

    Afwan wal afwu minkum ustadz abu mu’awiyyah jk kalimat ana di atas krg berkenan bg antum.. Tapi ana tulis ini hanya krn satu tujuan, smg Allah mudahkan antum dan ana dalam menempuh sgala hal yg mencocoki kebenaran..

  35. abu zinad said:

    BISMILLAH, Afwan Ustadz dalam permasalahan ini ana membaca fatwa syaikh Robi’ yg sangat berbeda sekali dengan kesimpulan antum diantaranya Syaikh mengatakan …..Sebab diantara bentuk kemaslahatan kaum muslimin adalah memadamkan dan menghilangkan penyebutan ahli bid’ah. Maka bergantung kepada kitab-kitab mereka dengan tujuan mengambil faedah, akan mengangkat kedudukan mereka dan meninggikan posisi mereka didalam hati kebanyakan manusia…
    silahkan lihat selengkapnya di Link berikut:

    http://salafybpp.com/5-artikel-terbaru/176-hukum-menukil-ucapan-ahli-bidah-bag-3.html

    Silakan lihat jawaban saya terhadap komentar saudara Purnomo.

  36. Purnomo said:

    Afwan Ustadz kesimpulan antum:

    b. Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah tidak sama seperti menuntut ilmu dari selain ahlussunnah. Yang pertama dibenarkan dan yang kedua dilarang.

    c. Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah bukanlah bentuk dukungan dan rekomendasi terhadap selain ahlussunnah tersebut, akan tetapi ini merupakan penunaian hak dari kebenaran. Dimana hak kebenaran adalah dia harus diterima darimanapun datangnya.

    tidak selaras dengan fatwa Syaikh Robi’:Sesungguhnya didalam kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, demikian pula dalam warisan pendahulu kita generasi salafus saleh yang suci dan bersih sudah mencukupi dari merujuk kepada kitab-kitab ahli bid’ah….. sama saja, apakah mereka menulisnya sebelum terjerumus kedalam bid’ah atau mereka menulis setelah terjatuh kedalamnya. Sebab diantara bentuk kemaslahatan kaum muslimin adalah memadamkan dan menghilangkan penyebutan ahli bid’ah. Maka bergantung kepada kitab-kitab mereka dengan tujuan mengambil faedah, akan mengangkat kedudukan mereka dan meninggikan posisi mereka didalam hati kebanyakan manusia. Diantara kemaslahatan kaum muslimin dan islam adalah memadamkan dan melenyapkan penyebutan tokoh- tokoh bid’ah dan kesesatan….

    Afwan sebelumnya, sebagian komentar antum yang kami anggap tidak perlu ditampilkan kami tidak tampilkan. Inti komentar antum adalah apa yang tersebut di atas. Kami katakan:
    1. Antum perhatikan dengan baik artikel di atas, apakah kesimpulan itu berasal dari saya atau daripada ulama. Antum harusnya memahami seluruh artikel agar bisa tidak sembarangan dalam menisbatkan sesuatu.
    2. Adapun ucapan Asy-Syaikh Rabi’ -hafizhahullah-, maka itu sepenuhnya benar dan kami sangat setuju. Hanya saja di sini antum atau ustadz antum mungkin bisa memberikan penjelasan, kenapa Asy-Syaikh Rabi’ menukil ucapan Sayyid Quthb dan selainnya dalam kitab beliau Manhaj Al-Anbiya`?
    Di sini antum dan ustadz antum hanya punya 2 pilihan:
    1. Menyatakan Asy-Syaikh Rabi’ melanggar sendiri ucapan beliau.
    2. Dalam permasalahan ini ada rincian. Ucapan beliau di atas itu dalam kondisi ta`sis dan ta`shil (membangun dasar dan pondasi aqidah), sementara perbuatan beliau menunjukkan adanya istitsna` (pengecualian) dalam hal ini, yang tentunya beliau sendiri sangat memahaminya.
    Kami tidak mungkin memilih pilihan yang pertama.
    Kalau pilihannya yang kedua, lantas kenapa antum dan ustadz antum tidak berbaik sangka kepada kami bahwa kami juga sedang melakukan apa yang Asy-Syaikh hafizhahullah lakukan. Kalau antum dan ustadz antum menyalahkan saya, maka tidak menyalahkan Asy-Syaikh terlebih dahulu. Apalagi yang melakukan seperti ini bukan Asy-Syaikh Rabi’ saja, ada Asy-Syaikh Al-Fauzan, dan para ulama lain yang kami sebutkan di atas.
    Intinya, jangan memahami ucapan dan amalan para ulama setengah-setengah. Terkadang merea mengucapkan ucapan yang global di satu tempat, lalu itu dirinci di tempat yang lain. Wallahul Muwaffiq.

  37. abu aisyah said:

    bismillah,
    apakah perbuatan syaikh rabi’ dan syaikh al-fauzan tersebut menjadi dalil bagi kita untuk memperbolehkan para thullabul ilmi seperti kita ini menukil dari selain ahlussunnah? yang mana kita masih sangat jauh ilmu dan pemahaman dibandingkan dengan beliau hafizahumallah.apakah perbuatan tersebut juga pernah terjadi dizaman sahabat,tabi’in dan tabi’uttabi’in?yang mana kita lebih mendahulukan mereka radhiyallahu anhum daripada yang lainnya.wallahu musta’an.

    Yang menjadi dalil bukan ucapan beliau berdua. Apa anda tidak membaca dengan baik artikel di atas? Ada ayat, ada hadits, dan ada ucapan ulama salaf semacam Ibnu Taimiah, Ibnu Al-Qayyim, dan selain mereka.
    Kenapa pertanyaan seperti ini juga tidak ditujukan kepada yang melarang? Bukankah isinya di antaranya adalah fatwa Syaikh Robi’?

  38. abu aisyah said:

    bismillah,
    ustadzuna abu muawiyah rahimakumullah..
    ana uhibbukum fillah.
    ana mohon maaf sebelumnya,karna telah lancang mengomentari artikel antum di forum ini,ana sudah lama mengikuti artikel ini dan ana khawatir syubhat itu menyambar sedangkan hati kita lemah.
    ana juga sedih peristiwa ini terjadi yang akan memecah belahkan kita para salfiyyin dan hanya menguntungkan bagi syaithan la’natullah.mudah2n kejadian ini merupakan ujian dan mengandung hikmah yang bermanfaat bagi kita semua amin..
    ditahzirnya antum atau majalah antum oleh usztad yang lain mudah2n bentuk kecintaan beliau terhadap antum bukan kebencian.
    ana bs merasakan apa yang antum alami dengan posisi antum dalam menghadapi cobaan ini,mudah2n allah pelihara antum dan kita semua dari fitnah ini amin..
    adapun harapan ana,mdh2n permasalahan ini secepatnya diajukan kepada para masyayikh yang mana alhamdulillah syaikh rabi’ dan syaikh al-fauzan hafizahumullah masih ada ditengah2 kaum muslimin.
    mudah2n dgn adanya keterangan dari para masyayikh nanti akan membuat suasana ini menjadi tenang,dan hendaknyalah yang menyelisihi kebenaran itu untuk ruju’ dan berusaha meluruskan pemahaman yang keliru tersebut kepada org lain,karna khawatir kesalahan yang kita sebarkan akan memberatkan kita di akhirat nanti,wal’iyazubillah.
    wabillahittaufiq wal hidaayah walhamdulillahirabbil’alamin

  39. Abu Fatimah said:

    Ana sepakat sebagaimana ustadz sudah nyatakan: disini membahas suatu masalah, disana membahas masalah lain. Keduanya pembahasan yang benar adanya, tidak bertentangan, walau seolah mungkin ada perbedaan tapi itu mungkin hanya dalam hal penggunaan istilah, atau dikesankan seolah bertentangan oleh orang yang tidak paham atau oleh orang yang menginginkan fitnah. Padahal pada dasarnya manhaj ahlussunnah dalam hal ini jelas insya Allah. Hanya saja yang ana lihat dari tulisan ini bahwa yang dimaksud ust Hammad ‘menukil kebenaran’ adalah ‘menerima kebenaran’, karena kalo membaca dari isi pembahasannya adalah yang dimaksud demikian.

    Yang jadi masalah lainnya, dalam pembahasan mereka (orang yang bermaksud membantah tulisan ini) yaitu mereka membahas tentang sikap ahlussunnah terhadap AHLUL BID’AH. Tidak ada yang mengingkari pembahasan tersebut, kita sepakat bahwa demikianlah sikap ahlussunnah terhadap AHLUL BID’AH. Maka yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah; apakah pihak yang dinukil oleh ust Hammad dan teman-temannya disini adalah pihak yang SUDAH AHLUL BID’AH ataukah MASIH AHLUSSUNNAH? karena yang dipahami dari tulisan-tulisan mereka itu bahwa mereka menganggap ustdz Hammad telah menukil dari AHLUL BID’AH, alias mereka telah memvonis pihak-pihak atau nama-nama yang dinukil oleh ust Hammad itu adalah pihak/orang yang sudah AHLUL BID’AH.

  40. yahya said:

    Alhamdulillah

    Sangat suka dan sepakat dengan perkataan antum :

    ” Justru anggapan seperti ini yang harus diluruskan dan mereka harus membuang jauh-jauh anggapan seperti ini. Apakah karena kebenaran itu dianggap salah oleh banyak orang, lantas kita menyembunyikan kebenaran tersebut?!
    Lagipula, alergi terhadap sesuatu yang mubah dan dibenarkan bahkan diamalkan oleh para ulama adalah alergi yang merupakan penyakit. Dan yang namanya penyakit itu harus disembuhkan, bukannya ditolerir.
    Karena anggapan salah dan penyakit alergi inilah yang menyebabkan kesalahpahaman. Maka jika kesalahpahaman ini mau dihilangkan maka anggapannya harus diluruskan dan alerginya harus disembuhkan. Wallahul Musta’an.”

    Baarakallah fiik ustadz

  41. abu aisyah said:

    Bismillah,
    Afwan Ustadz,mhn penjelasan dari antum,apakah dalil alquran dan hadits yang antum paparkan bisa dijadikan hujjah untuk memperbolehkan menukil kebenaran dari selain ahlussunnah?dgn kedangkalan ilmu ana,ana memahami dalil trsbt tentang wajibnya menerima kebenaran wlwpn bkn dari ahlussunnah bukan menukil kebenaran.karna berbeda antara menerima dan menukil.waallahu a’lam.

    Yang kami pahami dari amalan para ulama di atas adalah samanya antara menerima dengan menukil. Wallahu A’lam.

  42. abu abdillah said:

    Bismillah,
    Sekedar kesimpulan dari yang ana pahami selama ini, bahwa…
    Kebenaran datangnya bisa dari sumber manapun. Bukan berarti perkataan sembarang orang bisa dianggap kebenaran. Bukan pula berarti perkataan setiap orang yang mengaku benar dan mengaku menyampaikan kebenaran, adalah berarti benar. Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin sesuatu itu adalah kebenaran yang sesungguhnya, yaitu Al-Haq? Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk belajar, tholabul ilmi. Terutama ilmu dien. Supaya kita bisa mengenali mana yang haq dan mana yang bathil. Kadang kita tidak sabaran, pingin tahu hasil akhirnya saja, instan, kalau perlu tanpa usaha sedikitpun. Padahal ilmu diperoleh dengan perjuangan yang keras. Kenalilah kebenaran, sehingga bisa tahu siapa saja yang mengikuti kebenaran itu. Bisa jadi suatu saat pengetahuan kita baru sedikit tentang kebenaran, sehingga bisa mengenali seseorang yang berpegang pada kebenaran yang kita tahu. Mudah-mudahan dengan banyak belajar kita bisa tahu lebih banyak tentang kebenaran, sehingga bisa lebih tahu siapa saja yang berpegang teguh pada al-haq dan siapa saja yg mungkin sebelumnya kita anggap benar ternyata sesat, menyimpang, bahkan ahlul bid’ah.
    Walloohu a’lam bishshowab

  43. abu aisyah said:

    Bismillah,
    Afwan ustadz,tlng antm jawab pertanyaan ana,jangan antum biarkan komentar smp disini,akan bnyk yg kena syubhat dan salah paham,internet adalah media yg bs diakses oleh semua org,fitnah sngt cepat tersebar.berbeda kl artikel antum ini diposting dmajalah.jawaban antm terakhir trhdp ana yg antum posting menyuruh ana membaca dgn baik dalil alquran,hadis,ibnu taimiyah,dan ibnul qoyyim.skrg ana bertanya tntng dalil itu apakah bisa menjadi hujjah untuk menukil atau tidak.kl antm setuju bahwa menukil berbeda dgn menerima maka ana harap antum meralat tulisan antum diatas,karna dalil antum tdk tepat,atau antm hapus aja artikel ini dari situs antum karna mudharatnya ana rasa lbh besar.tp kl antm merasa tepat tlng dberi hujjah yg kuat.antum yg memulai tentu lbh baik kl antum juga yg mengakhiri.waallahu musta’an.
    Tlng tulisan ini tdk dposting.jazakumullahu khairan.

    Ya, bisa dijadikan dalil untuk menukil. Dari amalan para ulama di atas, dimana mereka menukil, maka kami memahami bahwa menukil itu sama seperti menerima. Dan demikianlah mereka memahami dalil-dalil yang kami sebutkan di atas. Jadi sekali lagi, tidak ada yang perlu diralat.
    Adapun perasaan antum bahwa mudharatnya lebih besar, maka kami harap jangan menghukumi sesuatu dengan perasaan, itu adalah was-was setan untuk menggelincirkan. Hukumi sesuatu dengan wahyu dan akal yang sehat agar anda selamat. Lagipula, penentuan maslahat dan mudharat bukanlah milik sembarang orang, akan tetapi ditentukan oleh orang yang berilmu.
    Dan sepanjang pengetahuan kami, belum ada satupun tulisan yang bisa menyanggah tulisan kami di atas, dalam artian, menyanggah semua ayat dan hadits serta ucapan dan amalan para ulama yang kami sebutkan di atas.

  44. Purnomo said:

    BISMILLAH
    Afwan sebelumnya Ustadz, perlu ana luruskan di sini bahwa komentar ana di atas adalah murni dari ana pribadi, tidak ada campur tangan ustadz ana sedikitpun dalam mengomentari artikel ini, jadi tidak perlu menggunakan istilah “antum dan ustadz antum”

    Lain daripada itu ana mengucapkan JAZAKALLOOHU KHOIR atas jawaban Ustadz.
    Namun, alangkah baiknya jika jawaban tersebut tercantum pula pada artikel tersebut di atas, yaitu yg seputar bahwa secara global tidak diperbolehkan, dengan pengecualian…
    BAROKALLOOHU FIIK

    Ooo afwan jiddan kalau begitu, kami sudah menghapus kata2 yang tidak diperlukan di atas.

  45. Anti Ta'ashshub said:

    Syukron ana ucapkan kepada Ustadz Abu Mu’awiyyah hafidhahullah dan segenap asatidzah yang mengelola situs ini,

    Artikel diatas sudah sangat jelas dan berbeda pembahasannya dengan yang tercantum di situs yang bermaksud membantah artikel di atas.

    Ana berharap tulisan diatas dapat membuka wawasan dan hati kita semua, bahwasanya kebenaran itu diterima dari manapun datangnya walaupun ustadz kita menyelisihinya, bukankah salafiyyun itu sering menyuarakn al-haq?, lantas kenapa kita ingin menolaknya tatkala kurang “srek” dengan amalannya ustadz kita?.

    Ana sebagai seorang yang mencintai dakwah salafiyyah turut bersedih dengan adanya sebagian orang-orang yang serampangan dalam “mentahdzir” lantas mengatasnamakan dakwah salafiyyah, tidak perlulah ana sebutkan nama-nama orang tersebut, ‘ala kulli haal itu memang terjadi.

    Terakhir,…
    marilah kita wahai para pencinta sunnah untuk belajar bersikap ilmiah dalam sebuah permasalahan, terkhusus dalam masalah yang sifatnya ilmiah, bersangka-baik terhadap sesama muslim, dan meninggalkan sikap “sombong”(bathrul haq wa ghamtun naas), yang namanya manusia pasti ada kesalahan & kekeliruan yang dilakukannya, oleh karena itu jangan asal “tahdzir”, dan tidak pula menafikannya secara muthlak, dan kita serahkan perkara ini kepada ahlul ilmi.

    kalau ada yang salah tolong dikoreksi.

    At-Taufiiq lil jamii’. Baarakallahu fiykum.

    kalau

  46. ali rusdi said:

    Baarokallahu fikum ustadz atas artikelnya, terus terang ana baru2 ini saja mampir di bloq ini, ana juga masi bingung atas komentar yang mengatasnamakan ‘kita’ dan ‘mereka’ dan majalah ini…..dan majalah itu…..,????
    afwan ustadz ana sekedar mengomentari bahwa kebenaran itu bisa diambil dari siapa saja selama dia benar dibawah ini ana copas dari artikel antm…

    “Kaidah ini benar insya Allah. Kebenaran diterima dari siapapun yang membawanya, namun tidak semua orang mengucapkan kebenaran itu menjadi imam dalam kebenaran. Setan yang mengajari Abu Hurairah radhiallahu anhu ayat kursi, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya, “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta.” Dan juga sang rahib yahudi yang berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Abu Al-Qasim, sesungguhnya kami mendapati di dalam Taurat bahwa Allah mengangkat langit-langit di atas satu jari,” sampai akhir hadits. Mendengar hal itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bertasbih dengan membaca, “Subhanallah, subhanallah,” seraya tertawa hingga nampak geraham beliau karena membenarkan ucapan sang rahib.” (Dhawabith fi Mu’amalah As-Sunni li Al-Bid’i, pertanyaan no. 6)

  47. halim said:

    subhanallah, ana berharap tulisan ana ini diloloskan utk ditampilkan.

    karena ana ini termasuk yg “baru” mempelajari manhaj salaf, tentunya -dengan ijin Allah- ana diberi kekuatan hati dan pikiran untuk memahami apa tulisan antum yg berasal dari Syeikh di atas, dalam hal komplexnya permasalahan di atas.

    maksud ana, biarkan orang baca comment ana ini yang notabene ana orang yang baru mempelajari ilmu ahlussunah waljamaah. Agar apa?!, agar kebanyakan orang yg menafsirkan manhaj salaf ini adalah “ALIRAN ISLAM YANG KERAS” tahu bahwa ini adalah bukan aliran, ini adalah metode/jalan, namun apa yg ana pahami adalah “TIDAK” demikian.

    Ana respect -dengan menyebut nama Allah- terhadap pendalaman ilmu ini.

    begitu berat memang – semoga Allah memudahkan- krn ana sekarang ini masih ada didalam keluarga dan masyarakat yg muslim, tapi tidak berlaku(misal: masih mengkultuskan budaya di luar islam sebagai bagian dari islam, termasuk surat Al-Quran terntentu) sebagaimana yang Salafyun ambil dan dilakukan.*ana harap antum faham maksud ana*

    Bagaimana dengan permasalahan ana ini? kewajiban apa yg harus ana lakukan kepada keluarga(istri, ortu, mertua, anak2), takmir masjid dan masyarakat sedang ana adalah sendirian.?!

    ????????????
    Gak paham.

  48. Abu Yasar said:

    Bismillah.
    Alhamdulillah, jazakalloh khoir atas ilmunya Ustadz. Ijin copas Tadz. Barokallohufikum.