Menjamak Shalat Tanpa Udzur

July 18th 2011 by Abu Muawiah |

Menjamak Shalat Tanpa Udzur

Tanya:
bismillah,afwan ustadz ana mau bertanya mengenai menjama’ sholat apakah dibolehkan walaupun tanpa udzur,jika boleh tolong sertakan dalilnya
muslimah [ummumuslim@yahoo.com]

Jawab:
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ada ketakutan dan bukan pula karena hujan.” (HR. Muslim no. 1151)
Lalu Waki’ bin Al-Jarrah bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai sebabnya, maka beliau menjawab, “Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.”
Hadits di atas jelas menunjukkan bolehnya menjamak shalat walaupun tidak ada udzur.

Hanya saja di sini para ulama mempersyaratkan tiga syarat akan kebolehannya, yang mana ketiga syarat ini bisa dipahami dari hadits di atas dan hadits-hadits lainnya. Ketiga syarat itu adalah:
1.    Hanya dikerjakan di masjid dan secara berjamaah bersama imam. Karena amalan di atas tidak pernah dinukil Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya di luar masjid dan juga tidak pernah dinukil beliau melakukannya sendirian.
2.    Hanya dilakukan kadang-kadang. Karena melaksanakannya secara sering akan bertentangan dengan hukum-hukum yang membatasi adanya waktu-waktu shalat.
3.    Ketiga ada perkara yang memberatkan jamaah shalat jika tidak dijamak. Hal ini berdasarkan ucapan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma di atas.
Wallahu a’lam bishshawab.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, July 18th, 2011 at 8:13 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

14 responses about “Menjamak Shalat Tanpa Udzur”

  1. abu nishar said:

    ijin disebar

  2. abu hawwa said:

    Assalamualaikum,
    Afwan stadz, ana kurang faham dengan poin 1 (Hanya dikerjakan di masjid dan secara berjamaah bersama imam….dst)

    jika kita ingin menjamak dzhuhur dan ashar, apakah maksudnya kita mengerjakan salat dzhuhur 4 rakaat bersama imam terlebih dahulu lalu tanpa diselingi dg salat apapun kemudian kita mengerjakan 2 rakaat untk shalat asharnya? benarkah pemahaman yg saya tangkap tersebut ya ustadz. mohon pencerahannya.

    jazakulloh khoir

    Waalaikumussalam.
    Tidak, artikel di atas hanya bagi orang yang mau menjamak shalat tanpa uzur dan bukan musafir. Adapun jika dia musafir maka dia bisa menjamak sendiri shalatnya walaupun tidak di belakang imam.

  3. Abu Zaid said:

    Bismillah mau tanya Ustadz mngnai persyaratan diatas 1. apakah tidak boleh menjamak shalat di rumah dan harus berjamaah di mesjid?, bgmna jika ana tdk mendapatkan teman untuk melaksanakan shalat berjamaah secara jamak?

    2. bgmna juga dengan muslimah yang shalatnya lebih afdal dirumah apakah harus ke mesjid untuk berjamaah menjamak shalat ?

    3. bgmna dengan menjamak Shalat Jumat dengan shalat ashar apakah boleh?

    Kelihatannya anda belum paham maksud artikel ke atas, dan kemana arahnya. Karenanya anda mempertanyakan soal 1 dan 2 di atas.
    3. Artikel tentang itu insya Allah akan datang pada tanggal 29 juli.

  4. hamdan said:

    jazakallahukhairan ^^,

  5. abu farhan abdulmajid bin haruna said:

    assalamu alaikum ustadz semoga Allah memberi barokah dan taufiqNya untuk kita semua.mau tanya bolehkah orang sakit dan sudah tua sekali menjama shalatnya,kalau boleh apa seterusnya diperbolehkan atau bagaimana caranya kalau kadang;kadang saja.

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam, butuh ditinjau sakitnya. Yang jelas selama dia masih memungkinkan shalat pada waktunya masing-masing, maka dia tidak boleh menjamak. Karena asal jamak ini hanya diperbolehkan bagi musafir, tidak kepada yang lainnya.

  6. muslimun said:

    afwan ustadz, apabila kita dituntut kerja pada malam hari, sehingga menjadikan siang sebagai waktu istirahat (tidur) apakah boleh menjamak shalat di masjid. misalnya selesai shalat zhuhur jama’ah kita lanjutkan shalat ashar sendirian di masjid? jazakallahu khayr

    Tidak boleh kalau dia bukan musafir.

  7. abu farhan abdulmajid bin haruna said:

    bagaimana kalau habis operasi tulang dan tidak bisa di gerakkan bahkan buang air pun ditempatnya,baringpun susah. apakah dia bisa menjamak shalatnya selama waktu itu. jazaakallahu khair.

    Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Tapi pendapat yang lebih tepat adalah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyyah dimana beliau berkata, “Hadits-hadits seluruhnya menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat dengan tujuan menghilangkan kesempitan dari umatnya. Oleh karena itu, maka dibolehkan untuk menjamak shalat dalam kondisi yang jika tidak jamak maka seorang itu akan berada dalam posisi sulit padahal kesulitan adalah suatu yang telah Allah hilangkan dari umat ini. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa jamak karena sakit yang si sakit akan merasa kesulitan jika harus shalat pada waktunya masing-masing adalah suatu hal yang lebih layak lagi.” (Majmu’ Fatawa 24/84). Wallahu a’lam

  8. Abu zaidan said:

    Assalamualaikum

    Ustadz izinkan saya memberi sedikit bertanya tentang tulisan diatas.

    Ustadz mengatakan :

    “Hadits di atas jelas menunjukkan bolehnya menjamak shalat walaupun tidak ada udzur.”

    ya kami sepakat bahwa hadits tersebut menunjukkan kebolehan menjamak sholat walau tidak ada udzur.

    namun dalam syarat tentang kebolehan sholat tanpa udzur ustadz sebutkan :

    “3. Ketiga ada udzur yang memberatkan jamaah shalat. Hal ini berdasarkan ucapan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma di atas.”

    Bukankah ini tanaqud ustadz, jika disebutkan nash yang membolehkan menjama’ sholat tanpa udzur namun mengapa syaratnya adanya udzur yang memberatkan jama’ah sholat?!?

    jika saya boleh tambahkan seharusnya istilahnya bukan udzur namun masaqoh yang memberatkan jama’ah. Mungkin kekeliruan dalam istilah bahwa syarat yang ketiga adalah adanya masaqoh. Sesuai dengan kaidah Almasaqoh tajlibut taisir.

    Waalaikumussalam.
    Jazakallahu khairan, kami sudah memperjelas kalimatnya.

  9. Abu Fauzan said:

    Mau nanya ustadz….
    Ana biasanya kerja malam dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi. Jemputan bis ke tempat kerja biasanya datang jam 7 malam sedangkan sholat isya dilakukan sekitar 7.30.
    Apakah ana boleh menjama’ sholat maghrib isya?

    Tidak boleh kecuali jika jarak kerjanya dihukumi safar. Dia boleh mengundurkan shalat isya hingga dia tiba di tempat kerjanya.

  10. Anya said:

    Assalamualaikum…

    bagaimana hukumnya untuk orang yang lupa sholat, contohnya saya lupa sholat dzuhur kemudian, pd saat ashar sy bru ingat, apakah harus diganti lgs atau mengerjakan sholat ashar dlu bru sholat dzhuhur, kemudian ada tmn sy yg blg klo lupa itu tdk apa2 tdk dganti, bgaimana hadistx..

    mkasih

    Waalaikumussalam.
    Tetap wajib diganti. Tapi menggantinya harus tetap berurut, zuhur dahulu kemudian ashar.

  11. abdullah said:

    bismillah
    afwan mau tanya…
    Apa hukum menjamak shalat ketika hujan? seperti ketika hujan turun pada waktu tenggelam matahari dan terus turun sampai menjelang shalat isya’.
    mohon penjelasannya dengan detail.
    jazakallah….

    Sebagian ulama membolehkannya. Pembahasan detailnya insya Allah pada tempatnya.

  12. aris munandar said:

    bismillah. apakah ini berarti boleh menjama’ sholat ketika hujan ustadz???

    Ya, sebagian ulama membolehkan jamaah shalat di masjid untuk menjamak shalat ketika hujan.

  13. abu haits said:

    afwan ust, untuk kewajiban menjama’ sholat harus dilakukan bersama imam pendapat siapa saja ust?
    sepertinya agak sulit dipraktekkan ketika hanya 1 atau bebrapa orang dari jamaah yang memiliki udzur seperti sakit dll.

    Wallahu a’lam. Kami pernah mendengar persyaratan ini dari ust. Dzulqarnain -hafizhahullah- dan memang sesuai dengan nash hadits-hadits di atas. Tapi kalau antum mengetahui ada pendapat selainnya dan memang kuat, maka insya Allah kami akan sangat senang hati menerimanya dan akan merubah artikel di atas.

  14. Ukhti Fir said:

    Assalamualaikum warahmatullah…
    ustadz ana mendapati hadits Muslim no 1151 tidak berbunyi seperti dalam artikel diatas namun seperti di bawah ini:

    Abu Hurairah berkata, “Telah bersabda Rasulullah:
    “Allah berfirman, ‘Seluruh amalan anak Adam untuknya kecuali puasa, maka dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah tameng. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berucap keras (tanpa keperluan). Jika ada seseorang mencelanya atau memeranginya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang puasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: apabila berbuka ia bergembira dan apabila bertemu kelak dengan Tuhannya dia bergembira dengan puasanya (ketika di dunia).” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

    Jadi HR Muslim no 1151 membahas tentang Puasa , bukan membahas tentang sholat…
    Tolong penjelasannya, manakah yang benar?
    Syukron… syukron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Mungkin beda cetakan kitab aslinya.