Menjamak Dua Shalat Tanpa Uzur

July 4th 2012 by Abu Muawiah |

Menjamak Dua Shalat Tanpa Uzur

 

Di antara kesesatan mereka adalah mereka membolehkan untuk menjamak antara zuhur dengan ashar dan antara magrib dengan isya tanpa ada uzur.

Padahal At-Tirmizi telah meriwayatkan dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكَبَائِرِ

“Barangsiapa menjamak antara dua shalat tanpa udzur, maka ia telah mendatangi salah satu pintu dari pintu pintu dosa besar.[1]

Dan juga ada riwayat yang menyebutkan bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat adalah mengundurkan pelaksanaan shalat dari waktu-waktunya. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwa beliau menjamak antara dua ashar (baca: Zuhur dengan ashar) dan antara dua isya (baca: Magrib dengan isya)[2], maka ditafsirkan bahwa beliau mengerjakan shalat yang pertama di akhir waktu dan mengerjakan shalat yang kedua di awal waktu (sehingga seakan-akan dijamak, pent.) Wallahu a’lam.

Ada yang menyatakan bahwa: Alasan mereka (Rafidhah) menjamak antara dua zuhur (baca: Zuhur dengan ashar) dan antara dua magrib (baca: Magrib dengan isya) setiap saat dengan lebih mengutamakan jamak ta`khir adalah karena mereka menunggu imam mereka yang bersembunyi di Sirdab[3] agar mereka bisa bermakmum kepadanya. Karenanya mereka mengundurkan shalat zuhur ke waktu ashar sampai menjelang terbenamnya matahari. Jika mereka menilai bahwa sang imam belum keluar pada hari itu sementara matahari telah menguning dan telah berada di antara dua tanduk setan, mereka segera mematuk shalatnya seperti patukan ayam (mengerjakan shalat tanpa tuma`ninah, pent.). Sehingga mereka pun mengerjakan dua shalat tanpa khusyu’ dan tuma`ninah, sendiri-sendiri dan tidak berjamaah. Mereka pulang dalam keadaan mendapatkan kerugian dan kemalangan.

Kita memohon maaf dan afiat dari Allah. Amalan mereka ini, yakni mereka menjamak shalat tanpa uzur, dan mereka berdiri di bukit Sirdab seraya berteriak meminta imam mereka keluar, hal ini telah dijadikan sebagai bahan tertawaan di kalangan orang-orang yang berakal.

 

[Diterjemah dari Risalah fii Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 85-87 dengan sedikit ringkasan]



[1] HR. At-Tirmizi no. 188, dan ini adalah hadits yang dha’if. Di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Husain bin Qais Ar-Rahabi yang bergelar Hanasy, dan dia adalah perawi yang matruk sebagaimana dalam At-Taqrib.

Cukup dijadikan dalil akan dilarangnya menjamak dua shalat tanpa uzur syar’i adalah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa`: 103) As-Si’di berkata dalam tafsirnya, “Maksudnya: Diwajibkan pada waktunya. Maka ini menunjukkan kewajiban shalat dan bahwa shalat itu mempunyai waktu pelaksanaan, dimana tidak syah kecuali jika dikerjakan pada waktunya.”

Juga seperti hadits Jibril yang panjang ketika beliau turun dan mengajarkan waktu-waktu shalat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh An-Nasai (1/255) dari Jabir, dan haditsnya shahih.

Asy-Syaikh Al-Fadhil Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-Abdali berkata mengomentari ucapanku, “Menjamak dua shalat tidak boleh kecuali pada keadaan-keadaan berikut: Safar, hujan, sakit parah, perempuan yang mengalami istihadhah pada keadaan tertentu, jamaah haji di Arafah menjamak antara zuhur dengan ashar, dan jamaah haji di Muzdalifah menjamak antara magrib dengan isya. Adapun orang yang tidur dan lupa, maka telah disebutkan dalam hadits, “Barangsiapa yang ketiduran atau dilupakan dari mengerjakan shalat maka hendaknya dia mengerjakannya ketika dia mengingatnya. Tidak ada penebus bagi dia kecuali itu.”

[2] HR. Muslim no. 705

[3] Dia adalah imam mahdi versi mereka sendiri yang hanya merupakan khayalan, Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari. Mereka berkata: Dia masuk ke dalam Sirdab ketika berumur 4 tahun, dan dia tidak akan keluar kecuali pada akhir zaman. Lalu dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezhaliman dan kecurangan. Demikian persangkaan mereka, dan itu murni khurafat. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa imam mereka yang XI, Al-Hasan Al-Askari sama sekali tidak mempunyai keturunan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ath-Thabari dalam kejadian-kejadian pada tahun 302 H.

Lihat juga hasyiah kitab Al-Muntaqa min Minhaj Al-I’tidal hal. 31 karya Adz-Dzahabi

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, July 4th, 2012 at 9:39 am and is filed under Mengenal Syi'ah Rafidhah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Menjamak Dua Shalat Tanpa Uzur”

  1. dian said:

    ustadz, saya pernah menjamak sholat ketika anak sakit. soalnya ketika sakit, anak saya nangis terus dan minta digendong terus seharian sehingga menyulitkan saya untuk beraktivitas. sedangkan ketika itu di rumah tidak ada orang lain yg dapat membantu saya. ketika dia terlelap sebentar saya buru2 sholat dzuhur dan sekalian ashar (di waktu dzuhur) krn khawatir nanti pas ashar tdk bisa sholat. begitu pula saya menjamak sholat maghrib dan isya di waktu isya, karena pas waktu maghrib saya direpotkan lg oleh anak yg sedang sakit. bagaimana hukumnya yg seperti itu? jazaakumullohu khoiron

    Tidak mengapa insya Allah.