Menikah Dengan Orang yang Beda Manhaj

October 11th 2009 by Abu Muawiah |

Menikah Dengan Orang yang Beda Manhaj

Tanya:
assalamu’alaikum ustadz, bagaimana hukumnya seseorang yg sdh mantap dgn manhaj salaf menikah dgn lain manhaj? bagaimana hukumnya kita tidak mau menikah kecuali dgn yg semanhaj ? bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh kita atau bukan?
Ida <mbakrida@gmail.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah untuk untuk selektif dalam memilih teman duduk dan teman bergaul, hendaknya dia hanya memilih teman yang baik agar agamanya tetap terjaga. Ini pada teman duduk, maka tentunya dalam memilih teman hidup itu harus lebih selektif dan hanya memilih yang betul-betul baik akidah dan manhajnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka.”
Dan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang masyhur, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memperumpamakan teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi yang bisa memberikan manfaat kepada orang di dekatnya, sedangkan teman duduk yang jelek bagaikan pandai besi yang bisa memudharatkan orang di dekatnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalil-dalil lain yang semisal dengannya.
Karenanya seorang muslim yang baik akidah dan manhajnya hendaknya tidak menikah dengan muslimah yang tidak benar akidah dan manhajnya, demikian pula sebaliknya. Bahkan menikahnya seorang muslimah yang baik akidah dan manhajnya dengan muslim tapi tidak benar akidah dan manhajnya, adalah lebih parah dan lebih jelek akibatnya, karena biasanya istri akan mengikuti suaminya, sementara suaminya tidak berakidah yang benar. Karenanya sikap untuk tidak mau menikah kecuali dengan yang benar akidah dan manhajnya adalah sikap yang benar guna menjaga kehormatan dan agamanya.
Ada sebuah kisah disebutkan oleh para ulama mengenai seseorang yang bernama Imran Al-Haththan. Orang ini dulunya salah seorang ulama ahlussunnah, akan tetapi dia menikah dengan putri pamannya (sepupunya) yang mempunyai pemikiran khawarij, dia berdalih menikahinya agar dia bisa menasehati jika dia sudah jadi istrinya. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, dia yang dinasehati oleh istrinya hingga akhirnya dia keluar dari ahlussunnah menuju ke mazhab khawarij bahkan disebutkan bahwa dia lebih ekstrim daripada istrinya dalam mazhab khawarij ini.
Maka lihatlah bagaimana seorang alim bisa terpengaruh oleh wanita yang notabene adalah istrinya sendiri, maka bagaimana sangkaanmu dengan seorang wanita yang tidak alim lalu menikah dengan lelaki yang tidak benar akidah dan manhajnya, tentunya potensi untuk dia tersesat dan mengikuti suaminya lebih besar, wallahul musta’an. Karenanya amalan seperti ini dijauhi, insya Allah masih banyak ikhwan/akhwat yang bagus akidah dan manhajnya, karenanya dia bersabar dan bertawakkal kepada Allah.
Adapun jodoh, maka dia adalah perkara ghaib karena dia termasuk dari takdir seseorang, dan tidak ada yang mengetahui apa takdirnya kecuali setelah terjadinya. Hanya saja mungkin dia bisa shalat istikharah guna menetapkan hatinya apakah calonnya bisa mendatangkan kebaikan bagi agama dan dunianya ataukah tidak, dia beristikharah kepada Allah dan bertawakkal kepadanya, wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • suami nu istri persis
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, October 11th, 2009 at 8:24 pm and is filed under Jawaban Pertanyaan, Manhaj, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

16 responses about “Menikah Dengan Orang yang Beda Manhaj”

  1. m. syukur said:

    wanita yang baik-baik menikah dengan pria yang baik-baik pula

  2. thaha said:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. ?

    Ustadz saya mau tanya ? mengapa ketika saya benar2 niat nikah lillahita’ala kog rasanya sulit sekali mencari jodoh ? padahal saya sudah berusaha dengan keras kesana kemari bahkan sampe pergoi ke dukun segala, saya sudah sholat lima waktu sholat tahajjud dan puasa senin kamis tapi megapa kog tiada hasil, mengapa Allah SWT masih belum jua mengabulkan doa dan usaha saya, kog malah dipersulit ? malah tambah sulit sekali dalam mecari jodoh sampe saya benar2 frustasi streesss ….!!!! tapi kenapa orang yang bermaksiat, orang yang berzina, melakukan pesta sex kog dipermudah oleh ALLAH SWT bahkan diberikan kenikmatan ? mengapa bisa begini ? mana keadilan ALLAH SWT pada hamba2Nya yang muslim ? mana janji-Nya akan mengabulkan doa setiap hambaNya ? apa yang harus saya lakukan ? mohon tausiayah dari ustadz ?

    waalaikumussalam warahmatullah.
    Jangan sekali-kali mengatakan: “Aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan,” karena ucapan seperti ini termasuk sebab terbesar tertolaknya doa. Setiap orang yang berdoa maka Allah telah berjanji untuk mengabulkannya, jika Allah tidak kabulkan apa yang kita minta maka:
    1. Mungkin kita melakukan maksiat besar yang bisa menghalangi diterimanya doa kita, misalnya ucapan ‘saya sudah berdoa tapi tidak dikabulkan’ atau datang ke dukun yang merupakan kesyirikan, semua ini menjadi sebab doanya tidak dikabulkan
    2. Kita mengonsumsi makanan haram, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan doa tidak terkabul.
    Maka tidak semua orang yang berdoa akan Allah kabulkan, yang dikabulkan hanyalah yang memenuhi syarat-syarat doa dan menghindari semua sebab tertolaknya doa.
    Adapun cara Allah mengabulkan doa maka ada 3 cara:
    1. Kadang diberikan apa yang dia minta.
    2. Kadang tidak diberikan apa yang dia minta tapi sebagai gantinya Allah melindunginya dari kejelekan.
    3. Disimpankan untuknya sampai hari kiamat.
    Baca pembahasan penting seputar doa di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1738, http://al-atsariyyah.com/?p=1734, dan di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1715.

  3. Roni said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz sampai sekarang ana masih bingung dengan beberapa artikel disebagian situs salafi yang mencatumkan kalimat “madzhab salaf”. apa perbedaaan dan persamaan antara manhaj dengan madzhab. Jazakumullahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Manhaj itu lebih luas daripada mazhab, karena manhaj bermakna metode atau jalan dalam menempuh sesuatu. Karenanya manhaj itu mencakup manhaj dalam akidah, manhaj dalam ibadah, manhaj dalam muamalah, dan seterusnya.
    Adapun mazhab, maka dia adalah pola pikir seorang ulama dalam memahami nash-nash syariat, terkhusus dalam masalah fiqhi. Karenanya pola pikir imam malik dikatakan mazhab Maliki dan seterusnya.
    Hanya ini yang bisa kami jawab, wallahu a’lam

  4. akhwat said:

    assalaamu’alaikum

    ustadz, baru-baru ini ana dilamar oleh seorang ikhwan.ana dan wali sudah menerima lamaran tersebut. permasalahan saat ini adalah, ana baru mengetahui tentang manhaj salaf yang sebenar (sebelum ini manhaj ana bercampur dgn turotsi)selepas ana menerima lamaran tersebut. soalnya sekarang, ikhwan yang melamar ana ini, dari sudut akhlaknya, baik setelah diselidiki. namun dari sudut agamanya, iaitu manhajnya, masih lagi bercampur (salafy dan turotsi).hingga saat ini, ikhwan ini belum menyadari ttg manhaj yang diikutinya karena belum sampai kebenaran padanya dan tiada siapa2 yang mengkhabarkan padanya. dalam kasus di atas, apa yang harus ana lakukan? memutuskan lamaran ato teruskan sahaja dengan pernikahan? ana khuatir dengan keselamatan agama ana selepas menikahinya. mohon nasehatnya ustadz. jazakallohu khairan.

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya saudari berterus terang kepada ikhwannya dan menjelaskan permasalahan adanya perbedaan keyakinan dalam masalah ini agar kelak tidak menimbulkan masalah. Dan saudari juga bisa mempersyaratkan mau menikah dengannya jika tidak lagi ngaji di tempat yang menurut saudari tidak sesuai dengan manhaj salaf.

  5. anak kecil said:

    assalammualaikum

    Pak ustad, bagaimana ciri-ciri orang yang bermanhaj salaf? Apakah manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang benar? apakah tidak ada pemikiran-pemikiran ulama lain yang benar dan berbeda dengan pemikiran manhaj salaf ? Bukankah pada masa sahabat Nabi juga terdapat perbedaan2 pemahaman?
    Apakah pemahaman salaf adalah satu-satunya yang benar sehingga tidak mau menikah dengan yang berbeda pemahaman?

    Waalaikumussalam.
    Para sahabat itulah salaf yang sebenarnya. Karenanya siapa saja yang sejalan dengan akidah dan amalan mereka maka dia adalah salaf dimanapun dia berada.

  6. abu ukasyah said:

    Gm ust, jika seorang akhwat dilamar dai yang memusuhi sunnah, bahkan sering mencela sunnah dengan wahabi sesat…?

    Semaksimal mungkin dia memahamkan orang tuanya agar tidak menerima lamaran tersebut

  7. Abu Farisi said:

    Assalaamu’alaaikum,
    Ustadz mohon izin copy-paste

  8. Abu Farisi said:

    Assalaamu’alaaikum
    Mohon azin copas

  9. bunda ara said:

    penting memiliki pasangan hidup yg mempunyai manhaj yg sama didlm pernikahan.kr akan mempunyai dampak thdp metode penerapan pendidikan anak maupun perjalanan ibadah kpd Allah didlm klg.anak akan bingung bl ortu berselisih,begitupun masing2 diri akan merasa tdk memiliki dukungan yg seharusnya ia dapatkan shg harmoni dan sukses..kembali hanya Allah kt berharap shg pasangan tdk hanya cakap kepribadian tp jg manhaj..aamiin

  10. Menikah Dengan Orang yang Beda Manhaj « Catatan Group An-Nisa' said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/menikah-dengan-orang-yang-beda-manhaj.html Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this post. [...]

  11. Any said:

    terimakasih penjelasannya tentang menikah.

  12. Hamba Allah said:

    Bismillah,
    apakah wajib seorang laki2 yg menzinahi wanita untuk menikahinya, sbb wanita yg ingin dizinahinya telah bertaubat dan baru mulai mengikuti manhaj salaf, sedangkan laki2 tsb tidak, bahkan ia melarang keras si wanita untuk berhijab. namun silaki2 tsb ingin menikahi wanitanya sebab rasa tanggung jwab dan perasaan bersalahnya. Meski berbeda manhaj ia seorang yg baik akhlaknya, dan rajin beribadah stelah ia khilaf dari perzinahan tsb. Hnya sj bila diajak untuk ta’lim ia enggan, dan ttp tidak menyetujui hijab bagi wanita. Ada yg menyarankan si wanita untuk meninggalkannya sbb laki2 tsb, tdk baik untuk dunianya jg akhiratnya. Bahka ia ingin dijodohkan oleh laki2 yang bermanhaj “salaf”. namun sayangnya wanita tsb sudah tidk gadis lagi. Mohon solusi nya Ustdz.Sbb wanita ini sngat bingung dlm mengambil keputusan yg tepat. Jazakallahu khoir..

    Tidak harus dengan laki-laki yang berzina dengannya. Memang sebaiknya dia mencari lelaki yang lain. Dan orang yang bertaubat dengan ikhlas kedudukannya sama seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa. Jadi jika si muslimah sudah bertaubat maka kedudukan dia sama seperti muslimah lainnya, berhak mendapatkan suami yang saleh.

  13. Azuma said:

    Bismillaahirrahmaanirrahiim
    Kalau kondisinya begini ustadz,
    Seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan.Kemudian si laki2 bertaubat dengan taubat yg baik menuju kepada jalan al-haq bermanhaj ahlussunnah salafy.Si perempuan juga bertaubat tetapi taubatnya sebatas bertaubat dari dosa zina nya,dan keadaan sang wanita awam tidak bermanhaj ahlussunnah salafy.Tetapi kreana telah dizinahi oleh si lelaki tadi si perempuan menaruh harapan yg sangat besar kpd si lelaki supaya menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab.Bagaimana seharusnya sikap yg diambil si lelaki yg telah bertaubat memeluk alhaq manhaj salaf?Tetap bertanggung jawab dengan menikahi si wanita yg awam yg bukan ahlussunnah salfy?Atau mencari wanita lain dari kalangan ahlussunnah?Sedangkan si wanita yg telah dizinahi tadi mengharapkan tanngung jwb yg besar dri ikhwan ini?Tolong jawabannya atas masalah diatas dari ustadz.Semoga Allah menjaga dan menambah kefahaman ustadz atas agama ini.

    Kalau memang wanita tersebut ada kemungkinan bisa diajar agama setelah menikah, maka yang sebainya dia menikah dengannya. Wallahu a’lam.

  14. fulanah said:

    ustadz,bagaimana jika orang tua menjodohkan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak berada di atas manhaj salaf. apa yang harus dilakukan sang putri tsb? bagaimana cara terbaik utk menolak perjodohan oleh orang tuanya tsb?

    Hendaknya dia menolak dengan cara yang baik dan meminta bantuan dari pihak keluarga lainnya, semoga di antara mereka ada yang bisa membantunya. Yassarallahu umurana.

  15. abu najla said:

    bismillah,ustadz,apabila terlanjur menikahi seorang wanita yg jahil terhadap syari’at?apakah suami berdosa apabila sudah berusaha keras mengajari istri untuk berislam yg shohih?namun istri tdk punya semangat untuk mempelajarinya bahkan cuek saja?dan apa nasihat antum ustadz?barokallohu fiikum…..

    InsyaAllah tidak, Bersabar dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala untuk hal tersebut dan tetap mengajarnya dengan lemah lembut. yassarakumullah (MT)

  16. hanifa said:

    assalamu’alaikum..
    ustadz, apa yang disebut manhaj salafi itu hanya Nahdhatul Ulama? lalu selain itu, muhammadiyah, persis, dll, bukan mahaj salafi? sehingga seorng muslimah nu tdk bs menikahi seorang muslim muhammadiyah?
    trm ksh sblmnya,,
    wassalamu’alaikum..

    Waalaikumussalam.
    Sama sekali bukan. Manhaj Salaf adalah penamaan lain dari ahlussunnah wal jamaah. Dan ahlussunnah wal jamaah tidak mempunyai partai atau kelompok atau organisasi. Pemimpin ahlussunnah adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak ada yang lain.