Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

January 12th 2009 by Abu Muawiah |

Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Pertanyaan:
Melihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dengan dalilnya?.

Jawab:
Permasalahan-permasalahan seperti ini, yang berkembang ditengah masyarakat merupakan salah satu permasalahan yang perlu dibahas secara ilmiah. Dalam kondisi mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka menyaksikan masalah-masalah sepertinya sering terjadi debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya yang kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan fenomena yang sangat menyedihkan tatkala akibat yang terjadi hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu’, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy. Kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Qudamah, kitab Al-Ausath karya Ibnu Mundzir, Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan menemukan para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ibadah, muamalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidak menimbulkan perpecahan maupun permusuhan dikalangan para ulama. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an.
Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya, rincian masalah ini sebagai berikut :

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis :
i.    Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.
ii.    Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan
iii.    Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menelunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakan menjelaskan jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak diragukan lagi akan shohihnya hadits-hadits yang menjelaskan jenis yang ketiga. Karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary, Imam Muslim dan lain-lainnya, dari beberapa orang sahabat seperti ‘Abdullah bin Zubair, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhamsmad As-Sa’idy, Wail Bin Hujur, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya.
Maka yang perlu dibahas disini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerak-gerakkan) dan derajat hadits yang kedua (digerak-gerakkan).

Hadits-Hadits Yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali
Sepanjang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut.

HADITS PERTAMA

أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم  كان يشير بأصبعه إذا دعا ولا يحركها
“Sesungguhnya Nabi  beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunan-nya no.989, An-Nasai dalam Al-Mujtaba 3/37 no.127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no.638, Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no.676. Semua meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair dari ayahnya ‘Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebut hadits di atas.

Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini Sebagai Berikut :
    Hajjaj bin Muhammad. Beliau rawi tsiqoh (terpercaya) yang tsabt (kuat) akan tetapi mukhtalit (bercampur) hafalannya diakhir umurnya, akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Baca : Al-Kawakib An-Nayyirot, Tarikh Baghdad dan lain-lainnya.
    Ibnu Juraij. Nama beliau ‘Abdul Malik bin ‘Abdul ‘Aziz bin Juraij Al-Makky seorang rawi tsiqoh tapi mudallis akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata  أخبرني  (memberitakan kepadaku).
    Muhammad bin ‘Ajlan. Seorang rawi shoduq (jujur).
    ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair. Kata Al-Hafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqoh ‘abid (terpercaya, ahli ibadah).
    ‘Abdullah bin Zubair. Sahabat.

Derajat Hadits:
Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal tersebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari ‘Illat (cacat) dan tidak syadz. Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) ini adalah lafadz yang syadz.
Sebelum kami jelaskan dari mana sisi syadznya lafadz ini, mungkin perlu kami jelaskan apa makna syadz menurut istilah para Ahlul Hadits. Syadz menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk :
    Pertama : Syadz karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayatan.
    Kedua : Syadz karena menyelisihi.
Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Dan pengertian syadz dalam bentuk kedua adalah
رواية المقبول مخالفا لمن هو أولى منه
“Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utama darinya”.
Maksud “rawi maqbul” adalah rawi derajat shohih atau hasan. Dan maksud “rawi yang lebih utama” adalah utama dari sisi kekuatan hafalan, riwayat atau dari sisi jumlah. Dan perlu diketahui bahwa syadz merupakan salah satu jenis hadits dho’if (lemah) dikalangan para ulama Ahli Hadits.
Maka kami melihat bahwa lafadz ‘laa yuharrikuha’ (tidak digerak-gerakkan) adalah lafadz yang syadz tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajlan dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajlan karena beberapa perkara :
1.     Muhammad bin ‘Ajlan walaupun ia seorang rawi hasanul hadits (hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya.
2.     Riwayat Muhammad bin ‘Ajlan juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan).
3.     Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajlan dan mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Empat rawi tsiqoh tersebut adalah :
a.    Al-Laits bin Sa’ad, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133 dan Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/131.
b.    Abu Khalid Al-Ahmar, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashabul Hadits hal.62, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/370 no.1943, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194, Ad-Daraquthny dalam Sunannya 1/349, dan Al-Baihaqy 2/131, ‘Abd bin Humaid no.99.
c.    Yahya bin Sa’id Al-Qoththon, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud no.990, An-Nasai 3/39 no.1275 dan Al-Kubro 1/377 no.1198, Ahmad 4/3, Ibnu Khuzaimah 1/350 no.718, Ibnu Hibban no.1935, Abu ‘Awanah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132.
d.    Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-Darimy no.1338 dan Al-Humaidy dalam Musnadnya 2/386 no.879.
Demikianlah riwayat empat rawi tsiqoh tersebut menetapkan bahwa riwayat sebenarnya dari Muhammad bin ‘Ajlan tanpa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) akan tetapi Muhammad bin ‘Ajlan dalam riwayat Ziyad bin Sa’ad keliru lalu menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan).
4.     Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari ‘Amir bin ‘Abdullah bin Zubair sebagaimana Muhammad bin ‘Ajlan juga meriwayatkan dari ‘Amir ini akan tetapi tiga orang rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan), maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin ‘Ajlan yang menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) telah menyelisihi tiga rawi tsiqoh tersebut, maka riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin ‘Ajlan dianggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut. Tiga orang ini adalah :
a.    ‘Utsman bin Hakim, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no.112, Abu Daud no.988, Ibnu Khuzaimah 1/245 no.696, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194-195 dan Abu ‘Awanah 2/241 dan 246.
b.    Ziyad bin Sa’ad, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.879.
c.    Makhromah bin Bukair, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/237 no.1161 dan Al-Baihaqy 2/132.

Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dalam hadits ‘Abdullah bin Zubair adalah syadz dan yang menyebabkan syadznya adalah Muhammad bin ‘Ajlan. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal dari Ziyad bin Sa’ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang sangat kuat yang tersebut diatas menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bin ‘Ajlan. Wallahu A’lam.

HADITS YANG KEDUA

عن بن عمر أنه كان يضع يده اليمنى على ركبته اليمنى ويده اليسرى على ركبته اليسرى ويشير بإصبعه ولا يحركها ويقول إنها مذبة الشيطان ويقول كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم يفعله
“Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya diatas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaitan”. Dan beliau berkata : “adalah Rasulullah  mengerjakannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban.

Derajat Hadits:
Seluruh rawi sanad Ibnu Hibban tsiqoh (terpercaya) kecuali Katsir bin Zaid. Para ulama ahli jarh dan ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. Ibnu Hajar berkata :  shoduq yukhtiu katsiran (jujur tapi sangat banyak bersalah), makna kalimat ini Katsir adalah dho’if tapi bisa dijadikan sebagai pendukung atau penguat. Ini ‘illat (cacat) yang pertama.
‘Illat yang kedua ternyata Katsir bin Zaid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini.
Pertama : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata, sebab tujuh rawi tsiqoh juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, akan tetapi dari ‘Ali bin ‘Abdurrahman Al-Mu’awy dari Ibnu ‘Umar. Tujuh rawi tersebut adalah :
1.     Imam Malik, riwayat beliau dalam Al-Muwaththo’ 1/88, Shohih Muslim 1/408, Sunan Abi Daud no.987, Sunan An-Nasai 3/36 no.1287, Shohih Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.193, Musnad Abu ‘Awanah 2/243, Sunan Al-Baihaqy 2/130 dan Syarh As-Sunnah Al-Baghawy 3/175-176 no.675.
2.     Isma’il bin Ja’far bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no.1160, Ibnu Khuzaimah 1/359 no.719, Ibnu Hibban no.1938, Abu ‘Awanah 2/243 dan 246 dan Al-Baihaqy 2/132.
3.     Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712, Al-Humaidy 2/287 no. 648, Ibnu Abdil Bar 131/26.
4.     Yahya bin Sa’id Al-Anshory, riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nasai 3/36 no.1266 dan Al-Kubro 1/375 no.1189, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712.
5.     Wuhaib bin Khalid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu ‘Awanah 2/243.
6.     ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardy, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/287 no.648.
7.     Syu’bah bin Hajjaj, baca riwayatnya dalam ‘Ilal Ibnu Abi Hatim 1/108 no.292.
Kedua : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab :
1.     Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan).
2.     Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Umary dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar juga tidak disebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Baca riwayat mereka dalam Shohih Muslim no.580, At-Tirmidzy no.294, An-Nasai 3/37 no.1269, Ibnu Majah 1/295 no.913, Ibnu Khuzaimah 1/355 no.717, Abu ‘Awanah 2/245 no.245, Al-Baihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/174-175 no.673-674 dan Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no.635.
Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits Mungkar. Wallahu A’lam.

Kesimpulan :
Seluruh hadits yang menyatakan jari telunjuk tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Hadits-Hadits Yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan

ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها
“Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318, Ad-Darimy 1/362 no.1357, An-Nasai 2/126 no.889 dan 3/37 no.1268 dan dalam Al-Kubro 1/310 no.963 dan 1/376 no.1191, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa’ no.208, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no.1860 dan Al-Mawarid no.485, Ibnu Khuzaimah 1/354 no.714, Ath-Thobarany 22/35 no.82, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427. Semuanya meriwayatkan dari jalan Zaidah bin Qudamah dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wail bin Hujur.

Derajat Hadits:
Zhohir sanad hadits ini adalah hasan, tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari ‘illat (cacat) dan tidak syadz.
Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga syadz dan penjelasan hal tersebut sebagai berikut : Zaidah bin Qudamah seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semua meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wail bin Hujur. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan).
Dua puluh dua rawi tersebut adalah :
1.     Bisyr bin Al-Mufadhdhal, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud 1/465 no.726 dan 1/578 no.957 dan An-Nasai 3/35 no.1265 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1188 dan Ath-Thobarany 22/37 no.86.
2.     Syu’bah bin Hajjaj, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316 dan 319, Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya 1/345 no.697 dan 1/346 no.689, Ath-Thobarany 22/35 no.83 dan dalam Ad-Du’a n0.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/430-431.
3.     Sufyan Ats-Tsaury, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, An-Nasai 3/35 no.1264 dan Al-Kubro 1/374 no.1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no.78.
4.     Sufyan bin ‘Uyyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no.1195 dan 3/34 no.1263 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1186, Al-Humaidy 2/392 no.885 dan Ad-Daraquthny 1/290, Ath-Thobarany 22/36 no.85 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/427.
5.     ‘Abdullah bin Idris, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu Majah 1/295 no.912, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Ibnu Khuzaimah 1/353 dan Ibnu Hibban no.1936.
6.     ‘Abdul Wahid bin Ziyad, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316, Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/72 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/434.
7.     Zuhair bin Mu’awiyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, Ath-Thobarany 22/26 no.84 dan dalam Ad-Du’a no.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/437.
8.     Khalid bin ‘Abdillah Ath-Thahhan, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/432-433.
9.     Muhammad bin Fudhail, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/353 no.713.
10.     Sallam bin Sulaim, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thoyalisi dalam Musnadnya no.1020, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Ath-Thobarany 22/34 no.80 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/431-432.
11.     Abu ‘Awanah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/38 no.90 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/432.
12.     Ghailan bin Jami’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.88.
13.     Qois bin Rabi’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/33 no.79.
14.     Musa bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.89.
15.     ‘Ambasah bin Sa’id Al-Asady, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.87.
16.     Musa bin Abi ‘Aisyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no.637.
17.     Khallad Ash-Shaffar, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no. 637.
18.     Jarir bin ‘Abdul Hamid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/435.
19.     ‘Abidah bin Humaid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/435-436.
20.     Sholeh bin ‘Umar, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/433.
21.     ‘Abdul ‘Aziz bin Muslim, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/436-437.
22.     Abu Badr Syuja’ bin Al-Walid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/438-439.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Zaidah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharikuha (digerak-gerakkan) adalah syadz.

Kesimpulan :
Penyebutan lafazh yaharrikuha  (jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Wallahu A’lam.

Pendapat Para Ulama Dalam Masalah Ini

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah posisi jari telunjuk : Apakah digerak-gerakkan atau tidak.
Ada tiga pendapat dikalangan para ulama dalam masalah ini :
Pertama : Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.
Kedua : Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.
Ketiga : Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni’ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Dan Syaikh Al-Albany -rahimahullahu ta’ala- dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak.

Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya, ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan.
Namun dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah. Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut, apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi- hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau. Dan dari kata “berisyarat” itu dapat dipahami apakah jari telunjuk digerak-gerakkan atau tidak. Penjelasannya sebagai berikut
Kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan :
Pertama : Dengan digerak-gerakkan. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk, maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah.
Kedua : Dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih Al-Bukhory?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih Al-Bukhary yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya.

Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. Hal tersebut dipastikan karena dua perkara :
Pertama : Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan Ash Sholatu Tawqifiyah (sholat itu adalah tauqifiyah) maksudnya tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk, asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan.
Kedua : Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0.   dan Imam Muslim No.538 :
إن في الصلاة شغلاًَ
“Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan”
Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah  yang shohih.

Kesimpulan:
Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang masalah posisi jari telunjuk dalam tasyahud adalah tidak digerak-gerakkan. Wallahu A’lam.

Lihat pembahasan di atas dalam :
    Kitab Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu’ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah, Al-Muhalla karya Ibnu Hazm 4/151, Subulus Salam 1/189, Nailul Authar, ‘Aunul Ma’bud 3/196, Tuhfah Al-Ahwadzy 2/160.
    Madzhab Hanafiyah lihat dalam : Kifayah Ath-Tholib 1/357.
    Madzhab Malikiyah : Ats-Tsamar Ad Dany 1/127, Hasyiah Al-Adawy 1/356, Al-Fawakih Ad-Dawany 1/192.
    Madzhab Syafiiyyah dalam : Hilyah Al-Ulama 2/105, Raudhah Ath-Tholibin 1/262, Al-Majmu’ 3/416-417, Al-Iqna’ 1/145, Hasyiah Al-Bujairamy 1/218, Mughny Al-Muhtaj 1/173.
    Madzhab Hambaliyah lihat dalam :  Al-Mubdi’ 1/162, Al-Furu’ 1/386, Al-Inshaf 2/76, Kasyful Qona 1/356-357.

[Dikutip dari majalah An-Nasihah edisi 1 dengan sedikit perubahan]

Incoming search terms:

  • menggerakkan telunjuk saat tasyahud
  • hukum isyarat saat tasyahud ulama salaf
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, January 12th, 2009 at 4:55 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah, Fiqh, Hadits. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

18 responses about “Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud”

  1. wawan said:

    Assalamualaikum,

    sukron atas penjelasannya.
    namun ana masih bingung karena syeih Albani sendiri menggerak2an jarinya.

    http://www.youtube.com/watch?v=ze8j_wX7Guw

    apakah jika kita menggerak2an jari,
    termasuk hal terlarang,makruh, atau haram ?

    mohon penjelasannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ala kulli hal, permasalahan ini termasuk dalam perbedaan pendapat dalam hal pemahaman (khilaf al-ahfam), yang lahir dari adanya perbedaan dalam menshahihkan dan melemahkan suatu hadits. Karenanya barangsiapa yang sudah sanggup dan mempunyai keilmuan untuk membahasnya sendiri maka itulah yang paling utama karena lebih dekat kepada ittiba’ kepada sunnah. Sedang bagi yang belum sanggup (awam) maka hendaknya dia memilih pendapat alim yang dia anggap lebih berilmu atau pendapat yang hatinya lebih condong kepadanya -dan Allah lebih tahu niatnya dalam memilih suatu pendapat-.
    Yang jelas dalam perbedaan pendapat seperti ini, setiap orang tetap terpuji selama dia mempunyai dalil pada amalannya tersebut dan meyakini keshahihan dalil tersebut.
    Kemudian, pihak yang salah dalam permasalahan ini -menggerakkan jari atau tidak- paling tinggi hanya terjatuh pada perbuatan menyelisihi sunnah atau makruh, tidak sampai haram. Karena menggerakkan jari sendiri hukumnya hanyalah sunnah -tidak sampai wajib- karena hanya dinukil dari perbuatan beliau, bukan berdasarkan perintah dari beliau. Wallahul muwaffiq

  2. Abu Hafshah as-singkepy said:

    Assalamu’alaykum, ana pernah membaca buku terjemahan sifat solat nabi, disitu terdapat hadits yg maknanya “gerakan telunjuk lebih berat dirasakan setan daripada pukulan besi”. Apakah hadits tsb shahih atau lemah, soalnya artikel di atas tidak menyebutkan hadits tsb ? Mohon pencerahannya ! JAZAKALLAHU KHOIRON

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hadits tersebut dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi hal. 159, tapi maksud ‘dia lebih keras bagi setan daripada besi’ bukanlah gerakan telunjuk akan tetapi telunjuk yang diisyaratkan sebagaimana yang Asy-Syaikh Al-Albani sendiri sebutkan dalam kitab yang sama.
    Jadi hadits itu hanya menunjukkan disyariatkannya berisyarat dengan telunjuk, tanpa menyinggung apakah dia digerakkan atau tidak.

  3. Rhosyied said:

    Assalamualaikum…

    Mau tanya, siapa ulama hadits yang melemahkan hadits menggerak-gerakkan jari telunjuk “Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”. ??

    Jazakumullah khoir.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Sebelumnya, bukan sesuatu yang keliru tatkala sebagian ulama terdahulu menyatakan shahihnya suatu hadits lalu ada ulama belakangan yang menyingkap cacat dari hadits tersebut dan melemahkannya. Sebagaimana tidak ada masalah ketika sebagian ulama terdahulu melemahkan sebuah hadits lalu datang ulama belakangan menyatakannya shahih dengan seluruh jalan-jalannya.
    Allahumma kecuali jika para ulama terdahulu bersepakat dalam menshahihkan sebuah hadits lalu datang orang belakangan yang melemahkannya, maka perbuatan ulama belakangan ini tentu keliru. Demikian pula sebaliknya jika mereka sepakat melemahkan sebuah hadits lalu datang ulama belakangan menshahihkannya.
    Hadits menggerakkan jari-jari ini dishahihkan oleh beberapa ulama, tapi mereka tidak bersepakat dalam menshahihkannya. Darimana kita mengetahui tidak ada ulama yang melemahkannya? bukankah ‘tidak adanya penukilan akan hal itu tidak menunjukkan tidak adanya’?
    Mungkin saja para ulama tidak menyatakan lemahnya karena sudah terlalu jelasnya kelemahan yang ada padanya, sebagaimana banyak dari hadits-hadits yang di dalamnya seorang yang jelas-jelas lemah dan mereka tidak mengomentarinya karena sudah jelas. Demikian halnya hadits menggerakkan jari ini, bagi siapa yang bermazhab dengan mazhab ahli hadits dalam masalah ziyadah ats-tsiqah (tambahan riwayat dari rawi tsiqah), jelas sekali kalau hadits ini adalah hadits yang syadz. Karenanya Asy-Syaikh Muqbil -rahimahullah- berkata -sebagaimana yang dikabarkan oleh sebagian asatidz kepada kami-, “Kalau hadits ini bukan hadits yang syadz, maka aku tidak tahu lagi yang mana namanya hadits syadz.” Hal itu karena Zaidah menyelisihi banyak sekali rawi, yang sebagian di antaranya jauh lebih kuat hafalannya di bandingkan diri.

    Setelah hal di atas dipahami maka kami katakan: Di antara yang menyatakannya sebagai hadits yang lemah adalah: Ad-Daraquthni, Asy-Syaikh Muqbil, dan selain keduanya.

  4. Abu Hafshah as-singkefy said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, ikhwan di kampung ana hanya ana sendiri yg tdk menggerakkan telunjuk, ikwan tsb menyampaikan kpd ana kaidah “yg menetapkan lebih didahulukan dari yg menafikan”, bgm menanggapinya? JAZAKALLAHU KHOIRON

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Barakallahu fikum. Masalah seperti ini seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Cara menanggapinya adalah menyelesaikan perdebatan yang ada dengan memujinya karena mengikuti dalil yang dia ketahui dan katakan juga bahwa antum mengikuti dalil yang menurut antum lebih tepat, dan agar setiap dari antum berdua mengamalkan sendiri-sendiri apa yang menurut dia lebih tepat. Tidak ada paksaan dalam masalah ijtihadiah.
    Adapun kaidah di atas: “yg menetapkan lebih didahulukan dari yg menafikan”, sekedar sebagai faidah kami katakan:
    Kaidah ini termasuk dari beberapa kaidah yang digunakan oleh para ulama dalam mengompromikan dua atau lebih dalil yang lahiriahnya bertentangan. Hanya saja perlu diketahui bahwa pengompromian hanya dilakukan jika dalil-dalil yang saling bertentangan semuanya shahih.
    Sementara dalam masalah ini, hadits yang menyatakan telunjuk di gerak-gerakkan adalah syadz (lemah). Karenanya tidak boleh mengompromikan keduanya, tapi hadits yang shahih diamalkan dan yang lemah ditinggalkan.

  5. Abu Hafshah as-singkefy said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz hafizhakallah apa benar pd saat tasyahhud pandangan mata mengarah pd telunjuk? JAZAKALLAHU KHAIRAN

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ia betul, haditsnya riwayat Muslim antum bisa baca keterangannya di sifat shalat Nabi r karya Asy-Syaikh Al-Albani.

  6. Muhammad Alfuraihani said:

    Bismillah
    ana mau tnya.
    apa da dalil tntang berisyarat dgn telunjuk pd tasyahud awal/pertama?
    jazakumullahu khairan katsiran

    Ya ada berdasarkan keumuman dalil disyariatkannya berisyarat dengan jari setiap kali membaca tahiyat.

  7. ikhwan said:

    Assalamu’alaikum..

    afwan Ustadz, tepatkah kita menggunakan perkataan imam Ibnu Hajar –Rahimahullahu- dalam kitab Nukhbat al-Fikaar dalam menyikapi masalah Ziyaadah ats-Tsiqah. Beliau menyatakan:

    Tambahan perowi Shohih dan hasan diterima selama tidak meniadakan (kontradiktif) terhadap (riwayat) yang lebih tsiqah darinya.

    sehingga itu digunakan sebagai dasar menggerak2kan jari telunjuk seperti yang diriwayatkan zaidah…

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Afwan karena di sini bukan tempatnya berpanjang lebar maka secara umum saya hanya bisa mengatakan:
    1. Pendapat Al-Hafizh di atas merupakan mazhab ushuliyin dalam permasalahan ziyadah ats-tsiqah. Adapun mazhab muhadditsin dalam masalah ini adalah: Kapan sebuah tambahan memberikan hukum baru maka langsung ditarjih, tanpa memperhatikan apakah tambahan itu bertentangan dengan hadits asal atau tidak. Dan tentunya mazhab muhadditsin lebih didahulukan daripada mazhab ushuliyin karena masalah ini berkenaan dengan disiplin ilmu mereka yaitu ilmu hadits.
    Bagi yang menginginkan bukti dari apa yang kami katakan di atas, silakan dia membaca kitab ‘Ilal Ad-Daraquthni, ‘Ilal Ibnu Abu Hatim, dan kitab ‘Ilal lainnya.
    2. Ibnu Hajar sendiri menentang ucapan beliau di atas. Karena dalam kitab An-Nukat ala Ibni Ash-Shalah beliau berpendapat -dalam masalah ziyadah ats-tsiqah- dan mengikuti mazhab muhadditsin. Maka dalam hal ini Ibnu Hajar mempunyai dua pendapat, maka tinggal dicari mana dari kedua kitab ini yang beliau karang belakangan. Jika An-Nukat beliau karang belakangan maka berarti pendapat ushuliyin itu beliau telah tinggalkan dan berpendapat dengan mazhab muhadditsin.

  8. ummu muhammad said:

    ‘afwan ustadz, mau tanya.apa maksud ustadz pada komentar dari abu hafshoh di atas?
    abu hafshoh:
    Bismillah
    ana mau tnya.
    apa da dalil tntang berisyarat dgn telunjuk pd tasyahud awal/pertama?
    jazakumullahu khairan katsiran

    anda menjawab:Wallahu a’lam, kami tidak pernah mendengar dalil dalam masalah ini

    apakah ini menunjukkan bahwa dalam tasyahud awal tidak ada isyrat telunjuk?

    Ia afwan ana keliru, ana pikir yang ditanyakan adalah berisyarat saat duduk di antara dua sujud. Sudah kami benarkan, jazakillahu khairan atas ralatannya. O ia, yang komentar sebelumnya bukan akh abu hafshah, tapi akh Muhammad Alfuraihani.

  9. Genggamwaktu's Blog said:

    […] Pembahasan secara lengkap tentang hal ini telah dibahas oleh Al Ustadz Abu Muawiyah hafizhohullah, yang dinukil dari Majalah An Nashihah. Silakan lihat di sini. […]

  10. Abu Haniifah said:

    assalamualaikum ww…
    sebelunya ana merasa senag dgn adanya situs ini..
    mudah mudahan membuat orang yg bingung jadi tdk.
    an mau tanya tentang sholat yg mendekati sutroh (pembatas). itu termasuk wajib atau tdk mendekati sutroh.
    kerena ana termasuk orang 2 yg demikian, tetapi ana liat ikhwan juga sholat tdk mendekati sutroh.
    mohon penjelasanya.
    jazakumullah khoir.

    Waalaikumussalam
    Pendapat yang paling kuat di kalangan ulama adalah bahwa sutrah hanya diwajibkan di awal shalat. Adapun jika sutrahnya pergi di tengah-tengah dia shalat maka tidak ada kewajiban dia melangkah karena tidak ada dalil yang shahih lagi tegas yang membolehkan berjalan dalam shalat.
    Pembahasan selengkapnya insya Allah akan kami paparkan pada tempatnya.

  11. Seli said:

    Baarakallaahufiik atas ilmunya,, izin share ya.. syukran katsiiran..

  12. santos said:

    “Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. “” (QS. ALI IMRAN:194)

  13. Muhammad Fadhil bin Ali said:

    Bismilloh….Alhamdulillah penjelasan yang sangat bagus,, Ana ijin share ya?? jazakumullahu khairan

  14. andyzidane said:

    Assalamualaikum Wr wb…

    Bismillahirahmanirahim….
    ustad ane mau tanya mungkin keluar dari topik pertanyan,yg ane tanyakan tentang adab dlm berdoa yg sering baginda Rasul lakukan bagaimana ya? apakah mengangkat tangan sesuatu yg mengada2 dan melebihkan (bid’ah)mohon pencerahannya.dan bagaimana tuntunan dzikir setelah sholat yg sesuai Rasul jalankan.

    Waalaikumussalam
    Silakan cari artikel-artikel tentang adab-adab berdoa dalam situs ini.

  15. Muhammad Fauzi said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    numpang singgah ustadz
    sebelumnya terima kasih banyak
    Wassalamu’alaikum..

  16. tokoperak said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Ust ada kajian di daerah mana? saya ingin sekali berguru kepada ust,,, banyak hal yg ingin saya tanyakan

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
    Ini di daerah bekasi. Alhamdulillah ada banyak asatidz yang anda bisa menimba ilmu darinya.

  17. abu faqih said:

    assalammu’alaikum ustadz

    yang ana mau tanya adalah pada saat tasyahud awal/akhir sejak kapan jari telunjuk diangkat untuk memberi isyarat? apakah sejak awal bacaan tasyahud atau saat membaca sholawat nabi?

    Waalaikumussalam.
    Lahiriah hadits menunjukkan dia dibawa dari awal tasyahud. Wallahu a’lam.

  18. ending said:

    assalamualaikum ustadz,,,, ana mau tanya tentang sujud turunnya sendiri,, apakah sujud bertopang dengan kedua tangan dulu atau lutut dulu yang bertopang, jadi intinya tangan dulu atau lutut dulu yang menyentuh kebawah dan untuk dalilnya sendiri gimana? jazzakallah khairon.

    Waalaikumussalam.
    Kesimpulannya, semua dalil dalam permasalahan ini lemah. Karenanya, boleh sujud dengan lutut dahulu dan boleh juga tangan dahulu.