Mengenal As-Sunnah

April 2nd 2012 by Abu Muawiah |

Mengenal As-Sunnah

Definis as-Sunnah

Secara etimologi:

الطَّرِيْقَةُ المُعْتاَدَةُ الَّتِيْ يَتَكَرَّرُ العَمَلُ بِمُقْتَضاَهاَ

“Jalan yang telah dikenali/baku karena konsukuensi jalan tersebut telah sering kali di amalkan.”

Makna ini sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Qur`an,

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

 “Sunnah Allah pada orang-orang yang telah ada sebelumnya. Dan engkau tidak akan mendapati pengganti pada sunnah Allah tersebut.”  (al-Ahzab: 62)

Dan pemakaian kata `sunnah’ yang berarti jalan/titian berlaku mutlak, yang baik maupun yang buruk[1].

Adapun as-sunnah dalam termis para fuqaha Islam,

ماَ صَدُرَ عَنْ النبي غَيْرِ القُرْآنِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ المُخْتَصُّ بِالأَحْكاَمِ الشَّرِيْعَةِ

“Segala sesuatu yang disadur dari Rasulullah selain al-Qur`an baik berupa ujaran, perbuatan atau pengakuan/taqrir beliau yang khusus seputar al-Ahkam asy-Syariah.”[2]

As-Sunnah sebagai dasar Hukum

Al-Qur`an telah menunjukkan eksistensi as-Sunnah sebagai salah satu dasar hukum syariat. Di antaranya di sebutkan dalam beberapa ayat,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. “ (al-Ahzab: 34)

Dan firman Allah ta’ala,

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

asy-Syafi’i, Yahya bin Katsir, Qatadah dan selainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah tiada lain adalah as-Sunnah. Karena yang dilantunkan di rumah-rumah Rasulullah r adalah al-Qur`an atau as-Sunnah[3].

Firman Allah ta’ala

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia mengucapkan sesuatu dari hawa nafsu, melainkan tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan –kepadanya-.” (an-Najm: 3-4)

Dan firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadi engkau sebagai penentu keputusan atas segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan di dalam diri-diri mereka atas keputusanmu, dan menerimanya dengan sebenar-benar penerimaan.” (an-Nisaa`: 65)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa yang mentaati Rasulullah maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa`: 80)

Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, lalu mereka memiliki pilihan –lain- dari perkara mereka. Dan barang siapa yang berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya –yaitu Rasulullah- berhati-hati, karena akan ditimpakan kepada mereka fitnah atau akan ditimpakan bagi mereka adzab yang pedih.” (an-Nuur: 63)

Pembagian as-Sunnah

Kategori Pertama: Adalah as-Sunnah yang di sadur dari Nabi r sebagai penyampai syariat kepada umat beliau, sebagai seorang Nabi dan penyampai yang diutus oleh Allah ta’ala. Sunnah semisal ini adalah bentuk penetapan syariat tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Islam.

Dan terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama: Sunnah Qauliyah

Yaitu yang berupa ujaran Nabi r, misalnya sabda Nabi r,

إِنَّماَ الأَعْماَلُ بِالنِّياَتِ

“Sesungguhnya setiap amalan di sertai dengan niatnya.”[4]

Kedua: Sunnah Fi’liyah

Yaitu sunnah yang berupa perbuatan Rasulullah r, semisal penjelasan beliau akan tata cara shalat dengan mengerjakannya di atas minbar secara langsung. Demikian juga pengerjaan manasik haji dan ketetapan qadha`/peradilan beliau dengan seorang saksi serta sumpah atas penuntut hak.

Ketiga: Sunnah Taqririyah

Yaitu sunnah yang berupa pembenaran beliau r atau diamnya beliau tanpa adanya pengingkaran dalam bentuk ujaran maupun perbuatan pada permasalahan yang terjadi di zaman beliau. Semisal diamnya beliau r tanpa adanya pengingkaran terhadap anak-anak kecil yang bermain tombak kecil di masjid dan terhadap dua gadis kecil yang bersenandung pada hari raya ‘ied.

Kategori Kedua: as-Sunnah yang disadur dari Nabi r dari perkataan dan perbuatan beliau, namun tidak dalam tinjauan beliau sebagai Nabi dan penyampai dari Allah, namun sebagai manusia biasa atau merupakan hasil dari pengalaman beliau dalam perkara-perkara keduniawian. as-Sunnah dalam kategori ini tidak tergolong dalam bagian penetapan syariat bagi umat Islam.

Dalam kategori ini terdapat tiga bagian:

Pertama: Ucapan atau perbuatan yang disadur dari beliau r sebagai lazimnya seorang manusia, semisal makan, minum, berdiri, duduk dan selainnya. Karena perkara-perkara ini adalah hasil dari tabiat manusia. Hanya saja, tata cara makan, minum, berdiri, duduk dan semisalnya tergolong dalam cakupan perbuatan-perbuatan yang sunnah.

Kedua: Perbuatan atau perkataan beliau sebagai implikasi pengalaman beliau ataukah perniagaan beliau dalam urusan keduniawiaan.

Ketiga: Perbuatan yang khusus dilakukan oleh beliau, semisal menikahi wanita lebih dari empat wanita, shiyam wishal dan selainnya.

Ragam al-Ahkam asy-Syari’ah yang terdapat di dalam as-Sunnah

Pertama: Ahkam as-Sunnah yang sejalan dengan Ahkam al-Qur`an serta penegas Ahkam al-Qur`an.

Misalnya, sabda beliau,

لاَ يَحِلُّ ماَلُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبٍ مِنْ نَفْسِهِ

“Tidak halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan dari diri muslim tersebut.”

Sabda beliau r ini sejalan dan juga merupakan penegas firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

 “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta benda kalian sesama kalian dengan cara yang batil kecuali dalam bentuk perniagaan atas dasar keridhaan di antara kalian.” (an-Nisaa`: 29)

Kedua: Ahkam as-Sunnah sebagai penjelas dan merinci keterangan Ahkam al-Qur`an yang global.

Misalnya penjelasan as-Sunnah tentang takaran dan jenis makanan yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakat, takaran harta curian sehingga berlaku pidana potong tangan, tata cara pengerjaan shalat dan zakat dan selainnya.

Ketiga: Ahkam as-Sunnah sebagai batasan atas Ahkam al-Qur`an yang mutlak, atau sebagai pengkhususan atas keumuman Ahkam al-Qur`an.

Dimana ahkam al-Qur`an yang bersifat mutlak atau bersifat umum, akan diterangkan batasan-batasannya oleh as-Sunnah, misalnya pada hukum pidana potong tangan yang oleh al-Qur`an disebutkan secara mutlak, yaitu firman-Nya:

فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Dan potonglah tangan-tangan keduanya.” (al-Maaidah: 38)

Kemudian as-Sunnah menerangkan bahwa batasannya adalah hingga pergelangan tangan[5].

Demikian juga hukum al-Qur`an tentang pengharaman bangkai, yang tertuang secara umum dalam firman-Nya,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ

“Dan diharamkan kepada kalian bangkai.” (al-Maaidah: 3)

Lalu as-Sunnah mengecualikan bangkai ikan dari keumuman tersebut didalam sabda beliau r:

هُوَ الطَّهُوْرُ ماَؤُهُ وَالحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut adalah air yang thahuur dan bangkainya halal.”[6]

 

Keempat: Ahkam as-Sunnah yang berdiri sendiri dalam penetapan hukum syara’.

Dalam hal ini kedudukannya setara dengan al-Qur`an dalam penetapan hukum syara’ Rasulullah r bersabda dalam sebuah hadits,

ألاَ إِنَّي أُوْتِيْتُ القُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah didatangkan kepadaku al-Qur`an dan yang semisalnya beserta dengan al-Qur`an tersebut.”[7] Yaitu as-Sunnah.

Misalnya, keterangan as-Sunnah tentang pengharaman keledai peliharaan, pengharaman hewan buas bertaring, tentang kadar warisan bagi nenek dan lain sebagainya.


[1]  Lihat di dalam al-Mishbah al-Munir 1/293 dan Lisan al-‘Arab 13/230

[2]  Lihat definisi ini di dalam al-Bahru al-Muhith 4/163, Taisir at-Tahrir 2/20 dan at-Taqrir wat-Tahbir 1/223.

[3]  Jaami’ Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi hal. 17, dan ar-Risalah hal. 78

[4]  Muttafaq ‘alaihi

[5]  Sebagaimana disebutkan oleh al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra 8/270-271 secara marfu’ dari hadits Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash.

[6]  Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad 2/237, 261, 378, 392, Abu Dawud di dalam as-Sunan 1/no. 83, at-Tirmidzi no. 69 dan beliau mengatakan, “Hadits hasan shahih,” an-Nasaa`I no. 59 dan 332 dan Ibnu Majah no. 386 serta selainnya.

[7]  Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad 4/131, 132 dan Abu Dawud di dalam as-Sunan 4/no.4604

[Ditulis oleh Ust. Abu Zakaria Al-Makassari hafizhahullah]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, April 2nd, 2012 at 8:34 am and is filed under Tanpa Kategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.