Mengeluarkan Zakat Dari Warisan

July 11th 2011 by Abu Muawiah |

Mengeluarkan Zakat Dari Warisan

Tanya:
Bismillah.
Wal-hamdu lillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Ustadz, kami ingin menanyakan hukum pembagian seputar warisan, sebagai berikut:
Seorang ayah memiliki 5 anak kandung –3 putra dan 2 putri–. Setelah istri pertama meninggal, beberapa lama kemudian ia menikah dengan seorang wanita yang telah memiliki satu anak –putri–. Kesemua anak kandungnya –juga anak tirinya– sudah menikah dan telah meliki anak-anak. Berikut urutan anak-anaknya:
1. Putra (kandung),
2. Putri (kandung),
3. Putra (kandung),
4. Putri (kandung),
5. Putri (tiri), dan
6. Putra (kandung).
Setelah ayah tersebut meninggal, terjadilah perseteruan dalam pembagian harta warisan, dimana anak pertamanya –yakni laki-laki– meminta harta warisan yang lebih banyak daripada yang lainnya. Dari sanalah terjadi perseteruan. Lalu, mereka semua –kelima anak kandungnya– meniatkan 2,5 % dari total warisan tersebut untuk dizakatkan.

Pertanyaannya:
[1]. Apakah dibenarkan –secara syari’at- mengenai 2,5 % yang mereka niatkan untuk dizakatkan?
[2]. Bagaimana perincian pembagian harta warisan tersebut?

Mohon jawaban Ustadz, dikarenakan terdesak hal ini –sebelum terjadi kekeliruan dalam pembagian warisan tersebut–. Barakallahu fikum.
Semoga jawaban Ustadz menjadi sebuah penerang suatu kebaikan. Dan, semoga Allah Ta’ala menjadikan jawaban antum sebagai catatan amal shalih yang menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Allahumma amin.
Jazakumullahu khairan.
Abu Khuzaimah [al.asqalany@yahoo.com]

Jawab:
1.    Zakat tidak wajib dan tidak perlu dikeluarkan jika nishab (85 gram emas) tidak terpenuhi dan belum dimiliki selama setahun. Dalam kasus ini, walaupun harta totalnya mencapai nishab, akan tetapi setelah pemiliknya (ayah) meninggal maka kepemilikan harta itu berpindah kepada anak-anak mereka setelah dibagi sesuai dengan aturan mawaris dalam Islam.
Untuk itu, seharusnya harta ayah ini dibagikan terlebih dahulu kepada seluruh ahli warisnya. Dan siapa saja di antara mereka yang mendapatkan bagian harta melebihi nishab maka dia wajib mengeluarkan zakatnya pada tahun depannya.
Adapun jika anak-anaknya ingin bersedekah (bukan berzakat) lalu mengirimkan pahalanya untuk ayahnya maka hal itu boleh saja, akan tetapi dilakukan setelah pembagian warisan.
Jadi, berdasarkan gambaran yang kami pahami, tidak ada alasan sama sekali -secara syariat- yang mengharuskan mereka untuk mengeluarkan zakat 2,5% dari harta tersebut. Wallahu a’lam.

2.    Adapun pembagiannya, maka sebagai berikut:
a. Istri mendapatkan 1/8 bagian.
b. Ketiga anak lelaki mendapatkan: 42/64 dari harta warisan.
c.    Kedua anak kandung perempuan mendapatkan 14/64 dari harta warisan.
d. Sementara anak tirinya tidak mendapatkan harta warisan karena bukan anak kandung dari lelaki yang meninggal ini.
Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • Zakat warisan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, July 11th, 2011 at 11:31 am and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Warisan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Mengeluarkan Zakat Dari Warisan”

  1. rhezy ramadhan said:

    Bismillah Assalamu’alaikum
    Ibu Kandung saya masih hidup, sedang Bapak Kandung sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu, tapi sebelum meninggal mempunyai tanah warisan dari Orang tua Bapak (kakek).
    Mau Tanya :
    1. Apakah saya salah meminta bagian warisan tanah (kakek) tersebut, tapi ibu saya melarangnya, karena takut dijual buat modal usaha saya yang lagi bangkrut.

    2. Apakah benar menurut ibu saya jika menjual tanah warisan hidup akan menjadi fakir ?

    Waalaikumussalam.
    1. Cucu tidak berhak mendapatkan warisan dari kakeknya jika kakeknya mempunyai anak laki-laki. Dia hanya berhak menerima warisan dari ayahnya.
    2. Tidak ada keterangan yang shahih tentang ucapan seperti itu. Wallahu a’lam.