Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah

October 25th 2008 by Abu Muawiah |

Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah

“Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah,” “apa semua yang ada sekarang itu bid’ah?!” “kalau memang maulidan bid’ah, kenapa kamu naik motor, itukan juga bid’ah.” Kira-kira kalimat seperti inilah yang akan terlontar dari mulut sebagian kaum muslimin ketika mereka diingatkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bid’ah yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ucapan ini dan yang senada dengannya lahir, mungkin karena hawa nafsu mereka dan mungkin juga karena kejahilan mereka tentang definisi bid’ah, batasannya dan nasib jelek yang akan menimpa pelakunya.
Karenanya berikut uraian tentang difinisi bid’ah dan bahayanya dari hadits Aisyah yang masyhur, semoga bisa meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang bid’ah sehingga mereka mau meninggalkannya di atas ilmu, Allahumma amin.

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.

Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”.

Takhrij Hadits:

Hadits ini dengan kedua lafadznya berasal dari hadits shahabiyah dan istri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ‘A`isyah radhiallahu Ta’ala ‘anha.

Adapun lafadz pertama diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (2/959/2550-Dar Ibnu Katsir) dan Imam Muslim (3/1343/1718-Dar Ihya`ut Turots).

Dan lafadz kedua diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara mu’allaq (2/753/2035) dan (6/2675/6918) dan Imam Muslim (3/1343/1718).

Dan juga hadits ini telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya (4594) dan Abu ‘Awanah (4/18) dengan sanad yang shohih dengan lafadz, “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang tidak ada di dalamnya (urusan kami) maka dia tertolak”.

Kosa Kata Hadits:

1. “Dalam urusan kami”, maksudnya dalam agama kami, sebagaimana dalam firman Allah –Ta’ala-, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi urusannya (Nabi) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.”. (QS. An-Nur: 63)

2. “Tertolak”, (Arab: roddun) yakni tertolak dan tidak teranggap.

[Lihat Bahjatun Nazhirin hal. 254 dan Syarhul Arba’in karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh]

Komentar Para Ulama :

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pondasi Islam dibangun di atas 3 hadits: Hadits “setiap amalan tergantung dengan niat”, hadits ‘A`isyah “Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak” dan hadits An-Nu’man “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas””.

Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata, “Ada empat hadits yang merupakan pondasi agama: Hadits ‘Umar “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah dengan niatnya”, hadits “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas”, hadits “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selam 40 hari” dan hadits “Barangsiapa yang berbuat dalam urusan kami apa-apa yang bukan darinya maka hal itu tertolak”.

Dan Abu ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan seluruh urusan akhirat dalam satu ucapan (yaitu) “Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.

[Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam syarh hadits pertama]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah asas yang sangat agung dari asas-asas Islam, sebagaimana hadits “Setiap amalan hanyalah dengan niatnya” adalah parameter amalan secara batin maka demikian pula dia (hadits ini) adalah parameternya secara zhohir. Maka jika setiap amalan yang tidak diharapkan dengannya wajah Allah –Ta’ala-, tidak ada pahala bagi pelakunya, maka demikian pula setiap amalan yang tidak berada di atas perintah Allah dan RasulNya maka amalannya tertolak atas pelakunya. Dan setiap perkara yang dimunculkan dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya, maka dia bukan termasuk dari agama sama sekali”.

Syaikh Salim Al-Hilaly hafizhohullah berkata dalam Bahjatun Nazhirin, “Hadits ini termasuk hadits-hadits yang Islam berputar di atasnya, maka wajib untuk menghafal dan menyebarkannya, karena dia adalah kaidah yang agung dalam membatalkan semua perkara baru dan bid’ah (dalam agama)”.

Dan beliau juga berkata, “… maka hadits ini adalah asal dalam membatalkan pembagian bid’ah menjadi sayyi`ah (buruk) dan hasanah (terpuji)”.

Dan Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhohullah berkata dalam Syarhul Arba’in, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan diagungkan oleh para ulama, dan mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah asal untuk membantah semua perkara baru, bid’ah dan aturan yang menyelisihi syari’at”.

Dan beliau juga berkata dalam mensyarh kitab Fadhlul Islam karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, “Hadits ini dengan kedua lafadznya merupakan hujjah dan pokok yang sangat agung dalam membantah seluruh bid’ah dengan berbagai jenisnya, dan masing-masing dari dua lafadz ini adalah hujjah pada babnya masing-masing, yaitu:

a. Lafadz yang pertama (ancamannya) mencakup orang yang pertama kali mencetuskan bid’ah tersebut walaupun dia sendiri tidak beramal dengannya.

b. Adapun lafadz kedua (ancamannya) mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah tersebut walaupun bukan dia pencetus bid’ah itu pertama kali”. Selesai dengan beberapa perubahan.

Syarh :

Setelah membaca komentar para ulama berkenaan dengan hadits ini, maka kita bisa mengatahui bahwa hadits ini dengan seluruh lafazhya merupakan ancaman bagi setiap pelaku bid’ah serta menunjukkan bahwa setiap bid’ah adalah tertolak dan tercela, tidak ada yang merupakan kebaikan. Dua pont inilah yang –insya Allah- kita akan bahas panjang lebar, akan tetapi sebelumnya kita perlu mengetahui definisi dari bid’ah itu sendiri agar permasalahan menjadi tambah jelas. Maka kami katakan:

A. Definisi Bid’ah.

Bid’ah secara bahasa artinya memunculkan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya, sebagaimana dalam firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala-:

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah membuat bid’ah terhadap langit dan bumi”.(QS. Al-Baqarah: 117 dan Al-An’am: 101)

Yakni Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya yang mendahului. Dan Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman :

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah: “Aku bukanlah bid’ah dari para Rasul”. (QS. Al-Ahqaf: 9)

Yakni : Saya bukanlah orang pertama yang datang dengan membawa risalah dari Allah kepada para hamba, akan tetapi telah mendahului saya banyak dari para Rasul. Lihat: Lisanul ‘Arab (9/351-352)

Adapun secara istilah syari’at –dan definisi inilah yang dimaksudkan dalam nash-nash syari’at- bid’ah adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Imam Asy-Syathiby dalam kitab Al-I’tishom (1/50):

طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ وَيُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ اللهَ سُبْحَانَهُ

Bid’ah adalah suatu ungkapan untuk semua jalan/cara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syari’at dan dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”.

Penjelasan Definisi.

Setelah Imam Asy-Syathiby rahimahullah menyebutkan definisi di atas, beliau kemudian mengurai dan menjelaskan maksud dari definisi tersebut, yang kesimpulannya sebagai berikut:

1. Perkataan beliau “jalan/cara dalam agama”. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘A`isyah)

Dan urusan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentunya adalah urusan agama karena pada urusan dunia beliau telah mengembalikannya kepada masing-masing orang, dalam sabdanya:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HSR. Bukhory)

Maka bid’ah adalah memunculkan perkara baru dalam agama dan tidak termasuk dari bid’ah apa-apa yang dimunculkan berupa perkara baru yang tidak diinginkannya dengannya masalah agama akan tetapi dimaksudkan dengannya untuk mewujudkan maslahat keduniaan, seperti pembangunan gedung-gedung, pembuatan alat-alat modern, berbagai jenis kendaraan dan berbagai macam bentuk pekerjaan yang semua hal ini tidak pernah ada zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah dalam tinjauan syari’at walaupun dianggap bid’ah dari sisi bahasa. Adapun hukum bid’ah dalam perkara kedunian (secara bahasa) maka tidak termasuk dalam larangan berbuat bid’ah dalam hadits di atas, oleh karena itulah para Shahabat radhiallahu ‘anhum mereka berluas-luasan dalam perkara dunia sesuai dengan maslahat yang dibutuhkan.

2. Perkatan beliau “yang diada-adakan”, yaitu sesungguhnya bid’ah adalah amalan yang tidak mempunyai landasan dalam syari’at yang menunjukkan atasnya sama sekali. Adapun amalan-amalan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at secara umum –walaupun tidak ada dalil tentang amalan itu secara khusus- maka bukanlah bid’ah dalam agama. Misalnya alat-alat tempur modern yang dimaksudkan sebagai persiapan memerangi orang-orang kafir , demikian pula ilmu-ilmu wasilah dalam agama ; seperti ilmu bahasa Arab (Nahwu Shorf dan selainnya) , ilmu tajwid , ilmu mustholahul hadits dan selainnya, demikian pula dengan pengumpulan mushaf di zaman Abu Bakar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhuma . Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah karena semuanya masuk ke dalam kaidah-kaidah syari’at secara umum.

3. Perkataan beliau “menyerupai syari’at”, yaitu bahwa bid’ah itu menyerupai cara-cara syari’at padahal hakikatnya tidak demikian, bahkan bid’ah bertolak belakang dengan syari’at dari beberapa sisi:

a. Meletakkan batasan-batasan tanpa dalil, seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa dalam keadaan berdiri dan tidak akan duduk atau membatasi diri dengan hanya memakan makanan atau memakai pakaian tertentu.

b. Komitmen dengan kaifiat-kaifiat atau metode-metode tertentu yang tidak ada dalam agama, seperti berdzikir secara berjama’ah, menjadikan hari lahir Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sebagai hari raya dan yang semisalnya.

c. Komitmen dengan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang penentuan hal tersebut tidak ada di dalam syari’at, seperti komitmen untuk berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban dan sholat di malam harinya.

4. Perkataan beliau “dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”. Ini merupakan kesempurnaan dari definisi bid’ah, karena inilah maksud diadakannya bid’ah. Hal itu karena asal masuknya seseorang ke dalam bid’ah adalah adanya dorongan untuk konsentrasi dalam ibadah dan adanya targhib (motivasi berupa pahala) terhadapnya karena Allah -Ta’ala- berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka seakan-akan mubtadi’ (pelaku bid’ah) ini menganggap bahwa inilah maksud yang diinginkan (dengan bid’ahnya) dan tidak belum jelas baginya bahwa apa yang diletakkan oleh pembuat syari’at (Allah dan RasulNya) dalam perkara ini berupa aturan-atiran dan batasan-batasan sudah mencukupi.

B. Dalil-Dalil Akan Tercelanya Bid’ah Serta Akibat Buruk yang Akan Didapatkan Oleh Pelakunya.

1. Bid’ah merupakan sebab perpecahan.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al-An’am: 153)

Berkata Mujahid rahimahullah dalam menafsirkan makna “jalan-jalan” : “Bid’ah-bid’ah dan syahwat”. (Riwayat Ad-Darimy no. 203)

2. Bid’ah adalah kesesatan dan mengantarkan pelakunya ke dalam Jahannam.

Allah -’Azza wa Jalla- berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).”. (QS. An-Nahl: 9)

Berkata At-Tastury : “’Qosdhus sabil’ adalah jalan sunnah ‘di antaranya ada yang bengkok’ yakni bengkok ke Neraka yaitu agama-agama yang batil dan bid’ah-bid’ah”.

Maka bid’ah mengantarkan para pelakunya ke dalan Neraka, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam khutbatul hajah:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

وَفِي رِوَايَةٍ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

وَفِي رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HSR. Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhuma)

Dalam satu riwayat, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah”.

Dan dalam riwayat An-Nasa`iy, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan berada dalam Neraka”.

Dan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah secara marfu’:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`iy)

3. Bid’ah itu tertolak atas pelakunya siapapun orangnya.

Allah –’Azza wa Jalla- menegaskan:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imran: 85)

Dan bid’ah sama sekali bukan bahagian dari Islam sedikitpun juga, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang sedang kita bahas sekarang.

4. Allah melaknat para pelaku bid’ah dan orang yang melindungi/menolong pelaku bid’ah.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menegaskan:

فَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلَا صَرْفٌ

Barangsiapa yang memunculkan/mengamalkan bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak akan diterima dari tebusan dan tidak pula pemalingan”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Ali dan HSR. Muslim dari Anas bin Malik)

5. Para pelaku bid’ah jarang diberikan taufiq untuk bertaubat –nas`alullaha as-salamata wal ‘afiyah-.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَهَا

Sesungguhnya Allah mengahalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya”. (HR. Ath-Thobarony dan Ibnu Abi ‘Ashim dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 1620)

Berkata Syaikh Bin Baz ketika ditanya tentang makna hadits di sela-sela pelajaran beliau mensyarah kitab Fadhlul Islam, “… Maknanya adalah bahwa dia (pelaku bid’ah ini) menganggap baik bid’ahnya dan menganggap dirinya di atas kebenaran, oleh karena itulah kebanyakannya dia mati di atas bid’ah tersebut –wal’iyadzu billah-, karena dia menganggap dirinya benar. Berbeda halnya dengan pelaku maksiat yang dia mengetahui bahwa dirinya salah, lalu dia bertaubat, maka kadang Allah menerima taubatnya”.

6. Para pelaku bid’ah akan menanggung dosanya dan dosa setiap orang yang dia telah sesatkan sampai hari Kiamat –wal’iyadzu billah-.

Allah-Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (QS. An-Nahl: 25)

Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah bersabda:

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HSR. Muslim dari Abu Hurairah)

7. Setiap pelaku bid’ah akan diusir dari telaga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

Beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Saya menunggu kalian di telagaku, akan didatangkan sekelompok orang dari kalian kemudian mereka akan diusir dariku, maka sayapun berkata : “Wahai Tuhanku, (mereka adalah) para shahabatku”, maka dikatakan kepadaku : “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah kematianmu”. (HSR. Bukhary-Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

8. Para pelaku bid’ah menuduh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan agama karena ternyata masih ada kebaikan yang belum beliau tuntunkan.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata -sebagaimana dalam kitab Al-I’tishom (1/64-65) karya Imam Asy-Syathiby rahimahullah-, “Siapa saja yang membuat satu bid’ah dalam Islam yang dia menganggapnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh dia telah menyangka bahwa Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Maka perkara apa saja yang pada hari itu bukan agama maka pada hari inipun bukan agama”.

9. Dalam bid’ah ada penentangan kepada Al-Qur`an.

Al-Imam Asy-Syaukany rahimahullah berkata dalam kitab Al-Qaulul Mufid fii Adillatil Ijtihad wat Taqlid (hal. 38) setelah menyebutkan ayat dalam surah Al-Ma`idah di atas, “Maka bila Allah telah menyempurnakan agamanya sebelum Dia mewafatkan NabiNya, maka apakah (artinya) pendapat-pendapat ini yang di munculkan oleh para pemikirnya setelah Allah menyempurnakan agamanya?!. Jika pendapat-pendapat (bid’ah ini) bahagian dari agama –menurut keyakinan mereka- maka berarti Allah belum menyempurnakan agamanya kecuali dengan pendapat-pendapat mereka, dan jika pendapat-pendapat ini bukan bahagian dari agama maka apakah faidah dari menyibukkan diri pada suatu perkara yang bukan bahagaian dari agama ?!”.

10. Para pelaku bid’ah akan mendapatkan kehinaan dan kemurkaan dari Allah Ta’ala di dunia.

Allah –’Azza wa Jalla- menegaskan:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kedustaan”. (QS. Al-A’raf: 152)

Ayat ini umum, mencakup mereka para penyembah anak sapi dan yang menyerupai mereka dari kalangan ahli bid’ah, karena bid’ah itu seluruhnya adalah kedustaan atas nama Allah Ta’ala, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah.

{Lihat : Mauqif Ahlis Sunnah (1/89-92), Al-I’tishom (1/50-53 dan 61-119) dan Al-Hatstsu ‘ala Ittiba’is Sunnah (25-35)}

Incoming search terms:

  • tentang bidah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, October 25th, 2008 at 8:38 pm and is filed under Hadits, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

22 responses about “Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah”

  1. wahyu said:

    bismillah.ustadz,ana minta izin copas,
    jazakumullahu khoir
    wahyu
    pekalongan

    Tafadhdhal. Jazakallahu khairan

  2. muhammad fariz said:

    saya pernah membaca suatu buku yang mengkaji tentang bid’ah namun sebelum masuk dalam inti pembahasan penulis menekankan agar pembaca dapat membedakan antara perkara adat dan ibadat. lalu penulis memuat perkataan imam syathibi yaitu:
    “sesungguhnya apa-apa yang tak dapat difikirkan maksud-maksudnya dengan jelas, baik perkara yang diperintah ataupun dilarang, maka dinamakan ta’abbud (ibadat) dan apa-apa yang dapat dikenal kebaikannya &dan kejahatannya, maka itu dinamakan “aadi” (adat).maka shalat,haji,shaum termasuk dalam perkara ibadat sedangkan jual beli, nikah, thalak dan jinayat termasuk dalam adat” (al-i’tisham)

    saya masih belum faham dengan perkataan imam syathibi tersebut,, harap dijelaskan ustad,,

    Wallahu a’lam, tujuan imam Asy-Syathibi mengingatkan perbedaan antara ibadah dengan adat adalah karena terjadi silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah: Apakah bid’ah hanya masuk pada ibadah saja ataukan juga bisa masuk ke dalam adat. Karenanya dalam kitab tersebut beliau menyebutkan dua definisi bid’ah berdasarkan kedua pendapat (pendapat yang mengatakan bid’ah masuk ke dalam adat dan pendapat yang mengingkarinya).
    Dan yang rajih dalam hal ini (dan seingat saya ini yang juga dirajihkan oleh Asy-Syathibi, wallahu a’lam) adalah bahwa asalnya bid’ah tidak bisa masuk ke dalam adat kecuali jika adat tersebut telah diatur pelaksanaannya oleh syariat.
    Karenanya walaupun asal nikah adalah adat, akan tetapi tatkala beberapa perkara di dalamnya sudah diatur oleh syariat, maka semua tambahan pada perkara yang diatur syariat tersebut adalah bid’ah, dan demikian seterusnya.

  3. muhammad fariz said:

    terima kasih banyak ustad atas jawabannya,, karena selama ini saya tidak memiliki tempat untuk bertanya tentang hal-hal yang masih belum saya fahami,, maka saya harap ustad tidak keberatan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan saya,, agar saya benar-bennar mengerti,,
    saya pernah memberitahukan kepada teman saya tentang apa perbedaan perkara adat dan ibadat sesuai dengan perkataan imam syathibi itu tetapi teman saya membantahnya,, dengan berkata:
    “bukankah nikah itu perintah agama,, sebagaimana menutup aurat,, dan bukankah setiap perintah agama itu termsuk dalam ibadah??”
    harap penjelasannya ustad,,

    Betul nikah adalah ibadah, akan tetapi asalnya dia merupakan perkara adat. Dan memang suatu perkara adat bisa menjadi ibadah jika diperintahkan oleh agama. Wallahu a’lam

  4. zaki said:

    masalah bid’ah contohnya melafazkan niat
    emang masalahnya dimana kalo orang sebelum sholat melafazkan niat. Sholatnya ga sah? Kan melafazkannya sebelum sholat….. aneh…aneh…. Ente mo bilang kalo itu menambah2 dalam ibadah? Lho bukannya sholatnya sama, dimulai dari takbiraotul ihrom? Kalo ente bilang melafazkan niat menambah2 dalam ibadah sholat, kalo mo konsisten dengan omongan wahabi. seharusnya wahabi ga menambah2 dalam ibadah menutup aurat, wahabi ga boleh pake baju, karena batasan menutup aurat bagi laki-laki kan cuma dari puser sampe lutut,,, kalo pake baju kan berarti melebihi dari itu,, soalnya kan dada juga ikut ketutup itukan itu juga menambah2 dalam beribadah “menutup aurat”

    Ashlahakallah, semoga Allah memperbaiki antum dan kita semua.
    Siapa yang mengatakan melafazhkan niat itu membatalkan shalat? Maka kami termasuk orang pertama yang akan menentang perkataan seperti itu.
    Darimana lagi anda dengar kalau ahlussunnah mengatakan bahwa aurat dalam shalat hanya sebatas lutus sampai pusar? Sekali lagi kami akan menjadi orang pertama yang akan menentang pendapat seperti itu.
    Jadi kalau mau ngomong jangan asal, permantap dulu argumennya baru ngomong.

  5. mahmud said:

    lalu bagaimana dengan hadist ini,,, “Barang siapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah hasanah lalu diamalkan orang sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yg mengerjakan kemudian itu. Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah, lalu diamalkan orang sunnah sayyi’ah itu, diberikan dosa kepadanya seperti dosa orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” [Syarah Nawawi juz' 14 hlm. 226] bukankah hadist ini jelas sebagai dalil adanya bid’ah hasanah???

    Jawabannya sudah kami paparkan dalam artikel ‘Tidak Ada Bid’ah Hasanah Dalam Islam’, silakan dicari dalam situs ini.

  6. zulkifli mahmuddin said:

    mohon maaf mau timba ilmu …..
    waktu sholat …pada saat pembacaan surat alfatihah sebelum amin … imam membacakan rabighfiirliwali…shogiroh
    termasuk kah ini bid’ah

    Ia itu termasuk bid’ah karena merupakan tambahan dalam bacaan-bacaan shalat.

  7. Adam said:

    Alhamdulillah,mudah-mudahan dapat membuka pikiran orang-orang yang beribadah hanya dengan ikut-ikutan (Bid’ah sangat berbahaya),kalau nggak salah saya pernah dengar dakwah Ustad Rasul Dahri/ singapura,bid’ah adalah jembatan menuju kekufuran, kalau bisa saya minta tolong detil Hadisnya Ustad..hadis riwayat..? sanad..? dan derajat hadisnya,Syukron

    Wallahu a’lam ana nggak pernah dengar.

  8. zhori666 said:

    Apakah menentukan 1 syawal dengan ilmu hisab juga perkara bid’ah? karena hal tersebut merupakan perkara dalam urusan agama, sedangkan setahu saya Rasulullah menggunakan rukyah.

    jazakumullah khair

    Ia, itu perkara yang bid’ah dalam agama.

  9. Andi Pangerang said:

    saya sendiri telah berkecimpung dalam dunia astronomi…

    apakah membuat jadwal salat,cresent visibilty calendar(almanak ru’yatul hilal,almanak yang dibuat berdasarkan hisab ru’yatul hilal) , menghitung jihat(arah) kiblat , menetukan kapan terjadinya gerhana dengan ilmu hisab adalah bid’ah?

    Semua itu bukanlah bid’ah karena didukung oleh dalil-dalil umum dalam syariat Islam.

  10. AISYAH said:

    APAKAH UCAPAN SYAHRINI Alhamdulillah termasuk bid’ah? Atau ada sesuatu yang dapat menjadikan sesuatu ucapan itu menjadi bid;ah? atau di larang??

    Alhamdulillah itu dzikir kepada Allah, dari sisi mana mau dikatakan bid’ah?!

  11. Muhammad Saiful Kahfi said:

    Assalamualaikum ustadz

    apa hukumya solat d belakang ahli bid’ah,sementara imam mesjid d tempat sy sering melakukan kegiatan bid’ah dan mesjid lain yg sering menegakkan sunnah tempat jauh dr tempat tinggal sy?
    jazakumullah khair ustadz…

    Waalaikumussalam.
    Tetap syah. Selama tidak ada pilihan lain maka tidak mengapa shalat di belakang penganut bid’ah.

  12. bahrun said:

    bagaimana dgn pendapat imam syafi’i yg mengatakan bid’ah itu terbagi mnjd 2 bid’ah dholalah dan bid’ah ghoiru mdzmumah?dan pndpt imam nawawi,yg mngtkn bid’ah trbg mnjd 2 bid’ah hasanah dan bid’ah qobihah,mhn penjlasan.

    Silakan baca penjelasannya di artikel ‘Betulkah Imam Asy-Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua?’

  13. Bid’ah dan Penjelasan Gamblang Tentangnya « موقع الطالب الجد يد said:

    [...] website ustadz Abu Muawiyyah Hammad (www.al-atsariyyah.com); Judul asli : “Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah” dengan sedikit perubahan Share [...]

  14. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, apakah pengajian 40 hari kematian seseorang merupakan bid’ah? Saya di undang tetangga, dan biasa nya acaranya terdiri dari tahlilan, yasinan, dan do’a bersama. Kalau memang bid’ah bagiamana menyikapinya? bila saya menolak, saya tidak ingin di anggap sebagai tetangga yg tidak mau bersosial atau tidak menghormati orang yg mengundang saya tersebut dan takutnya hal ini akan menjadi fitnah atau keburukan bagi saya. terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu termasuk amalan yang tidak ada tuntunannya. Anda bisa keluar rumah saat acaranya berlangsung atau anda mencari udzur2 lain selama bukan kebohongan.

  15. BID’AH ((LENGKAP)) INSYAA ALLAAH « Ziyadatuttaqwalfaza's Blog said:

    [...] : http://al-atsariyyah.com/?p=272* * [...]

  16. nawaw said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, apakah pengajian 40 hari kematian seseorang merupakan bid’ah? Saya di undang tetangga, dan biasa nya acaranya terdiri dari tahlilan, yasinan, dan do’a bersama. Kalau memang bid’ah…. apa dasar kalo tahlillan dikatakan bid`ah… padahal para ulama dahulu mengerjakan padahal tahlilan juga didasari dengan syariat islam dimananya “tahlillan” dikatakan bid`ah? monggo dijelasin pak ustad… maaf jika perkataan ku agak kasar….

    Waalaikumussalam.
    Siapa ulama dahulu yang mengerjakan tahlilan? Tidak ada.
    Lagipula, patokan kita adalah Nabi dan para sahabatnya, bukan ulama. Dan tatkala Nabi dan para sahabatnya tidak pernah melakukan tahlilan, maka ini dalil yang menunjukkan kalau dia adalah bid’ah.

  17. fahrezi said:

    Assalamualaikum

    Ustad kalo tahlilan bid’ah bagaimana bakti anak kepada orang tuanya yg sdh meninggal, mhn jawabannya terima kasih..

    Waalaikumussalam.
    Memperbanyak doa untuk keduanya dan memperbanyak amal saleh. Karena pahala amalan anak secara otomatis juga menjadi pahala bagi orang tuanya.

  18. muhammad kurniawan said:

    assalamualaikum ustadz saya mencoba setiap habis shalat isya’ saya lanjutkan sholat hajat dengan maksud meminta sesuatu pada allah apakah itu termsuk bid’ah?sebab saya merasa jka tidak melakukan shalat hajat rasanya ada sesuatu yang kurang seolah-olah shalat hajat menjadi wajib buat saya mohon bimbingannya syukron

    Waalaikumussalam.
    Tidak mengapa insya Allah, selama tidak diyakini wajibnya, karena itu semua masuk dalam kategori shalat lail.

  19. ALHAM HERUZZSS said:

    bagikan

  20. keanwisnudewa said:

    Numpang tanya, kalau doa bersama apa juga termasuk bid’ah? mohon bantuanny

    Bagaimana bentuknya? Apa berdoa dengan satu suara secara bersamaan, atau satu org yg berdoa dan yg lainnya meng’amin’kan?

  21. joulybeton said:

    Assalamu’alaikum,
    ustadz, dlm bebrapa hadist kan Nabi Muhammad menganjurkan kita untuk bnyk berdoa di dalam sujud asal bukan dr Al-Quran, yg mw saya tanyakn, bolehkah kita berdoa dengan bahasa indonesia / bahasa kita sendiri….?
    dan saya suka berdoa dlm sujud, “Ya Allah, Ya Basith, luaskanlah rejeki hamba”, apakah ini perkara bid’ah jg?
    Maaf jk ada kata yg salah sebelumnya, ilmu agama saya masih sangat dangkal.

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh. Itu bisa membatalkan shalat.

  22. Muhammad Risal said:

    Assalamu alaikum Ustadz…

    1. Saya pernah dengar seorang Ustadz yang menjawab sebuah pertanyaan tentang dzikir berjamaah setelah solat 5 waktu di mesjid, jawaban beliau adalah “boleh-boleh saja dengan tujuan Sang Imam mengajarkan kepada jamaah bacaan doa apa saja yang dibaca setelah solat.”
    Bagaimana menurut Ustadz tentang jawaban sperti ini?

    2. Lalu Ustadz tersebut juga pernah menjawab pertanyaan salah seorang jamaah tentang hukum berjabat tangan sambil membaca salawat setelah dzikir berjamaah tadi, dengan jawaban seperti ini: “Berjabat tangan sambil bersolawat ini adalah sekedar adat istiadat kita orang timur, dengan berjabat tangan dosa-dosa diantara kita akan berguguran sesuai Hadits Rosulullah, tapi jangan menganggap bahwa jabat tangan berjamaah ini adalah satu kewajiban dan kalau ada orang yang tidak berjabat tangan berjamaah ini berarti telah berdosa, jangan dikategorikan jabat tangan secara berjamaah ini seperti ibadah lain, yang kalau dilakukan mendapat pahala jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Kalau berjabat tangan berjamaah ini dianggap ibadah dan harus dilaksanakan maka disitulah anda masuk dalam kategoti melaksanakan Bid’ah.”
    Detail berjabat tangan berjamaah ini adalah setiap orang yang telah berjabat tangan dengan Sang Imam akan berdiri tepat disampingnya, lalu orang kedua yang berjabat tangan akan berdiri disamping orang pertama yang telah berjabat tangan dengan Imam tadi setelah dia menjabatinya juga, jadi kalau ada 50 orang yang solat maka tidak ada seorangpun yang tidak saling berjabat tangan asalkan tidak langsung pulang.
    Menurut Ustadz, bagaimana pandangan agama tentang jawaban ini? Terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Tidak tepat. Karena bid’ah tidak ditentukan oleh niat dan keyakinan seseorang, melainkan perbuatan baru itu sendiri. Jika seseorg mengamalkan amalan baru dlm agama, maka dia telah berbuat bid’ah, apapun niat dan tujuannya.
    Sementara mengajari jamaah, maka ada sarana lain yg jelas2 merupakan ibadah, seperti: Kajian atau khutbah jumat.