Ma’sumnya Para Imam Syiah Rafidhah

June 3rd 2012 by Abu Muawiah |

Ma’sumnya Para Imam Syiah Rafidhah

Di antara kesesatan mereka adalah mereka mengharuskan bahwa kedua belas imam mereka itu ma’shum (terjaga) dari dosa-dosa. Hal ini dibangun di atas mazhab mereka ishmah (terjaga dari dosa) merupakan syarat seseorang menjadi pemimpin.

Batilnya keyakinan mereka ini lebih jelas daripada semua kebatilan mereka sebelumnya. Dan keyakinan mereka ini mengharuskan para imam yang dua belas bersekutu dengan para nabi dalam sifat ishmah[1]. Jika kita katakan: Ishmah ini khusus dimiliki oleh para imam saja dan tidak ada pada manusia selain mereka atau manusia selainnya tidak harus ma’shum, maka penetapan sifat ishmah untuk para imam ini adalah kejahatan yang sangat besar. Penulis At-Tajrid berkata[2], “Seorang imam itu harus luthf[3] sehingga Allah wajib hanya mengangkat pemimpin seperti ini guna mewujudkan tujuan.” Pensyarahnya berkata[4], “Mereka berbeda pendapat dalam masalah apakah seorang imam itu harus ma’shum atau tidak. Imamiah dan Ismailiah berpendapat akan harusnya, sementara yang lainnya berpendapat sebaliknya.” Kemudian penulis berkata di matan, “Tidak mungkinnya tasalsul[5] mengharuskan ma’shumnya para imam …,” sampai akhir ucapannya.

Yang nampak bahwa mazhab mengharuskan ishmah pada para imam mereka hanya berasal dari murni kedustaan dan kebohongan mereka, tidak ada satu pun dalil dari Al-Kitab, tidak dari sunnah, tidak dari ijma’, tidak dari kias yang benar, dan tidak pula dari akal sehat. Semoga Allah menghancurkan mereka, bagaimana bisa mereka mengada-adakan hal ini.

[Risalah fi Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 75-77]


[1] Mereka meyakini bahwa para imam mereka terpelihara dari terjatuh ke dalam bentuk kesalahan, dosa, dan maksiat. Al-Majlisi seorang Syiah berkata dalam Bihar Al-Anwar (25/211), “Mereka (Rafidhah) telah bersepakat akan terjaganya para imam -alaihimussalam- dari semua dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Karenanya pada dasarnya mereka tidak akan mungkin berbuat dosa sama sekali, tidak itu secara sengaja dan tidak pula dalam keadaan lupa, tidak pula dikarenakan kekeliruan dalam menafsirkan dan tidak pula …. (tdk jelas) dari Allah Subhanahu.” Selesai dinukil dari Mas`alah At-Taqrib baina Ahlis Sunnah wa Asy-Syi’ah karya Al-Ghifary (1/323).

Al-Kalini berkata dalam kitabnya Al-Kafi (1/317), “Bab: Para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan bahwa mereka tidak lah mati kecuali atas kehendak mereka sendiri.”

Ini dia Al-Khumaini Ar-Rafidhi, dia berkata dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiah hal. 52, “Di antara perkara mendasar dalam mazhab kami adalah bahwa para imam kami mempunyai kedudukan yang tidak bisa dijangkau oleh malaikat yang didekatkan dan tidak pula oleh seorang nabi yang terutus.”

Saya berkata: Syaikh kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan bahwa Al-Khumaini adalah termasuk pengikut Abdullah bin Saba` sang Yahudi, di dalam kitab beliau Al-Ilhad Al-Khumaini fi Ardhi Al-Haramain hal. 109-110 -setelah beliau menyebutkan biografi Ibnu Saba`-, “Jangan kamu mengira kalau pengikutnya telah punah. Ini contohnya, imam dalam kesesatan Al-Khumaini, yang dia pura-pura menampakkan pembelaan terhadap Islam padahal sebenarnya dia telah merobohkan tiang-tiangnya. Sebagian orang-orang bodoh dari kalangan Ikhwanul Muslimin telah tertipu dengannya, sehingga belakangan mereka mendoakan untuk Al-Khumaini di atas mimbar-mimbar. Sampai terbitnya kitab Waja` Daur Al-Majus karya saudara kami di jalan Allah Abdullah bin Muhammad Al-Gharib, mereka akhirnya menurunkan tangan-tangan mereka dan tidak lagi memuji Al-Khumaini -walhamdu lillah-. Kemarin, Al-Khumaini sang pendusta mencela Amerika dan Rusia. Adapun sekarang, maka dia memberikan pertolongan kepada kedua negara ini agar kedua negara ini memberikan sokongan dana kepadanya untuk dia gunakan dalam usahanya menghancurkan kaum muslimin. Maka alhamdulillah yang telah mempermalukan dia ketika dia masih hidup, sehingga tidak ada orang yang tertipu dengannya. Saya tidak mengkritisi Al-Khumaini sebagai pembelaan kepada sang penganut mazhab Al-Ba’tsi yang menyimpang Shaddam Husain. Akan tetapi saya berdoa semoga Allah memberikan ketenangan kepada Islam dan kaum muslimin dari kejelekan kedua orang ini.”

[2] Syarh At-Tajrid

[3] Dekat kepada ketaatan dan jauh dari semua bentuk maksiat (pent.)

[4] Kitab yang sama lembar 151

[5] Bersambungnya mata rantai makhluk dari sesuatu yang tidak awalnya. (pent.)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, June 3rd, 2012 at 5:28 am and is filed under Mengenal Syi'ah Rafidhah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Ma’sumnya Para Imam Syiah Rafidhah”

  1. Sa`id said:

    Bismillah ,sekedar menyampaikan masukan , judulnya brgkli perlu ditambah “Diantara kesesatan syi`ah adalah keyakinan”
    ma’sumnya para imam syiah rafidhah, agar tdk dipahamioleh org yg awam ketika hanya membaca judulnya saja blm sempat membaca artikelnya jadi tertipu,apalagi pada kolom kumpulan judul-judul saja,kan yg nampak hanya judul2nya saja. Mengingat adanya prinsip syadzdzudzarooi`. Syukron

    Saya rasa sudah menjadi hal yang lumrah dalam judul biasanya yang bisa menarik orang penasaran untuk membacanya. Prinsip saddu dzari’ah ini juga harus disesuaikan dengan prinsip tabayyun. Ala kullin, syukron atas masukannya.

  2. Suhdi Almubarok said:

    Nyimak.