Masalah Tambahan Seputar Thaharah

January 28th 2010 by Abu Muawiah |

13 Shafar

Masalah Tambahan Seputar Thaharah

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكًا فَيُصَلِّي فِيهِ
“Sesungguhnya aku pernah mengerik air mani yang terdapat pada pakaian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, lalu beliau menggunakan pakaian tersebut untuk mendirikan shalat.” (HR. Muslim no. 288)
Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- telah mengabarkan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ
“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah.” (HR. Muslim no. 323)
Dari Abu Qatadah  dia berkata: Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang kucing:
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ
“Dia bukanlah najis. Dia hanyalah termasuk hewan yang ada di sekeliling kalian.” (HR. Abu Daud no. 75, At-Tirmizi no. 92, dan An-Nasai no. 67)
Dari Anas bin Malik  dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:
قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا
“Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Maka Nabi  memerintahkan mereka untuk mendatangi unta agar mereka meminum air seni dan susunya.”
(HR. Al-Bukhari no. 335)

Penjelasan ringkas:
Dalil-dalil di atas menyebutkan beberapa perkara yang bukan merupakan najis:
1.    Mani, berdasarkan hadits Aisyah di atas. Bahkan dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sungguh aku telah mengeriknya dengan kukuku dari pakain beliau ketika mani itu sudah kering.”
Dan sudah dimaklumi bahwa sekedar mengerik mani apalagi setelah keringnya tidak akan menghilangkan semua mani yang ada, tapi pasti ada yang tersisa. Maka ini menunjukkan sucinya mani karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- memakai pakaian yang ada mani melekat padanya.
2.    Tubuh dan liur kucing, berdasarkan hadits Abu Qatadah di atas. Dan tatkala Nabi  menyebutkan sebab kenapa kucing tidak najis, yaitu karena dia adalah hewan yang sering berada di sekitar manusia, maka para ulama mengkiaskan dengan kucing semua hewan yang senantiasa berada di sekitar manusia, seperti keledai, hewan ternak dan semacamnya.
3.    Kencing dan tinja onta. Tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk meminum kencing onta sebagai obat maka itu menunjukkan dia bukanlah najis, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak membolehkan berobat dengan sesuatu yang haram, termasuk di dalamnya sesuatu yang najis.
Dan sucinya kencing dan tinja onta juga termasuk dalil yang digunakan oleh Al-Malikiah dan Al-Hanabilah untuk menyatakan sucinya kencing dan tinja hewan yang bisa dimakan dagingnya, bahkan pendapat ini merupakan pendapat para sahabat seluruhnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam Al-Fatawa Al-Kubra (5/313), “Kencing dan tinja hewan yang boleh dimakan dagingnya adalah suci, tidak ada seorangpun dari para sahabat yang berpendapat najisnya. Bahkan pendapat yang menyatakan najisnya adalah pendapat yang muhdats (baru muncul), tidak ada salafnya dari kalangan para sahabat.”
Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat Muslim no. 1529 dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengizinkan shalat di kandang kambing. Maka ini menunjukkan tinja dan kencing kambing (dan dia adalah hewan yang halal dimakan) adalah suci dan bukan najis, karena tidak boleh shalat pada tempat yang ada najisnya.
4.    Adapun hadits Ibnu Abbas  di atas, maka dipetik darinya bolehnya seorang lelaki mandi junub dari bekas air yang telah dipakai mandi oleh wanita, dan demikian pula sebaliknya. Adapun larangan beliau -alaihishshalatu wassalam- seorang lelaki mandi dari air bekas mandi wanita dan demikian pula sebaliknya, maka Imam Ash-Shan’ani menyatakan bahwa larangan tersebut bersifat makruh. (Subul As-Salam: 1/21)
5.    Sehingga hadits ini menunjukkan sucinya air musta’mal (yang telah digunakan bersuci sebelumnya) sehingga dia boleh dipakai bersuci tanpa ada kemakruhan sama sekali. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan yang dirajihkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (1/183), Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (20/519), Ibnu Abdil Hadi dalam At-Tanqih (1/211), Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (1/44), dan selainnya.
6.    Hadits ini juga menunjukkan bolehnya suami istri untuk mandi bersama dan bolehnya suami melihat kemaluan istrinya dan demikian pula sebaliknya.

Incoming search terms:

  • pertanyaan tentang thaharah
  • pertanyaan seputar thaharah
  • masalah thaharah
  • masalah yang biasa muncul mengenai thaharah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, January 28th, 2010 at 10:26 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Masalah Tambahan Seputar Thaharah”

  1. Iskandar Badrun said:

    Assalamu’alaykum…

    Maaf ustadz, saya pernah mendengar atau membaca hadits yang menyatakan bahwa Rasululloh melarang orang sholat di dalam kandang onta (wallohu’alam), jika hadits ini benar adanya, bagaimana kita menghubungkannya dengan poin 3 (Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat Muslim no. 1529 dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengizinkan shalat di kandang kambing. Maka ini menunjukkan tinja dan kencing kambing (dan dia adalah hewan yang halal dimakan) adalah suci dan bukan najis, karena tidak boleh shalat pada tempat yang ada najisnya.)dari penjelasan ustadz diatas? bukankah kencing dan tinja onta bukan najis berdasarkan hadits di atas.
    Jazakallohu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Sebelumnya kami katakan: Ibnu Hazm -rahimahullah- berkata dalam Al-Muhalla (4/25), “Hadits-hadits larangan shalat di tempat perhentian unta dinukil secara mutawaatir, dapat diyakini kebenarannya.”
    Adapun sebab terlarangnya shalat di kandang onta, maka bukan dikarenakan karena kotoran onta itu najis. Akan tetapi sebabnya telah ditegaskan dalam hadits. Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    صَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنْ الشَّيَاطِينِ
    “Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan shalat di kandang unta, sebab ia diciptakan dari setan.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad)
    Dalam riwayat salah satu riwayat Ahmad, “Janganlah kalian shalat di tempat penambatan unta, karena dia diciptakan dari jin. Tidakkah kalian lihat matanya dan keadaannya ketika sedang mengamuk?”
    Maka dari sini, Asy-Syafi’iyah dan Al-Malikiah menyatakan bahwa sebab larangan shalat di kandang onta adalah karena sifat unta yang suka mengamuk. Kadangkala unta mengamuk sementara orang itu sedang mengerjakan shalat sehingga dia terpaksa memutuskan shalatnya, atau dapat membahayakan dirinya, atau dapat mengganggu konsentrasinya dan memalingkannya dari kekhusyu’an dalam shalat. Karenanya berdasarkan hal ini, perlu dibedakan hukum shalat antara onta itu sedang berada di kandangnya atau tidak. Jika onta itu sedang di kandangnya maka tidak boleh shalat di situ, sementara jika dia sedang di luar kandang dan tidak dikhawatirkan dia akan kembali di tengah dia sedang shalat, maka insya Allah boleh shalat di kandang onta.