Mana yang afdhal, orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang bersabar?

February 18th 2009 by Abu Muawiah |

Mana yang Afdhal, Orang Kaya yang Bersyukur Ataukah Orang Miskin yang Bersabar?

Yang benar dalam permasalahan ini adalah: Bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih utama daripada orang miskin yang bersabar. hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya:
1. Hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- tentang kisah datangnya orang-orang fakir Al-Muhajirin kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- lalu mereka berkata, “Para pemilik harta telah pergi jauh (meninggalkan kami) dengan membawa banyak pahala,” kemudian tatkala mereka berkata, “Saudara-saudara kami yang kaya mengetahui amalan (zikir) itu lalu mereka pun mengerjakan seperti apa yang kami kerjakan.” Maka beliau bersabda, “Itulah (kekayaan) keutamaan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”
2. Di antara dalilnya adalah: Bahwa manfaat (kebaikan) dari orang kaya yang bersyukur juga akan mengenai orang di sekitarnya (dengan sedekah dan semacamnya). Sementara manfaat dari orang miskin yang sabar hanya didapatkan oleh dirinya seorang.
3. Di antaranya adalah: Bahwa orang yang kaya akan didatangi oleh banyak syahwat, lalu dia berjihad melawan jiwanya dan mengekang hawa nafsunya dari semua syahwat yang diharamkan, sehingga dia bisa menjadi orang yang bersyukur. (Berbeda halnya dengan orang yang miskin)

[Fawaid Ammah 6, Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi -hafizhahullah-. Dan tulisan di dalam kurung adalah dari kami]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, February 18th, 2009 at 10:15 am and is filed under Tahukah Anda?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Mana yang afdhal, orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang bersabar?”

  1. Muhammad said:

    jazakumullahu khairan…
    dapat satu faidah baru…

  2. abu bakr said:

    Bsimillah, ustadz, mana yg lebih dulu masuk surga diantara kedua itu??

    bukankah Rasulullah dan para shahabatanya orang yg miskin?

    Kalau Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jelas bahwa beliau yang pertama kali masuk surga kemudian umat beliau. Adapun orang miskin, maka disebutkan dalam riwayat Muslim bahwa mereka masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya.

  3. hamba berdosa said:

    pak ustad mohon pencerahannya…sperti yang dikatakan pak ustad, bahwa sholat taubat dilakukan setelah melakukan suatu dosa…permasalahannya begini pak ustad :
    1. saya baru menyadari kesalahan, dan kezaliman saya setelah beberapa tahun, beberapa kali, dan beberapa orang yang saya dzalimi, apakah masih bisa dimaafkan pak mengingat jumlah dan waktunya yang sudah sangat panjang…?

    2. saya pernah lupa telah bernadzar kepada Allah SWT…apakah bisa pak dimaafkan dgn hanya melakukan sholat taubat..?

    Inti dari taubat adalah memenuhi syarat2 taubat: Ikhlas, tidak mengulangi perbuatan dosanya, menyesalinya, meminta maaf kepada yang dizhalimi, dan sebelum habis waktunya. Jika ini telah dilakukan dengan baik, maka insya Allah dosa akan diampuni walaupun tanpa shalat taubat.

  4. ummu khubayb said:

    Bismillah

    Afwan,pada artikel yang lain Ana pernah membaca tulisan yang membahas ttg masalah ini juga. Tapi pd artikel tersebut diberikan 2 penjelasan tentang pendapat para ulama yang mengutamakan orang kaya yang bersyukur, dan tentang pendapat para ulama yang mengutamakan orang miskin yang bersabar.
    wallahu’alam.

    faedah yang insyaallah dapat diambil dari pembahasan mengenai ;orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar adalah:

    Bagaimana sikap kita dalam menghadapi ketetapan Allah yang maha kuasa dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki.
    Yang mana dalam hal ini, Allah yang maha kuasa melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya.

    Menyempitkan rezeki dan melapangkan rezeki , dua kekuasaan ini adalah hal -hal yang berhubungan dengan asmaul husna.
    Yang mana masing masing nama tersebut tidak boleh dilebihkan antara 1 dengan yang lain.

    Kedua-duanya harus disebutkan secara bersamaan ,karena dengan disebutkan secara bersamaan itulah menggambarkan kesempurnaan kekuasaan Allah yang maha sempurna.

    Afwan, apakah tidak timbul dibenak para pembaca suatu pertanyaan “APA TUJUAN DIBUATNYA SUATU TULISAN YANG MEMBAHAS TENTANG KEUTAMAAN 1 DARI 2 KEADAAN MANUSIA ( ORG KAYA YANG BERSYUKUR DAN ORANG MISKIN YANG BERSABAR).

    Padahal 2 keadaan tersebut tidak lepas dari 2 kekuasaan Allah yang maha sempurna. Yang mana 2 kekuasaan tersebut tidak boleh diutamakan salah satunya atas yang lain , tapi harus digandengkan antara keduanya karena kesempurnaan kekuasaaan Allah yang maha sempurna dalam hal tersebut hanya akan diperoleh dengan dua kekuasaan tersebut bukan dengan salah satunya saja.
    wallahu’alam

  5. Artika said:

    Rasulullah dan sahabatnya itu sebenarnya tidak miskin,,,, jangan salah ya,,, pemahaman ini menjadikan ummat Islam bermalas-malasan! Padahal sudah jelas bahwa Allah lebih mencintai seorang muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Dalam segala aspek tentunya. The way of life mereka saja yang sederhana. Perlu dipelajari lebih jauh mengenai “miskin” itu sendiri. “Miskin” yang bagaimana, mereka?

    Miskin yang kita bicarakan di sini adalah miskin sesuai yang dipahami oleh hampir semua orang, yaitu kurang mempunyai harta. Bukan miskin hati, karena mereka adalah kaum yang paling kaya hatinya. Kenapa anda enggan menyatakan para sahabat itu miskin, sementara Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah orang miskin. Sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika membagi zakat, beliau memberikan kepada sebagian sahabatnya yang berhak. Maka ini jelas menunjukkan Nabi shallallahu alaihi wasallam menilai sebagian sahabatnya ada yang miskin, dan Allah setuju dengannya. Karena seandainya mereka tidak miskin, tidak mungkin beliau memberikan zakat kepada mereka, dan tidak mungkin Allah menyetujui perbuatan Nabi-Nya.

  6. abu faris said:

    Permasalahan diatas sampai sekarang masih terjadi perdebatan ulama.yg rajih dari keduanya adalah yang paling bertaqwa.

  7. ahmad said:

    bgaimna klo org kya yg sbar dg org miskin tp brsyukur?

    Yang dibahas di sini adalah orang kaya yang bersykur dengan kekayaannya dan orang miskin yang bersabar dengan kemiskinannya. Memangnya lumrah ada orang kaya yang bersabar atas kekayaannya?

  8. abdulloh said:

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan mengenai keutamaan suatu hal dari yang lainnya, di antaranya beliau ditanyakan mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Lalu beliau jawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang paling afdhol (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683). Itu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon hal. 67.