Makna & Lafazh Salam
January 13th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email
27 Muharram
Makna & Lafazh Salam
Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda:
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ
“Dahulu Allah mencipta Adam ‘alaihissalam yang tingginya enam puluh hasta kemudian berfirman, “Pergilah kamu dan berilah salam kepada mereka para malaikat dan dengarkanlah bagaimana mereka menjawab salam penghormatan kepadamu dan juga salam penghormatan dari anak keturunanmu”. Maka Adam menyampaikan salam, “Assalaamu ‘alaikum” (kesalamatan atas kalian). Mereka menjawab, “Assalaamu ‘alaika wa rahmatullah,” (kesalamatan dan rahmat Allah atasmu) mereka menambahkan kalimat ‘wa rahmatullah’. Nanti setiap orang yang masuk surga bentuknya seperti Adam -alaihissalam- dan manusia terus saja berkurang (tingginya) sampai sekarang”. (HR. Al-Bukhari no. 3079,5759 dan Muslim no. 6227)
Dari Imran bin Al-Hushain -radhiallahu anhu- dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرٌ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ عِشْرُونَ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ثَلَاثُونَ
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mengucapkan, “Assalamu alaikum?” Beliau membalas salam orang tersebut, kemudian orang itu duduk. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Sepuluh pahala.” Setelah itu ada orang lain yang datang dan mengucapkan salam, “Assalamu alaikum warahmatullah.” Beliau membalas salam orang tersebut, kemudian orang itu duduk, maka beliau bersabda: “Dua puluh pahala.” Setelah itu ada lagi orang yang datang dan mengucapakan salam, “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” beliau membalas salam orang tersebut kemudian orang itu duduk. Beliau lalu bersabda: “Tiga puluh pahala.” (HR. Abu Daud no. 5195, At-Tirmizi no. 2689, dan Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (5/11), “Sanadnya kuat.”)
Penjelasan ringkas:
Al-Majd Fairuz Abadi -rahimahullah- berkata dalam menafsirkan makna “assalamu ‘alaika” dalam kitabnya Ash-Shilah wal Basyar fis Shalati ala Khairil Basyar, “As-Salam yang merupakan salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala kepadamu, maknanya adalah: “Engkau tidak akan luput dari semua kebaikan dan berkah dan engkau selamat dari semua yang dibenci dan yang merupakan kejelekan”. Hal ini karena nama Allah Ta’ala, tidaklah disebutkan kecuali pada hal-hal yang pasti, karena terkumpulnya makna-makna kebaikan dan berkah di dalamnya (nama-nama-Nya), serta tidak adanya semua penghalang, rintangan, dan kerusakan darinya.
Dan “as-salam” bisa juga diartikan sebagai “keselamatan”, yaitu: “Semoga ketentuan Allah Ta’ala atas dirimu adalah keselamatan, yakni engkau selamat dari cercaan dan kekurangan”. Maka jika engkau mengatakan, “Allahumma sallim ‘ala Muhammad”, maka yang engkau inginkan adalah: “Ya Alllah, tuliskanlah (baca: tetapkanlah) keselamatan dari semua kekurangan untuk Muhammad dalam doanya, umatnya, dan namanya, sehingga (dengannya) doa-doa beliau semakin tinggi seiring perjalanan zaman, umat beliau semakin banyak, dan nama beliau semakin tinggi”. (Disadur melalui kitab Fadhlus Shalati ‘alan Nabi hal. 11. Lihat juga kitab Asy-Syarhul Mumti’ (3/149-150) karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah-)
Hadits Abu Hurairah di atas menunjukkan bahwa ucapan salam dan jawabannya adalah tauqifiah (terbatas pada nash). Karenanya seseorang tidak syah mengucapkan salam dengan selain lafazh yang telah diajarkan dan juga tidak syah seseorang menjawab salam kecuali dengan apa yang telah diajarkan. Lafazh yang diajarkan oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam- adalah tiga lafazh, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Imran bin Al-Hushain. Dan hadits tersebut menunjukkan bahwa semakin lengkap salamnya maka semakin besar pahala yang didapatkan, demikian pula sebaliknya. Adapun jawabannya maka tergantung dari ucapan salam yang ditujukan kepadanya, yang jelas jawabannya harus sama lengkapnya dengan ucapan salam yang ditujukan kepadanya bahkan lebih utama jika jawabannya lebih lengkap. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa`: 86) Yang jelas tidak syah membalas salam dengan ucapan ‘marhaban’ atau ‘ahlan wa sahlan’ (selamat datang), dan selainnya dari lafazh-lafazh yang tidak pernah dituntukan oleh syariat.
Incoming search terms:
- arti assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
- makna salam
- maksud assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
- arti assalamualaikum
- arti salam
Related posts:
This entry was posted on Wednesday, January 13th, 2010 at 5:50 am and is filed under Akhlak dan Adab, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








November 23rd, 2010 at 5:11 am
assalaamu’alaikum
1) ustadz, apa ada dalilnya untuk ucapan salam semacam ini, “salamualaykum warahmatullah” dan dijawab semula dengan “salamualaykum warahmatullah wabarakatuh”.. apa di benarkan?
2)jika seorang wanita mengucapakan salam semacam ini kepada seorang lelaki, “salam’alaykum warahmatullah”, lalu dibalas oleh lelaki tersebut dengan ucapan ini, “Wa’alaykissalam warahmatullah”..apa dibenarkan ustadz? apakah perkataan “Wa’alaykissalam” itu bisa diganti dengan ” Wa’alaikumus salam” dalam kasus di atas? jazaakumullahu khairan.
November 25th, 2010 at 1:13 am
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz apakah boleh bila ada yang menambahkan diakhirnya wamaghfiratuh..
November 29th, 2010 at 11:46 am
assalamu’alaikum warohmatulloh
ustadz, jika ada seseorang yg menyampaikan salam, misal: ada salam dari fulan/fulanah. bagaimana menjawab salamnya buat laki2/perempuan??
jazakallahu khoir
March 28th, 2011 at 4:32 am
assalamualaikum ustadz
apa makna alaihissalam pada akhir nama2 nabi?
Dan apakah penyebutan ini hanya boleh utk nabi?
Apakah boleh juga utk sahabat seperti sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dll? Apakah juga boleh utk ulama2 seperti syaikh bin Baz, Syaikh Albany atau Imam Bukhori, Muslim dan lainnya?
September 4th, 2011 at 10:32 am
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Ustadz, saya mau tanya.
Sepertinya ada perbedaan antara salam yang diajarkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Salam dengan salam yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tolong Ustadz melihat di dalam Al-Qur’an:
QS.6:54
QS.7:46
QS.10:10
QS.16:32
QS.24:27,61
QS.25:63
QS.28:55
QS.36:32
QS.58:8
Yang benar adalah ucapan salam yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atau salam yang diajarkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Salam? Atau semua boleh dipakai, Ustadz?
(tlng dibalas melalui E-Mail saya juga. Agar lbh mudah mengetahui jawabannya)
Sukron
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
October 19th, 2011 at 2:14 pm
assalamualaikum ustadz
Saya ingin bertanya tentang cara-cara orang berkirim salam..
Ada orang berkata jika kita mahu mengirim salam maka katakanlah..kirimkan alamulaikum keada sifulan..jika kita hanya berkata.. kirim salam aku pada sifulan maka orang yang berkirim salam tu tdak dapat pahala betul begitu ke ustaz.
December 19th, 2011 at 10:51 pm
Apakah hukum memberi salam pads non-muslim.
February 27th, 2012 at 7:32 pm
sya seorang perempuan yang mengucapkan kan assalamu’alaikum dengan tman pria melalui sms tapi di balas hanya denga kata “salam” apakah dia tidak menjawab do’a saya ustadz
May 10th, 2012 at 2:18 am
a’salam ust,
saya inginkan kepastian.pernah menndengar sesorang memberi salam apabila memasuki rumah (tiada penghuni) dengan ucapan : assalammualika” adakah ia dibenarkan? ataupun perlu memberi salam apabila memasuki rumah denagn ucapan assalammualikum (walaupun tiada penghuni dirumah)?