Main Picture

 

Makna Ikhlas Dalam Ibadah

June 22nd 2009 by Abu Muawiah |

Makna Ikhlas Dalam Ibadah

Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin -semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepada kalian untuk berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah-, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amalan apapun dari siapa pun kecuali setelah terpenuhinya dua syarat yang sangat mendasar dan prinsipil, yaitu:
1.    Amalan tersebut harus dilandasi keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga pelaku amalan tersebut sama sekali tidak mengharapkan dengan amalannya tersebut kecuali wajah Allah Ta’ala.
2.    Kaifiat pelaksanaan amalan tersebut harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
Dalil untuk kedua syarat ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`an. Di antaranya:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya”. (QS. Al-Kahfi : 110)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya (3/109) menafsirkan ayat di atas, “[Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh], Yaitu apa-apa yang sesuai dengan syari’at Allah, [dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya] yaitu yang hanya diinginkan wajah Allah dengannya tanpa ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua rukun untuk amalan yang diterima, harus ikhlas hanya kepada Allah dan benar di atas syari’at Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-”.
Dan juga Firman Allah Ta’ala:
“Dia lah yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”. (QS. Al-Mulk : 2)
Al-Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah- sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiah -rahimahullah- (18/250) berkata ketika menafsirkan firman Allah ["siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”], “(Yaitu) Yang paling ikhlas dan yang paling benar. Karena sesungguhnya amalan, jika ada keikhlasannya akan tetapi belum benar, maka tidak akan diterima. Jika amalan itu benar akan tetapi tanpa disertai keikhlasan, maka juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang hanya (diperuntukkan) bagi Allah dan yang benar adalah yang berada di atas sunnah (Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-)”.
Berikut uraian kedua syarat ini:

Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan Hanya Kepada Allah
Ini adalah konsekuensi dari syahadat pertama yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah -Subhanahu wa Ta’ala- semata serta meninggalkan dan berlepas diri dari berbagai macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah Ta’ala.
Ada banyak dalil yang menopang syarat ini, di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”. (QS. Az-Zumar : 2-3)
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS. Az-Zumar : 11)
Dan dalam firman-Nya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS. Al-Bayyinah : 5)
Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah menegaskan dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya masing-masing, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena perempuan yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada sesuatu yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 54, 2392 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu-)
Kemudian, keikhlasan yang diinginkan di sini adalah mencakup dua perkara:
1.    Lepas dari syirik ashgar (kecil) berupa riya` (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), keinginan mendapatkan balasan duniawi dari amalannya, dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakikhlasan. Karena semua niat-niat di atas menyebabkan amalan yang sedang dikerjakan sia-sia, tidak ada artinya dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsy:
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia memperserikatkan Saya bersama selain Saya dalam amalan tersebut, maka akan saya tinggalkan dia dan siapa yang dia perserikatkan bersama saya”. (HR. Muslim no. 2985 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Kata “dia” bisa kembali kepada pelakunya dan bisa kembali kepada amalannya, Wallahu A’lam. Lihat Fathul Majid hal. 447.
Bahkan Allah Ta’ala telah menegaskan:
“Barangsiapa yang menghendaki (dengan ibadahnya) kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud : 15-16)
2.    Lepas dari syirik akbar (besar), yaitu menjadikan sebahagian dari atau seluruh ibadah yang sedang dia amalkan untuk selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Perkara kedua ini jauh lebih berbahaya, karena tidak hanya membuat ibadah yang sedang diamalkan sia-sia dan tidak diterima oleh Allah, bahkan membuat seluruh pahala ibadah yang telah diamalkan akan terhapus seluruhnya tanpa terkecuali.
Allah Ta’ala telah mengancam Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dan seluruh Nabi sebelum beliau dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar : 65)

Dari syarat yang pertama ini, sebagian ulama ada yang menambahkan satu syarat lain diterimanya amalan, yaitu: Aqidah pelakunya haruslah aqidah yang benar, dalam artian dia tidak meyakini sebuah aqidah yang bisa mengkafirkan dirinya.
Contoh: Ada seseorang yang shalat dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa Allah Ta’ala berada dimana-mana. Keyakinan dia ini adalah keyakinan yang kafir karena merendahkan Allah, yang karenanya shalatnya tidak akan diterima.
Contoh lain: Seseorang yang mengerjakan haji dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib. Maka hajinya pun tidak akan diterima karena dia telah meyakini keyakinan yang rusak lagi merupakan kekafiran.
Karena tempat yang terbatas, insya Allah pembahasan syarat yang kedua akan kami sebutkan pada dua edisi mendatang, wallahu a’lam bishshawab.

[Rujukan: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, bab keempat. Yang ditulis oleh Ust. Abu Muawiah Hammad -hafizhahullah- dengan beberapa perubahan]

Incoming search terms:

  • ikhlas dalam beribadah
  • makna ikhlas
  • keikhlasan dalam beribadah
  • ikhlas dalam ibadah
  • makna ikhlas dalam beribadah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, June 22nd, 2009 at 10:17 am and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Makna Ikhlas Dalam Ibadah”

  1. abuwildan aljakarty said:

    Bismillah
    Jazakallohu khoiron katsiero yaa ustadz atas artikel ilmiyah nya semoga bermanfaat bagi orang-orang yg mau membuka hatinya kepada AL HAQ ini dan mau bersegera menyadari kekeliruannya dan meninggalkan(hijrah)amalan dan pemahaman yang menyimpang dari jalan para pendahulu ummat ini yang solihin (As salaf ash sholih)
    Barokallohufiekum

    Akhukum fillah

  2. Roni said:

    Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
    Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati,
    setelah membaca artikel yang berjudul “Makna Ikhlas Dalam Ibadah”, saya mengajukan 3 pertanyaan :
    1. Saya masih bingung, ibadah itu mengharapkan wajah Allah saja atau ridhaNya atau surgaNya atau pahalaNya atau rahmatNya atau kesemuanya.
    2. apakah benar riya (syirik kecil)lebih besar dosanya bila dibandingkan dengan mencuri, ghibah, makan riba, berzina dan semisalnya. jelaskan lebih detail agar saya tidak salah paham.
    3. Apakah benar kalau seseorang berbuat dosa terus menerus (bukan syirik) maka ia telah terjatuh dalam kesyirikan. Alasannya karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya. mohon pencerahannya.
    Atas jawaban dari ustadz, saya ucapkan terima kasih.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    1. Dalam ibadah seseorang boleh mengharapkan mana saja yang antum sebut di atas karena nash-nash yang ada membolehkan seluruhnya. Hanya saja yang butuh diperhatikan bahwa kesemua niat yang antum sebutkan itu saling melazimkan, artinya barangsiapa yang mengharapkan wajah Allah maka secara otomatis dia mengharapkan keridhaan-Nya, pahala-Nya, dan rahmat-Nya.
    2. Ia, riya -yang merupakan syirik kecil- lebih besar dosanya dibandingkan semua dosa besar selain kekafiran dan kesyirikan. Hal itu karena syirik -walaupun dia kecil- sama sekali tidak akan ada peluang untuk diampuni oleh Allah jika dia tidak bertaubat sebelum meninggal, sementara dosa-dosa besar -walaupun dia tidak bertaubat sebelum meninggal- maka masih ada peluang dia diampuni oleh Allah. Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka.
    3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menerangkan bahwa maksiat termasuk ke dalam bentuk kesyirikan dalam artian umum, karena semua maksiat itu menjadikan hawa nafsu sebagai sembahan.
    Akan tetapi maksiat tidak termasuk ke dalam kesyirikan dalam artian khusus karena tidak ada bentuk penyembahan kepada selain Allah.
    Kesyirikan dalam artian umum ada yang tidak diampuni, yaitu kesyirikan dalam ibadah dan ada yang bisa diampuni, yaitu semua dosa selain kekafiran dan kesyirikan. Adapun kesyirikan dalam artian khusus maka semuanya tidak akan terampuni.
    Demikian, semoga antum bisa memahaminya. Wallahu a’lam.

  3. ghea said:

    assalamualaikum wr.wb
    Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati.
    setelah saya membaca jawaban dari pertanyaan di atas :
    ” Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka ”

    pertanyaan saya apa penjelasan untuk masuk neraka ( walaupun tidak kekal ) ???

    apakah ada mahluk Allah yang masuk neraka lalu kemuadian ia masuk surga ??

    lalu adakah ayat atau hadis yang menjelaskan tentang itu.

    semoga jawaban dari ustad dapat menambah keimanan saya serta memberi bekal keimanan di jalan Allah amin..

    wassallamualaikum wr.wb

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Banyak sekali dalil yang menyatakan adanya kaum muslimin yang masuk neraka tapi pada akhirnya dia keluar darinya dan masuk ke dalam surga. Sebut saja salah satu jenisnya adalah semua hadits-hadits tentang syafaat para anbiya` dan awaliya`, yang di antara bentuk syafaat mereka adalah mengeluarkan kaum muslimin yang berada di dalam neraka.

  4. Asep Bobby Sulaeman said:

    Assalamualaikum, Terima kasih Ustadz mudah2an artikelnya dapat bermanfaat setelah ana baca begitu menggugah hati ana.

  5. wawan said:

    Assalamualaikum Ustad,pdak penyampaian dakwah para mubalig selalu membahas penghuni surga dan neraka, bahkan penghuninya banyak wanita. Kenapa ? dan bagai mana pasilitas wanita disurga?

    Waalaikumussalam.
    Sebabnya disebutkan dalam hadits adalah karena para wanita sering mencela dan tidak mensyukuri kebaikan suami. Adapun wanita di dalam surga, silakan baca di artikel ‘Siapakah suamimu di surga?’ dalam blog ini

  6. robby said:

    assalamualaikum wr.wb
    Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati.
    saya punya pertanyaan sebagai berikut :
    1)Bukanya sesuatu yg haram te2p saja haram mskipun dilakukan dlam koridor yg benar….?
    2)Emang ada sih yang dulunya melakukan perbuatan haram terus di lakukan melalui koridor yang benar menjadi halal..

    Waalaikumussalam.
    Kami tidak paham maksud pertanyaan di atas, pertanyaannya terlalu global. Harap diperjelas.

  7. nanda said:

    assalamualaikum.
    terima kasih, artikel ini sangat mendukung sebagai referensi dalam pembuatan tugas kuliah saya

  8. agus said:

    Assalamu’alaykum ustadz,
    dari kutipan diatas, ada tulisan seperti ini :
    “Contoh: Ada seseorang yang shalat dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa Allah Ta’ala berada dimana-mana. Keyakinan dia ini adalah keyakinan yang kafir karena merendahkan Allah, yang karenanya shalatnya tidak akan diterima.”

    keyakinan yang tidak kafir yang bagaimana ustadz?

    Waalaikumussalam.
    Keyakinan kaum muslimin adalah bahwa Allah Ta’ala berada di atas arsy di atas langit yang ketujuh, bukan dimana-mana.

  9. Ummu Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    Saya masih agak bingung,mohon penjelasannya.
    Bgm jika saya bershodaqoh krn Alloh Ta’ala tetapi berharap mendapatkan balasan dua kali lipat dari Alloh Ta’ala,apakah itu termasuk syirik kecil?
    Soalny selama ini saya kadang berpikiran bahwa bershodaqoh untuk mendapatkan rejeki dr Alloh Ta’ala yg berlipat ganda.apakah pemikiran sy tsb benar,apakah hrs bnr2 krn Alloh Ta’ala shg qta tdk boleh berpikir utk m’dapatkan balasan pahala/rejeki dr Alloh Ta’ala.
    Terima Kasih
    Wassalamu’alikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Amalan ibadah yang selain pahala akhirat ada juga pahala dunianya, tidak mengapa seseorang ketika mengerjakannya selain untuk Allah (ini niat utamanya), sekaligus berharap pahala dunia.
    Adapun ibadah yang tidak ada dalil akan pahala dunianya maka niatnya hanya harus untuk Allah semata.
    Sementara sedekah termasuk dari jenis yang pertama, wallahu a’lam.
    Tapi yang jelas, memurnikan untuk Allah itu jauh lebih utama. Sementara balasan pelipatgandaan itu akan datang dengan sendirinya.

  10. Pradina said:

    Assalamualaikum…

    Terimakasih ustadz referensinya :)
    Kunjungan balik dari GRIYA DINA :)

    Memang Allah dan diri kitalah yang bisa menjadi tolak ukur keikhlasan :) Itu menurut saya ustadz, apakah sudah tepat?? Bila kurang tepat mohon diluruskan kembali, terimakasih . . .

    Wassalamualaikum . . .

    Waalaikumussalam
    Kami tidak paham maksud ungkapan di atas. Tapi sebaiknya tidak menggunakan kata ‘dan’, tapi menggunakan kata ‘kemudian’. Karena kata ‘dan’ menunjukkan penyamaan tingkatan.

  11. LUQMAN said:

    sukron