Makmum Wajib Baca Al-Fatihah

December 25th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Makmum Wajib Baca Al-Fatihah

Tanya:
Apa hukumnya membaca alfatihah bagi makmum ketika sholat berjamaah.
“Deni” <deni.chihuy@gmail.com>

Jawab:
Yang benar dari pendapat-pendapat di kalangan ulama adalah bahwa wajib atas makmum untuk membaca Al-Fatihah berdasarkan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Ash-Shamit dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.”
Dan hadits ini berlaku umum mencakup imam dan makmum, serta mencakup shalat jahriyah dan sirriyah. Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
مَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَصَلاَتُهُ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
“Barangsiapa yang tidak membaca al-fatihah maka shalatnya kurang, tidak sempurna.”
Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Anas dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
أَتَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ الْإِمَامِ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ ؟ فَقَالُوا: إِنَّا لَنَفْعَلُ. قَالَ: لاَ تَفْعَلُوا, لِيَقْرَأْ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِي نَفْسِهِ
“Apakah kalian membaca di belakang imam sementara imam sedang membaca? “ mereka menjawab, “Ia kami betul melakukannya.” Maka beliau bersabda, “Jangan kalian lakukan itu, tapi hendaknya salah seorang di antara kalian membaca al-fatihah dalam dirinya (yakni: secara sir, pent.).” Sanadnya hasan
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
“Dan jika dia (imam) membaca maka diamlah kalian.”
Maka hadits ini telah dinyatakan cacat (lemah) oleh sebagian huffazh (para ulama pakar hafalan hadits) bahwa dia adalah hadits yang syadz. Lagipula hadits ini kandungannya umum sehingga maknanya dikhususkan oleh hadits-hadits yang telah berlalu yang semuanya menunjukkan wajibnya membaca al-fatihah.

[Diterjemah dari jawaban Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam di:

http://www.olamayemen.com/show_fatawa13.html]

Incoming search terms:

  • bacaan al fatihah
  • makmum
  • makmum membaca al fatihah
  • al fatihah
  • membaca al fatihah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 25th, 2009 at 10:57 pm and is filed under Fatawa, Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

79 responses about “Makmum Wajib Baca Al-Fatihah”

  1. Abu Hafshah as-singkepy said:

    Assalaamu’alaykum warahmatullahi wa barakatuh, ustadz hafizhakallah, kapan makmum membaca al fatihah, apakah pd saat imam membaca alfatihah yaitu makmum mengikuti secara sir atau setelah imam membaca al fatihah yaitu pd saat imam membaca surah lain? Jazakallahu khoiran

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Yang jelas dalam shalat jahriyah jangan sampai bacaan al-fatihahnya mendahului imam, adapun dalam shalat sirriyah maka dia berusaha agar tidak mendahului imam, tapi kalau dia mendahului imam tanpa sengaja (karena bacaan imam tidak terdengar) maka insya Allah tidak mengapa.
    Kedua cara yang antum sebutkan bisa dikerjakan:
    1. Mengikuti imam ayat per ayat. Hanya saja ketika imam selesai membaca ayat terakhir al-fatihah, hendaknya makmum mengaminkan dulu baru setelah itu dia membaca ayat yang terakhir dari al-fatihah, karena adanya keutamaan menyamai ucapan amin dari imam.
    2. Makmum membaca al-fatihah ketika imam membaca surah setelah al-fatihah.
    Silakan dipilih cara mana yang lebih mudah atau boleh juga dia mengerjakan keduanya secara bergantian. Wallahu a’lam.

  2. abu al-'abbas said:

    lalu bgm dg hadits berkenaan bacaan imam adl bacaan makmum juga?

    Haditsnya berbunyi:
    مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
    “Barangsiapa yang mempunyai (baca: mengikuti) imam maka bacaan imam adalah bacaannya.”
    Alhamdulillah kami pernah membahas hadits ini, dan sepanjang pembahasan kami ada delapan orang sahabat yang meriwayatkan hadits ini, yaitu: Jabir, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Ad-Darda`, Ali, dan Anas -radhiallahu anhum-.
    Hanya saja setelah kami memeriksa semua hadits di atas beserta jalan-jalannya, maka kami berkesimpulan sebagaimana kesimpulan yang dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/20) ketika menyebutkan hadits ini, “Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan, akan tetapi tidak ada satupun di antaranya yang shahih dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, wallahu a’lam.”
    Semoga di lain waktu kami bisa memasukkan pembahasan hadits ini ke ‘Ensiklopedia Hadits Lemah’.

  3. Iskandar Badrun said:

    Assalamu’alaykum
    ustadz hafizhakallah, terus bagaimana? jika kita belum selesai membacakan al-fatihah (biasa terjadi kita telat memasuki shof atau masbuk atau mungkin imamnya terlalu cepat dalam membaca al-fatihahnya), tetapi imam sudah ruku’ dan bisa dipastikan jika kita menyelesaikan al-fatihahnya maka kita akan ketinggalan ruku’ dan i’tidal bersama imam.
    Jazakallahu khoiran

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Maka dia harus ikut ruku’ bersama imam dan meninggalkan al-fatihahnya, tapi dia dihukumi kekurangan rakaat itu. Karenanya ketika imam salam dia harus menambah rakaat yang dia tidak membaca al-fatihah padanya.

  4. Iskandar Badrun said:

    Assalamu’alaykum
    ‘afwan ustadz hafizhakallah…
    saya mau bertanya lagi, bagaimana hadits yang menyatakan bahwa jika sesorang datang terlambat dan masih sempat ruku’ bersama imam, maka dihitung 1 rakaat sempurna, tetapi jika mendapati sujud bersama imam, maka ditambah kekurangan rakaatnya setelah imam salam?

    dan bagaimana menggunakan hadits ini jika benar adanya, terhadap seseorang yang tidak selesai membaca al-fatihahnya (misalkan baru 1 ayat pertama? sedangkan yang datang terlambat dan mendapati imam ruku’ dan langsung ruku’ maka dihitung 1 rakaat sempurna?

    mohon pencerahannya ustadz… karena ada beberapa imam dan saya tidak bisa menyelesaikan pembacaan alfatihah saya karena imamnya kecepatan, padahal saya membaca alfatihahnya malah sudah dipercepat.

    sekali lagi mohon pencerahannya ustadz…

    jazakallahu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Barakallahu fikum wazadakum hirshan fiima yanfa’ukum.
    Seingat ana ada tiga atau empat hadits yang semakna dengan apa yang antum sebutkan, dan sepanjang pemeriksaan kami semuanya adalah hadits yang lemah. Semoga dalam waktu dekat kami bisa menuangkan hasil takhrij kami di situs ini, amin.
    Adapun masalah imam yang terlalu cepat bacaannya maka jawabannya bisa dilihat pada artikel berikut: http://al-atsariyyah.com/?p=65
    Adapun solusi untuk mengejar imam yang terlalu cepat bacaannya adalah dengan mengikuti bacaan imam ayat per ayat dan tidak membaca al-fatihah ketika imam membaca surah setelah al-fatihah. Jika dia mengikuti imam ayat per ayat, insya Allah dia tidak akan ketinggalan al-fatihah, bagaimanapun cepatnya bacaan imam. Wallahul muwaffiq

  5. Iskandar Badrun said:

    Assalamu’alaykum

    Jazakallahu khoiron ustadz atas pencerahannya… semoga Alloh memberkahi, memuliakan dan meneguhkan ustadz dalam manhaj yang hak ini…

    Saya mendapat website ini dari seseorang (semoga Alloh memberkahi, memuliakan dan meneguhkannya dalam manhaj salaf yang hak ini. Saya bersyukur kepada Alloh atas semua ini. Saya ingin belajar dan mengkaji ilmu yang hak ini ditengah-tengah rutinitas saya walupun hanya melalui dunia maya karena saya belum mampu untuk hadir di majelis-majelis salaf secara langsung, sekali lagi dengan alasan rutinitas kerja yang harus saya tunaikan, semoga Alloh mengampuni hamba-Nya ini…

    ‘Afwan ustadz… terlalu banyak bertanya… tetapi tidak ada tujuan lain bagi saya kecuali ingin meluruskan pemahaman agama saya di atas manhaj al jamaah ini, manhaj salaf…

    Terus bagaimana dengan firman Alloh ‘Azza Wajalla…“Apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf:204)? bukankah al-fatihah dan surah-surah yang dibacakan dalam sholat adalah bagian dari Al-Quran, bagaimana kita memposisikan firman Alloh tersebut? karena ada beberapa ustadz (wallhu’alam, uztadz yang mana) mengeluarkan fatwa kurang lebih “jika imam membaca al-fatihah dan surah setelahnya secara jariyah (jelas) maka wajib diam, artinya kita tidak perlu membaca al-fatihah pada rakaat yang al-fatihahnya dibaca secara jelas oleh imam”

    Mohon sekali lagi pencerahannya ustadz…
    Jazakallahu khoiron…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Allahumma amin dan untuk antum semoga mendapatkan yang semisal dengan apa yang antum doakan.
    Semoga Allah memberkahi waktu luang kita semua dan menambahkan kepada kita semangat guna meraih apa yang bermanfaat buat kita, amin.
    Adapun ucapan sebagian ustad yang antum bawakan maka dia adalah pendapat dari sebagian ulama as-salaf. Di antara dalil mereka adalah ayat yang antum sebutkan dan hadits yang terdapat dalam artikel di atas, yaitu:
    وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
    “Dan jika dia (imam) membaca maka diamlah kalian.”
    Dan cara menjawab keduanya adalah: Bahwa ayat dan hadits tersebut (kalaupun shahih) bersifat umum dan dikhususkan oleh hadits-hadits yang banyak lagi lebih shahih yang menunjukkan wajibnya membaca al-fatihah. Wallahu a’lam.

  6. abu sa'id said:

    Bismillah
    Ustadz yang saya hormati, ada beberapa hal ingin ana sampaikan :
    1. Dalam kitab sifat shalat Nabi, kalau tidak salah ingat Syaikh Albani menyebutkan riwayat bahwa setelah sebelumnya mengecualikan bacaan al fatihah, pada akhirnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk membaca semua ayat di belakang Imam, termasuk alfatihah. Dalam beberapa pembahasan yg saya dapatkan tentang masalah ini, ana tidak mendapati para ustadz menyinggung hadits ini. Apakah berati para ustadz yg berpendapat demikian memahami akan lemahnya hadits tersebut? Mohon penjelasannya.

    2. Dari beberapa kajian, ana condong kepada membaca alfatihah bersama/mengikuti bacaan imam, karena dalam sebuah riwayat dahulu Rasulullah (kalau tidak salah shalat subuh) melarang sahabat dari membaca ayat di belakang imam, kecuali alfatihah. Yang ana pahami, berati sebelum larangan ini para sahabat membaca alfatihah dan surat, yg ini berarti alfatihah dibaca bersama dengan bacaan imam, bukan setelah imam selesai karena setelahnya sahabat juga ikut membaca surat bersama imam. Sampai akhirnya Rasulullah melarang mereka dari membaca ayat kecuali al fatihah saja. Dan ana memahami larangan ini tidaklah merubah tempat untuk membaca al fatihah yaitu bersama imam. Benarkah pemahaman yang ana ambil ini ustadz?

    Jazakumullah khairan

    1. Kami tidak pernah mengetahui ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi melarang baca alfatihah di belakang imam, tolong diperiksa lebih detail dalam sifat shalat nabi, karena kami tidak mendapatkan ada riwayat seperti ini.
    2. Apa yang antum pahami insya Allah bisa diamalkan, hanya saja dibolehkan juga membaca alfatihah ketika imam membaca surah pendek, selama dia tidak mendahului bacaan imam. Wallahu a’lam

  7. Fahrul said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz,ana mau tanya apakah hadits (yang seingat ana) yaitu Barang siapa yng ikut imam bacaan imam menjadi bacaan makmum itu shahih atau tidak krn hadits ini terdapat dalam Sifat Shalat Nabi karya syaikh Albani? Mohon penjelasannya Ustadz

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hadits dengan lafazh ini -sepanjang pemeriksaan kami- diriwayatkan dari 8 orang sahabat, akan tetapi semuanya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/20), “Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan, tapi tidak ada satupun di antaranya yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, wallahu a’lam.”

  8. Abu Salman said:

    Ustadz, mohon tanggapannya, ana pribadi lebih condong bahwa membaca alfatihah bersama/mengikuti bacaan imam ayat per ayat lebih tepat. Hal ini karena pada awalnya, para sahabat juga membaca di belakang imam baik itu surat alfatihah maupun surat yang lain setela hnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka membaca alfatihah bersama dengan bacaan imam, jika mereka membacanya setelah imam selesai membaca al fatihah, maka tentu mereka akan tertinggal dari mengikuti bacaan surat setelahnya. Baru kemudian, datang larangan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam supaya mereka jangan membaca di belakang imam kecuali alfatihah saja. Tapi, bukankah larangan ini tidak merubah tempat saat untuk membaca alfatihah yaitu bersama dengan bacaan imam sebagaimana sebelum ada larangan?
    Jazakumullah khairan…

    Insya Allah dalam permasalahan ini ada keluasan. Apa yang antum sebutkan adalah hal yang baik, hanya saja yang membaca alfatihah ketika imam membaca surah pendek juga tidak bisa disalahkan karena dia juga tidak melanggar larangan mendahului bacaan imam. Sekai lagi, dalam masalah ini menurut ana ada keluasan, silakan memilih.

  9. Zainal Abidin said:

    Assalamu’alaikum Pak Ustadz..,
    Dalam Shalat bolehkah kita tidak membaca Bismillah setelah Surat Al-Fatihah..? Apa hukum dan dalilnya..?
    Mohon penjelasannya ni..
    Trima Kasih ya Pak Ustadz..

    Wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Boleh saja, hukum membaca basmalah di awal al-fatihah adalah sunnah, karena basmalah bukan termasuk surah al-fatihah menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama.

  10. ali said:

    sebelumnya saya ikut pendapat yang mengatakan bahwa membaca al-fatihah bagi makmum adalah wajib, namun setelah membaca buku karangan Syaikh Al-Albani tentang tata cara shalat nabi, maka saya jadi ragu dengan pendapat yang saya terima sebelumnya, dan mengikuti pendapat Syaikh Al-Albani yang mengatakan bahwa tidak boleh baca Alfatihah bagi makmum. tolong nasehati saya ustaz agar tidak ragu, saya kadang jadi bingung, dan takut kalau shalat saya tidak sah

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, “Tinggalkan yang membuatmu ragu kepada yang tidak membuatmu ragu.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasai, dan selainnya)
    Karenanya dalam beragama hendaknya antum mengikuti pendapat yang tidak membuat antum ragu-ragu dan yang membuat hati antum tenang dalam mengamalkannya. Seseorang dituntut untuk yakin dalam setiap ibadahnya, karenanya kalau dia awam (tidak mampu membedakan mana pendapat yang kuat) maka hendaknya dia mengikuti pendapat yang hatinya tenang dalam mengamalkannya, wallahu a’lam.

  11. abdulloh said:

    maaf ikut nimbrung berpendapat

    setelah saya membaca dengan seksama pembahasan diatas dan disertai dari sumber2 yang lainnya.. maka saya berpandangan sebagai berikut:

    bahwa untuk shalat yang di-jahir-kan, seperti subuh, magrib dan isya, maka makmum wajib mendengarkan/mengikuti bacaan yang diucapkan oleh imam. Dan kalau dalam shalat jahir ini, bacaan imam tidak terdengar, maka makmum membaca Al Fatihah dengan sambil menunggu gerakan imam yang selanjutnya.

    untuk shalat di-sirri-kan, yakni dhuzur dan ashar, maka makmum membaca Al Fatihah masing2 dengan sambil menunggu gerakan imam selanjutnya. Apabila makmum dan makmum yang masbuk tidak sempat menyempurnakan Al Fatihah, maka makmum harus mengikuti gerakan imam selanjutnya.

    Mengapa saya berpandangan demikian? karena shalat berjamaah merupakan simulasi kepemimpinan, dimana imam adalah pemimpin dan makmum adalah yang dipimpin imam. Sehingga simulasi ‘sami’na wa atho’na’ (kami mendengar dan kami taat) dapat dipraktikkan.

    contoh praktik ini adalah jika makmum tidak bisa mendengar ucapan ‘Allahuakbar’ untuk gerakan selanjutnya, maka makmum harus tetap taat dalam posisinya sehingga ada shaf terdepan yang bisa diikutinya.

    Saya pikir inilah substansi mengapa imam tidak boleh didahulukan oleh makmum.

    Bagaimana dengan pendapat saya ini? Mohon koreksinya.

    Betul, itulah yang menjadi tujuan adanya imam. Hanya saja ada dalil khusus yang mengecualikan hal ini yaitu dalil yang memerintahkan untuk membaca alfatihah atas makmum walaupun bacaan alfatihah imam kedengaran, hanya saja makmum jangan mendahului bacaan alfatihah imam.

  12. penanya said:

    Sanadnya hasan

    bahwa dia adalah hadits yang syadz. Lagipula hadits ini kandungannya umum sehingga maknanya dikhususkan oleh hadits-hadits yang telah berlalu yang semuanya menunjukkan wajibnya membaca al-fatihah.

    < <==

    artinya apa ya ? sanad hasan, syadz.

    dan kalimat "Lagipula hadits ini kandungannya umum sehingga maknanya dikhususkan oleh hadits-hadits yang telah berlalu yang semuanya menunjukkan wajibnya membaca al-fatihah."

    maksudnya apa kurang paham saya

    makasih sebelumnya

    Sanad hasan adalah sanad yang terkumpul padanya 2 syarat:
    1. Sanadnya bersambung, tidak ada yang terputus.
    2. Salah seorang rawi atau lebih dalam sanadnya adalah rawi dalam tingkatan hasan haditsnya (di bawah tingkatan tsiqah/terpercaya)

    Hadits syadz adalah hadits dimana seorang perawi yang hasan atau tsiqah menyelisihi periwayatan rawi lain yang lebih kuat hafalannya daripada dia atau lebih banyak jumlahnya.

    Maksudnya, hadits yang berbunyi:
    وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
    “Dan jika dia (imam) membaca maka diamlah kalian.”
    Bermakna umum wajibnya dia kapan saja mendengar bacaan Al-Qur`an baik di luar shalat maupun di dalam shalat. Hanya saja hadits-hadits sebelumnya yang menunjukkan wajibnya membaca Al-Fatihah dalam shalat mengkhususkan keumuman hadits ini. Sehingga maksudnya: Wajib diam ketika mendengarkan bacaan Al-Qur`an, kecuali jika dia dalam shalat maka makmum boleh membaca Al-Fatihah walaupun sedang mendengarkan imam membaca Al-Qur`an.

  13. faisal khoir said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

    Ustadz sy mau tanya, membaca basmallah sebelum al-Fatihah dgn sirr adl termasuk sunnah Rasulullah, yg sy mau tanya bagaimana bacaan dalam surat setelah al-fatihah? apakah dalam membaca surat itu basmalah-nya di sirr kan juga / bagaimana? apakah dalil sirr tersebut utk fatihah saja? Syukran Ustadz atas penjelasanya. Jazakallahu khair

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Disunnahkan untuk mensirrkan basmalah pada al-fatihan dan pada surah sebelumnya. Dari Anas bin Malik bahwa dia berkata:
    صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا
    “Saya shalat di belakang Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka memulai shalat mereka dengan bacaan, ‘Alhamdulillahi Rabb al-Alamin.’ Tidak ada di antara mereka yang membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim’ pada awal bacaan dan tidak pada akhirnya.” (HR. Muslim no. 606)
    Maka riwayat di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabatnya di atas tidak membaca basmalah di awal alfatihah dan tidak pula di akhir alfatihah atau dengan kata lain di awal surah setelah alfatihah, wallahu a’lam.

  14. sungkan said:

    Assalamu’alaykum..
    afwan ustadz..
    Ana pernah mendengar bahwa QS Al-A’raf 204 yg disebutkan ikhwan diatas tu, asbabun nuzul nya adalah berkaitan dengan membaca surat dalam shalat, shg itu menjadi dasar utk larangan bagi makmum membaca surat (Alfataihah dan ayat lain) saat shalat jahriyah. artinya cukuplah bacaan imam itu menjadi bacaan makmum, dengan demikian apabila makmum masbuq tidak mendapati bacaan alfataihah imam, meskipun dia dapat menyempurnakan ruku’ nya, dia tetap harus menambah 1 raka’at
    Bagaimana pendapat ustadz ?
    Jazakumullah….

    Waalaikumussalam.
    Tolong dipastikan dulu kalau ayat itu sebab nuzulnya adalah dalam masalah bacaan shalat, karena kami tidak pernah mendengar tentang itu.

  15. Abu Sufyan said:

    Bismillah,

    Ustadz, Ana mau tanya, ketiak ana ikut masbuk shalat isya, pada sat itu alfatihah sudah di akhir kalimat waladz dzhaaliin, maka ana masuk menjadi mamkmum. apakah itu termasuk sudah mendapat satu rakaat..? karena teman ana menyakan bahwa shalat ana tidak sah karena tdk menyempurnakan shalat dengan membaca al-fatihah, karena pada sat itu yg di ikuti hnaya walad zhalinnya saja. jikalau ana berdiri menemabah 1 rakaat lagi berati shalat isya tersebut menjadi 5 rakaat
    Mohon sekali penjelasan

    Syukran

    Shalatnya syah, yang tidak teranggap hanyalah rakaat yang antum masbuk padanya akibat tidak membaca Al-Fatihah. Kalau antum menambah satu rakaat maka itu bukan menjadi 5 rakaat tapi tetap 4 rakaat, karena rakaat pertama (yg masbuk) tadi tidak teranggap satu rakaat.

  16. andyzidane said:

    assalaumalaikum…wr wb…

    ustadz,Yang di Rahmati Allah SWT
    kalau ketika ana mengikuti sholat masbuk isya dan kita tdk sempat membaca alfatihah karena begitu ane takbiratul ikram imam berselang beberapa detik kemudian langsung bertakbir ruku itu bagaimana ustad apa sudah terhitung satu rekaat?apa perlu menggantinya lagi?

    Waalaikumussalam.
    Tidak terhitung satu rakaat, harus ditambah satu rakaat setelah imam salam.

  17. herbono said:

    Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

    Pak ustadz, maaf, menurut saya ini menyangkut ikhtilaf.Hadits yg dijadikan hujjah oleh Syaik Albani (Sifat Shalat Nabi, hal.122):
    1. “Imam dijadikan sebagai anutan makmum. Jika ia bertakbir, … jika ia membaca, diamlah kalian.”(HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud, Muslim, Abu ‘Awanah.
    2. “Barangsiapa sholat mengikuti imam, maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga”. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi, Ahmad.

    Syaikh Albani juga mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Abdul Hadi dan sanadnya dikuatkan Al-Bushairi. Wallahu a’lam

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Jelas insya Allah semua memahami kalau ini masalah fiqhi biasa.
    1. Hadits yang pertama ini walaupun shahih akan tetapi sifatnya umum dan dikhususkan oleh hadits-hadits yang bersifat khusus yang memerintahkan tetap membaca alfatihah secara mutlak.
    2. Hadits kedua ini menurut kami adalah hadits yang lemah dan tidak ada satupun hadits yang shahih dalam lafazh seperti itu, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah.

  18. syarif hidayat said:

    Assalaamu’alaikum warehmatullahi wabarakaatuh,

    Pak ustadz, selama ini apabila saya menjadi makmum yang masbuk walaupun tidak mendapati/bersama imam membaca surat al-Fatihah, tetapi masih sempat membaca Al-Fatihah saat imam membaca surat setelahnya saya anggap saya telah dapat rakaat itu. Apa benar yang saya lakukan?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ia itu sudah benar.

  19. qing cell said:

    Assalamualaikum…
    ustadz,
    mohon pencerahan,
    suatu ketika saya sholat berjemaah isya’
    pada rokaat ke tiga alfatehahnya ttep di baca keras oleh imam.
    bagaimana hukumnya.
    af1.
    wassalam

    Waalaikumussalam.
    Shalatnya tetap syah. Kalau imam lupa, maka dia cukup sujud syahwi di akhir shalatnya.

  20. Jufri Jamrud said:

    Ustadz,saya mau bertanya lagi.
    dulu,sebelum saya mengetahu tentang hukum2 Shalat,saya sangat menikmati Shalat itu.entah Shalat yg di pimpin Imam yg Shalatny seperti d kejar2 waktu Atau Imam yg Menikmati Shalat ny.tetapi setelah saya mempelajari Ilmuny dan memahami arti sesungguhny dari Shalat itu,hati saya pun sering tumbuh kebencian terhadap Imam yg mengImami Shalat saya Ustadz.
    pertanyaan saya.apakah saya berdosa bila saya membenci Imam yg Shalatny tdk bisa menghadirkan Allah dlm Shalat saya dan membuat saya menikmati Shalat itu Ustadz.
    dan yg kedua.apa yg harus saya lakukan agar penyakit yg ada d dlm dada saya ini bisa sembuh.
    Mohon penjelasannya Ustadz.

    Wassalam… wr wb

    Maksud ‘imam yang tidak bisa menghadirkan Allah dalam shalat’ imam yang bagaimana?
    Ala kulli hal, seseorang disyariatkan membenci kemaksiatan dan pelakunya -kalau memang terbukti itu maksiat-, tapi dengan kebencian yang sesuai dengan kadar kemaksiatannya.
    Solusi yang paling baik dalam hal ini adalah dia shalat di belakang imam yang baik shalatnya.

  21. Jufri Jamrud said:

    maksudny begini Ustadz
    imam yg terlalu cepat pada bacaan2 tiap2 gerakan.

    Zikir tiap gerakan hanya diwajibkan satu kali. Karenanya zikir tiap gerakan cukup dibaca 1 kali saja agar bisa mengejar imam. Kalau toh tetap tidak bisa dikejar maka dia jangan shalat di belakang imam tersebut tapi dia shalat di masjid yang lain.

  22. risang said:

    assalamualaikum
    Menurut saya pendapat yang kuat adalah yang
    menyatakan makmum cukup mendengar dalam shalat jahriyah. Alasannya:
    1. Hadits yang memerintahkan membaca al-fatihah bersifat umum dalam shalat dan dikhususkan dengan hadits
    “jika ia membaca diamlah kalian”. Bukan sebaliknya (yakni hadits yang memerintahkan membaca alfatihah mengkhususkan yang umum)
    2. Bukankah hikmah dari imam membaca dengan keras adalah agar makmum dapat menyimak?

    Waalaikumussalam.
    Silakan diamalkan kalau memang menurut anda itu yang kuat. Tidak ada masalah, walaupun pendapat yang kami pilih adalah sebaliknya.

  23. Rico said:

    Assalamu’alaikum
    pak ustad,
    di rakaat pertama, apakah kita tetap membaca iftitah ataukah mendengar imam membaca al fatihah?
    terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Tetap membaca al-fatihah.

  24. ummu hafshah said:

    assalamu’alaikum ustadz,

    ana ingin bertanya,

    1. Apakah makmum yang tidak mengamini imam setelah imam membaca Al-Fatihah dikarenakan imam terlalu cepat membaca Al-Fatihah itu berarti makmum tersebut tidak sholat berjama’ah atau keluar dari sholat berjama’ah itu sendiri?

    2. Dari yang dijelaskan diatas, ana menarik kesimpulan bahwa, jika ketika mengikuti sholat berjama’ah dimana imam terlalu cepat membaca Al-Fatihah, sehingga ketika imam selesai membaca Al-Fatihah, maka makmum mengamini dahulu baru melanjutkan surat Al-Fatihahnya… apakah itu benar?

    3. Bagaimana hukumnya jika makmum tidak membaca surat pendek pada raka’at pertama dan kedua dikarenakan bacaan imam yang terlalu cepat?

    4. Ketika melakukan sholat berjama’ah, membaca ta’awudz dan bismillah harus dibaca dengan jahr atau sirr?

    Jazakallahu khoyron ustadz…

    Waalaikumussalam.
    1. Dia berdosa tapi tidak dihukumi keluar dari jamaah. Dia tetap dalam shalat jamaah.
    2. Ya itu sudah benar.
    3. Makmum memang tidak boleh membaca surat apapun di belakang imam kecuali al-fatihah.
    4. Keduanya secara sirr, termasuk al-fatihahnya.

  25. tony said:

    ass wr wb ustad di tempat saya imamnya selalu membaca bismillah sebelum dan sesudah alfateha mohon petunjuk dan apakah selama ini shalat kami tdk syah!

    Tidak ada masalah insya Allah. Shalatnya tetap syah.

  26. rimus said:

    Assalamu’alaykum wrwb.dari berbagai pertanyaan di atas barangkali tidak jauh berbeda,!hanya saja membikin bingung,yang ini dasar kuat,yang itu juga kuat dasar dan dalilnya.allah yang maha mengetahui…,kemudian pertanyaannya.berdasarkan hadits yang mana&kekuatannya seperti apa dlm meriwayatkan klo semua memang berdasar hadist.????terima kasih…

    Waalaikumussalam.
    Tidak semua hadits itu shahih. Karenanya bisa saja seseorang berdalil dengan sebuah hadits akan tetapi hadits itu lemah sehingga tidak syah dipakai berdalil. Dalam masalah ini kasusnya sama seperti itu.

  27. Ridwan said:

    Bismillah,
    Ikut berdiskusi,mohon koreksinya. kebenaran hanya milik Allah semata.
    Sekilas banyak bertentangan dalam hal ini. kalangan ahlul fiqh ada yang menggunakan metode tarjih, yaitu mengalahkan satu hadits yang dianggapnya kurang kuat dan hanya menggunakan hadits yang dianggapnya lebih kuat. Istilahnya adalah sistem gugur.
    Namun kebanyakan para ulama fiqih lebih mengutamakan thariqatul jam”i dalam setiap kesempatan menghadapi dalil-dalil yang saling berbeda. Mereka tetap menggunakan semua dalil, dengan menjadikan satu dalil sebagai dalil umum dan dalil yang lainnya sebagai dalil khusus yang digunakan pada kasus yang khusus. Intinya, dalil-dalil yang sekilas dianggap saling bertentangan itu dicoba dicarikan titik temu.

    Umumnya ulama mengatakan asalkan seorang makmum bisa ikut ruku” bersama imam, dia sudah mendapatkan satu rakaat, meski secara hakikatnya tidak membaca surat Al-Fatihah. Dan dalilnya adalah sebagai berikut:
    Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu datang ke (masjid untuk) shalat berjama’ah, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka sujudlah, namun janganlah kamu menghitungnya sebagai satu raka’at, barang siapa yang yang mendapatkan ruku’ bersama imam, maka ia mendapatkan shalat mendapatkan 1 raka’at tersebut).” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 468 n’Aunu1 Ma’bud III: 145 no: 875).

    Hadits ini jelas sekali keshahihannya dari segi kekuatan sanad. Dan dari segi pengertian, hadits secara tegas menyebutkan bahwa seorang makmum dianggap telah mendapatkan satu rakaat asalkan sempat rukuk bersama imam.

    Ini kesimpulan dari hadits lain, yang berkaitan dengan masalah ini. Semoga Allah menunjuki kita kebenaran. Allahu a’lam

    Hamba Allah yg selalu minta ampunannYa

    Jazakallahu khairan atas komentarnya.
    Apa yang anda katakan itu benar. Hanya saja ada satu metode yang anda lupakan sebelum metode jama’ dan tarjih. Yaitu bahwa kedua metode ini bisa ditempuh jika kedua dalilnya shahih. Karenanya ini kembali kepada perbedaan mereka dalam menshahihkan dan melemahkan sebuah hadits.
    Karenanya, adapun hadits yang anda sebutkan maka kami lebih cenderung berpendapat lemahnya hadits tersebut. Jadi ucapan anda ‘Hadits ini jelas sekali keshahihannya dari segi kekuatan sanad’ tidak bisa kami terima. Karena justru menurut kami hadits ini jelas sekali kelemahannya’.
    Ala kulli hal, memang ini masalah perbedaan pendapat biasa.

  28. abdullooh said:

    assalamu’alaykum ustadz,imam membaca surat al fatihah terlalu cepat,ana kira-kira baru 2 ayat,imam sudah takbir hendak ruku’.bagaimana solusinya stadz,krn ana misal, sedang ada d lingkungan kerja shg tdk bisa mencari imam yg tuma’ninah.syukron

    Waalaikumussalam.
    Baca alfatihahnya jangan terlalu santai, kalau imam cepat baca surah pendeknya maka hendaknya dia mempercepat bacaan alfatihahnya agar bisa mengejar ruku’nya.

  29. sardi irfansyah said:

    assalamualaikium ustad.
    bagaimana imam baca surah al-fatihah kita juga baca, misal: alhamdulillah hirab bil alamin, terus kita juga baca tapi imam duluan yang baca seperti pas imam baru baca” alhamdulillah” kita belum baca, pas imam baca ” hirab bil alamin ” kita baca alhamdulillah.
    jadi perbandingan imam baca duluan(hampir bersamaan, tapi tetap imam yg duluan). itu bagaimana?

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah itu dibolehkan.

  30. sardi irfansyah said:

    kalau pas baca ayat sesudah al-fatihah kita juga baca boleh ga?

    Tidak boleh, makmum hanya diizinkan baca al-fatihah.

  31. sardi irfansyah said:

    terima kasih atas jawabannya

  32. Fauzi said:

    Ustadz,
    Saya sepakat dengan Akhi Ridwan..

  33. Abu ishaq al ashri said:

    Alhamdulillah dpt banyak faidah dr tanya jawab ini. Ana mau tanya ustadz terkait pertanyaan no.24 poin 1. Apa brarti hukum ta’miin itu wajib ustadz bukan sunnah muakkad krna dosa kalau tdk mengaminkan? Jazaakallahu khair

    Ya, hukumnya wajib bagi setiap makmum.

  34. joeny said:

    Assalamu`alaykum ustad…

    maaf sebelumnya,,,ada sebuah jawaban dr ustad yg berbunyi : Apa yang antum pahami insya Allah bisa diamalkan, hanya saja dibolehkan juga membaca alfatihah ketika imam membaca surah pendek, selama dia tidak mendahului bacaan imam. Wallahu a’lam.

    1. apa maksud dr mendahului bacaan imam?
    bacaan imam yg mana? sementara anda mengatakan dibolehkan membaca Al Fatihah ketika imam membaca surat pendek….
    surah terpendek dlm Al-Qur`an kalo gk salah surah Al Kautsar.
    jika imam selesai membaca surah Al Kautsar, dan mo takbir mo ruku` sementara makmum blum selesai membaca Al Fatihah, gmana tu ustad?

    terimakasih

    Maksudnya bacaan alfatihah imam. Jadi boleh baca alfatihah ketika imam baca surat pendek, dan boleh juga baca alfatihah dengan mengikuti alfatihah imam, ayat per ayat.
    Cepatnya imam bisa diatasi dengan mengikuti bacaan alfatihah imam, ayat per ayat sehingga dia tetap bisa membaca alfatihah.

  35. Dhani said:

    Assalamualaikum ustad,
    sy ingin bertanya,..
    apakah hukum tumaninah dlm sholat?
    Jika imam tidak tumaninah, terlalu cepat baca ayat, makmum pun tidak tumaninah, siapa yg menanggung dosa?
    Saat shalat zhuhur dan ashar, makmum slalu tertinggal dlm bacaan alfatihah, maklum blum selesai baca alfatihah, imam sudah rukuk, makmum hendak rukuk imam sudah berdiri, brarti makmum tertinggal 1 rakaat.
    Sungguh tidak semua makmum yg mahir membaca cepat alfatihah dgn pengucapan (tajwid) yg benar, bagaimana dalam hal ini ustad, kasihan makmum telat terus, berarti mengulang setiap rakaat.

    Waalaikumussalam.
    Tumakninah hukumnya rukun shalat.
    Yang menanggung dosanya adalah imam.
    Sebaiknya dia cari imam yang lain saja atau shalat di masjid yang lebih baik imamnya.

  36. Dhani said:

    Assalamualaikum ustadz,
    saya sudah dpt pencerahan soal ma’mum masbuq mendapati imamnya ruku’, apakah dihitung mendapatkan raka’at?

    Pendapat 1 yg ustadz pegang: Tidak mendapatkan rakaat. Karena ma’mum masbuq mendapatkan rakaat, jika dapat membaca Al Fatihah. Ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Bukhari, Ibnu Hazm, dan satu pendapat dari Asy Syaukani.

    Tapi ada pendapat kedua,
    Mendapatkan rakaat. Karena ma’mum masbuq (terlambat) dapat rakaat, jika dia mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya.
    Ini pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, serta disepakatipara pengikut madzhab empat. Hal ini juga diriwayatkan dari para sahabat: Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid, dan Ibnu Umar. Pendapat ini juga dirajihkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Ash Shan’ani, Asy Syaukani pada pendapat pertama, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al Albani dan lainnya.

    Sy yg awam,.. pilih pendapat kedua aja ustadz

    Waalaikumussalam.
    Silakan berpendapat dengan apa yang kita lebih tenang dalam mengamalkannya, selama itu berlandaskan pada dalil dan pendalilan yang benar.

  37. Al-zulfikar said:

    Assalamua’laykum ustadz,..
    mengutip pertanyaan ini diatas “terus bagaimana? jika kita belum selesai membacakan al-fatihah (biasa terjadi kita telat memasuki shof atau masbuk atau mungkin imamnya terlalu cepat dalam membaca al-fatihahnya), tetapi imam sudah ruku’ dan bisa dipastikan jika kita menyelesaikan al-fatihahnya maka kita akan ketinggalan ruku’ dan i’tidal bersama imam.”

    bagaimana dalilnya ustadz?
    syukran jzklh…

    Waalaikumussalam.
    Maaf, sebaiknya mengutip juga pertanyaa yang dimaksud, agar pertanyaannya nyambung.

  38. Dhani said:

    Assalamualaikum ustadz, sy dapat ilmu baru,. Tapi tidak ada niat saya untuk mempersulit masalah khilafiyah.

    Ada hadits yg isinya “…siapa yg datang dan dia dapati imam rukuk maka rukuklah bersama imam, dia telah dihitung mendapat 1 rakaat..” kata ustadz Dzulkarnain Sunusi hadits ini ada kelemahan

    ada juga hadits “siapa yg punya imam dan bacaan imam adalah bacaan dia”.. Kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya hadits ini lemah dari seluruh jalan-jalannya, tidak ada yang kuat.
    -
    Jadi saya yang awam berubah lagi ustadz , seperti kata ustadz, dalil “Tidak shalat bagi orang yang tidak membaca alfatihah” mengkhususkan dalil dalil umum lainnya.
    -
    yang saya tanyakan,
    jika saya belum selesai membaca alfatihah, imam rukuk, maka saya ikut rukuk, berarti saya harus menambah 1 rakaat setelah imam salam, apakah saya ikut salam dan menambah setelah salam atau langsung bangkit tuk menambah 1 rakaat?
    -
    terima kasih ustadz atas ilmunya,

    Waalaikumussalam.
    Tidak ikut salam, tapi langsung berdiri menambah 1 rakaat.

  39. Fatihunnada said:

    maaf ustadz, saya mau menanyakan kembali hukum Ta’miin Makmum, yang tertera di atas dan sudah ustadz jawab dengan singkat:

    Alhamdulillah dpt banyak faidah dr tanya jawab ini. Ana mau tanya ustadz terkait pertanyaan no.24 poin 1. Apa brarti hukum ta’miin itu wajib ustadz bukan sunnah muakkad krna dosa kalau tdk mengaminkan? Jazaakallahu khair

    Ya, hukumnya wajib bagi setiap makmum.

    maaf, karena saya belum mendapati sumber yang tepat dari masalah ini.

  40. Fatihunnada said:

    menurut sumber yang saya dapati dalam kitab fiqh islam dan argumentasinya juz 2 / hal 68, karya Imam Wahbah al-Zuhailiy:

    وإن ترك المصلي التأمين نسياناً أو عمداً حتى شرع في قراءة السورة لم يأت به؛ لأنه سنة فات محلها

    jelas bahwa: jika seorang lupa membaca Amin dalam shalatnya baik lupa ataupun sengaja, sampai ia membaca surat setelah al-Fatihah, maka tidak perlu membaca Amin; karena hal itu adalah SUNNAH, dan tempat serta waktu sunnahnya sudah terlewat.

    disadur dari al-Mughni jilid 1 / hal 490.

  41. burhan aliasbuche said:

    aslamualaikum, wr,wb. ustad saya mau tanya, kalau kita solat berjamaah, apakah kita sebagai makmun diwajibkan membaca iftitah? dan pada solat dzuhur dan ashar, apakah kita sebagai makmun diwajibkan juga membaca surat pendek setelah membaca al-fatiha? trima kasih. wasalam.

    Waalaikumussalam.
    Makmum wajib baca alfatihah, baik dalam shalat jahriah maupun sirriah (seperti zuhur dan ashar). Dan makmum tidak dibenarkan membaca surah pendek, baik dalam shalat jahriah maupun sirriah.

  42. wahid said:

    Bismillah,

    Ustadz, dari tulisan sebelumnya saya jadi tahu bahwa kalau sebagai ma’mum tidak boleh membaca apapun selain Al Fatihah baik pada shalat / rakaat yang bacaannya jahr & sirr (yaitu posisi ketika imam membaca Fatihah & surat lain tentunya).

    Ada beberapa pertanyaan :

    1. saya ingin lebih rinci lagi apakah termasuk juga tidak boleh bagi ma’mum membaca Ta’awudz & Basmalah sebelum dia membaca Al-Fatihah dan juga apakah tidak boleh ma’mum membaca Amin selain untuk mengaminkan imam ? (yaitu mengaminkan bacaan Fatihahnya sendiri)

    2. Apakah ma’mum tidak boleh membaca do’a istiftah ketika diperkirakan imam juga sedang membacanya ? (bbrp saat setelah takbiratul ihram)

    3. Bagi orang yang berpendapat wajibnya membaca Fatihah dibelakang imam, jika di tengah2 imam membaca surat selain Fatihah dia lupa apakah tadi sudah baca al Fatihah atau belum dan benar2 lupa (misal karena lalai dan kebetulan Imam bacaan Suratnya panjang), apakah yang harus dia lakukan saat itu, apakah dia baca saja Al Fatihah itu atau tetap diam ?

    Afwan ustadz kalau banyak bertanya, tapi memang saya benar2 ingin tahu secara ilmiyyah hukumnya

    Jazakumullahu khaira

    1. Maksudnya al-fatihah di sini adalah bersama ta’awudz dan basmalahnya. Wallahu A’lam. Jika dia sudah membaca amin bersama imam maka itu sudah cukup.
    2. Boleh, karena yang dilarang adalah hanya ketika imam sudah mengeraskan bacaannya.
    3. Dia tetap baca Al-Fatihah.

  43. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh,

    Ustadz, apakah amalan makmum yang “membetulkan” bacaan imam yang (ditengah-tengah bacaan) lupa bacaan surat pendek (setelah alfatihah) ada dalilnya?
    Kalau misalnya ada, maka bisakah diartikan makmum wajib menyimak/mendengar apa yang dibaca imam.

    Terimakasih atas penjelasannya.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh,

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ada, di antaranya adalah hadits dari Abdullah bin Umar:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا مَنَعَكَ
    “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat dan membaca (beberapa ayat Al Qur’an) dalam shalatnya, dan beliau terbalik-balik dalam bacaannya, seusai shalat beliau bersabda kepada Ubay: “Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami?” Ubay menjawab; “Ya.” Sabda beliau: “Apa yang mencegahmu (untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)?” (HR. Abu Daud no. 773)
    Tapi tidak ada pendalilan di dalamnya akan wajibnya mendengar bacaan imam, karenanya -sepanjang pengetahuan kami- tidak ada seorangpun ulama yang menjadikannya sebagai dalil dalam masalah ini.

  44. sayurhaseum said:

    akhi diatas antum menyebutkan : oleh sebagian huffazh (para ulama pakar hafalan hadits) bahwa dia adalah hadits yang syadz.

    maka sudah dapat dipastikan sebagian ulama hadits pun mensahihkannya karena pun antum diatas menuslis cuman sebagian he he afwan. maksain

    Memang betul sebagian ulama menshahihkannya. Saya tidak menulis sebagian, dan yang di atas itu memang bukan ucapan saya, tapi terjemahan dari ucapan seorang ulama. Masalahnya, apakah setiap ada perbedaan pendapat berarti kita bebas memilih mana saja sesuai dengan hawa nafsu kita walaupun harus dipaksakan? Tentu tidak, kita tetap mencari mana yang lebih tepat di antaranya.

  45. sayurhaseum said:

    pertanyaannya adalah : Bisakah kita membaca dalam hati sedangkan kita berkewajiban mendengar dan diam atau memperhatikan bacaan imam ? sudah pasti tidak bisa akhi. maka kewajiban mendengarkan bacaan imam lebih diutamakan.

    Bukan dibaca dalam hati tapi dibaca dengan lisan. Memang wajib mendengar dan diam ketika imam membaca, tapi kewajiban ini gugur sementara ketika membaca Al-Fatihah. Karena membaca Al-Fatihah itu lebih diutamakan daripada mendengar bacaan imam.

  46. zuhri.zain@yahoo.co.id said:

    assalamualaikum,
    Ustadz saya mau tanya:
    Bagaimana bagusnya selesai melaksanakan sholat berjamaah , apakah kita harus membaca doa sendiri langsung berdiri/pulang atau mengikuti selesai imam berdoa dulu berdiri/pulang mohon jawabanya ustadz

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya dia menyelesaikan dzikirnya sendiri lalu pulang atau shalat sunnah dahulu baru pulang.

  47. soni said:

    assalamualaikum

    saya mau bertanya ustadz .setelah saya membaca di atas al-fatihah wajib dibaca ,jadi ketika kita menjadi makmum pada wktu kapankah kita harus membaca al-fatihahnya
    1. apakah ketika imam membaca lalu kita membaca juga /berbarengan tetapi tidak mendahuluinya
    2. apakah shabis imam membaca al-fatihah lalu kemudian kita baru membacanya .

    tolong jawabannya ustadz apabila penemptannya di no.1 atau no.2 berikan dalil’a ..?

    terimakasih

    wassalam

    Waalaikumussalam.
    Keduanya boleh dilakukan, dan dalilnya adalah wajib membaca al-fatihah tapi dilarang mendahului imam. Dan hanya dua kemungkinan itu yang memungkinkan kita tidak melanggar larangan mendahului imam.

  48. Andi said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
    Pak ustadz mohon di beri penjelasan dengan lebih detail dan lebih rinci dari pernyataan ustadz di bawah ini soalnya saya masih bingung ustadz,jazakillahu khairan
    Kedua cara yang antum sebutkan bisa dikerjakan:
    1. Mengikuti imam ayat per ayat. Hanya saja ketika imam selesai membaca ayat terakhir al-fatihah, hendaknya makmum mengaminkan dulu baru setelah itu dia membaca ayat yang terakhir dari al-fatihah, karena adanya keutamaan menyamai ucapan amin dari imam.

    Waalaikumussalam Warahmatullohi Wabarakatuh
    Apanya yang kurang jelas ya? Jadi ketika imam baca ‘alhamdulillah rabbil alamin’ maka dia juga baca ‘alhamdulillah rabbil alamin’, dan demikian seterusnya. Tapi pada ayat yang ke7, sebaiknya dia membaca amin terlebih dahulu.

  49. wawan said:

    assalamu alaikum…
    bagaimana jika dirakaat kedua kita tidak sempat membaca al fatihah sedang imam sudah ruku.terima kasih wassalam.

    Waalaikumussalam.
    Dia harus mengganti rakaat itu setelah imam salam, karena dia dihukumi masbuk 1 rakaat.

  50. Bagus said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Ustadz mau tanya.
    1.Kalau membaca Alfatihahnya mengikuti imam tetapi dalam hati apa diperbolehkan. Atau harus diucapkan secara pelan.
    2.Yang dimaksud mengikuti bacaan imam ayat per ayat itu apakah. Berbarengan? atau misal imam baca ayat pertama selesai kita baru mulai ayat pertama. Begitu juga ayat kedua selesai kita muali ayat kedua. Atau misal Imam mulai baca ayat pertama maka pas imam sampai bacaan di tengah ayat pertama kita mulai ayat pertama. Begitu juga ayat kedua dst.
    3.Apakah juga kita boleh menunggu saja imam sampai selesai baca Alfatihah sampai Amin. Kemudian kita baru baca Al fatihah?

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    1. Harus diucapkan, tidak cukup dalam hati.
    2. Ya, imam selesai baca ayat pertama baru kita membaca ayat pertama.
    3. Boleh, dan cara ini lebih bagus insya Allah daripada mengikuti imam ayat per ayat.

  51. Andi said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
    Terus gimana ustadz setelah imam membaca ayat lain setelah Al-fatiha seumpamanya ayat Kursi apakah kita diam saja mendengarkan imam atau kita menuruti bacaan imam atau kah kita membaca surah
    lain selain yang dibaca oleh imam?

    Waalaikumussalam Warahmatullohi Wabarakatuh
    Kita wajib diam mendengarkan. Yang diizinkan bagi makmum hanya membaca al-fatihah.

  52. Bagus said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ustad ada yang mengganjal yang saya mau tanyakan.
    Dalam jawaban Ustad N0.6, Ustad menjelaskan “dibolehkan juga membaca alfatihah ketika imam membaca surah pendek, selama dia tidak mendahului imam”.
    Namun saya bingung dengan kalimat Ustad “selama tidak mendahului imam”.
    Tolong bisa dijelaskan.
    1. Apakah maksudnya makmum mulai membaca Alfatihah segera setelah imam membaca surat pendek? (Jangan baca Al fatihah dahulu sebelum imam mulai membaca surah pendek?)

    2. Atau kalau imam belum selesai membaca surah pendek maka walaupun makmum sudah mau selesai baca Al Fatihah maka makmum jangan menyelesaikan dulu bacaan Al Fatihah nya tetapi makmum menunggu imam menyelesaikan bacaan surah pendeknya. Ketika immam selesai baca surah pendek maka makmum langsung menyelesaikan ayat terakhir Al Fatihah nya?

    Ada satu lagi Ustad yang mau saya tanyakan.
    Berarti kalau kita membaca Alfatihah waktu imam membaca surah pendek, kita tidak salah karena tidak memperhatikan bacaan imam?

    Mohon penjelasan ustad. Biar tidak salah yang dimaksud ustad.

    Syukron.

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    1. Intinya, Al-Fatihah dibaca ketika imam sudah mulai membaca surah pendek, dan boleh saja menyelesaikan al-fatihah walaupun imam belum selesai surah pendeknya. Maksud mendahului di situ adalah jangan mendahului selesai membaca al-fatihah sebelum imam selesai membaca al-fatihah.
    2. Ya, tidak salah, karena di sini ada udzur kita membaca al-fatihah.

  53. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, saya mau menanyakan:
    1. Jika sedang shalat wajib sendirian khususnya subuh, magrib, isya’. Apakah harus di jahr kan (dikeraskan) bacaan al-fatihah & surat pendek pada rakaat pertama & kedua.
    2. Bila kita makmum masbuk, hanya mendapatkan satu raka-at bersama imam pada shalat2 yg di jahr kan (subuh, magrib, isya’), apakah pada raka-at kedua (waktu membayar kekurangan raka-atnya)kita harus men-jahr-kan bacaan al-fatihah? Dan apakah perlu baca surat pendek juga(dan di jahr-kan pula)?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Boleh tapi tidak harus.
    2. Boleh tapi tidak harus. Ya, membaca surah pendek juga karena dia sekarang sudah shalat sendiri.

  54. RAMLI said:

    Assalamualaikum Ustaz,
    saya mau bertanya :
    waktu saya jadi makmum shalat subuh, pada rakaat kedua saya ragu, apakah sudah membaca Al fatihah atau belum, keraguan saya sampai selesai salam,ana diat untuk menyempurnakan rakaat, namun khawatir menjadi perhatian jamaah yang lain atau yang dibelakang sya,ahirnya saya meneruskannya samapai salam, dan setelah itu saya mengulang shalat di tempat lain,
    APAKAH CARA YANG SAYA LAKUKAN ITU DIPERBOLEHKAN ATAU DI LARANG?
    MOHON PENJELASANNYA USTAZ,

    WASSALAM

    RAMLI

    Waalaikumussalam.
    Kalau memang masih ragu, maka seharusnya anda mengulang al-fatihah sesegera mungkin sebelum imam ruku’. Tapi kalau sudah terlewat, maka anda wajib menambah satu rakaat setelah imam salam. Jika ada yang bertanya maka dijelaskan dengan baik beserta dalilnya.

  55. Andi Isran said:

    Bismillah Kalau ana mengamalkan pendapat wajibnya membaca alfatihah di belakang imam namun ana yakin dan mengamalkan pendapat bahwa mendapatkan ruku bersama Imam berarti mendapatkan satu rakaat sempurna sehingga ana tidak menambah lagi satu rakaat walaupun tidak sempat membaca alfatihah karena ana yakin dengan pendapat tersebut. pertanyaan ana apakah boleh megamalkan cara tersebut diatas karena ana yakin bahwa mendapatkan ruku bersama imam terhitung mendapatkan satu rakaat sempurna?

    Kalau seperti itu maka telah terjadi kontradiksi antara kedua pendapat anda. Kalau anda menyatakan tidak syahnya shalat bagi yang tidak baca al-fatihah, maka bagaimana bisa anda mengesahkan satu rakaat hanya karena mendapatkan ruku’ dan tidak membaca al-fatihah. Jadi kalau anda memilih salah satu dari dua pendapat di atas, maka anda harus meninggalkan pendapat yang kedua. Karena kedua pendapat di atas tidak bisa bersatu.

  56. Andi Isran said:

    Bismillah
    1. Afwan Ustadz jadi bagaimana dengan shalat sirriyyah yg tetap membaca alfatihah di rakaat kedua hingga rakaat terakhir namun tidak menambah satu rakaat jika mendapatkan rukunya imam walaupun tidak sempat membaca alfatihah apakah ini juga termmasuk kontradiksi?
    2. dari kedua pendapat diatas mana yang merupakan pendapat kebanyakan ulama Ustadz?
    3. Ana mengamalkan kedua pendapat tersebut diatas karena dasar dalil hadis dan atsar kedua pendapat ini dan ana memandang tidak terdapat kontradiksi dari keduanya karena satunya berbicara tentang wajibnya membaca alfatihah yang lain tentang mendapatkan ruku’ imam dapat satu rakaat. jadi ana berpandangan ketika mendapatkan ruku bersama imam berarti ana mendapatkan satu rakaat adapun rakaat selanjutnya ana wajib membaca alfatihah. tersebut dalam hadis dan atsar yang menjelasakan tentang mendapatkan rukunya imam mendapatka satu rakaat sempurna tidak terdapat keterangan apakah mereka membaca alfatihah atau tidak. jadi boleh jadi meraka membaca alfatihah. bagaimana dengan pandangan ana ini ustadz apakah bertentangan dengan sunnah ?

    Jasakumullahu Khairan

    1. Maksudnya?
    2. Yang paling kuat adalah makmum hanya terhitung mendapatkan 1 rakaat kalau dia bisa membaca al-fatihah sebelum imam ruku’. Adapun hanya mendapati ruku’ maka itu belum terhitung mendapatkan 1 rakaat.
    3. Ucapan antum ‘ana memandang tidak terdapat kontradiksi dari keduanya karena satunya berbicara tentang wajibnya membaca alfatihah yang lain tentang mendapatkan ruku’ imam dapat satu rakaat’. Ini kurang tepat dari dua sisi:
    1. Tidak ada satu pun hadits yang shahih lagi tegas menunjukkan ruku’ itu dapat 1 rakaat.
    2. Hadits itu tidak berbicara mengenai ‘wajibnya’ alfatihah, tapi berbicara tentang ‘rukunnya’ alfatihah. Dan yang namanya rukun, kapan ditinggalkan maka ibadahnya tidak syah. Maka bagaimana bisa dikatakan orang yang tidak baca al-fatihah itu tidak syah sementara kalau dapat ruku’ itu syah? Ini yang saya maksudkan dengan kontradiksi.

  57. iskandarsyah said:

    assalamualaikum…

    pak ustadz saya mau bertanya
    1.apakah boelh kita membaca do’a iftitah ketika imam sedang mebaca al-fatihah..apakah kita harus mendegarkannya dahulu lalu pas imam membaca surat selanjutnya brulah kita membaca iftitah dan al-fatihah.?

    2. apakah ketika kita sudah membaca surat al-fatihah lalu ingin membaca surat berikutnya harus di mulai dengan membaca bismillah/ menunggu sejenak?

    3. ketika kita menjadi imam apakah setelah membaca al-fatihah kita mengucapkan amin juga ?

    4. ketika imam membaca allahu akbar apakah
    makmum harus mengucapkan allahu akbar juga ?

    mohon pencerahannya ustadz..

    terimakasih..

    wassalamualaikum……

    Waalaikumussalam.
    1. Doa istiftah dibaca ketika imam diam sebelum al-fatihah. Sementara setelah imam baca al-fatihah, kita baru baca al-fatihah.
    2. Tidak harus, tapi disunnahkan.
    3. Ya, berdasarkan keumuman dalil.
    4. Ya, wajib mengikuti imam dalam takbir, tapi takbir makmum tidak boleh mendahului takbir imam.

  58. Andi Isran said:

    Bismillah…
    1. Maksud ana adalah pendapat ulama makmum tetap membaca alfatihah pada shalat sirriyyah dan shalat jahriyyah makmum diam dam mendengar. ana memahami jawaban ustadz tentang kontradiksi pada shalat jahriyyah saja? 2. Ana memilih pendapat ulama bahwa mendapatkan rukunya imam dapat satu rakaat karena hati ana tenang dan yakin dalam mengamalkan pendapat ini dan atas dasar hadits Abu Bakroh radhiyallahu a’nhu dan Atho’ -rahimahullah- mengatakan bahwa,

    عن عَطَاءٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ فَلْيَرْكَعْ حِيْنَ يَدْخُلُ ثُمَّ يَدُبُّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ , قَالَ عَطَاءٌ : وَقَدْ رَأَيْتُهُ يَصْنَعُ ذَلِكَ , قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ : وَقَدْ رَأَيْتُ عَطَاءً يَصْنَعُ ذَلِكَ

    “Dia telah mendengar Abdullah bin Zubair berkata di atas mimbar, “Jika seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, sedang orang-orang ruku’, maka hendaknya ia ruku’ saat ia masuk, lalu berjalan dalam posisi ruku’ sampai ia masuk dalam shaff, karena sesungguhnya hal itu ternasuk sunnah”. Atho’ berkata, “Sungguh aku telah melihat dia (Abdullah bin Zubair) melakukan hal itu”. Ibnu Juraij berkata, “Sungguh aku telah melihat Atho’ melakukan hal itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (1571), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (7016), Al-Hakim Al-Mustadrok (777), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (5001)] dan juga Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, “Jika makmum bertakbir dengan takbiratul ihram dalam keadaan berdiri, lalu ia ruku’, dan mendapati imam ruku’, maka raka’at tersebut telah cukup (sah) baginya berdasarkan hadits Abu Bakroh -radhiyallahu ‘anhu-…”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (7/316-317), cet. Dar Balansiyah]
    maka ana menyimpulkan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat ulama’ yang menyatakan bahwa orang yang mendapatkan imam ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walaupun ia tak sempat membaca Al-Fatihah, sebab dalam hal ini ia mendapatkan rukhshoh (keringanan) untuk tak membaca Al-Fatihah, Wallahu a’lam.

    Ya kalau begitu tidak ada masalah, silakan antum mengamalkan apa yang anda yakini. Lantas apanya yang antum pertanyakan kalau antum sudah yakin terhadap pendapat tersebut???

  59. dendy said:

    Assalamu’alaikum ustadz ana mo tanya apakah perlu membaca basmallah ketika sebelum sholat atau sebelum takbirotul ihrom karna yg ana tau rosul memulai sholat di awali dgn takbir dan di akhiri dgn salam dan apakah perlu membaca hamdallah ketika selesai salam atau langsung mengucapkan istighfar,trimz wassalam

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh membaca basmalah sebelum shalat dan hamdalah setelah shalat, karena itu tidak ada contohnya. Setelah shalat, langsung saja istighfar.

  60. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, bagaimana yg benar untuk bacaan basmalah sebelum dan sesudah baca alfatihah, apakah di-jahr-kan atau di-syiir-kan? Terimkasih

    Waalaikumussalam.
    Yang benarnya disirrkan.

  61. edy said:

    Assalamu’alaikum.

    mau tanya apakah hukumnya seorang imam membaca surat al-fathah secara keras pada solat magrib dan subuh?
    terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Disyariatkan agar para makmum bisa meng’amin’kan alfatihahnya.

  62. seno said:

    Assalamualaikum..
    Ust. Ana mau tanya tentang dalil menambah satu rakaat jika kita lupa membaca al fatihah pada rakaa 2, 3, atau 4.. karena Ana takut menjalankan ibadah yg kuat..

    Kemudian kenapa hadist yg menyebutkan makmum yg mendapat ruku tdk dianggap mendapat satu rakaat. Tolong di beri penjelasan ustadz..
    Trmakasih atas perhatiannya..

    Waalaikumussalam.
    Karena Nabi menyatakan tidak adanya shalat bagi orang yang tidak membaca alfatihah. Karenanya, siapa saja yang tidak membaca alfatihah pada suatu rakaat maka dia wajib mengganti rakaat tersebut.

  63. seno said:

    dan maksud untuk pertanyaan kedua, kenapa hadist yg menyebutkan makmum masbuk yg mendapati imam rukuk di anggap mendapat satu rakaat adalah hadist yg lemah. Tolong di jelaskan ustadz karena penjelasan pada pertanyaan semisal, belum ana pahami..

    Insya Allah penjelasan lemahnya hadits tersebut akan kami bahas pada artikel tersendiri. Yassarallah

  64. Hamba allah said:

    As’salamualaikum ustad
    saya mau tanya, ada yang bilang ketika imam membaca al-fatihan maka mamum membaca surah lain terlebih dahulu dan setelah imam membaca al-fatihah kemudian membaca surah al-qur’an maka baru mamum membaca al-fatihah (intinya sih di balik ustad).
    apakah itu dibenarkan?

    Waalaikumussalam.
    Tidak benar. Makmum hanya diizinkan baca alfatihah dan tidak boleh baca surah lain.

  65. faisal said:

    Assalamu’alaikum.

    ustadz saya mau bertanya untuk meyakinkan hati saya dan kebaikan ibadah saya

    1. apakah makmum juga membaca doa ruku, sujud atau gerakan sholat lainnya ketika berjamaah?

    2. ketika imam membaca “sami allah huliman hamidah” apakah makmum juga membacanya?

    wassalam
    terima kasih banyak

    Wa’alaikum salam warahmatullah.

    1. Iya.
    2. Iya. (MT)

  66. Syamsul Bahri said:

    Bismillah. Assalamu’alaikum ustadz. Ana memilih pendapat bahwa makmum wajib membaca Al-Fatihah baik pada sholat jahar maupun sir. Tapi ana punya masalah ketika imam membaca Al-Fatihah pada raka’at ketiga atau keempat, yaitu ketika ana baru sampai membaca ayat” Malikiyaumiddin”, Imam sudah ruku’ sehingga ana tak bisa menyelesaikan bacaan surat Al-Faatihahnya walau ana sudah baca secepat mungkin. Akhirnya ana harus dapatkan dua raka’at terakhir tanpa bacaan surat Al-Fatihah yang sempurna. Pertanyaan ana adalah : 1. Apakah ana mendapatkan raka’at teraakhir tersebut sebagai raka’at yang sempurna walau ana tak membaaca surat Al-Fatihah secara sempurna (sampai 7 ayat)? 2. Atau apakah ana tidak mendapatkan raka’at yang sempurna sehingga ana harus menyempurnakan sholat ana 2 raka’at lagi sendirian ? Syukron. Jazakallahu khoiran katsiran wa barakallahufik.

    Waalaikumussalam
    Kalau memang terlalu cepat, anda boleh membaca alfatihah dengan cara mengikuti alfatihah imam ayat per ayat, insya Allah tidak akan ketinggalan.
    Anda tidak dianggap mendapatkan rakaat penuh yang ada tidak membaca alfatihah secara sempurna padanya. Rakaat itu harus ditambahkan ketika imam sudah selesai salam. Sama seperti kalau anda masbuk 1 atau 2 rakaat.

  67. kiki said:

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ,, pak ustad ,,

    bagaimana dengan do’a iftitah apakah makmum wajib membacanya ketika shalat berjama’ah

    mohon dijawab ,,
    terima kasih wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Tidak wajib, tapi disunnahkan, dan dibacanya sebelum imam membaca alfatihah.

  68. taufik said:

    assalamu ‘alaikum wr.wb

    saya ingin bertanya.. Kapankah seorang ma’mum membaca alfatihah…? Apakah ma’mum mengikuti bacaan alfatihah dari imam,atau di waktu imam membaca surat lain..?

    Mohon di perjelas,trimakasih

    wassalaamu ‘alaikum wr.wb

    Waalaikumussalam.
    Keduanya boleh.

  69. abu diva said:

    bismillah

    Bagaimana kalau gak sempat bc alfatihah di roka’at selain rokaat pertama,,apa tetap di anggap kurang rekaat’nya??

    Barakallahu fiik

    Ya, tetap dianggap kurang dan harus ditambah setelah imam salam.

  70. uji said:

    assalamualaikum.
    ustadz saya mau tanya pada saat saya melaksanakan shalat sunat tarawih berjamaah di rakaat ke 12 saya lupa membaca alfatihah saya baru teringat setelah shalat selesai,apa yang harus saya lakukan dan apakah sah shalat berjamaah yang saya laksanakan tersebut?

    Waalaikumussalam.
    Setelah imam salam, anda harus menambah satu rakaat. Dan dua rakaat itu tidak mempengaruhi dua rakaat lainnya.

  71. hermawan mukti said:

    assalamualaikum wr,wb
    ustdz yg saya hormati,,

    saya sholat berjamaah yang imam membaca keras sholat subuh, magrib dan isya saya tidak membaca alfatihah dan surat pendek Al-Quran hanya mendengar dengan baik memperhatikan bacaan imam, karna saya pernah membaca artikel di internet bahwa Nabi.SAW pada saat itu setelah sholat berjamaah bertanya kepada makmumnya siapa yg membaca ketika Saya/Nabi.SAW mengeraskan suara bacaan ketika shalat, ketika itu seorng laki” mengakui dan Nabi.SAW melarang dan bersabda bahwa engkau telah menghalangi/membarengi bacaan yang Aku baca tahukah engkau bacaan imam adlh bacaan makmum juga. kurang lebih seingat saya seperti itu, dan saya yakin firman Alloh ‘Azza Wajalla…“Apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf:204)sejak saya baca artikel itu saya mengikutinya , dan menurut saya itu benar,,
    saya minta pendapat ustadz apakah ap yg saya ikuti ini benar atau tidak mohon penjelasanya , saya minta maaf apa bila ad kata” yg salah , wassalam

    Waalaikumussalam.
    Apa yang anda ikuti adalah pendapat sebagian ulama. Namun apa yang kami sebutkan di atas, insya Allah pendapat yang lebih tepat. Wallahu a’lam.

  72. Abdullah said:

    Assalamu’alaikum ustadz, ana yang masih awam ini mau tanya, Bagaimana cara makmum membetulkan imam yang bacaan surahnya salah? Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya tunggu sampai dia memberi kesempatan agar dia dibenarkan, agar tidak terjadi kekacauan dalam bacaannya.

  73. robby said:

    assalamualaikum..
    mau tanya pak ustadz, ketika sholat pikiran saya seringkali terbang kemana2,. hukumnya gimana ya? ustadz sendiri untuk khusyuk caranya gimana?

    Waalaikumussalam.
    Hukumnya makruh.
    Usahakan semaksimal mungkin untuk mengetahui makna -minimal terjemahan- dari setiap bacaan shalat, termasuk surah yang dibaca. Insya Allah itu bisa membantu.

  74. zubeir nasution said:

    Assalamu ‘Alaikum Ustd.
    Syukron banget atas Ilmu yang dituangkan di forum ini, semoga Allah memberikan ganjaran kebaikan atas ilmu yang telah Ustd tuangkan ini.
    O iya saya mo sedikit bertanya dan menyambung pertanyaan saudara Dendi Said di atas tentang membaca basmalah sebelum sholat, dimana jawaban ustd “Tidak boleh membaca basmalah sebelum shalat”, dengan alasan karena itu tidak ada contohnya.
    Pertanyaan saya; Bagaimana dengan dalil yang menyebutkan tentang “memulai segala urusan mulailah dengan basmalah” (lupa haditsya).
    Apakah dengan tidak adanya contoh sebelumnya, lalu kita vonis “tidak boleh” dilakukan, sementara dalil khusus untuk melarang melakukannyapun tidak ada, bahkan misalnya dalil secara umum (terkait bismillah)ternyata ada. Bagaimana tinjauan hukumnya ini ustd jika dilirik dari sisi ilmu ushul fiqh nya?
    mohon penjelasannya,,afwan. wassalam

    Waalaikumussalam.
    Hadits yang antum bawakan adalah hadits yang dha’if, sehingga tidak bisa diamalkan.
    Tidak perlu dalil khusus untuk melarang sesuatu dalam masalah Ibadah. Karena asalnya ibadah itu tidak ada sampai ada dalil yang memerintahkan.

  75. Banyakdoza said:

    ass.wrb
    bp. ustad..istri memberikan jalan yaitu selalu meng onani saya dlm berhubungan, karena capek dlm keseharian juga faktor umur (40th), merasa sudah tua sedangkan saya normal dan masih menggebu.trim’s wassalam wrb.

    Boleh saja, tidak ada masalah dalam pembolehannya.

  76. Pencari Ilmu said:

    Alhamdulillah kolom komentar sudah dibuka kembali.

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Pada beberapa artikel ustadz menyarankan untuk menjadikan buku “sifat sholat nabi” karya Nashirudin al Al Bani sebagai rujukan. Alhamdulillah saya sudah membelinya, namun ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan:
    1. Dalam buku tsb, kalau saya tidak salah memahami disebutkan bahwa pada sholat jahr saat imam membaca bacaan, baik alfatihah maupun surat alqur’an, makmum diminta diam menyimak bacaan imam. Dengan demikian tidak perlu membaca al fatihah lagi.Bolehkah seperti itu? Yg mana yg lebih kuat pendapatnya?
    2. Pada sholat syiir, makmum baca alfatihah dan surat al-qur’an. Sedang menurut usrtadz cukup alfatihah saja.
    Mohon tanggapanya.
    Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Kami menjadikan buku beliau sebagai referensi karena itu buku yang paling mudah didapatkan dan secara umum, isinya memang jelas sesuai dengan sifat shalat Nabi yang benar. Hanya saja bukan berarti kami sependapat dengan beliau rahimahullah dalam semua permasalahan shalat yang diperselisihkan para ulama.
    1. Tidak boleh. Yang lebih tepat, makmum tetap wajib membaca Al-Fatihah.
    2. Ya, cukup Al-Fatihah saja. Yang dimaksud oleh Asy-Syaikh di situ adalah bagi imam atau yang sedang shalat sendiri. Wallahu a’lam.

  77. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Terimakasih atas jawaban sebelumnya. Ada yg ingin saya pertanyakan lagi sebubungan dgn bacaan dlm sholat.
    1. Apakah boleh membaca ta’awudz sebelum al fatihah pada rokaat pertama dng lafal sbb: a’udzubillahimminasyaithonirrojiim min hamdzihi wa ma nafkihi wa nafsih (ada dalam buku al albani)atau cukup dgn a’udzubillahimminasyaithonirrojiim.
    2. Setelah makmum mengucapkan “amin” secara bersama setelah al fatihah pada sholat jahr,apakah perlu di ucapkan lagi oleh makmum setelah baca al-fatihah?
    3. Bila makmum masbuk pada saat imam baca surat alqur’an (setelah al-fatihah), apakah harus mengucapkan amin juga setelah al-fatihah?
    4. Pada sholat witir berjama’ah di bulan romadhon ini, pada roka’at ketiga biasanya dibaca tiga surat (al-iklhas, al-falaq,an-naas). Baca’an bismillah di awal surat2 tsb tetap di siirkan apa di jahrkan(bagi imam)?
    5. Apakah ada do’a qunut pada sholat witir diatas?
    6. Bila tidak ada qunut, apakah makmum sebaiknya tetap mengikuti imam bila baca qunut?

    Terimakasih jawabanya.

    waalaikumussalam.
    1. Boleh.
    2. Tidak perlu lagi.
    3. Ya, dia membaca ‘amin’, karena dia tidak membacanya bersama imam.
    4. Disirrkan.
    4. Ya, ada.

  78. kailolo ambon said:

    Assalamuallaikum ustdz ana mau tanya Bolehkah baca lebih dari satu doia iftitah dalam sholat sesuai. Hadist nabi yang menjelaskan banyaknya doa iftitah tersebut

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh, cukup baca salah satunya saja.

  79. nandar said:

    assalamu alaikum pak ustadz,,,apakah setelah kita baca fatihah boleh mengikuti bacaan imam??

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh, makmum harus mendengar bacaan imam setelah dia baca al-fatihah.