Maka Tersenyumlah …

June 24th 2010 by Abu Muawiah |

11 Rajab

Maka Tersenyumlah …

Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata:
مَا حَجَبَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي
“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama beliau. Dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Al-Bukhari  no. 6089 dan Muslim no. 4523)
Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i radhiallahu anhu dia berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. At-Tirmizi no. 3641)
Jabir bin Samurah radhiallahu anhu berkata menceritakan tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
كَانَ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Beliau biasanya tidak berdiri dari tempat shalat di mana beliau shalat shubuh padanya kecuali setelah terbit matahari. Apabila matahari telah terbit barulah beliau berdiri. Sementara itu para sahabat bercakap-cakap membicarakan kejadian di masa jahiliyah, lalu mereka tertawa, sedangkan beliau hanya tersenyum.” (HR. Muslim no. 2322)
Dari Abu Dzarr radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. At-Tirmizi no. 1956 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 517)

Penjelasan ringkas:
Tersenyum kepada saudara merupakan cara termudah untuk meraih keridhaan hatinya dan menghilangkan semua kebencian dan kedengkian yang ada di dalam hatinya. Karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan agar hendaknya seorang muslim tidaklah melihat ke arah saudaranya kecuali dalam keadaan tersenyum, dan beliau sendiri telah melakukan apa yang beliau anjurkan ini. Karena selain dia merupakan cara termudah untuk mempererat persaudaraan, tersenyum juga merupakan cara termudah untuk mendapatkan pahala dari Allah, karena setiap senyum yang kita lakukan akan dinilai sebagai sedekah kita kepada saudara kita.

Karenanya saking ajaibnya ibadah senyum ini, tidaklah dua orang yang bermusuhan salin tersenyum satu sama lain kecuali akan hilang saat itu juga permusuhan yang terjadi di antara mereka, atau paling minimal hubungan di antara keduanya akan berangsur membaik.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam Siyar A’lam An-Nubala` (10/140-141), “Di sini ada yang butuh diingatkan, yaitu bagi orang banyak tertawa dan tersenyum sebaiknya dia tidak berlebihan di dalamnya agar dia tidak dijauhi oleh orang lain. Demikian pula bagi orang yang suka bermuka masam dan kurang tersenyum, sebaiknya dia memperbaiki tingkah lakunya dan dia mencela dirinya karena keburukann tingkah lakunya. Karenanya segala sesuatu yang menyimpang dari sikap pertengahan (sederhana) adalah tercela.”

Kemudian, selain tersenyum bisa mendatangkan pahala, tersenyum juga bisa mendatangkan dosa, yaitu jika dia tersenyum pada waktu yang salah dan kepada orang yang salah. Misalnya dia tersenyum di dalam shalat atau dia tersenyum kepada yang bukan mahramnya. Apalagi tersenyum kepada yang bukan mahram, bukannya mendapatkan kebaikan, justru dia akan ditimpa oleh banyak fitnah setelahnya yang akan merusak agamanya.

Maka Tersenyumlah …

Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata:
مَا حَجَبَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي
“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama beliau. Dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Al-Bukhari  no. 6089 dan Muslim no. 4523)
Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i radhiallahu anhu dia berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. At-Tirmizi no. 3641)
Jabir bin Samurah radhiallahu anhu berkata menceritakan tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
كَانَ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Beliau biasanya tidak berdiri dari tempat shalat di mana beliau shalat shubuh padanya kecuali setelah terbit matahari. Apabila matahari telah terbit barulah beliau berdiri. Sementara itu para sahabat bercakap-cakap membicarakan kejadian di masa jahiliyah, lalu mereka tertawa, sedangkan beliau hanya tersenyum.” (HR. Muslim no. 2322)
Dari Abu Dzarr radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. At-Tirmizi no. 1956 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 517)

Penjelasan ringkas:
Tersenyum kepada saudara merupakan cara termudah untuk meraih keridhaan hatinya dan menghilangkan semua kebencian dan kedengkian yang ada di dalam hatinya. Karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan agar hendaknya seorang muslim tidaklah melihat ke arah saudaranya kecuali dalam keadaan tersenyum, dan beliau sendiri telah melakukan apa yang beliau anjurkan ini. Karena selain dia merupakan cara termudah untuk mempererat persaudaraan, tersenyum juga merupakan cara termudah untuk mendapatkan pahala dari Allah, karena setiap senyum yang kita lakukan akan dinilai sebagai sedekah kita kepada saudara kita.
Karenanya saking ajaibnya ibadah senyum ini, tidaklah dua orang yang bermusuhan salin tersenyum satu sama lain kecuali akan hilang saat itu juga permusuhan yang terjadi di antara mereka, atau paling minimal hubungan di antara keduanya akan berangsur membaik.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam Siyar A’lam An-Nubala` (10/140-141), “Di sini ada yang butuh diingatkan, yaitu bagi orang banyak tertawa dan tersenyum sebaiknya dia tidak berlebihan di dalamnya agar dia tidak dijauhi oleh orang lain. Demikian pula bagi orang yang suka bermuka masam dan kurang tersenyum, sebaiknya dia memperbaiki tingkah lakunya dan dia mencela dirinya karena keburukann tingkah lakunya. Karenanya segala sesuatu yang menyimpang dari sikap pertengahan (sederhana) adalah tercela.”
Kemudian, selain tersenyum bisa mendatangkan pahala, tersenyum juga bisa mendatangkan dosa, yaitu jika dia tersenyum pada waktu yang salah dan kepada orang yang salah. Misalnya dia tersenyum di dalam shalat atau dia tersenyum kepada yang bukan mahramnya. Apalagi tersenyum kepada yang bukan mahram, bukannya mendapatkan kebaikan, justru dia akan ditimpa oleh banyak fitnah setelahnya yang akan merusak agamanya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, June 24th, 2010 at 12:39 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Maka Tersenyumlah …”

  1. jihadi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullah.
    Uztad, kalo tersenyum dengan pelaku bid’ah bagaimana hukumnya?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sebelumnya harus dibedakan antara ahli bid’ah dengan sekedar mengamalkan bid’ah. Setelah itu harus dipastikan kalau dia adalah ahli bid’ah. Setelah itu harus dipertimbangkan dari sisi maslahat dan mafsadat. Karena bagaimanapun juga dia masih seorang muslim, tidak sepantasnya seorang muslim meninggalkan senyum kepada muslim yang lain kecuali jika ada maslahat besar di baliknya. Wallahu a’lam