Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid

February 22nd 2010 by Abu Muawiah |

08 Rabiul Awal

Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid

Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat ada dahak di dinding kiblat, maka beliau merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda, “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat. Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi hendaknya dia membuang dahaknya ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau mengosokkannya kepada bagian kainnya yang lain, lalu beliau bersabda, “Atau hendaknya dia melakukan seperti ini.” (HR. Al-Bukhari no. 507 dan Muslim no. 550)
Anas bin Malik  berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
“Meludah di dalam masjid adalah suatu kesalahan, dan kaffarahnya (penghapus dosanya) adalah menimbunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 511 dan Muslim no. 552)
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Jika kalian melihat orang membeli atau menjual di dalam masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu.” Jika kalian melihat orang yang mencari sesuatu yang hilang di dalamnya maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.” (HR. At-Tirmizi no. 1321 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 573)

Penjelasan ringkas:
Tujuan masjid dibangun hanyalah untuk  shalat, zikir, dan beribadah kepada Allah. Dan dia merupakan bagian bumi yang paling Allah cintai. Karenanya ketika seorang berada di dalam masjid maka dia diharuskan untuk beradab dengan adab-adab islami yang telah dituntunkan oleh Rasulullah . Dan di antara adab tersebut adalah Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan agar menyucikan masjid dari semua perkara yang tidak berhubungan dengan tujuan dia dibangun, misalnya membuang kotoran dan berjual beli di dalamnya.

Berikut beberapa masalah yang dipetik dari hadits-hadits di atas secara berurut:
1.    Tingginya kecemburuan Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada agama Allah, dimana beliau tidak merasa nyaman ketika ada kotoran yang terdapat dalam masjid.

2.    Wajib bagi seorang imam masjid untuk mengingkari kemungkaran yang terjadi di dalam masjid yang dia imami, karena itu termasuk dalam lingkup tanggung jawabnya.

3.    Dalam hadits ini, Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah mengumpulkan ketiga jenis nahi mungkar: Dengan hati beliau tatkala beliau jengkel dan tidak senang dengannya, dengan lisan tatkala beliau menasehati dan melarang para sahabat, dan dengan tangan tatkala beliau membersihkan sendiri dahak yang ada di masjid. Dan beliau juga mengumpulkan dua jenis pengajaran: Dengan teori dan dengan praktek.

4.    Hukum meludah ke arah kiblat di dalam shalat adalah haram berdasarkan larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam-, “Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat.” Karena hukum asal larangan adalah haram kecuali ada dalil yang memalingkan hukumnya.

5.    Sudah menjadi kaidah tetap dalam syariat Islam, bahwa tatkala Islam melarang dari suatu amalan -padahal amalan itu dibutuhkan oleh kaum muslimin-, maka dia akan mensyariatkan amalan lain yang mirip dengannya tanpa melanggar syariat yang lainnya. Dalam hal ini, tatkala seorang yang shalat terkadang butuh meludah atau membuang dahak sementara Islam melarang untuk membuangnya ke arah kiblat, maka Islam menuntunkan amalan lain yang syar’i tanpa melarang mereka melakukan hal yang terkadang mereka butuhkan tersebut, yaitu membuang ludah atau dahak ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya atau membuangnya ke pakaiannya lalu menggosoknya.

6.    Kiblat termasuk syariat Allah yang terbesar, karenanya dia harus dimuliakan dengan tidak membuang kotoran -apalagi najis- ke arahnya. Karenanya dimakruhkan untuk buang air besar dan kecil menghadap ke kiblat.

7.    Membuang ludah dan dahak ke arah kiri atau di bawah pakaiannya hanya berlaku jika seseorang itu shalat di luar masjid dan tidak ada orang yang sedang shalat di sebelah kirinya. Adapun jika dia shalat di dalam masjid maka tidak boleh dia meludah ke arah kiri -berdasarkan hadits Anas yang kedua di atas-  dan tidak boleh juga di bawah kakinya karena dia tidak akan bisa menimbunnya, mengingat hampir seluruh masjid kaum muslimin di zaman ini sudah memakai tegel atau yang semacamnya sehingga tidak mungkin bagi dia untuk menimbunnya. Demikian pula jika dia membuangnya ke arah kirinya sementara ada orang di sebelah kirinya maka itu berarti membuang kotoran ke arah saudaranya, dan ini juga tidak diperbolehkan.

8.    Karenanya, larangan membuang dahak dan ludah ke arah kiblat di luar masjid dan tidak sedang shalat adalah mubah dan tidak makruh. Wallahu a’lam.

9.    Larangan berjual beli di dalam masjid. Adapun batasan masjid yang seseorang tidak boleh jual beli di situ, maka silakan baca pembahasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1387

10.    Disyariatkan bagi orang yang melihatnya untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.

11.    Jual beli yang dimaksud di sini adalah akad jual beli. Karenanya:
a.    Jika ada dua orang yang melakukan akad di dalam masjid walaupun barangnya belum ada dan pembayaran juga belum dilakukan, maka ini termasuk dalam larangan karena keduanyta telah melakukan jual beli di dalam masjid.
b.    Menitipkan atau menerima titipan uang atau barang dagangan di dalam masjid adalah boleh, karena itu bukanlah jual beli.
c.    Membayar utang di dalam masjid tidak mengapa karena utang piutang bukanlah jual beli. Misalnya ada dua orang yang melakukan akad di luar masjid, barangnya sudah diambil akan tetapi bayarnya besok dan dilakukan di dalam masjid. Maka ini insya Allah tidak mengapa karena pembayaran ini adalah pelunasan utang dan bukan jual beli. Demikian pula sebaliknya jika pembayarannya dilakukan di luar masjid lalu penyerahan barangnya besok di dalam masjid. Contoh lain adalah seseorang memfoto kopi materi taklim dengan uangnya sendiri lalu dia membagi-bagikannya di dalam masjid lalu menerima pembayaran dari yang mengambil materi tersebut. Maka ini juga adalah transaksi pembayaran hutang dan bukan jual beli, selama orang tersebut tidak mengambil keuntungan dari ongkos foto kopinya. Jika dia mengambil keuntungan maka itu termasuk transaksi jual beli dalam masjid yang terlarang. Wallahu a’lam

12.    Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid, dan batasan masjid juga bisa dilihat pada link di atas.

13.    Juga dilarang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid walaupun dia tidak mencarinya di dalam masjid.

14.    Disyariatkan bagi yang melihat atau mendengar orang yang mencari atau mengumumkan barang hilang di dalam masjid untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.

Hanya ini yang bisa kami petik -sebatas keilmuan kami-, dan bagi siapa saja yang bisa memetik faidah lain dari dalil-dalil di atas, maka silakan dia menuliskan pada kolom komentar di bawah. Wal ilmu indallah.

Incoming search terms:

  • hukum jual beli di dalam masjid
  • larangan di masjid
  • apa hukum y jualan di tanah masji
  • ayat melarang jual beli dalam masjid
  • hukum jualan pake dana mesjid
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, February 22nd, 2010 at 1:27 am and is filed under Akhlak dan Adab, Ekonomi Islam, Hadits, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

10 responses about “Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid”

  1. abul abbas said:

    assalaamu’alaykum,, ustadz,, ustadz, bagaimana menerapkan kaedah untuk meludah di bagian kiri,, sebagaimana juga dalam hadits yang menerangkan diperbolehkannya meludah ke arah kiri apabila ada syaithon yang mengganggu ketika sholat… lalu, bolehkah kita memakai sendal ketika sholat, meski masjid bertegel

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Yang disyariatkan ketika setan mengganggu dalam shalat bukanlah meludah, akan tetapi meniup disertai sedikit ludah. Yang mana ini juga bisa dilakukan jika dia menjadi imam atau shalat sendiri dimana tidak ada orang di sebelah kirinya. Jika ada orang di sebelah kirinya maka sebaiknya dia tidak melakukannya karena bisa menimbulkan kebencian saudaranya. Lagipula syariat ini hukumnya sunnah dan bukan wajib, sehingga sepantasnya dia ditinggalkan ketika bisa menimbulkan hal yang haram.
    Demikian pula memakai sandal dalam shalat adalah sunnah dan bukan wajib, karenanya di zaman ini, di negeri kita ini, tidak sepantasnya ini dilakukan di masjid-masjid masyarakat awam karena itu bisa menimbulkan perpecahan dan mencoreng nama dakwah salafiyah. Allahumma kecuali jika masyarakat di suatu tempat sudah paham dan siap, maka insya Allah tidak mengapa mengamalkannya. Wallahu a’lam

  2. abu salman said:

    Selanjutnya jika keadaan kita adalah bebas, tidak sedang shalat dan tidak pula sedang berada di masjid, apakah larangan untuk meludah ke depan atau ke sisi kanan tetap berlaku. Atau bagaimana adab2 meludah secara ringkas, jazakumullah khairan

    Ana sudah sebutkan di atas jawabannya, tolong dibaca point ke-8 lebih seksama. Jazakallahu khairan.

  3. Roni said:

    Barakallahu fiikum ya Ustadz. penjelasan diatas terutama poin 11 sudah menjawab problema yang sedang ana hadapi.

    Wafiikum barakallah. Alhamdulillah.

  4. iqbal said:

    ana mau tanya. di kampung kami ada sebuah masjid yang di dalam area/halaman masjid di bangun koperasi tentunya untuk jual beli. maka apa hukum jual beli di area masjid/ diluar bangunan masjid tapi sertifat tanah masih milik masjid.

    Kalau memang jual beli sudah berada di luar bangunan masjid dan bangunan yang bersambung dengannya maka insya Allah tidak mengapa berjual beli di situ. Wallahu a’lam

  5. muflihah said:

    Ustadz..ana mohon bantuannya,mengenai dana pembangunan masjid, apakah boleh diutangkan kpd orang lain,dg apapun alasannya? tolong antum jelaskan,beserta dalil2nya,jika ada beserta al-Qurannya,syukkron…ana tunggu jawabannya

    Tidak boleh meminjamkan dana pembangunan masjid bagaimanapun alasannya, karena amanah dari donatur adalah untuk masjid dan para pengurus wajib memenuhi amanah yang dia terima. Wallahu a’lam

  6. rauf rahman said:

    Asslamu’alaikum Ustad,,

    Bagaimana kalau yang hilang itu adalah “BArang Amanah dari Umat”,, dan kita mencarinya untuk menyelamatkan umat,, misalnya Dana Masjid yang kita pegang hilang di masjid,,, jadi,,, bagaimana,, di satu sisi kita dilarang “MENCARINYA”, tapi di sisi lain,, menjaga Amanah adalah perintah Allah,, dan kita mencarinya mati2an demi menjaga amanah dan bertanggung jawab,,,

    Ada
    Maaf saya hanya orang awam,,
    Makasih sebelumnya Ustad,,
    ^^

    Hendaknya dia mencarinya atau bertanya kepada orang-orang yang mungkin mengetahui keberadaannya, tapi jangan dia umumkan di dalam masjid. Jadi yang terlarang di sini adalah mengumumkannya dan bukan mencarinya.

  7. abi said:

    Assalamu’alaikum ustadz
    Saya mau tanya nih seputar jual beli di dalam masjid.
    Temen saya seorang distributor produk rumah tangga. biasanya dia memasarkannya di dalam masjid pas acara majelis taklim. lengkap dengan katalog dan sebagian barangnya.
    Bagaimana hukumnya?
    Bagaimana kalau yang dijual tersebut adalah majalah islami. Tapi dia hanya memajangnya di dalam masjid bayarnya diluar masjid?

    mohon penjelasannya. Terima kasih sebelumnya ustadz.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Yang menjadi inti dalam jual beli adalah adanya akad jual beli, dimana penjual menawarkan barangnya dan diterima oleh pembeli. Karenanya apapun barang yang ditawarkan -walaupun majalah islami- di dalam masjid lalu ada yang menerima penawarannya maka telah terjadi akad jual beli, dan yang seperti ini dilarang di dalam masjid

  8. iswan said:

    Assalamu’alaikum ustadz, apakah memasang jam dinding dan jadwal sholat di mana ada iklan produk tertentu termasuk berjual beli di dalam masjid..?jazakumullah khairan

    Waalaikumussalam
    Bukan termasuk jual beli.

  9. Agus Salim said:

    Asslamualaikum.yaa ustadz, saya mau tanya tentang masalah pelaksanaan pembayaran zakat fitrah dengan uang tetapi masih menggunakan mazhab imam syafi’i,sehingga dalam pelaksanaan pembembayarannya seperti jual beli( di dalam masjid ).
    uang harus di tukar dngan beras.pertanyaannya, bagamana jika membayar zakat fitrah(di dalam masjid) menggunakan uang tetapi msih memakai mazhab syafi’i?

    Waalaikumussalam.
    Kami tidak paham maksudnya. Yang jelas tidak boleh melakukan transaksi jual beli di dalam masjid. Kalau memang panitia menyediakan beras untuk dijual, maka jual belinya dilakukan di luar masjid dan insya Allah itu tidak mengapa.

  10. Lian Zulkarnain said:

    ustadz, mau tanya.
    1. apakah teras mesjid, atau tanah/lantai diluar dinding mesjid tapi masih dibawah atap mesjid termasuk didalam mesjid? Atau kemudian ada tambahan bangunan dari bangunan asli awalnya juga dipakai shalat termasuk didalam mesjid?
    2. apakah bangunan yang terpisah dari bangunan mesjid dan dijadikan tempat shalat (karena jamaah yang shalat banyak dan bangunan & teras mesjid tidak muat) jika orang-orang shalat bersamaan dengan jamaah didalam mesjid dan mengikuti gerakan imiam termasuk juga jamaah shalat mesjid tersebut?

    Sebelumnya terima kasih ustadz.

    1. Teras atau lantai yg anda maksud bukan termasuk masjid.
    Kami belum paham maksud penambahan yg anda sebutkan.
    2. Ya, termasuk dlm jamaah masjid tersebut.