Kriteria Makanan Halal (selesai)

December 19th 2009 by Abu Muawiah |

Hukum Beberapa Jenis Makanan

Berikut kelanjutannya:
14.    Gajah.
Madzhab jumhur ulama menyatakan bahwa dia termasuk ke dalam kategori hewan buas yang bertaring. Dan inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, dan Imam An-Nawawy -rahimahumullah-.

15.    Musang (arab: tsa’lab)
Halal, karena walaupun bertaring hanya saja dia tidak mempertakuti dan memangsa manusia atau hewan lainnya dengan taringnya dan dia juga termasuk dari hewan yang baik (arab: thoyyib). Ini merupakan madzhab Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.
[Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/528), dan Asy-Syarhul Kabir (11/67)]

16.    Hyena (arab: Dhib’un)
Pendapat yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’iy dan Imam Ahmad- adalah halal dan bolehnya memakan daging hyena (kucing padang pasir). Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Abi ‘Ammar, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, “Apakah hyena termasuk hewan buruan?”, beliau menjawab, “Ia”. Saya bertanya lagi, “Apakah boleh memakannya?”, beliau menjawab, “Boleh”. Saya kembali bertanya, “Apakah pembolehan ini telah diucapkan oleh Rasulullah?”, beliau menjawab, “Ia”. Diriwayatkan oleh Imam Lima dan dishohihkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan selainnya. Lihat Talkhishul Khabir (4/152).
Pendapat ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (9/568) dan Imam Asy-Syaukany.
Adapun jika ada yang menyatakan bahwa hyena adalah termasuk hewan buas yang bertaring, maka kita jawab bahwa hadits Jabir di atas lebih khusus daripada hadits yang mengharamkan hewan buas yang bertaring sehingga hadits yang bersifat khusus lebih didahulukan. Atau dengan kata lain hyena  diperkecualikan dari pengharaman hewan buas yang bertaring. Lihat Nailul Author (8/127) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/52)]

17.    Kelinci.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:
أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ
“Sesungguhnya beliau (Nabi) -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah diberikan hadiah berupa potongan daging kelinci, maka beliaupun menerimanya”.
Imam Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny, “Kami tidak mengetahuii ada seorangpun yang mengatakan haramnya (kelinci) kecuali sesuatu yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash”.

18.    Belalang.
Telah berlalu dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa bangkai belalang termasuk yang diperkecualikan dari bangkai yang diharamkan. Hal ini juga ditunjukkan oleh perkataan Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:
غَزَوْنََا مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ
“Kami berperang bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 7 peperangan sedang kami hanya memakan belalang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

19.    Kadal padang pasir (arab: dhobbun).
Pendapat yang paling kuat yang merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah bahwa dhobbun adalah halal dimakan, hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang dhobbun:
كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ
“Makanlah dan berikanlah makan dengannya (dhobbun) karena sesungguhnya dia adalah halal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)
Adapun keengganan Nabi untuk memakannya, hanyalah dikarenakan dhobbun bukanlah makanan beliau, yakni beliau tidak biasa memakannya. Hal ini sebagaimana yang beliau khabarkan sendiri dalam sabdanya:
لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي
“Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku”.
Ini yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy dalam Syarh Muslim (13/97).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/529)]

20.    Landak.
Asy-Syaikh Al-Fauzan menguatkan pendapat Asy-Syafi’iyyah akan boleh dan halalnya karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan haram dan khobitsnya. Lihat Al-Majmu’ (9/10).

21.    Ash-shurod, kodok, semut, burung hud-hud, dan lebah.
Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).
Adapun larangan membunuh lebah, warid dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.
Dan semua hewan yang haram dibunuh maka memakannyapun haram. Karena tidak mungkin seeokor binatang bisa dimakan kecuali setelah dibunuh.

22.    Yarbu’.
Halal. Ini merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, dan merupakan pendapat ‘Urwah, ‘Atho` Al-Khurosany, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir, karena asal dari segala sesuatu adalah halal, dan tidak ada satupun dalil yang menyatakan haramnya yarbu’ ini. Inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (11/71).
[Hasyiyatul Muqni' (3/528) dan Mughniyul Muhtaj (4/299)]

23.    Kalajengking, ular, gagak, tikus, tokek, dan cicak.
Karena semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا
“Ada lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak yang belang, tikus, anjing, dan rajawali.” (HR. Muslim)
Adapun cicak dan termasuk di dalamnya tokek, maka telah warid dari hadits Abu Hurairah riwayat Imam Muslin tentang anjuran membunuh wazag (cicak). Lihat keterangan tambahan di: http://al-atsariyyah.com/?p=1161
[Bidayatul Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithy (1/273)]

24.    Kura-kura (arab: salhafat), anjing laut, dan kepiting (arab: sarthon).
Telah berlalu penjelasannya pada pendahuluan yang ketiga bahwa ketiga hewan ini adalah halal dimakan.

25.    siput (arab: halazun), serangga kecil, dan kelelawar.
Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang maka dia boleh dimakan tanpa penyembelihan, pent.)”. (Lihat Al-Muhalla: 7/405)
Maka dari penjelasan Ibnu Hazm di atas kita bise mengetahui tidak bolehnya memakan: Kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan semua serangga lainnya, wallahu a’lam.

Inilah secara ringkas penyebutan beberapa kaidah dalam masalah penghalalan dan pengharaman makanan beserta contoh-contohnya semoga bisa bermanfaat. Penyebutan makanan sampai point ke-25 di atas bukanlah dimaksudkan untuk membatasi bahwa makanan yang haram jumlahnya hanya sekitar itu, akan tetapi yang kami inginkan dengannya hanyalah menjelaskan kaidah umum dalam masalah ini yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghukumi hewan-hewan lain yang tidak sempat kami sebutkan.
Adapun makanan selain hewan dan juga minuman, maka hukumnya telah kami terangkan secara global dalam pendahuluan-pendahuluan di awal pembahasan, yang mana pendahuluan-pendahuluan ini adalah semacam kaidah untuk menghukumi semuanya, wallahul muwaffiq.

Referensi:
1.    Al-Ath’imah wa Ahkamis Shoyd wadz Dzaba`ih, karya Syaikh Al-Fauzan, cet. I th. 1408 H/1988 M, penerbit: Maktabah Al-Ma’arif Ar-Riyadh.
2.    Al-Majmu’, Imam An-Nawawy, Cet. Terakhir, th. 1415 H/1995 M, penerbut: Dar Ihya`ut Turots Al-Araby.
3.    Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al-Maliky, cet. X, th. 1408 H/1988 M, penerbit: Darul Kutubil ‘Ilmiyah .
4.    Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat, karya Muhammad bin Hamd Al-Hamud An-Najdy.

Incoming search terms:

  • kriteria makanan halal dan haram
  • belut halal atau haram
  • halal makan daging musang?
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, December 19th, 2009 at 9:58 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

27 responses about “Kriteria Makanan Halal (selesai)”

  1. jubay said:

    makan belut itu hukumnya apa ???

    Belut termasuk makanan yang halal karena dia adalah hewan yang hidup di air. Wallahu a’lam

  2. abul abbas said:

    afwan, apakah benar syaikh ibn utsaimin menghalalkan buaya dikarenakan termasuk binatang berair,, apa sumber rujukannya… lalu, bgm dengan tokek, apakah ia sama dengan cicak,, jazakallooh

    Wallahu a’lam dengan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, tapi itulah pendapat yang paling kuat berdasarkan dalilnya. Ia, tokek sama hukumnya dengan cicak, silakan baca artikel tentang ‘Hukum Jual Beli Tokek’.

  3. novel said:

    assalamu’alaikum ustadz
    ustadz, saya mau tanya sesuatu tapi harap di balas ke email saya ya tadz.
    begini tadz, kalo kita beli makan di warung-warung pinggir jalan itu hukumnya gimana? khan kita tidak tahu pedagangnya muslim atau tidak, selain itu makanannya suci dari najis atau tidak, terlebih lagi jika terkena najis berat seperti anjing,khan berbahaya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hukum asal segala sesuatu adalah suci dan halal sampai ada indikasi kuat yang menunjukkan sebaliknya. Karenanya selama tidak ada indikasi semacam ini pada makanan yang ada di pinggir jalan tersebut, maka hukum asal makanan itu adalah suci dan halal.

  4. Muhammad yusuf Al Faruq said:

    ijin copy dan disebar

    Tafadhdhal.

  5. taufik said:

    Bagaimana jika dlm makanan/minuman kita ada semut yg ikut tertelan?

    Kalau tidak sengaja insya Allah tidak mengapa.

  6. Hukum Kopi Luwak « Blogna Kang Ian said:

    [...] Berdasarkan keterangan di atas maka kopi luwak hukumnya dikembalikan kepada apakah musang itu halal dimakan ataukah tidak? Dan apakah kotorannya suci ataukah najis? Adapun dalam hal halal atau haramnya, maka musang adalah halal dan boleh dikonsumsi. Silakan lihat keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1418 [...]

  7. munzir said:

    salam ustaz,sya ingin bertanya lebihblanjut, hukum memakan kutu beras, jika hewan tersebut terlampau banyak sedangkn sya kesuntukan masa ditambah perut keroncong kelaparan, bagaimana hukummnya ya ustaz? syukran…

    Insya Allah nggak masalah karena dia hanya mengikut. Sama halnya dilarang memakan lebah, akan tetapi jika tersebut terikut dengan madu maka insya Allah tidak mengapa. Wallahu a’lam

  8. ummahat said:

    bismillaah, assalaamu’alaikum warohmatulloh wabarokaatuh,,,
    ustadz,,, bagaimana dengan makanan dari acara ke bid’ahan (maulid nabi, 100 hari kematian ataupun dari acara ulang tahun),, apakah makanan tsb boleh kita makan ? jazaakalloh khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Sebaiknya makanan tersebut tidak dimakan, wallahu a’lam

  9. adi said:

    mau tanya hukumnya burung balam yg di buru dengan cara di tembak dengan mengucap basmalah dan mati karenanya.

    Kami tidak tahu apa itu burung balam, apakah dia burung yang bercakar?
    Kalau ia maka haram memakan semua burung yang bercakar.
    Jika tidak maka insya Allah halal dimakan jika dia membaca basmalah sebelum menembak. Wallahu a’lam

  10. royyan said:

    assalaamu’alaikum warohmatulloh wabarokaatuh,,,

    ingin bertanya ya Ustadz..
    Adakah tinjauan lanjutan tentang cara mematikan /membunuh-binatang yg akan kita makan.. sperti kerang, kepiting, bekicot – karena yg umum adalah dengan “merebusnya hidup2″ – dengan pertimbangan menyembelih adalah cara yang paling baik (dlm arti) tidak menyiksa binatang –
    sedangkan “merebus” ..?? spertinya sedikit menyiksa .. – Sukron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ketiga hewan yang anda sebutkan, demikian pula hewan air lainnya tidak perlu disembelih karena bangkai hewan air adalah halal.

  11. ๑۩๑ Hukum Kopi Luwak | بســــــــــم الله الرحمن الرحيـــــــــــم said:

    [...] atau haramnya, maka musang adalah halal dan boleh dikonsumsi. Silakan lihat keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1418 Adapun hukum kotorannya, maka pendapat yang paling kuat di kalangan ulama adalah sucinya kotoran [...]

  12. [Info] Hukum Meminum Kopi Luwak | Indonesia News Lounge said:

    [...] atau haramnya, maka musang adalah halal dan boleh dikonsumsi. Silakan lihat keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1418 Adapun hukum kotorannya, maka pendapat yang paling kuat di kalangan ulama adalah sucinya kotoran [...]

  13. orang said:

    musang yang dimaksudkan itu jenis yang bagaimana? Fox atau Civet?

    Wallahu a’lam, kami tidak mendapatkan pembedaan di antara keduanya di kalangan ulama. Jadi kelihatannya mencakup keduanya.

  14. Abu Auza'i said:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    1. Afwan Ya Ustadz, yang antum maksudkan dengan Yarbu’ itu apakah tikus gurun? Dan kalau yarbu’ itu tikus gurun (gerbil), apakah dengan demikian termasuk hamster juga, karena hamster dan yarbu’ itu mirip sekali dari sisi fisik dan ukurannya.

    2. Perkataan Ibnu Hazm: “Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan”
    Kemudian pada jawaban pertanyaan nomor 10 diatas antum mengatakan halalnya bekicot karena dia adalah hewan air. Lalu, bagaimana hukumnya dengan bekicot darat? Karena bekicot darat sulit disembelih Ustadz.

    بارك الله فيكم

    1. Wallahu a’lam, kelihatannya tidak sama hukumnya.
    2. Bekicot darat berbeda, dia tidak boleh dimakan.

  15. Makanan Halal – Haram 2 « great3wibowo said:

    [...] ini lanjutan dari artikel yang pertama: http://al-atsariyyah.com/kriteria-makanan-halal-2.html http://al-atsariyyah.com/kriteria-makanan-halal-selesai.html [...]

  16. HUNGRYMANN said:

    KALO ESCARGOT ATO BEKICOT DOANG GATAU DARAT ATO LAUT GIMANA?????????

    SAYA BINGUNG
    GIMANA DENGAN ALKOHOL?
    ATO WINE( MINUMAN ANGGUR )? APAKAH HALAL ATAU HARAM? KALO ANGGURNYA KAN HALAL?
    KALO WINE SARI2 ANGGURNYA DIAMBIL LALU JADI LAH MINUMAN
    GIMANA ITU?
    APA SELAMA MINUMAN ITU TIDAK MEMABUKKAN HALAL?

    MENDING JADI VEGETARIAN AJA DEEEH
    LEBIH AMAN (Y)
    DAN TIDAK MENYIKSA BINATANG
    WALAU MENYIKSA TUMBUHAN

    Alkohol adalah khamar, sedikit maupun banyaknya. Karenanya tidak boleh dikonsumsi.

  17. abu maryam said:

    bismillah,

    1) bagaimana menjual produk sarang semut (salah satu tumbuhan Epyfit, yang mana umbinya dihuni oleh semut) ?? sedangkan kita gak tau ada tidaknya semut yang terbunuh dalam proses pengambilannya . Apakah wajib bagi seorang distributor untuk mencaritahu (mohon beserta dalil) Ataukah kita husnuzhan saja dengan dalil berikut:
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Jika seorang dari kamu berkunjung ke rumah saudaranya sesama muslim lalu ia menghidangkan makanan kepadanya hendaklah ia memakannya dan jangan menanyakan (menyelidiki) perihal makanan itu kepadanya. Dan bila ia menghidangkan minuman kepadanya hendaklah ia meminumnya dan jangan menanyakan (menyelidiki) perihal minuman itu kepadanya’,” (Shahih, HR Ahmad [III/399]).

    2) adakah dalil yang membolehkan membunuh semut jika semut itu menyakiti, merusak, mengganggu, mengotori, dll.

    jazakumullohu khoyron atas jawabannya

    1. Ya, tidak wajib mencari tahu.
    2. Dalil-dalil umum akan bolehnya membunuh semua hewan yang mengganggu.

  18. abu jufri said:

    Assalamualaikum.. AFwan sepertinya ada yang berpendapat luwak adalah termasuk hewan haram.. http://abiubaidah.com/melacak-status-hukum-kopi-luwak.html/ . jadi jika haram (seandainya)gmana status kopi yang telah tercampur zat (yg tidak di ketahui) kotoran kah atau zat kimia lainnya di dalam perut luwak tersebut. dan (zat) itu meresap (tercampur dan melekat/berubah rasa) dalam kopi tersebut..
    mohon pencerahannya.
    zakallah khai

    Waalaikumussalam.
    Mungkin pertanyaan ini lebih tepat ditanyakan kepada yang menyatakan luwak itu haram.

  19. abu abdillah said:

    afwan ust ana ingin nanya bolehnya memakan burung yg di tembak dengan bismillah halal. apa dalilnya sebab ana mau jelaskan juga ke orang lain syukran

    Selama dia bukanlah burung yang bercakar maka boleh. Dalilnya adalah kias kepada hewan buruan yang tidak bisa ditangkap lalu disembelih, maka cukup membaca basmalah sebelum dipanah. Tapi jika setelah burung itu jatuh dan ternyata masih hidup maka wajib disembelih dengan membaca bismillah. Tapi jika sudah mati maka basmalah tadi insya Allah sudah cukup. Wallahu a’lam.

  20. Lost Star said:

    Assalamualaikum.. Ustadz,, mau tanya dong.. Gimana sih hukum memakan penguin? Itu kan hewan yang hidup di dua alam.. Tapi halalkah? Atau hanya dihalalkan saat terpaksa? Apakah ada hubungannya dengan penguin itu hewan yang hanya ada di daerah kutub, sedangkan di daerah lain justru ditangkarkan/dilidungi (langka)?

    Waalaikumussalam.
    Apakah pinguin itu hewan air dalam artian kalau tinggal di darat dalam jangka waktu lama dia akan mati atau bukan? Soalnya kami tidak tahu tentang ini.
    Halal/haramnya hewan tidak ada pengaruhnya dengan kelangkaan atau tidak. Hanya saja jika hewan itu termasuk hewan yang langka sehingga dilarang diburu, maka sepatutnya kita menaati peraturan tersebut.

  21. Mahensi said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
    Ustadz, saya ingin minta tolong.
    Kalau Ustadz bersedia, tolong beritahu saya 20 hewan darat yang halal dimakan.
    tapi, kalu Ustadz tdk bersedia tdk apa-apa.
    -Terimakasih…-

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Wah, saya rasa banyak sekali ya. Bagusnya anda yang sebutkan 20, baru kita lihat apa ada yang keliru.

  22. Sri said:

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    1. apakah kuda dan belut itu halal?
    2. jika kuda dan belut itu halal, di surat dan ayat berapa yang mengatakan bahwa kuda dan belut itu halal?
    ~TerimaKasih~ ^_^

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Dalil halalnya kuda:
    1. Hadits Jabir, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam -pada perang Khaibar- melarang dari daging-daging keledai jinak dan mengizinkan untuk memakan daging-daging kuda. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    2. Dari Asma` bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq -radhiallahu anhuma- dia berkata, “Kami pernah menyembelih seekor kuda pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sedangkan kami berada di kota Madinah, lalu kami pun memakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dan dalam riwayat imam Ahmad, “Maka kami memakannya bersama keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam.”

    Dalil halalnya belut:
    Belut adalah hewan air, sementara semua hewan air adalah halal berdasarkan firman Allah yang maknanya, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” (QS. Al-Maidah: 96)

  23. lutfia said:

    asssalamu’alaikum…
    ustad saya mau tanya mohon jawabannya…

    burung kutilang itu haram atau halal jika dimakana???

    syukron…

    wassalamu’alaikum..

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam.

  24. lutfia said:

    mohon dijelaskan sekalian dalilnya…??/
    syokron..

    Untuk masalah yang mana? Setahu saya, semua hewan di atas kami sudah sebutkan dalilnya.

  25. Egi said:

    Ass. Ustadz,

    Saya sedang tinggal di negeri lain. Dimana daging Ayam dan Daging sapi sepertinya tidak halal.
    Kebiasaan disini, sumpit dan garpu untuk makan, dijadikan alat untuk mengabil makanan lain pula.

    Nah sewaktu saya sedang diajak makan, teman saya makan daging ayam tersebut, dan garpunya digunakan untuk mengaduk makanan yang lain (Seafood).
    Nah apakah makanan seafood tersebut (Insya Allah Halal) menjadi tidak halal hukumnya? Dikarenakan diaduk oleh garpu yang sudah menyentuh ayam yang tidak halal tersebut?

    Trims sekali lagi Ustadz.

    Pernyataan anda ‘sepertinya tidak halal’ ini butuh diklarifikasi dulu. Karena hukum asal semua sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah halal.

  26. Egi said:

    Aslmlkm Ustadz,

    Jadi untuk hal yang diatas berarti Halal?

    Untuk pendapat Ustadz ini :
    Karena hukum asal semua sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah halal.

    –> Apakah dapat diartikan apabila Ayam/Sapi disembelih oleh orang Yahudi/Nasrani berarti Halal untuk Muslim?
    Kalau dipotong oleh Mesin bagaimana?

    Mohon maaf jadi melebar Ustadz.

    Sama saja, itu tetap menjadi hukum asalnya. Wallahu a’lam.

  27. Abu Zaid said:

    Bismillah Bgmana dengan makanan yang di berikan oleh Mahasiswa yang melaksanakan ujian sarjana dan ujian seminar-seminar di mana menjadi kebiasaan mahasiswa tanpa diminta yang sedang ujian memberikan dosen dan staff pegawai tentengan berisi makanan atau dengan cara prasmanang apakah boleh di ambil dan dimakan Ustadz?

    Maaf, saya belum terlalu jelas bentuk amalan ini.