Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

July 22nd 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Keempat

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

            Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقاعِدَةُ الرّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمانِنا أَغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ. لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ فِي الرَّخاءِ وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْ زَمانِنا شِرْكُهُمْ دائِمٌ؛ فِي الرَّخاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

[Terjemah]

Kaidah keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita lebih besar kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin zaman dahulu. Hal itu karena kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan ketika mereka dalam keadaan lapang, adapun ketika dalam keadaan susah maka mereka mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Sementara kaum musyrikin pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan susah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)

[Syarh]

            Kaidah ini adalah hasil dari ketiga kaidah sebelumnya. Jika sudah diyakini bahwa kaum musyrikin pada zaman ini sama seperti kaum musyrikin di setiap zaman, seperti kaum musyrikin jahiliah, walaupun mereka memeluk agama Islam, mereka mengerjakan shalat, dan beribadah kepada Allah. Jika mereka (kaum musyrikin sekarang) ini sama seperti mereka (kaum musyrikin dahulu) dan kesyirikan yang mereka lakukan sama persis dengan kesyirikan yang dikerjakan oleh kaum musyrikin terdahulu, maka terkadang itu sudah cukup. Dan inilah yang ingin dijelaskan oleh Asy-Syaikh dalam kaidah ini, yaitu bahwa kaum musyrikin di zaman ini justru lebih parah kesyirikannya dibandingkan kesyirikan kaum musyrikin jahiliah. Kenapa? Karena Allah Jalla wa Ala telah menyifati kaum musyrikin jahiliah bahwa mereka berbuat kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang, adapun ketika dalam keadaan susah maka mereka justru bertauhid kepada Allah.

            Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)

Yakni: Tidak kepada selain-Nya.

ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ. لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ

“Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 54-55)

            Allah Jalla wa Ala menjelaskan tentang keadaan kaum musyrikin ketika mereka berada di tengah lautan:

حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ. فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ.

“Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar.” (QS. Yunus: 22-23)

            Allah Jalla wa Ala berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)

            Dan dalam ayat yang lain:

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (QS. Luqman: 32)

            Jika anda memperhatikan keadaan kaum musyrikin sekarang dengan keadaan kaum musyrikin zaman dahulu, maka anda akan melihat bahwa kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan ketika dalam keadaan lapang saja, adapun jika mereka tertimpa musibah maka mereka beribadah dengan ikhlas dan bertauhid kepada Allah. Adapun kaum musyrikin di zaman ini jika mereka tertimpa kejelekan maka mereka akan segera mendatangi Al-Idrus atau Al-Husain, atau Al-Badawi, atau Al-Marghanani atau kepada si fulan atau kepada si fulan atau kepada yang lainnya, atau kepada orang mati yang mereka berdoa kepadanya. Jika mereka terkena kejelekan, mereka segera menuju ke pohon-pohon atau batu-batu dan semacamnya. Dan perbuatan ini tidak diragukan lebih besar kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin terdahulu. Hal itu karena kaum musyrikin belakangan berbuat kesyirikan pada kedua keadaan ini, sementara kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan pada satu keadaan saja tapi tetap mengingat Allah pada keadaan kedua. Akan tetapi siapakah yang mau memahami hal ini? Siapakah yang masalah ini jelas di matanya sehingga dia bisa yakin terhadapnya, tanpa ada keraguan, tanpa ada penghalang?

            Karena ada sebagian orang terkadang mengatakan: Mereka (kaum musyrikin belakangan) ini mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan mereka berpuasa. Maka bagaimana bisa dikatakan kalau kesyirikan mereka lebih parah daripada kesyirikan kaum musyrikin terdahulu?!

            Maka kita katakan: Yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah landasan agama (tauhid). Karena semua ibadah ini tidak ada manfaatnya tanpa disertai dengan adanya tauhid. Sebagaimana yang telah kita sebutkan di awal pembahasan bahwa ibadah seperti ini sama seperti shalat yang dilakukan tanpa thaharah. Jika kaum musyrikin melakukan ibadah-ibadah besar ketika susah namun mereka berbuat kesyirikan ketika lapang sehingga membuat semua ibadah mereka itu tidak bermanfaat dan tidak diterima, maka bagaimana lagi jika mereka berbuat kesyirikan dalam keadaan lapang dan dalam keadaan susah?!

            Sebagian ulama menyebutkan bahwa dia pernah berjumpa dengan salah seorang penduduk daerah Thaif sebelum dakwah tauhid tersebar luas di sana dan sebelum orang-orang di daerah itu mengenal dakwah tauhid. Maka orang ini berkata kepada ulama tersebut, “Penduduk Thaif ini, jika mereka mengalami kesusahan maka mereka akan segera menuju ke kuburan Ibnu Abbas sementara mereka tidak mengenal Allah.” Sebagian lainnya berkata kepada beliau, “Mengenal Ibnu Abbas itu sudah cukup.” Ini adalah salah satu bentuk kesyirikan yang banyak diyakini oleh orang-orang, dan bersamaan dengan itu mereka melupakan Allah Jalla wa Ala dalam keadaan lapang dan dalam keadaan susah kecuali jika mereka melakukan nadzar, barulah mereka ingat kepada Allah. Dan hal seperti ini banyak terjadi di zaman ini, suatu kejadian yang sangat mengherankan.

            Sungguh Allah Jalla wa Ala telah memberikan nikmat kepada kita di negeri (Saudi Arabiah) ini, karena kita tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar amalan-amalan yang merisaukan kita seperti kesyirikan besar dan kekafiran besar seperti ini. Tapi siapa saja yang melihat ke negeri-negeri lain yang padanya terdapat banyak kesyirikan, seperti beberapa daerah di Mesir, sebagian daerah di Sudan, Afrika, sebagian daerah di Pakistan, India, dan negeri lainnya seperti Irak, Suriah, dan semacamnya. Siapa yang melihat ke negeri-negeri ini niscaya dia akan melihat keanehan dimana orang-orang berdoa kepada tempat-tempat keramat atau kepada kubur-kubur para nabi, bahkan selain para nabi. Mereka meyakini keyakinan-keyakinan syirik terhadap penghuni kubur ini dan mereka memberikan kepada penghuni kubur ini sebagian dari hak-hak ilahiah. Padahal hanya milik Allah Jalla wa Ala hak terbesar dalam mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, hak terbesar untuk Dia Jalla wa Ala disembah oleh hati-hatri hamba, dan tidak tersisa satupun ibadah kecuali diperuntukkan kepada-Nya Subhanahu, tidak kepada selain-Nya. Sebagaimana pada firman Allah Jalla wa Ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

            Dan Allah Jalla wa Ala berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku padanya, maka Aku akan meninggalkannya dan sekutunya.”

            Jika seperti ini hukumannya pada amalan riya`, di mana seseorang memaksudkan dengan amal ibadahnya untuk meraih selain keridhaan Allah Jalla wa Ala yaitu agar dilihat oleh orang. Maka bagaimana lagi dengan menyerahkan ibadah kepada selain Allah Jalla wa Ala, seperti berdoa kepada selain Allah, atau beristighatsah dengan selain Allah, atau bernadzar untuk selain Allah, atau menyembelih untuk selain Allah, atau meminta perlindungan kepada selain Allah pada perkara yang tidak ada yang bisa memberikan perlindungan kecuali Allah, atau beristighatsah kepada selain Allah pada perkara yang tidak ada yang bisa memberikan pertolongan kecuali Allah, berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal serta meyakini keyakinan tertentu tentang mereka lalu mereka menamakannya sebagai ‘sirr (rahasia)’. Mereka mengatakan: Pada roh sayyid ini terdapat rahasia. Karenanya mereka mengganti kata roh dengan kata ‘rahasia’, sehingga mereka mengatakan: Orang ini mempunyai ‘rahasia’ (baca: roh), semoga Allah menyucikan ‘rahasianya’ (baca: rohnya). Karena mereka meyakini bahwa roh orang-orang yang mati itu mempunyai rahasia. Padahal roh yang telah meninggal tidak ada rahasia padanya kecuali rahasia kecuali rahasia pembuatan dan penciptaannya oleh Allah Jalla wa Ala. Adapun jika yang diyakini bahwa roh-roh ini mampu memberikan pertolongan kepada orang yang beristighatsah dengannya atau mampu memberikan sesuatu kepada orang yang meminta kepadanya, maka semua kemampuan seperti ini tidak ada yang memilikinya kecuali Allah Jalla wa Ala:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. Al-Baqarah: 166)

            Dan Allah Jalla wa Ala berfirman mengabarkan keadaan kaum musyrikin di dalam neraka:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Demi Allah: Sungguh kami dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kami menyetarakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara`: 97-98)

            Para ulama menjelaskan: Mereka tidak menyetarakan sembahan mereka itu dengan Tuhan semesta alam dalam artian mereka juga mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan. Akan tetapi mereka menyetarakan sembahan mereka itu dengan Tuhan semesta alam dalam hal ibadah, dimana mereka menyerahkan ibadah kepada sembahan tersebut. Sehingga jadilah mereka menyetarakan sembahan-sembahan batil dengan ini dengan Allah Jalla wa Ala dalam hal keberhakan untuk diibadahi. Karena mereka menyembah Allah tapi juga menyembah selain-Nya, sehingga dalam hal ini mereka menyamakan antara makhluk dengan Al-Khaliq Jalla wa Ala. Dan ini adalah kezhaliman yang paling buruk dan pelampauan batas terhadap hak Allah Jalla wa Ala yang paling jelek. Hal itu karena hak Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk dimuliakan, diagungkan, diesakan dalam ibadah, mengkhlaskan semua amalan untuk-Nya, mengakui semua kesempurnaan-Nya, serta menyifati Allah Jalla wa Ala dengan sifat-sifat keindahan, kemuliaan, dan kesempurnaan. Serta meyakini bahwa tidak ada satu kebaikan pun kecuali berasal dari Allah Subhanahu dan tidak ada satupun kejelekan yang ditahan terjadinya kecuali yang menahannya itu adalah Allah Subhanahu. Sehingga kita selaku makhluknya hanya berbuat di kehidupan ini semuanya dengan keutamaan dan nikmat Allah Ta’ala.

            Kesimpulannya, kaidah terakhir ini kembalinya kepada tiga kaidah yang tersebut sebelumnya.

            Kami memohon kepada Allah Jalla wa Ala agar Dia berkenan menjadikan kita tergolong orang-orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika diuji dengan musibah maka dia bersabar, dan jika berdosa maka dia beristighfar.

            Shalawat, salam, dan keberkahan dari Allah semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

 ___________________________

             Kami (penerjemah) berkata:

            Alhamdulillah, kita telah selesai membaca syarh Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah terhadap kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Semoga Allah Ta’ala berkenan menjadikan amalan kita semua dalam hal ini ikhlas hanya untuk-Nya dan bisa bermanfaat bagi kita di hari kiamat kelak, Allahumma amin.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, July 22nd, 2015 at 7:16 pm and is filed under Syarh al-Qawaid al-Arba'. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.