Kitab Thaharah-Bab Air

November 6th 2008 by Abu Muawiah |

Kitab Thaharah

Definisi thaharah.
Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan bahwa thaharah secara istilah mempunyai dua makna:
1. Definisi asal yang bersifat maknawi, yaitu sucinya hati dari kesyirikan kepada Allah dan dari kebencian kepada kaum mukminin.
2. Definisi cabang yang bersifat zhahir -dan ini yang dimaksudkan dalam bab fiqhi-, yaitu semua perbuatan yang membolehkan orang yang berhadats untuk melakukan shalat, berupa pembersihan najis dan penghilangan hadats. (Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/19)
Ibnu Rusyd berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa thaharah syar’i ada dua jenis: Thaharah dari hadats dan thaharah dari khabats (najis). Dan mereka juga bersepakat bahwa bentuk thaharah dari hadats ada tiga bentuk: Wudhu, mandi (junub) dan pengganti dari keduanya yaitu tayammum.” (Bidayah Al-Mujtahid: 1/5)
Para ulama memulai pembahasan fiqhi dengan kitab thaharah karena rukun Islam terpenting setelah syahadatain adalah shalat, sedangkan shalat tidak bisa ditegakkan kecuali setelah adanya thaharah. Kemudian, thaharah asalnya dengan menggunakan air, makanya setelahnya diikuti dengan pembahasan seputar air.

Bab Air

Masalah pertama: Pembagian air
Mayoritas ulama membagi air menjadi tiga jenis (Al-Inshaf: 1/21-22):
1. Air yang thahur (suci dan menyucikan) atau air muthlaq, yaitu air yang masih berada pada sifat asal penciptaannya, baik yang turun dari langit maupun yang keluar dari bumi, baik yang panas maupun yang dingin, baik yang berwarna maupun yang tidak berwarna (bening). Contohnya: Air hujan, air laut, air sungai, air sumur, mata air, salju, geyser, dll. Termasuk juga di dalamnya air yang sudah mengalami perunahan dari asal penciptaannya tapi belum keluar dari keberadaannya sebagai air, contohnya: Air mineral, air yang bercampur dengan sedikit kapur dan benda-benda suci lainnya dan tidak mendominasi air.
2. Air thahir (suci tapi tidak menyucikan) atau air muqayyad, yaitu air yang bercampur dengan zat suci lalu mendominasi air tersebut sehingga dia berubah dari sifat asalnya. Contohnya: Air teh dan yang semisalnya, air sabun dan semacamnya serta air kelapa dan yang keluar dari tumbuh-tumbuhan dan air yang sangat keruh karena bercampur dengan tanah.
3. Air najis, yaitu air yang kemasukan najis lalu merubah salah satu dari tiga sifatnya (baunya, rasanya, atau warnanya). Akan datang penjelasan tambahan pada masalah kelima.
Dalil dari pembagian ini adalah sabda Rasulullah -shallalahu alaihi wasallam- tatkala beliau ditanya tentang air laut, apakah dia boleh dipakai berwudhu, “Airnya adalah thahur (penyuci) dan bangkainya halal.” (HR. Ashhab As-Sunan dari Abu Hurairah)
Sisi pendalilannya adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Muflih: “Seandainya yang beliau maksudkan dengan thahur (menyucikan) adalah thahir (suci tapi tidak menyucikan), niscaya air laut tidak mempunyai kelebihan dibandingkan air lainnya, karena semua orang sudah mengetahui bahwa air laut itu suci.” (Al-Mabda’: 1/32)

Masalah kedua: Yang boleh dipakai bersuci.
Yang boleh dipakai bersuci hanyalah air thahur atau air muthlaq. Ibnu Al-Mundzir berkata: “Semua ulama yang kami hafal pendapatnya telah bersepakat akan tidak bolehnya berwudhu dengan air ward (bunga), yang keluar dari pohon dan air ushfur (bunga yang bijinya dijadikan minyak). Mereka juga bersepakat akan tidak bolehnya bersuci kecuali dengan air muthlaq yang dinamakan sebagai air, karena tidak boleh bersuci kecuali dengan menggunakan air sedangkan ketiga perkara di atas tidaklah dikatakan sebagai air.” (lihat: Al-Mughni: 1/15-21 dan Al-Majmu’: 1/ 139-142)
Dari sini diketahui semua benda cair selain air lebih tidak boleh lagi dijadikan alat bersuci, seperti: Minyak tanah, bensin, minyak goreng dan semacamnya.

Masalah ketiga: Dalil-dalil akan bolehnya bersuci dengan air mutlaq di atas.
Adapun air hujan, maka Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dia menurunkan untuk kalian air dari langit untuk menyucikan kalian.” (QS. Al-Anfal: 11). Adapun air laut, maka telah berlalu dalam hadits Abu Hurairah di atas. Adapun air sumur -dan termasuk di dalamnya mata air-, maka Nabi r bersabda tentang sumur budha’ah, “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang menajisinya.” (HR. Imam Tiga dari Abu Said). Adapun air salju, maka beliau -shallallahu alaihi wasallam- mengajari dalam doa istiftah, “Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan air yang dingin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Masalah keempat: Hukum beberapa air yang dibahas oleh para ulama.
1. Air al-ajin, yaitu air yang tinggal lama di suatu wadah (tong, bak yang tertutup dan semacamnya) sampai rasa dan baunya menjadi pahit dan berbau busuk tapi tidak ada najis yang masuk padanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata: “Adapun air yang tinggal lama di sebuah wadah maka dia tetap dalam sifat thahur (menycikan) berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Al-Fatawa: 21/36) dan Ibnu Al-Mundzir juga menukil ijma’ akan hal ini dalam Al-Ausath (1/258-259)
2. Air yang dihangatkan dengan sinar matahari.
Semua hadits-hadits yang menerangkan tentang makruhnya adalah hadits yang lemah sebagaimana bisa dilihat dalam Al-Irwa` karya Syaikh Al-Albani no. 18. Karenanya mayoritas ulama berpendapat bolehnya bersuci dengan air itu dan tidak dimakruhkan. Demikian pula tidak dimakruhkan berwudhu dengan air dihangatkan dengan api menurut mayoritas ulama (Lihat Al-Mughni: 1/27-29 dan Al-Majmu’: 1/132-137)
3. Air zam-zam
Tidak dimakruhkan berwudhu dan mandi dengan air zam-zam menurut mayoritas ulama, karena tidak adanya dalil yang melarang. (Lihat Al-Mughni: 1/29-30 dan Al-Majmu’: 1/137 )
4. Air musta’mal (yang telah digunakan bersuci dan ketiga sifatnya belum berubah).
Hukumnya tetap suci dan menyucikan, karena Ibnu Abbas (dalam riwayat Muslim) mengatakan bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah mandi dengan sisa air yang telah dipakai mandi oleh Maimunah -radhiallahu anha-, dan bisa dipastikan bahwa percikan air yang Maimunah siramkan ke badannya ada yang masuk kembali ke dalam bejana tersebut. Dan disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih bahwa para sahabat menadah bekas air wudhu Nabi r untuk mereka gunakan untuk berwudhu. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (1/182-184), Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (20/519) serta Asy-Syaukani dan Syaikh Siddiq Hasan Khan dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiah (1/100-102)

Masalah kelima: Kapan air menjadi najis.
Ibnu Al-Mundzir berkata dalam Al-Ijma’ (10): “Para ulama bersepakat bahwa air yang sedikit maupun yang banyak, kalau kemasukan najis yang merubah rasa atau warna atau bau dari air tersebut maka dia menjadi najis.” Ijma’ akan hal ini juga dinukil oleh Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (21/30) dan Ibnu Hubairah dalam Al-Ifshah (1/70).
Tidak ada perbedaan dalam hukum ini antara air yang banyak dengan air yang sedikit, baik yang lebih dari dua qullah (270 liter atau 200 kg) maupun yang kurang darinya, baik yang diam maupun yang mengalir (sungai dan semacamnya). Ini yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Rajab, Ash-Shan’ani, Asy-Syaukani, Muhammad bin Abdil Wahhab, Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Muqbil Al-Wadi’i dan selain mereka -rahimahumullahu jami’an-.
Karenanya kalau ada air di kolam atau baskom atau timba yang kemasukan beberapa tetas kencing atau najis yang lainnya maka dia tidaklah menjadi najis dan tetap bisa dipakai bersuci, selama najis tersebut tidak merubah salah satu dari ketiga sifatnya. Demikian pula tidak dimakruhkan sama sekali untuk bersuci dengan air yang ada di wc umum selama salah satu dari ketiga sifatnya tidak berubah, dan tidak perlu diperhatikan was-was serta keraguan yang dimasukkan oleh setan bahwa mungkin airnya pernah terpercik kencing dan seterusnya.

Incoming search terms:

  • bab thaharah
  • kitab thaharah
  • bab air
  • definisi thaharah
  • apakah air keruh bisa buat mandi wajib
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, November 6th, 2008 at 8:42 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Kitab Thaharah-Bab Air”

  1. abu sa'id said:

    Ustadz yang semoga dilindungi Allah, bukankah akan lebih bermanfaat jika hadits tentang air dua kullah dihubungkan dengan bahwasanya ada pengaruh antara air yang jumlahnya lebih dari dua kullah dengan yang kurangnya dua kullah, yaitu jika lebih maka dia aman dari najis atau jika kurang dia menjadi najis jika kemasukan benda yang najis. Mohon tanggapan, jazakallahu khairan

    Memang ada khilaf dalam masalah ini, hanya saja pendapat yang lebih tepat adalah tidak ada perbedaan antara kurang dari 2 kullah atau lebih. Kapan najis masuk ke dalam air dan tidak merubah salah satu dari ketiga sifatnya maka air itu tetap suci walaupun jumlahnya di bawah 2 kullah. Dan kapan najis tersebut merubah sifatnya maka air itu menjadi najis walaupun jumlahnya di atas 2 kullah. Karena ukuran 2 kullah ini tidak berpengaruh -menurut pendapat yang paling kuat- maka sengaja kami tidak menyebutkan hadits itu di sini. Wallahu a’lam

  2. foel said:

    pak ustad yang saya hormati ….kalow pendapat pak ustad bahwa tidak ada perbedaan antara kurang dua kulah dengan yang lebih……kenapa tuch di bahasannya di bedakan-bedakan antara 2 kulah dan lebih ….udah aja tuh yang penting ada airnya (logikanya).
    tolong cantumkan hadistnya….byar jelas.
    byar gak bingung.
    by.s tahap belajar.

    Kami tidak membeda-bedakan antara 2 kullah dengan selainnya. Artikel di atas hanyalah penjelasan global tentang air, insya Allah secara rinci akan dibahas pada tempatnya.

  3. DAVID said:

    maaf,
    saya bertanya kepada jenengan dan abu sa’id said ;
    APA ITU KULLUH ?
    SEBERAPA BESAR 2 KULLUH ITU ?

    Ada banyak pendapat di kalangan ulama mengenai berapa 2 qullah itu. Hanya saja setiap dari pendapat itu tidak ada yang lebih pantas diikuti karena semua tidak membawakan dalil yang jelas.

  4. evin said:

    assalaamulaik…
    pertnyaan saya ustadz:

    1.jadi kalau ustadz,apabila ada bak mandi yang kemasukan najis yg sebelumnya tdk berisi air,kemudian diisi air sampai penuh,dan ketiga sifat air tdk berubah,apakah air tersebut suci dan tetap bisa dipakai bersuci?

    2.kalau ada air d bak mandi,yang kemasukan najis trus merubah ketiga sifat air,akan tetapi karena air di kran jalan terus,sehingga menyebabkan air tersebut bersih kembali,dalam arti,ketiga sifat air mnjdi normal kembali(tdk ada bau,warna kembali jernih,rasanya kembali netral)apakah air tersebut bisa kembali dipakai bersuci?

    trimakasih banyak penjelasannya ustdadz,
    wassalaam…

    Waalaikumussalam.
    Ya airnya tetap suci dan boleh dipakai bersuci, ini untuk kedua pertanyaan di atas

  5. evin said:

    artinya ustaz,karena air tersebut suci dan boleh dipakai bersuci,artinya air tersebut tidak najis kan ustaz?

    Ya, jelas.

  6. prasetyo said:

    assalamualaikum
    ustad bagaimana hukumnya kotoran burung? najiskah?

    Waalaikumussalam.
    Semua kotoran dari hewan yang boleh dimakan itu suci, dan semua kotoran dari hewan yang tidak bisa dimakan itu najis.

  7. Delila said:

    pak udtad kalo air yang keluar dari tanah agak keruh bolehkah dipakai bersuci?

    Selama dia masih dinamakan air, maka itu tetap boleh dipakai bersuci.

  8. mahdiyah said:

    ustadz,kalo kotoran curut/tikus apa najis? bgmana saat mencebok anak,kita tpercik air,apa bgn yg kena percikan jd najis?

    Kotoran tikus adalah najis, wallahu A’lam.
    Tangan tidak menjadi najis karena hal itu.