Kewajiban Menaati Pemerintah

August 15th 2011 by Abu Muawiah |

15 Ramadhan

Kewajiban Menaati Pemerintah

Di antara pokok-pokok akidah ahlissunnah adalah mendengar dan taat kepada pemerintah muslim pada perkara-perkara yang bukan maksiat. Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa`: 59)
Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah pemerintah berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Hal ini juga ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, dan siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 3417)
Dari Nafi’ bin Umar radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 3441)
Yakni berbaiat kepada penguasa jika mereka memintanya. Karenanya baiat kepada selain pemerintah merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada mereka.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan jama’ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 3436)
Yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang pemimpin negara yang syah.
Sementara makna ‘mati jahiliah’ adalah mati seperti keadaan orang jahiliah yang mereka ini tidak mau tunduk kepada seorang penguasa. Jadi kalimat ini bukanlah pengkafiran kepada pelakunya.
Maka semua dalil di atas memerintahkan setiap muslim dan muslimat untuk taat kepada pemerintahnya dan diharamkan atas mereka untuk tidak taat kepadanya.

Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah walaupun pemerintah itu berlaku zhalim kepada rakyatnya.
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
“Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme dan perkara lain yang kalian ingkari (dari pemerintah)”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang baginda perintahkan untuk kami (bila zaman itu kami alami)?” Beliau menjawab: “Kalian tunaikan hak-hak (pemerintah) yang menjadi kewajiban kalian dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 3335 dan Muslim no. 3430)
Hadits di atas menjelaskan bahwa kewajiban kita taat kepada penguasa bukan semata-mata karena penguasa berbuat baik dan melindungi kita, akan tetapi juga karena itu adalah perintah Allah dan sudah menjadi hak mereka. Karenanya walaupun mereka tidak memenuhi kewajiban mereka melindungi dan berbuat baik kepada rakyat dan mereka menzhalimi hak rakyatnya, maka itu bukan menjadi alasan kita juga tidak memenuhi kewajiban kita kepada Allah, karena kedua masalah ini berbeda.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapapun yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tak disukainya, hendaklah ia bersabar terhadapnya, sebab siapa yang memisahkan diri sejengkal dari jama’ah lalu dia mati, kecuali dia mati seperti mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 6531 dan Muslim no. 3438)
Hikmah dari bersabar dari kezhaliman pemerintah di antaranya:
1.    Menghapuskan dosa-dosa. Karena setiap musibah dan kezhaliman yang menimpa seorang muslim adalah penggugur dosa baginya.
2.    Menambah pahala dan keutamaan. Karena kesabaran adalah hal yang wajib atas setiap takdir yang menyakitkan, dan seseorang akan diganjar pahala dengannya.
3.    Mencegah terjadinya mafsadat dan kerusakan yang lebih besar serta menjaga dari tertumpahnya darah kaum muslimin. Jika seorang tidak bersabar lalu mencoba untuk ‘mengganggu’ penguasanya karenanya, maka yang timbul hanyalah pertumpahan darah sesama kaum muslimin.

Kemudian, walaupun kita diperintahkan untuk menaati pemerintah, akan tetapi pemerintah itu adalah manusia biasa yang bisa berbuat benar dan bisa juga berbuat salah. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam telah membatasi ketaatan kepada mereka hanya dalam perkara kebaikan dan bukan dalam perkara maksiat. Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu hanya dalam perkara kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6716 dan Muslim no. 3424)
Dari Ali radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad no. 1041)

Kemudian, dengan menaati dan mendengar kepada penguasa maka akan terwujud berbagai maslahat yang tidak terhingga. Akan terwujud keistiqamahan dalam agama, ketenangan dalam beribadah, dan teraturnya setiap urusan keduniaan manusia. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka (pemerintah) mengatur 5 perkara dari urusan kita: Shalat jumat, shalat jamaah, shalat id, jihad, dan penegakan hukum had. Demi Allah, agama tidak akan tegak kecuali dengan bantuan mereka walaupun mereka jahat atau zhalim. Demi Allah, apa yang Allah perbaiki dengan perantaraan mereka (pemerintah) itu lebih banyak dibandingkan kerusakan (kezhaliman) yang mereka perbuat.”
Sebagian ulama pernah berkata, “60 tahun bersama pemerintah yang zhalim itu lebih baik daripada 1 malam tanpa pemerintah.”
Ini tentunya adalah hal yang jelas. Karena dengan adanya pemerintah maka kezhaliman dan kekacauan di dalam masyarakat bisa dicegah dan terkendali. Bayangkan saja jika 1 malam tidak ada yang berkuasa dan tidak ada aturan, dikatakan kepada setiap orang: Silakan berbuat sesuka kalian mala mini karena tidak ada hukuman yang dijatuhkan atas kalian. Tidak bisa dibayangkan bagaimana besarnya kerusakan yang akan terjadi, berapa banyak nyawa yang akan melayang, berapa banyak kehormatan yang akan dilanggar, berapa banyak harta yang akan dirampas, dan berapa banyak bangunan yang akan hancur. Na’udzu billahi min dzalik.
Imam Abdullah bin Al-Mubarak pernah berkata dalam 3 bait syair:
“Sesungguhnya khilafah adalah tali Allah maka berpegang teguhlah dengannya, siapapun khalifahnya.
Betapa banyak kejelekan yang Allah cegah menimpa agama kita dengan perantaraan pemerintah, hal itu sebagai rahmat dari-Nya terhadap kehidupan keduniaan kita.
Seandainya bukan karena adanya khilafah, niscaya jalan-jalan tidak akan ada yang aman, dan niscaya orang-orang lemah di antara kita akan menjadi mangsa bagi orang-orang kuat di antara kita.”
Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari berkata dalam Syarh As-Sunnah, “Siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada seorang penguasa muslim maka dia adalah seorang khawarij, dia telah memecahkan tongkat persatuan kaum muslimin, dia telah menyelisihi sunnah, dan matinya seperti mati orang jahiliah.
Tidak halal mengkudeta pemerintah dan keluar dari ketaatan kepada mereka, walaupun mereka berbuat zhalim. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Bersabarlah walaupun pemerintahnya adalah budak dari Habasyah.” Dan juga sabda beliau kepada para sahabat Anshar, “Bersabarlah kalian sampai kalian bertemu denganku di telaga.”
Tidak ada di dalam sunnah (Nabi) mengkudeta pemerintah, karena perbuatan itu akan menimbulkan kerusakan agama dan dunia.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 15th, 2011 at 7:26 pm and is filed under Aqidah, Manhaj, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Kewajiban Menaati Pemerintah”

  1. falih said:

    Ustadz, bgmn hukumnya menambang batubara secara ilegal? Pemerintah mensyaratkan bbrp persyaratan utk bisa menambang secara legal, namun itu tdk diindahkan oleh penambang2 ilegal. Dalih mereka, yg penting sdh memberikan kompensasi berupa fee lahan kepada pemilik lahan yg ditambang. Jadi tdk perlu pakai izin2 segala.
    Mhn jawabannya. Syukron.

    Hukumnya haram karena telah menyelisihi hak penguasa.

  2. Meika said:

    Ass ustadz, apakah baiat dalam masa sekarang termasuk didalamnya adalah mengikuti PEMILU? bagaimana jika orang yang hendak kita pilih, kita sudah tahu jika orang tersebut sebelumnya telah banyak melakukan kedzaliman?

    Tidak dibenarkan untuk mengikuti pemilu, karena di dalamnya terdapat banyak kerusakan. Silakan baca selengkapnya di sini: http://al-atsariyyah.com/kupas-tuntas-masalah-demokrasi-pemilu-parpol-dkk.html

  3. Rin said:

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Pak ustadz sy ingn mint pndapat’y bpk..
    Jika seorang pimpinan(misal d tmpt kita bkrj) yg kita tahu. Sering memakan hak2 anak buahnya(wkt/tenaga-dluar jm kerja)..,suka ingkar janji, melakukan perbuatan misal korupsi…apakah kita sbg anak buahnya..ikut berdosa?..sedngkn niat kita hanya untuk mencari nafkah & tdk ikut spt halnya yg dlakukan pimpinan trsbt dan apakh gajih yg kita terima halal..
    Terima Kasih atas jawabannya…

    Waalaikumussalam.
    Dosa ditanggung oleh yang mengerjakannya, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.

  4. Anto said:

    Asalamu’alaikum ustadz.
    -Bagaimanakah cara memilih pemimpin di indonesia yg syar’i,sedangkan bangsa indonesia meyakini bahwa kekuasaan tertinggi di tangan rakyat?
    -apakah presiden indonesia yg sekarang ini sudah mengetahui adanya dakwah tauhid ini?apakah beliau sudah pernah mendengar kajian salafi?(semoga beliau di beri hidayah).

    Waalaikumussalam.
    1. Cara memilih pimpinan yang syar’i ada 3:
    a. Ditunjuk/wasiat dari pemerintah sebelumnya.
    b. Ditunjuk oleh para ulama Islam (ahlul halli wal aqdi).
    c. Mengganti pemerintah dengan paksa (kudeta dan semacamnya).
    Cara yang ketiga haram ditempuh, namun jika seandainya ada yang melakukannya dan berhasil, maka dia dianggap syah menjadi pemimpin. Sebagaimana para sahabat mengakui kepemimpinan Muawiah bin Abi Sufyan radhiallahu anhu yang menurunkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu secara paksa.

    2. Wallahu a’lam. Amin.