Kewajiban Memelihara Janggut

February 12th 2010 by Abu Muawiah |

28 Shafar

Kewajiban Memelihara Janggut

Dari Zakariya bin Abi Zaidah dari Mush’ab bin Syaibah dari Thalq bin Habib dari Abdullah bin Az-Zubair dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
قَالَ زَكَرِيَّاءُ: قَالَ مُصْعَبٌ: وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ
“Ada sepuluh perkara dari fitrah: Mencukur kumis, memanjangkan janggut, bersiwak, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), memotong kuku, bersuci dengan air, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’ dengan air (istinja`).”
Zakariya berkata: Mush’ab berkata, “Dan aku lupa yang kesepuluh, kecuali dia adalah berkumur-kumur.” (HR. Muslim no. 261)
Dari Ibnu Umar  dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potonglah kumis dan biarkanlah janggut.” (HR. Al-Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)
Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَعْفُوا اللِّحَى وَخُذُوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى
“Panjangkanlah janggut, cukurlah kumis, dan warnailah uban kalian, serta janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad no. 8318 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1067)

Penjelasan ringkas:
Janggut adalah rambut yang tumbuh di pipi (dari bawah tulang pipi) dan yang tumbuh di dagu. Maka termasuk janggut adalah cambang yang tumbuh di bawah tulang pipi.
Membiarkan janggut dan tidak mencabut atau memangkasnya termasuk dari sunnah fitrah yang diperintahkan oleh Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam-. Karenanya para ulama telah bersepakat akan wajibnya membiarkan janggut dan haramnya mencabut atau memangkasnya. Ijma’ ini dinukil oleh Imam Ibnu Hazm dalam Maratib Al-Ijma’ hal. 157 dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah sebagaimana dalam Al-Ikhtiyarat hal. 19. Dalil akan ijma’ ini adalah hadits-hadits di atas dan yang semisalnya, dan juga karena mencukur janggut merupakan perbuatan menyerupai orang-orang kafir dan juga menyerupai wanita, sementara kedua perkara ini telah dilarang oleh syariat dalam beberapa ayat dan hadits.

Incoming search terms:

  • janggut
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, February 12th, 2010 at 3:30 pm and is filed under Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

32 responses about “Kewajiban Memelihara Janggut”

  1. Hans said:

    Assalamu’alaikum…
    Afwan ustadz,kalau memotong ujung2 jenggot/memangkasnya tp tdk sampai habis dan masih kelihatan panjang,dg tujuan biar kelihatan rapi,hukumnya bagaimana?Jazakumullah khairan…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tetap tidak diperbolehkan karena adanya perintah untuk membiatkan janggut apa adanya. Wallahu a’lam

  2. Irfan said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
    ya ustadz, saya mau bertanya. apakah rambut dibawah bibir termasuk janggut? mohon penjelasannya..Jazakumullah khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh
    Ia, para ulama menyatakan bahwa rambut yang tumbuh di bawah bibir juga termasuk janggut. Wallahu a’lam

  3. ade said:

    Assalamualaikum

    ustad kata ustadz ana katanya memelihara janggut itu mubah…

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Apa yang ustadz antum katakan itu adalah pendapat yang tidak tepat karena adanya perintah langsung dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Dan setiap perintah dari beliau maka hukum asalnya adalah wajib, bukan sunnah apalagi mubah.

  4. dede hermawan said:

    assalamualaikum.
    ust. apakah betul para salafi di indonesia sudah terpecah…dan memasukkan subhat-subhat sehingga orang awam sprti ana ini menjadi bingung.mohon nasehatnya.jazakumullah…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Antum tidak perlu bingung, insya Allah kita tidak akan dimintai pertanggung jawaban dengan sesuatu yang tidak ketahui dan tidak bisa kita pahami, apalagi kalau memang kita belum pantas untuk terjun ke masalah itu.
    Karenanya yang saya nasehatkan kepada antum dan semua orang yang merasa seperti antum adalah hendaknya menyibukkan diri untuk menuntut ilmu yang bisa memperbaiki akidah dan ibadahnya, dan menjauh dari perbedaan pendapat dan perselisihan, karena sungguh larut di dalamnya tidak akan mendatangkan manfaat.

  5. anjas said:

    assalamualaikum.warahmatullah.
    ust.ana bru mlamar pekerjaan,, bgai mna jka prusahaan mnyuruh untk mnckur janggut krna jka tdk ana tdk di trima krja…klo ana di rmh tdk ada yg mmbantu prekonomian kluarga… mhon nsehatnya. jazakumullah…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hendaknya antum jangan berputus asa dari rahmat Allah dan berburuk sangka kepada Allah, seakan-akan Allah hanya memberi rezeki melalui pekerjaan itu, sungguh ini merupakan bentuk berburuk sangka kepada Allah. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan rezeki hamba-hambaNya pada suatu amalan yang terlarang dalam syariat.
    Karenanya hendaknya antum memperkuat tawakkal dan berbaik sangka kepada Allah dan menjauhi semua amalan yang menyelisihi syariat. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.

  6. dede hermawan said:

    assalamualaikm,,ust..pertanyaan ana kluar dri tema,, bgini ana kan msih remaja,, tapi ana slalu mlihat fto2 haram,,pdhl ana sdah brusaha untuk mnghindari,,mhon nsehatnya…

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Hendaknya antum takut kepada Allah yang senantiasa mengawasi antum, buang/hindari semua gambar2 tersebut, dan usahakan semaksimal mungkin jangan sampai ada waktu dimana antum sendirian.

  7. ujang said:

    bismillah…

    kisah u akh anjas: “ada seorang ikhwan yang baru mengenal sunnah, dia bekerja sebagai petugas parkir dgn jabatan supervisor, dia memanjangkan jenggot hingga bbrp x dipanggil pihak perusahaan agar memotong dgn alasan tidak rapi. Ikhwan tsb menjelaskan dgn kalimat yang baik bahwa memanjangkan jenggot adalah wajib hukumnya. Walhasil dia dipecat. Dan dia lebih memilih keluar dari pekerjaannya daripada bermaksiat kepada Alloh Ta’ala. Dan kini dia berdagang”.

    Afwan… mudah2an bisa kita ambil pelajaran dari ikhwan tersebut.

  8. Abidin said:

    Ustadz, mana diantara pendapat ulama yang paling dekat dengan kebenaran,
    Apakah pendapat yang mencukur habis kumis atau mencukur sedikit (tidak sampai habis)?

    Mencukur kumis adalah salah satu sunnah fitrah yang dianjurkan sebagaimana diterangkan dalam sejumlah hadits.
    Dalam mencukur kumis ada tiga konteks dalam riwayatnya, yiatu Al-Qashsh (mencukur/memangkas), Al-Jazz (mencukur), Al-Ihfaa` (mencukur hingga habis), dan juga riwayat berbunyi “Siapa yang tidak mengambil sesuatu dari kumisnya, maka dia bukan dari kami.”

    Riwayat-riwayat tersebut memberi sejumlah hukum,
    1. Perintah mencukur kumis.
    2. Boleh memendekkannya.
    3. Boleh mencukurnya hingga bibir kelihatan (kumis tercukur habis).
    4. Tidak boleh dikerok karena tidak ada dalam riwayat mengeroknya, tidak menggunakan silet maupun selainnya.

    Wallahu A’lam.
    [sumber: http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/650%5D

  9. arief prayitno said:

    Assalamu’alaykum warahmatulahi wabarahkatuh ana ada hubungannya dengan pertanyaan yg diajukan oleh sdr.Hans said mengenai memotong janggut supaya rapi ….. karena yg ana dengar dari kajian ana di NY …untuk menyelisihi janggut yg dipelihara oleh kaum yahudi …..nasrani dan kaum punjabi/singh …kita untuk kaum ikhwan/muslimin harus sepanjang genggaman tangan kita !……mohon penjelasannya …Jazakallah khairon atas jawabannya

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Maaf maksud pertanyaannya tidak jelas

  10. indra said:

    assalamualaikum ustad.
    Saya memelihara jenggot tapi saya selalu memotongnya agar llebih terlihat rapih, soalnya kl tidak dirapihkan akan terlihat berantakan dan saya selalu ditegur oleh keluarga dan pasangan saya. Apa yg harus saya perbuat ?

    Waalaikumussalam.
    Hendaknya kita semua lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia.

  11. Ghazi said:

    Pak Ustadz, apa hukumnya mewarnai jenggot yang ada beberapa lembar berwarna putih (uban)?

    Boleh asalkan tidak dengan warna hitam. Silakan cari artikel tentang itu dalam blog ini, kami lupa judul artikelnya.

  12. Ghazi said:

    Tambahan:
    Hukum mencabut uban (umum)?

    Maksudnya?

  13. abdurahman said:

    ustadz apa hukum mencabut uban ( tambut yang putih, baik rambut: kepala, jenggot, bulu kemaluan dll )?

    Silakan baca artikel ‘makruhnya mencabut uban’.

  14. ridwan said:

    ustad, mencukur bulu kmaluan itu hukumnya apa?
    saya msi bngung?
    jka dprbolehkan, bgaimana cra mncukurnya yang d anjurkan.

    Disunnahkan setiap 40 hari, dan ini termasuk di antara sunnah-sunnah fitrah.

  15. prasetyo said:

    assalamualaikum
    ustad bagaimana dengan rambut/bulu yang tumbuh di leher, atau tepatnya di jakun, apakah itu termasuk janggut? dan bolehkah mencukurnya?

    makasih ustad

    Waalaikumussalam.
    Bukan termasuk janggut jadi boleh dicukur.

  16. rieza said:

    Assalaamu’alaikum ustadz
    Apakah membiarkan jengkot yg tumbuh tdk teratur itu lbh utama drpd merapihkannya demi penampilan yg lbh baik ? Bknnkah Allah lbh menyukai keindahan ? Bknkah Islam sesuai dg tuntutan zaman ? Mohon penjelasannya

    Waalaikumussalam.
    Memang seharusnya janggut dirapikan akan tetapi tidak dengan cara memotongnya. Karena Allah melarang memotongnya maka berarti memotong janggut bukan termasuk keindahan karena Allah mencintai keindahan.

  17. fakir ilmu said:

    Assalamu’alaikum ustadz.
    Apakah memotong janggut benar-benar tidak diperbolehkan secara mutlak??mengingat ada suatu riwayat:
    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Yahya Abu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Hasan, telah mengabarkan kepadaku Al Husain bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Salim Al Muqaffa, ia berkata: saya melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya dan memotong jenggot yang melebihi telapak tangan. Dan ia berkata: Dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau mengucapkan “Dzahabazh zhamaa’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatil ajru insya Allah”(Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insya Allah).
    Diriwayatkan oleh : Abu Daud (2357) Ad-Daruquthni (25) Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya “At-Talkhis Al-Habir” (2/202): (Ad-Daruquthni berkata: sanadnya baik).
    Seandainya memotong janggut mutlak tidak diperbolehkan lalu mengapa Ibnu Umar melakukannya??
    Mohon penjelasannya ustadz.
    Jazakallahu khairan.

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca sedikit keterangan tentang itu di sini: http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3433-hukum-merapikan-jenggot.html

  18. al muslimah said:

    Bismillaah
    Uban yang muncul beberapa helai saja apakah juga disyariatkan untuk diwarnai? Jika ya, apakah mewarnainya dengan mewarnai beberapa helai yang putih itu atau dengan meratakan warna ke semua rambut (termasuk yang hitam)?

    Yang diwarnai hanya uban saja, bukan rambut yang masih hitam.

  19. waroji said:

    bagaimana hukumnya uang pensiunan.

    Jika sumbernya dari pemerintah, maka insya Allah hukumnya halal.

  20. Achmad said:

    Bismillah,

    Ustadz, apakah jambang termasuk janggut?

    Barakallaahu fiika.

    Jika jambangnya berada di bawah tulang pipi, maka itu dianggap janggut. Tapi jika di atasnya maka itu masih terhitung rambut.

  21. avandinata said:

    assalamualaikum wr.wb
    ustad apakah boleh saya bertanya lain dari tema di atas?karena mengganjal d hati

    Waalaikumussalam
    Boleh saja, insya Allah.

  22. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

    Sesuai pertanyaan No. 2, rekan Irfan menanyakan tentang rambut di bawah bibir apakah termasuk janggut?
    Ustadz menjawab, menurut para ulama, rambut di bawah bibir termasuk janggut.

    Saya baca di beberapa blog disebutkan bahwa rambut di bawah bibir biasa disebut sebagai “al anfuqah” dan tidaklah dianggap sebagai bagian dari jenggot. Namun demikian lebih baik dibiarkan (tidak dicukur) kecuali jika perkara tersebut mengganggu orang tersebut.
    Hal ini sesuai dengan fatwa Asy Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin.
    (Sumber: I’laam al-Mu’aasireen bi-Fataawa Ibn ‘Uthaymeen – halaman 217)

    Mohon penjelasannya mengenai fatwa tersebut.

    Terimakasih,
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Wallahu a’lam, demikian yang kami dengar dari sebagian asatidz, dan memang kami belum pernah mendengar pendapat selain dari itu.
    Jazakallahu khairan atas infonya, kami harap antum bisa sekalian mencantumkan teks arabnya agar kami bisa meralat apa yang kami sudah sebutkan jika memang pendapat itu salah.

  23. Abu Ilham said:

    Assalamu’alaikum Ustad, ana mohon ijin copy paste

    Jazakumullohu Khoiron

  24. radhi said:

    bismillah

    Apakah bulu yang tumbuh di leher termasuk jenggot yang tidak boleh dicukur?

    Jazakallahu khairan.

    Tidak termasuk janggut.

  25. Fikar said:

    “Abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu”. HR al Bukhari, Muslim dan al Baihaqi.

    “PELIHARALAH JENGGOT”

    bukan panjangkanlah jenggo/ biarkanlah jenggot… menunjukkan perintah Nabi unutk memelihara menjaga kerapiannya, kebersihannya, dsb.

    Seperti apakah bentuk jenggot yang disukai Allah dan Rasululah? acak acakan atau rapi dan indah?

    Allah SWT itu indah dan senang pada keindahan. (HR. Bukhari Muslim)

    NABI MENCUKUR JENGGOTNYA, MERAPIKANNYA

    “Telah mengkabarkan pada kami Umar bin Harun dari Usamah bin Zaid dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasannya Nabi memangkas sebagian jenggotnya hingga panjangnya sama.”
    [HR. at-Tirmidzi]

    Maka fatwa yang mengharamkan mencukur jenggot bertentangan dengan hadits di atas

    Fatwa haram mencukur jenggot bertentangan juga dengan fatwa ulama terdahulu

    Imam Nawawi mengatakan, “mencukur, memotong, dan membakar jenggotadalah makruh. Sedangkan memangkas kelebihan dan merapikannya adalah perbuatanyang baik. Membiarkannya panjang selama satu bulan adalah makruh, seperti makruhnyamemotong dan mengguntingnya.” (Syarh Shahih Muslim : vol. 3: 151)

    Kesimpulan: Mencukur untuk merapikan hukumnya sunnah

    Kami tidak menafikan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Hanya saja apa yang kami tampilkan adalah apa yang kami yakini dan insya Allah merupakan pendapat yang paling tepat.

  26. abu hamzah said:

    afwan ana tanya. apakah tahi lalah yg tumbuh di dagu dan tumbuh rambut boleh d potong, melihat d bagiat dagu lain tidak tumbuh rambut dan saya risih dg tahi lalat yg tumbuh rambut d dagu ini. Syukron.

    Wallahhu a’lam. Itu termasuk janggut jadi tidak diseharusnya dipotong.

  27. abu hamzah said:

    ustadz ana minta dalil tahi lalat adalah janggut

    Memang ada dalilnya? Ana belum pernah dengar.

  28. fitra fadilana said:

    Saya belum tahu kalo hukum memotong janggut itu haram. Apa ada ayat Al Quran yang menyatakan demikian, ustadz?

    Ayat-ayat umum yang memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (MT)

  29. arie said:

    Assalamu’alaikum wr. Wb
    Ustadz mau tanya kalo mengobati jenggot agar lebat boleh tidak???????????

    Waalaikumussalam.
    Hendaknya itu dihindari, dan biarkan janggut tumbuh dengan sendirinya.

  30. wahid said:

    Kutipan dari artikel :

    “Janggut adalah rambut yang tumbuh di pipi (dari bawah tulang pipi) dan yang tumbuh di dagu. Maka termasuk janggut adalah cambang yang tumbuh di bawah tulang pipi.”

    # Pertanyaan 1: apakah yg dimaksud dengan tulang pipi = tulang rahang, yaitu tulang yang kalau mulut bergerak ikut bergerak juga ?

    Kutipan dari artikel :

    “Ada sepuluh perkara dari fitrah: Mencukur kumis, memanjangkan janggut, bersiwak, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), memotong kuku, bersuci dengan air, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’ dengan air (istinja`).”

    # Pertanyaan 2: bolehkan menghilangkan / memangkas bulu ketiak dan bulu kemaluan dengan menggunakan pisau cukur seperti silet yang penggunaannya dengan cara dikerok ?
    Sebab kalau memakai alat seperti gunting sulit untuk bisa memangkas dengan maximal dan sangat beresiko terluka

    jazakallahu khair ya ustadz

    1. Bukan, tulang pipi itu, tulang yang pertama kita sentuh kalau jari kita bergerak dari jambang ke bawah.
    2. Boleh, tidak ada masalah.

  31. Makmun bin Mahmud said:

    Bismillaah…
    Ahmad bin Qaasim Al-’Abbaadi Asy-Syafi’i
    berkata : ﻡﺎﻣﻹﺍ ﻥﺇ :ﺔﻳﺎﻔﻜﻟﺍ ﺔﻴﺷﺎﺣ ﻲﻓ ﺔﻌْﻓِّﺮﻟﺍ ﻦﺑﺍ ﻝﺎﻗ ﻖﻠﺣ ﻢﻳﺮﺤﺗ ﻰﻠﻋ ﻡﻷﺍ ﻲﻓ َّﺺﻧ ﺪﻗ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﻲﻓ ُّﻲﻤْﻴَﻠُﺤﻟﺍﻭ ُّﻲِﺸَﻛْﺭَّﺰﻟﺍ َّﺺﻧ ﻚﻟﺬﻛﻭ ، ﺔﻴﺤﻠﻟﺍ ﻲﻓ ُّﻲﺷﺎﺸﻟﺍ ُﻝﺎَّﻔَﻘﻟﺍ ﻩُﺫﺎﺘﺳﺃﻭ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ﺐَﻌُﺷ ﺔﻴﺤﻠﻟﺍ ﻖﻠﺣ ﻢﻳﺮﺤﺗ ﻰﻠﻋ ﺔﻌﻳﺮﺸﻟﺍ ﻦﺳﺎﺤﻣ ”Telah berkata Ibnur-Rif’ah dalam kitab
    Haasyiyah Al-Kifaayah : ’Sesungguhnya
    Imam Asy-Syafi’i telah menegaskan dalam
    kitab Al-Umm tentang keharaman
    mencukur jenggot. Dan begitu pula yang
    ditegaskan oleh Az-Zarkasyi dan Al-Hulaimi dalam kitab Syu’abul-Iman, dan gurunya
    (yaitu) Al-Qaffaal Asy-Syaasyi dalam kitab
    Mahaasinusy-Syar’iyyah atas keharaman
    mencukur jenggot” [Hukmud-Diin fil-
    Lihyah wat-Tadkhiin oleh ’Ali Al-Halaby
    hal. 31].

  32. Makmun bin Mahmud said:

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    rahimahullah : Diharamkan mencukur
    jenggot. Berkata Imam Qurtubi : Tidak
    boleh mencukurnya (jenggot),
    mencabutnya dan mengguntingnya. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan ijma’ bahwa memotong kumis dan memanjangkan jenggot adalah wajib. Beliau berdalil dengan hadits Ibnu Umar :
    “Selisihilah orang musyrik, potonglah
    kumis dan panjangkan njenggot.” Dan
    hadits Zaid bin Arqam yang marfu’ : “Barang siapa yang tidak memotong
    kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” Dishahihkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya. Dalam kitab Al Furu’ : Ungkapan
    ini menurut ulama kami menunjukkan
    haram. Dalam kitab Al Iqna’ : Diharamkan untuk dicukur. Dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radhiyallaahu anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang mencukur rambut (jenggotnya) maka tidak ada baginya bagian di sisi Allah.” Berkata Zamahsyari : Yakni mencukurnya dari pipi atau menyemirnya dengan warna hitam. Berkata (Ibnul Atsir) dalam Nihayah : mencukurnya dari pipi atau mencabutnya atau menyemirnya dengan warna hitam.