Kewajiban Ittiba’ dan Menjauhi Bid’ah

July 29th 2010 by Abu Muawiah |

16 Sya’ban

Kewajiban Ittiba’ dan Menjauhi Bid’ah

Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)
Allah Ta’ala juga berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa`: 65)
Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari no. 2550 dan Muslim no. 1717)
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Dalam satu riwayat dari Imam Muslim no. 1718, “Siapa saja yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”.
Dari Irbadh bin Sariah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahau alaihi wasallam berwasiat:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ, تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Saya berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar, dan taat (kepada pemerintah) walaupun (pemerintah tersebut) seorang budak Habasyi. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tetap hidup di antara kalian, maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian (untuk mengikuti) sunnahku dan sunnah khulafa` yang mendapatkan hidayah dan petunjuk. Berpegangteguhlah kalian dengannya serta gigitlah ia dengan gigi geraham kalian”. (HR. Abu Daud no. 4607, At-Tirmidzi no.2676, dan Ibnu Majah no. 43, 44 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no.2455)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
وَفِي رِوَايَةٍ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَفِي رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Muslim: 6/242)
Dalam satu riwayat, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah”.
Dan dalam riwayat An-Nasa`i no. 1578, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan berada dalam neraka”.

Penjelasan ringkas:
Agama Islam dibangun di atas dua pondasi: Ikhlas dan mengesakan Allah dalam ibadah dan mencontoh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam prakteknya. Karenanya setiap ibadah, baik yang besar maupun yang kecil, yang nampak maupun tersembunyi, ibadah harta maupun ibadah badan, dan siapapun pelakunya, jika semua amalan tersebut tidak terdapat kedua pondasi ini di dalamnya maka amalan itu tertolak secara mutlak. Hal itu karena dia telah mengerjakan ibadah tidak sebagaimana yang diperintahkan, sementara mengerjakan suatu ibadah tidak sesuai dengan yang diperintahkan sama saja berarti dia belum mengerjakannya. Amalan seperti ini dinamakan sebagai bid’ah, dan bid’ah dalam agama semuanya tertolak karena merupakan bentuk kesesatan.

Pembahasan lengkap mengenai ittiba’ bisa dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/mewujudkan-mutaba’ah-dalam-ibadah.html
Pembahasan lengkap mengenai bid’ah bisa dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/meluruskan-pemahaman-tentang-bidah.html

Incoming search terms:

  • ittiba
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, July 29th, 2010 at 8:14 pm and is filed under Aqidah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Kewajiban Ittiba’ dan Menjauhi Bid’ah”

  1. ak.sembiring said:

    Assalamu’alaikum Ustadz.
    Ada editan sedikit, ana kira belum sempurna terjemahnya.
    Allah Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)

    kurang kalimat: “Maka Ikutilah aku (Muhammad)”
    setelah kalimat, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah …”

    sekian edit, afwan. Barokallahufiikum.

    Waalaikumussalam
    Jazakallahu khairan atas editannya.