Keutamaan Tahlilan

November 15th 2010 by Abu Muawiah |

9 Dzulhijjah

Keutamaan Tahlilan

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قالَ: (لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير) فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مائةُ سَيِّئَةٍ وكانتْ له حِرْزاً مِنَ الشَّيْطانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يَمْسِي وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. وَمَنْ قالَ: (سبحان الله وبحمده) في يومٍ مِائةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطاياهُ وَلَوْ كانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Barangsiapa yang membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR (tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu) dalam sehari 100 kali, maka bagaikan telah membebaskan 10 orang budak, ditetapkan untuknya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 kejelekan, dia mempunyai perlindungan dari setan sepanjang hari itu sampai sore, dan tidak ada seorangpun yang bisa mendatangkan amalan yang lebih baik daripada apa yang dia amalkan kecuali orang yang membaca bacaan ini lebih banyak daripada dirinya. Dan barangsiapa yang membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Aku menyucikan Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) dalam sehari 100 kali, maka semua kesalahannya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim no. 2691)
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قالَ: (لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير) عَشْرَ مَرّاتٍ كانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْماعِيْلَ
“Barangsapa yang membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR (tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu) 10 kali maka dia bagaikan memerdekakan 4 jiwa dari anak keturunan Ismail.” (HR. Muslim no. 2693)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَأَنْ أَقُوْلَ: (سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر) أَحَبُّ إِلَيَّ مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Saya membaca: ‘SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR’, lebih saya senangi daripada semua yang matahari terbit atasnya (dunia seisinya).” (HR. Muslim no. 2695)

Penjelasan ringkas:
Yang kami maksud dengan tahlilan di sini adalah mengucapkan tahlil, sementara tahlil sendiri adalah ucapan ‘LAA ILAHA ILLALLAH’. Tahlil di antara zikir yang paling besar keutamaan dan kemuliaannya, karena di dalamnya terkandung pernyataan pengakuan keesaan Allah Ta’ala dalam ibadah dan pengakuan akan sucinya Allah Ta’ala dari semua sekutu. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan untuk membacanya dan menjanjikan pahala yang besar karenanya.

Incoming search terms:

  • keutamaan tahlilan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, November 15th, 2010 at 8:44 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

12 responses about “Keutamaan Tahlilan”

  1. amrih said:

    dari ketiga riwayat tentang dzikir di atas, waktu pelaksanaannya apakah tertentu atau boleh setiap saat…? jazakallah khairan…

    Boleh setiap saat karena tidak ada dalil yang membatasinya, wallahu a’lam

  2. nyata dalam maya said:

    afwan hendaknya judulnya diganti….bukan keutamaan tahlilan..karena orang awwam yang membacanya mengira akan seperti tahlilan (bid’ah) yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat awwam…

    Maaf, sengaja judulnya seperti itu untuk menarik pembaca.
    Insya Allah perkiraan seperti itu akan hilang jika penjelasan di bawahnya dibaca.
    Ala kulli hal, terima kasih atas sarannya.

  3. Budi Fals said:

    penjelasan ringkas diatas merupakan penjelasan yang sangat jelas ada. namun fakta yg sering muncul di masyarakat adalah tahlilan sering kali dikaitkan dengan acara ritual salah dalam kematian seseorang. salah yg dimaksud disini adalah pemaksaan secara halus agar keluarga yg ditinggal mati tersebut harus mampu untuk membiayai semua jamuan bagi orang2 yg ikut dalam acara tahlilan bahkan sampai beberapa harinhya. sungguh ini sangat men-dholimi pihak keluaraga yg sudah kesusahan atas kematian kerabatnya. ini jelas bid’ah yg bukan khasanah lagi dan sudah membudaya. seharusnya agama jadi imam lalu budaya jadi makmum dan bukan sebaliknya yg terjadi sekarang. setidaknya meski acara tahlilan itu diadakan seharusnya tanpa perjamuan makan-minum yg disediakan pihak yg tertimpa kesusahan atau sama sakali ditiadakan perjamuan lalu luruskan kembali niat tahlinya. akankah amal ibadah kita di Ridhoi Allah bila didalamnya ada yg ter-dholimi?
    Wallahu A’lam

  4. lia said:

    Terima kasih udh kasih kesempatan lia utk copas artikelnya… sekali lg terima kasih.

  5. ziad said:

    barakallahufiikum atas ilmux

  6. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullah,

    Ustadz, kemarin tetangga depan rumah (persis)meninggal dunia dan mengadakan acara tahlilan.
    Saya selaku tetangga merasa bimbang.

    Satu sisi, menurut pendapat ulama tahlilan yang dimaksud adalah amalan bid’ah, satu sisi lagi tetangga-tetangga yang lain ikut acara tersebut.
    Kami mengambil sikap untuk tidak ikut, sehingga bisa dikatakan hanya kami saja yang tidak menghadiri acara tersebut.

    Apakah tindakan saya bijaksana atau kurang bijaksana? Mengingat meskipun amalan tahlilan bid’ah tetapi mereka adalah tetangga yang paling dekat dengan kami.

    Apakah hukum meninggalkan bid’ah sebanding dengan “meninggalkan” muamalat kepada tetangga?
    (kami meninggalkan bid’ah, tetapi kami juga “seperti” menjauhi tetangga-meskipun istri sudah bicara kepada tetangga tersebut bahwa kami tidak bisa menghadiri acara tahlilan tersebut)- kami berasumsi bahwa (mungkin) ada tetangga yang menganggap kami eksklusif.

    Adakah “jalan tengah” yang bisa diambil?

    mohon penjelasannya.

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Ta’ziah (mendatangi dan menghibur keluarga mayit) adalah sunnah. Karenanya dia sepantasnya mendatangi rumah orang yang meninggal tersebut walaupun hanya sebentar untuk memberikan pernyataan belasungkawa atau menghiburnya atau membawakannya sesuatu. Ini semua adalah hal yang disyariatkan.
    Maka perbuatan anda di atas adalah keliru dan bahkan bisa menimbulkan kesan jelek pada dakwah.

  7. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Afwan Pak Ustadz, maksud saya adalah tidak menghadiri acara tahlilannya (saja), sedangkan waktu saat meninggal, saya datang (ta’ziah), dan ikut shalat jenazah.

    Terimakasih atas penjelasannya.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

  8. retno said:

    assalamu’alaikum, ustadz

    minggu lalu salah satu keluarga saya meninggal. kalo saya ikut yasinan dalam rangka ingin mendoakan si mayit dan ikut bela sungkawa. untuk bacaan yang tidak ada dasarnya tidak saya baca. apakah saya sudah termasuk melakukan bid’ah ?

    Waalaikumussalam.
    Amalan itu adalah bid’ah, karenanya tidak sepatutnya anda melakukannya. Untuk mendoakan mayit, anda bisa melakukannya kapan dan dimana saja.

  9. agustian said:

    assalamu’alaikum, ustd
    syukron, sudah mao berbagi ilmu.
    Jangan lupa update truuuz yaa….

  10. fahrezi said:

    Ass. P’ Ustadz saya mau tanya bagaimana bakti seorang anak kepada orang tua yg sudah meninggal. Makasih Wass.

    Dengan memperbanyak ibadah. Karena semua pahala ibadah anak secara otomatis juga akan didapatkan oleh orang tuanya, tanpa perlu si anak meniatkannya.

  11. zuhri musonif said:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    maaf ustadz, untuk pertanyaan/penjelasan no. 7 dari sdr. Rachmat mohon dijelaskan/dijawab kembali krn, yg beliau tanyakan bukan ta’ziahnya namun dtg dalam pengajian/tahlilan yang hukumnya sudah dijelaskan ustadz adalah bid’ah.
    jazzakullah

    Waalaikumussalam.
    Saya rasa jawaban saya sudah jelas. Memang tahlilan itu bid’ah, akan tetapi kita tidak bisa meninggalkan sunnah ta`ziyah sama sekali, apalagi dia tetangga terdekat. Maka jalannya seperti yang saya sebutkan di situ.

  12. yusuf said:

    assalamualaikum, ustadz.saya ingin bertanya, apa yang harus saya lakukan ketika saya diundang untuk menghadiri acara tahlilan kematian hari ke 1 sampai 7 dan hari ke40 dst? karena semenjak saya mengenal manhaj salaf saya jadi mengerti bahwa perkara tsb bid’ah, tetapi saya bingung mensikapinya ktk diundang.

    Waalaikumussalam.
    Ngomong saja terus terang, bahwa anda tidak meyakini itu bagian dr agama. Tapi tetap anda tunjukkan belasungkawa anda dgn cara yg lain, semisal datang ke rumah jenazah, bukan pada saat acara tahlilan lalu memberikan bantuan dan santunan.