Keutamaan Sifat Kasih Sayang

June 26th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

13 Rajab

Keutamaan Sifat Kasih Sayang

Allah Ta’ala Ar-Rahman berfirman tentang Nabi-Nya:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Beliau mengasihi dan menyayangi kaum mukminin.” (QS. At-Taubah: 128)
Dan Allah Ta’ala Ar-Rahim juga menyifati hamba-hambaNya yang beriman:
رُحَمَاء بَيْنَهُمْ
“Saling merahmati di antara mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Dari Jarir bin Abdullah radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ
“Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 7276)
Dari Usamah bin Zaid radhiallahu anhu dia berkata:
كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَسُولُ إِحْدَى بَنَاتِهِ يَدْعُوهُ إِلَى ابْنِهَا فِي الْمَوْتِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ فَأَعَادَتْ الرَّسُولَ أَنَّهَا قَدْ أَقْسَمَتْ لَتَأْتِيَنَّهَا فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَدُفِعَ الصَّبِيُّ إِلَيْهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ كَأَنَّهَا فِي شَنٍّ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
“Kami pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika utusan salah seorang di antara puteri beliau datang untuk memanggil beliau karena anak laki-lakinya sakit parah. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada sang utusan, “Pulanglah engkau ke puteriku, dan beritahukanlah kepadanya bahwa: Hanya milik Allah yang diambil-Nya, hanya milik-Nya apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ada ajal yang ditetapkan. Suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap pahala.” Tidak berselang lama, puteri beliau kembali mengutus utusannya disertai sumpah yang isinya, “Anda harus mendatanginya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersama Sa’ad bin Ubadah dan Muadz bin Jabal. Lalu cucu beliau itu diserahkan kepada beliau sedang nafasnya sudah terengah-engah bagaikan orang yang kelelahan, maka berlinanglah air mata beliau. Sa’ad bertanya, “Wahai Rasulullah, (air mata) apa ini?” Nabi menjawab. “Ini adalah rahmat yang Allah letakkan dalam hati-hati hamba-Nya. Dan sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang.” (HR. Al-Bukhari no. 7448 dan Muslim no. 923)
Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ
“Rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka.” (HR. Abu Daud no. 4942, At-Tirmizi no. 1923, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7467)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar dia mendapati seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata, “Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi”. Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air, dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Karenanya Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan berbuat baik terhadap hewan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Terhadap setiap makhluk bernyawa diberi pahala”. (HR. Al-Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Penjelasan ringkas:
Agama kaum muslimin dibangun di atas rahmat. Rabb mereka adalah Ar-Rahman (yang Maha luas rahmat-Nya) dan Ar-Rahim (yang rahmat-Nya sampai ke seluruh makhluk), Nabi mereka rahim (menyayangi) terhadap mereka, dan Allah Ta’ala menyifati mereka sebagai umat yang saling saying-menyayangi di antara mereka.

Sifat menyayangi adalah sifat yang terpuji yang dicintai oleh Allah, dan Dia mengabarkan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam bahwa Dia hanya akan merahmati orang-orang yang beriman lagi merahmati sesama makhluk. Karenanya Allah Ta’ala akan memberikan pahala atas setiap kasih sayang yang diberikan oleh seorang muslim kepada makhluk yang lain baik itu kepada kerabatnya maupun kepada yang bukan kerabatnya, bahkan walaupun itu kasih sayangnya itu dia berikan kepada binatang yang dia pelihara ataukah kepada binatang yang liar. Dan sebaliknya Allah Ta’ala akan mencabut kasih sayang-Nya dari orang yang tidak menyayangi, sehingga jadilah dia sebagai orang yang celaka di dunia dan di akhirat karena telah diharamkan dari kasih sayang Allah Ta’ala.

Di antara bentuk kasih sayang adalah menangis ketika kehilangan sesuatu yang disayanginya. Hanya saja dengan tangisan yang tidak sampai dalam jenjang meratapi atau tangisan yang menunjukkan ketidaksabaran dia menerima takdir. Jadi, menangisi orang yang meninggal bukanlah hal yang terlarang dengan dua syarat di atas, bahkan menangis karena orang yang disayangi meninggal merupakan bentuk kelembutanhatinya dan menunjukkan adanya rahmat di dalam hatinya. Justru yang dikhawatirkan adalah ketika seorang muslim kehilangan rasa kasih sayang dan rahmat di dalam hatinya sehingga hatinya menjadi keras dan tidak terpengaruh dengan sesuatu yang lembut seperti lantunan ayat Al-Qur`an, wal ‘iyadzu billah.

Incoming search terms:

  • sifat kasih sayang
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, June 26th, 2010 at 2:55 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Keutamaan Sifat Kasih Sayang”

  1. Roni said:

    Assalamu’alaikum. apa kabar Ustadz?
    Dalam kesempatan ini ana mau nanya, mengenai hadits anjing yang kehausan, apakah orang yang memberi minum kepada anjing yang kehausan tersebut seorang laki-laki atau wanita pelacur. sebab ana pernah baca di hadits Bukhari-Muslim (afwan ana lupa hadits nomor berapa) bahwa kisah tersebut adalah kisah pada zaman bani Israil, tapi berbeda pelakunya. yang memberi minum kepada anjing tersebut adalah wanita pelacur. Mohon penjelasannnya

    Waalaikumussalam. Bikhair walhamdulillah
    Itu hadits yang lain, berbeda haditsnya.

  2. Roni said:

    Jazakumullahu khair

    Jazakumullahu khairan

  3. Abu Dzulfiqar said:

    Bismillah…

    Ustadz,
    Ibu saya telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Rasa kehilangan ini terasa berat sekali, tidak seberat ketika saya kehilangan mendiang ayah saya.

    Hingga kini, dada saya terasa panas apabila mengingat beliau. Panas karena menyesali bahwa saya telah kehilangan salah satu pintu menuju surga, kurangnya waktu bersama beliau (dikarenakan saya bekerja dilain kota), belum dapatnya saya membahagiakan beliau.

    Hingga kini saya belum bisa memaafkan diri saya Ustadz. Dikarenakan saya merasa tergolong anak durhaka karena belum sempatnya membahagiakan beliau. Hal ini membuat saya menangis terus.

    Yang ingin saya tanyakan:

    1. Apakah perbuatan saya ini tergolong niyahah (meratapi) ?
    2. Ketika saya men-talqin-kan ibu saya, saya ucapkan pula arti dari kalimat talqin tersebut. Apakah saya telah berbuat bid’ah?

    Berilah saya nasehat wahai Ustadz…

    Jazakumullahu khairan

    1. Ya, itu bisa tergolong niyahah dan tidak bersabar terhadap takdir. Dan menyesali diri dan takdir yang sudah terjadi adalah dosa besar.
    2. Tidak apa-apa, itu bukan tergolong bid’ah. Bahkan bisa dianjurkan terkhusus jika si ibu tidak paham mengenai makna yang benar dari kalimat tauhid.