Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

August 1st 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

19 Sya’ban

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56)
Imam Al-Bukhari berkata, “Abul Aliyah berkata, “Shalawat Allah Ta’ala kepada beliau adalah pujian-Nya kepada beliau di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat (kepada beliau) adalah bermakna doa (mereka untuk beliau).”
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشَرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya 10 kali”. (HR. Muslim: 384)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَليلَةَ الْجُمُعَةِ, فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشَرًا.
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali”. (HR. Al-Baihaqi (3/249) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1407)
Dari Ali bin Al-Husain radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda
لاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْداً، وَلاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً، وَصَلُّوْا عَلَيَّ وَسَلِّمُوْا حَيْثُمَا كُنْتُمْ، فَسَيَبْلُغُنِيْ سَلاَمُكُمْ وَصَلاَتُكُمْ.
“Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai id dan jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kubur. Bershalawat dan bertaslimlah (ucapkan salam) kalian kepadaku dimanapun kalian berada karena salam dan shalawat kalian akan sampai kepadaku”. (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Tahdzirus Sajid hal. 98-99)
Menjadikannya sebagai id misalnya mengunjunginya pada waktu-waktu tertentu.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ
“Tidak ada seorang pun yang mengucapkan taslim kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan rohku sehingga saya bisa membalas taslimnya”. (HR. Abu Daud no. 2041, Ahmad: 2/527, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5679)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Kecelakaan atas seorang hamba yang namaku disebut di sisinya lantas dia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. At-Tirmizi no. 3545 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Kami’ no. 3510)

Penjelasan ringkas:
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- menyatakan dalam Tafsirnya (3/528) tentang ayat di atas, “Maksud dari ayat ini adalah bahwa Allah  mengabarkan kepada para hamba-Nya mengenai kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di hadapan penghuni alam atas (langit). Bahwa Dia memuji-mujinya di hadapan para malaikat yang didekatkan dan bahwa para malaikat juga bershalawat kepada beliau. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan penghuni alam bawah (bumi) untuk mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau, sehingga berkumpullah pujian dari penghuni kedua alam -atas dan bawah- seluruhnya kepada beliau”.

Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam mempunyai banyak hak dari umatnya. Di antara hak tersebut adalah cintai kepada beliau. Dan di antara bentuk mencintai beliau adalah memperbanyak shalawat kepada beliau kapanpun -terlebih jika ada dalil yang menyebutkan keutamaan shalawat pada hari tertentu seperti pada hari dan malam jumat-dan dimanapun kita berada -apalagi jika ada dalil khusus yang menunjukkan tempat tertentu disunnahkan shalawat di situ, seperti ketika akan keluar masuk masjid-.

Karena sangat besarnya hak beliau shallallahu alaihi wasallam yang satu ini, sampai-sampai Allah Ta’ala memerintahkan para malaikat dan seluruh kaum mukminin agar bershalawat kepada Nabi. Dan Nabi mengabarkan bahwa siapa saja yang bershalawat untuk beliau sekali maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak 10 kali. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengancam dengan doa kecelakaan atas siapa saja yang tidak bershalawat kepada beliau ketika nama beliau disebut. Maka ini semakin mengutkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan wajibnya bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam setiap kali nama beliau disebut.

Dan di antara keistimewaan dan kemudahan ibadah yang satu ini, seorang muslim tidak perlu repot-repot untuk mendatangi kubur Nabi shallallahu alaihi wasallam jika hanya sekedar ingin mengirim shalawat dan salam. Karena dimanapun seseorang, tatkala dia membaca shalawat maka shalawat ini akan diantar oleh para malaikat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu Allah akan mengembalikan roh beliau ke jasad beliau guna menjawab salam umat beliau.

Selengkapnya tentang shalawat insya Allah akan dipaparkan pada tempatnya, wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • keistimewaan shalawat
  • keutamaan shalawat
  • keutamaan shalawat nabi
  • hukum menjawab sholawat nabi
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, August 1st, 2010 at 10:30 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Keutamaan Shalawat Kepada Nabi”

  1. mas wandi said:

    Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammmad..

    semoga kita semua dihari kiamat memperoleh syafa’atnya. amiin..

  2. aphrodite (nama samaran) said:

    Ass.Pak ustad. Saya membaca halaman pada website ini selagi saya mencoba mencari pencerahan dalam konflik rumah tangga kami.
    Saya ibu dari 3 orang anak, sebelumnya perkenankan saya bercerita sedikit mengenai proses gangguan pada rumah tangga kami yg sangat mengguncang saya secara psikis.
    Suami melakukan perkenalan dengan konsumen toko seorang wanita sejak pertengahan tahun 2012 yg berlanjut pada perselingkuhan hingga ke hubungan seksual, awalnya memang dia tdk berniat sampai kesna tetapi dia bermain2 dgn syahwat sampai akhirnya dia tdk kuat menahan godaan syaiton nirrojim. Namun bbrp bulan kemudian kami mendapatkan perselisihan yg membuat suami sangat murka dan itu membuat beliau mengulang kembali perbuatan zinanya ditengah saya mengandung anak ketiga kami.
    Semua tidak secara langsung terungkap karena saya mengetahuinya dikit demi dikt seiiring dgn waktu dan menerima penyangkalan yg luar biasa. Hingga saya mengidap Penyakit Menular Seksual yg tdk pernah saya bayangkan sebelum’nya,dan sempat membahayakan kondisi janin dlm kandungan saya saat itu. ——————————-alhamdulillah stelah lahir kondisi saya+janin tetap sehat wal’afiat hingga skr.
    Akhirnya dia mengakui semua perbuatan’nya setelah hampir 1 tahun berjalan dan sempat saya meminta cerai pada saat saya hamil. Namun mengingat keadaan saya dan rasa masih penuh terhadap suami saya mengurungkan niat saya dgn mencoba kembali dari nol dgn mencoba memaafkan serta membina RT kami kembali.
    Namun hingga saat ini, 8bulan berikutnya setelah semua benar2 terbuka kami mendapati persoalan batin dan akhirnya selalu berujung pada perselisihan yg tdk pernah benar2 terselesaikan dan saya pribadi tidak merasakan kenyamanan dan ketenangan dimana akhirnya tdk ada keharmonisan tulus di dalam RT kami skr.
    Selama ini suami hanya sekedar menanyakan apakah keputusan apabila kami berpisah adalah jalan yg terbaik masih saya coba untuk mencari titik temunya. Akhirnya kami sepakat utk menjalani PISAH RUMAH utk mencari jalan agar dpt mempertahankan Rumah Tangga kami. Karena yg saya tau, suami saya sudah benar2 tdk berhubungan lagi dgn wanita itu, namun bbrp sifat dasarnya ttg hasrat seksual yg ditunjukan dgn lawan jenis selain dgn saya masih tdk bisa hilang 100%. Walaupun hanya lewat kata2 yg mesum selintas2 saja. Seakan dia tdk peduli apa yg sudah dilakukan kepada saya sebelumnya.
    Sebenarnya pertanyaan saya cukup singkat:
    *apa yg harus dilakukan saat kami pisah rumah ini?
    *apabila memang sudah tdk ada lagi cinta dari suami buat saya, bagaimana saya harus bertahan?
    Semoga jawaban pak ustad dapat memberi sedikit pencerahan buat saya.

    Kalau memang sudah tidak bisa menemukan titik temu, dan anda juga merasa sudah tidak bisa berbakti kpd suami dengan ikhlas, maka terkadang perceraian itu menjadi jalan yang terbaik. Karena ada seorang sahabat wanita yang pernah meminta cerai dari suaminya di hadapan Nabi karena khawatir dia tidak bisa berbakti lagi kpd suaminya, maka Nabi menyetujui gugatan cerainya. Wallahu a’lam.