Keutamaan Puasa Sunnah

December 26th 2009 by Abu Muawiah |

9 Muharram

Keutamaan Puasa Sunnah

Dari Abu Said Al Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim.” (HR. Al-Bukhari no. 2628 dan Muslim no. 1153)

Ada yang menafsirkan ‘di jalan Allah’ dengan  jihad  dan ada juga yang menafsirkannya dengan ketaatan kepada Allah secara umum, wallahu a’lam.

Abu Hurairah -radhiallahu anhu- berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah Ta’ala telah berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng (dari api neraka), maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang shaum’. Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya: Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1771 dan Muslim no. 1151)

Penjelasan ringkas:

Puasa termasuk dari ibadah-ibadah yang mulia lagi mempunyai keutamaan yang besar, saking besarnya sampai-sampai para ulama berbeda pendapat mengenai ibadah yang paling utama, apakah shalat atau puasa. Hal itu karena semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan maksimal sampai 700 kali lipat kecuali puasa, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada yang dipenuhkan pahalanya tanpa batas kecuali orang-orang yang bersabar,” dan puasa mengumpulkan ketiga jenis kesabaran: Sabar dalam menjalankan perintah, sabar dalam menjauhi larangan, dan sabar terhadap takdir yang menyusahkan (berupa lapar dan haus).

Puasa -baik yang sunnah apalagi yang wajib- juga adalah perisai yang bisa melindungi bahkan menjauhkan pelakunya dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan, sebagaimana dia juga melindungi dari semua bentuk maksiat dan kemungkaran. Karenanya sangat wajar kalau Allah Ta’ala mensyariatkan ibadah puasa ini bukan hanya pada umat Islam akan tetapi kepada semua umat sebelum Islam, karena Allah ingin agar mereka semua mendapatkan keutamaannya.

Maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bersegera mengamalkan amalan mulia ini dan hendaknya dia menanggung beban kesulitan yang sedikit itu (pembatal puasa) guna mendapatkan kebahagian yang besar ketika dia berbuka dan ketika dia berjumpa dengan Rabbnya pada hari kiamat.

Incoming search terms:

  • KEUTAMAAN PUASA SUNNAH
  • keutamaan puasa sunah
  • KEUTAMAAN SHAUM SUNNAH
  • puasa sunnah
  • hukum kalau tidak puasa n bayarnya dengan apa saja
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, December 26th, 2009 at 7:10 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Keutamaan Puasa Sunnah”

  1. Roni said:

    Assalamu’alaikum. Ustadz, apa hukumnya puasa di hari kelahiran

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Wallahu a’lam, tidak ada dalil yang menunjukkan disyariatkannya. Berdalil dengan perbuatan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- puasa pada hari senin karena pada hari itu beliau dilahirkan, butuh ditinjau kembali karena tidak nukilan dari para ulama salaf yang memahami dan mengamalkan hadits itu dengan berpuasa setiap hari kelahiran. Wallahu a’lam.

  2. nvel said:

    assalamu’alaikum ustadz
    tadz, gigi saya ada yang berlobang.apakah sah puasa saya jika saya membersihkan giginya hanya dengan menggosok gigi saja(tidak dicunngkil2) karena kadang2 ada sisa2 makanan yang tertinggal di gigi yang berlobang itu?
    syukron

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Selama antum tidak menelan sisa makanan tersebut dengan sengaja maka puasa antum tidak batal insya Allah.

  3. ibnu said:

    ustadz mo nanya, saya nazar berpuasa selang seling (puasa daud) 1 bln. Bila selama membayar nazar ada 5 puasa yg batal apakah saya hrus byar dri awal ato ganti yg batal saja? Kmudian apakah bayarnya selang seling ato bsa satu2 aja. Makasih.

    Bagaimana lafazh nazarnya?

  4. ivan said:

    Assalamu’alaikum
    Ustdz.mohon penjelasan serta rujukan yang shahih tentang penetapan puasa arofah yang berkaitan tentang hari raya kurban tahun ini, karena antara pemerintah arab saudi dan indonesia ada perbedan penetapan hari ‘iednya,
    pemerintab Arab menetapkan tgl 16/11/2010 sbg idul adha 1431H hari selasa,sementara
    pemerintah RI pentapannya tgl 17/11/2010,jika kita melakukan puasnya tgl 16 sebagai puasa arofahnya karena kita mengikuti hari rayanya bersama pemerintah RI apakah bukan termasuk larangan dalam syariat karena pada saat itu orang yang sedang berhaji sedang melakukan wukuf di arofah , kemudian bagaimana jika pula jika kita melakukan puasa arofahnya tgl 15/11/2010 sebagai tgl 9 zulhijjahnya kemudian sholat ‘iednya bersama pemerintah resmi RI tgl 17/11/2010, apakah juga menyelisihi syariat. maaf mhon penjelasannya, trimakasih wassalamu’alikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Maaf, masalah ini butuh uraian yang panjang. Silakan baca artikel ‘seputar hilal’ dalam situs ini, semoga sedikit banyak bisa membantu.

  5. ibnu said:

    niat jika lulus ujian puasa seprti nabi daud dalam 1 bln.

    Kalau memang dia menentukan selama satu bulan, maka kapan batal di satu bulan maka dia tidak perlu melanjutkan puasa bulan itu. Tapi dia wajib ulangi dari awal pada bulan berikutnya, dan demikian seterusnya. Wallahu a’lam.

  6. erlin said:

    assalamualaikum…
    untuk hadist yang menjelaskan puasa sunnah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasanya itu) sejauh 70th jarak perjalanan.
    yang saya tanyakan itu tolak ukurnya 70th waktu d dunia atau 70th waktu akhirat?
    karena 60th di dunia berarti 1,5jam d akhirat.
    mohon pencerahannya
    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam tidak ada keterangan tambahan dalam hadits tentang itu. Tapi kemungkinan besar yang dimaksud adalah 70 di dunia, karena beliau shallallahu alaihi wasallam berbicara kepada para sahabatnya dengan sesuatu yang bisa mereka pahami. Wallahu a’lam bishshawab.

  7. elma said:

    Assalamu’alaikum warahmatullah,
    Tanya Ustadz, jika tiba saat Ramadhan dan saya dalam keadaan berpuasa Wajib Ramadhan, kemudian saya berpergian dg pesawat untuk Umrah/bukan dg rentang waktu terbang yg lama, lalu tiba saat berbuka puasa, sahur, dan shalat lima waktu. Maka aturan waktu mana yang harus saya pakai untuk menjalankan seluruh ibadah wajib tersebut?
    Waktu di tempat tujuan? waktu di tempat berangkat? atau waktu setempat saya berada ketika saya diatas pesawat? Jazakumullah khairan katsiran.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tempat anda berada di atas pesawat sekarang, saya rasa bisa ditanyakan ke pramugarinya. Wallahu a’lam.

  8. pram said:

    assalamuaalikum ustadz,,
    saya mau tanya ne,,puasa kan ibadah yang hanya di ketahui oleh Allah dan orang yang berpuasa. dan sangat susah sekali ditemukan Riya dalam berpuasa,,
    saya sering melakukan puasa senin kamis,,
    dan ketika diajak makan sama temen2 saya,,saya blang kalo saya lgi berpuasa.trus tmen2 saya memuji saya ustadz. apakah salah saya memberitahu ibadah puasa k tmen2 saya ktika kondisi sprti itu?? saya termasuk riya ato tidak???

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tidak salah. Itu bukan termasuk riya, karena pujian itu datangnya setelah ibadah dijalankan, bukan pujian yang mendasari anda berpuasa.