Keutamaan Ilmu

December 19th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

2 Muharram

Keutamaan Ilmu

Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” (QS. Az-Zumar: 9)
Dan Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Dan Allah juga berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Thaha: 114)
Dari Muawiah bin Abi Sufyan -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya niscaya Allah akan menjadikannya faham dalam masalah agama.” (HR. Al-Bukhari no. 71, 2948, 6882 dan Muslim no. 1037)
Dari Abu Ad-Darda` -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ سَلَكَ سَبِيْلاً يَبْتَغِي بِهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتِهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلًّ شَيْءٍ حَتَّى الْحَيْتَانُ فِي الْمَاءِ. وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلاَ دِرْهَماً, إِنَّمَا وَرَّثُْوا الْعِلْمَ, فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan guna mencari ilmu niscaya Allah akan memudahkan jalannya untuk masuk ke dalam surga. Sesungguhnya para malaikat betul-betul meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena mereka ridha dengan apa yang dia tuntut. Sesungguhnya seorang alim (orang yang berilmu) itu dimintaampunkan oleh segala sesuatu sampai ikan-ikan di lautan. Kelebihan seorang alim di atas abid (ahli ibadah) adalah bagaikan kelebihan yang dimiliki oleh bulan di atas bintang-bintang lainnya. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula perak akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, karenanya barangsiapa yang mengambilnya (ilmu) maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Abu Daud no. 3642 dan At-Tirmizi no. 2682 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6297)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: Kecuali sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim no. 1631)

Penjelasan ringkas:
Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa semua kata ilmu yang tersebut dan yang dipuji pemiliknya dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, maka yang dimaksud di situ adalah ilmu-ilmu  agama dan bukan ilmu-ilmu dunia berdasarkan kesepakatan para ulama. Hal itu karena ilmu-ilmu dunia sama seperti masalah dunia lainnya, yakni hukum asalnya tidak mendapatkan pahala dan tidak juga mendapatkan dosa ketika melakukannya.
Kemudian ketahuilah bahwa iman dan ilmu agama mempunyai kedudukan yang besar lagi mulia di dalam agama ini, karenanya Allah Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang beriman di atas orang-orang yang tidak beriman, dan Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman lagi berilmu di atas orang-orang yang beriman tapi tidak mempunyai ilmu terhadap agamanya. Dan kelebihan mereka yang beriman lagi berilmu dibandingkan orang yang beriman tapi tidak berilmu sangat nampak dalam hadits Abu Ad-Darda` di atas yaitu:
1.    Dia akan dinaungi oleh para malaikat dengan sayap-sayap mereka.
2.    Segala sesuatu akan memintaampunkan dosanya kepada Allah mulai makhluk yang berada di bawah lautan sampai makhluk yang ada di atas langit (para malaikat).
3.    Dia diibaratkan sebagai bulan yang menerangi alam semesta, sementara orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu hanya diibaratkan sebagai bintang yang hanya menerangi dirinya sendiri.
4.    Mereka adalah pewaris para nabi, dan cukuplah ini menunjukkan keutamaan mereka.
5.    Dia bisa mengajarkan ilmunya kepada orang lain, yang dengannya pahala akan terus mengalir kepadanya -sampai walaupun dia telah meninggal- selama ilmu yang diajarkan masih diamalkan oleh orang-orang setelahnya.
Dan kelima perkara ini tidak akan didapatkan oleh orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu (ahli ibadah). Karenanya sangat wajar sekali kalau Allah tidak menyamakan kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu karena mereka adalah mujahid yang memperbaiki dirinya, memperbaiki orang lain, dan melindungi agama Allah dari setiap perkara yang bisa merusaknya, berbeda halnya dengan ahli ibadah yang kebaikannya hanya terbatas pada dirinya.
Berkaca dari semua keutamaan di atas, kita tentu akan memahami kenapa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- masih diperintahkan oleh Allah untuk meminta penambahan ilmu agama, padahal beliau adalah makhluk yang paling berilmu secara mutlak. Kalau beliau masih diperintahkan oleh Allah untuk menambah perbendaharaan ilmu beliau dan diperintahkan untuk berdoa meminta tambahan ilmu, maka bagaimana lagi dengan kita?!
Karenanya jika kita telah diberikan minat oleh Allah untuk mendekati ilmu agama -apalagi yang teah terjun di dalam menuntutnya- maka bergembiralah, karena sungguh itu merupakan tanda besar yang menunjukkan Allah ingin kamu mendapatkan kebaikan di dunia dan Dia akan mempermudah jalanmu untuk masuk ke dalam surga, yang mana jalan menuju ke sana adalah perjalanan yang sangat panjang lagi berat.

Incoming search terms:

  • keutamaan ilmu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, December 19th, 2009 at 10:02 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Keutamaan Ilmu”

  1. Agustin Dwi Sartika said:

    Assalamualaikum wr wb.
    sy mau sklh lg utk m’perdalam ilmu agama, tp yg tdk m’ganggu wkt krj d kntor.
    Ad yg pny solusi?
    Atas perhatianny sya ucapkn Terima Kasih.
    Wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Alhamdulillah banyak taklim dan kajian salafiyin yang diadakan antara maghrib isya, tinggal cari aja di tempat saudari berada.
    Atau bisa juga dengan cara mendengarkan MP3 dari rekaman ceramah dan taklim, atau lewab radio streeming di situs2 ahlussunnah. Atau dengan membaca buku-buku agama yang ditulis oleh para ulama dan asatidz ahlussunnah. Wallahul muwaffiq

  2. ummu ibrohim said:

    Assalamu’alaikum
    ana cuma minta izin copy artikel
    jazakumullahkhoir

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    tafadhdhal

  3. Keutamaan Ilmu « fadly Co0l said:

    [...] : http://al-atsariyyah.com/?p=1421 Categories: Uncategorized Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar Lacak [...]

  4. Ahmad said:

    Assalamu’alaikum..bagaimana menghadapi pengajar yg kurang bagus akhlaqnya..kadang2 ana merasa tersinggung dg kata2nya kurang sopan..mohon nasehat ustadz agar ana bs terus belajar ilmu agama kpdnya..

    Waalaikumussalam
    Antum bukan orang yang pertama merasakan singgungan dari seorang guru. Telah ada di kalangan ulama salaf hal-hal seperti ini. Seperti yang terjadi antara Al-Bukhari dengan gurunya Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, An-Nasai dengan gurunya (kalo nggak salah namanya) Al-Hasan bin Miskin, Muhammad bin Ja’far Gundar dengan gurunya Waki’, Al-A’masy bersama guru-gurunya, dan selain mereka.
    Bagaimanapun juga ustadz juga manusia, mereka bersalah sebagaimana manusia umumnya bersalah. Dan selama seseorang masih sangat membutuhkan ilmu dari guru tersebut, maka hendaknya dia banyak-banyak bersabar. Karena manfaat yang dia peroleh tidak bisa dibandingkan dengan sedikit gangguan yang dia peroleh.

  5. Ummu Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    sy mau tanya,bgm jika orang tua yg mengajarkan ilmu kpd anaknya dan diamalkan terus menerus,apakah itu memang hanya dianggap kewajiban dari orang tua kpd anak atau itu t’masuk mewarisi ilmu yg bs diganjar dengan pahala2 tsb diatas?
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Ya, jelas itu sebagai amal jariah yang akan terus terwarisi insya Allah.

  6. kurniawan said:

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz saya mau izin copy artikel yang ada di website ini buat saya jadikan buletin jum’at,dengan sedikit perubahan redaksi insyaAllah tanpa mengurangi isi kandungan dalam artikel tsb. syukron.

  7. dymas said:

    Assalamualaikum
    Akh, sy mo tnya bgmn do’a mminta tmbahan ilmu spt yg Rasulullah SAW lkuin?! Krn jjur, ilmu dunia, aplg ilmu agama sy sngat2 dangkal…
    Terima kasih akh,
    Assalamualaikum

    Waalaikumussaalam.
    Di antara doanya tersebut dalam Al-Qur`an: ROBBI ZIDNII ‘ILMAN.