Keutamaan dan Adab Bertamu

May 11th 2010 by Abu Muawiah |

26 Jumadil Ula

Keutamaan Bertamu

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
“Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika malaikat tersebut mendatanginya dia (malaikat) bertanya bertanya, “Hendak pergi ke mana kamu?” Orang itu menjawab, “Saya akan menjenguk saudara saya yang berada di desa ini.” Malaikat itu bertanya kembali, “Apakah dia punya kewajiban kepadamu yang ingin kamu tagih?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.” Akhirnya malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah yang diutus kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Dia.” (HR. Muslim no. 2567)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا
“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya semata-mata karena Allah, maka penyeru akan menyeru, “Engkau telah berbuat baik dan perjalananmupun merupakan kebaikan, serta engkau telah mempersiapkan sebuah tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmizi no. 2008 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6387)

Penjelasan ringkas:
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)
Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala mensyariatkan kepada seluruh manusia -terlebih sesame muslim- untuk saling mengenal. Dan di antara sarana yang paling bermanfaat untuk bisa saling mengenal adalah saling mengunjungi dan bertamu antara satu sama lain.

Bertamu ke rumah saudara seiman mempunyai keutamaan yang agung lagi pahala yang sangat besar, dengan syarat bertamunya dia didorong oleh kecintaan dia kepada saudaranya tersebut karena Allah dank arena mengharapkan pahala dari-Nya, bukan karena ada maksud-maksud tertentu yang mendatangkan keuntungan baginya dari sisi duniawiah. Karenanya Nabi alahishshalatu wassalam mengabarkan bahwa siapa saja yang bertamu ke rumah saudaranya karena Allah maka Allah akan membalasnya dengan kecintaan dari-Nya dan telah dipersiapkan untuknya sebuah tempat tinggal di dalam surga.

Namun yang tidak boleh dilupakan bagi orang yang hendak bertamu adalah mengetahui adab-adab dan tata krama dalam bertamu, dan bagaimana sepantasnya adab seorang muslim dalam bertamu. Karena memiliki dan menjaga adab yang baik merupakan tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus dalam rangka menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Karenanya berikut secara global penyebutan beberapa adab-adab dalam bertamu:
1.    Menyambut ajakan atau menerima undangan. Insya Allah akan datang penjelasannya pada artikel yang akan datang.
2.    Bertamu pada waktu-waktu yang tidak mengganggu.
3.    Mendoakan pemilik rumah jika dia dijamu dengan makanan.
4.    Memperhatikan adab-adab minta izin. Insya Allah akan datang keterangannya secara lengkap pada artikel tersendiri.

Bagi yang ingin mengetahui adab-adab bertamu secara lengkap, baik adab bagi sang tamu maupun adab bagi tuan rumah, silakan mendownload filenya di bawah. File tersebut merupakan terjemahan dari kitab Fiqh Al-Adab karya Fuad bin Abdil Aziz Asy-Syalhub.

Download

Incoming search terms:

  • adab bertamu
  • adab bertamu dan menerima tamu
  • akhlak bertamu
  • akhlak bertamu dan menerima tamu
  • makalah aqidah akhlak adab bertamu dan menerima tamu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, May 11th, 2010 at 10:46 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Keutamaan dan Adab Bertamu”

  1. Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    Kalo kasusny seperti ini bgm ustad:
    1.Kakak laki2 saya sudah menikah dan mempunyai usaha toko mainan dan toko klontong,tiap sy dan anak b’silaturrahim kesana pasti dikasih jajan en mainan.jujur sy tdk enak hati krn tiap kesana pasti diberi krn rumah kami lumayan dekat shg akhir2 ini sy agak jarang kesana krn hal tsb.bnrkah sikap sy ini?
    2.apakah jika diberi sodara wajib menerima pemberian itu,bgm jika sy menolak krn sudah t’lalu sering?apakah jika menolak t’masuk menolak rejeki dr Alloh Ta’ala?
    3.lbh utama mana sy beli sembako or mainan ditmp kakak sy yg pasti dikasih diskon atau mendingan beli ditempat lain agar t’hindar fitnah,sy agak gak enak hati dgn kakak ipar.
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    1. Sudah benar, asalkan itu tidak menimbulkan kesalahpahaman.
    2. Ya boleh selama tidak timbul kesalahpahaman. Itu bukanlah menolak rezki, karena tidak ada seorang pun makhluk yang sanggup menolak rezkinya.
    3. Yang lebih utama, yang tidak menimbulkan kesalahpahaman sehingga merusak silaturahmi.