Main Picture

 

Keutamaan Al-Fatihah

April 8th 2012 by Abu Muawiah |

Keutamaan Al-Fatihah

Al-Bukhari berkata di dalam Ash-Shahih (3/342): Ali bin Abdillah menceritakan kepada kami (dia berkata), Yahya bin Said menceritakan kepada kami (dia berkata), Syu’bah menceritakan kepada kami (dia berkata), Khubaib bin Abdirrahman menceritakan kepadaku dari Hafsh bin Ashim dari Abu Said bin Al-Mu’alla dia berkata:

كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ: { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ }

ثُمَّ قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Saya pernah shalat, lalu Nabi r memanggilku tapi saya tidak menjawabnya. Kemudian saya berkata, “Wahai Rasulullah tadi saya sedang shalat,” beliau bersabda, “Bukankah Allah telah berfirman, “Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu?!” kemudian beliau bersabda, “Inginkah kamu saya ajari surah yang paling agung dalam Al-Qur`an sebelum engkau keluar dari masjid ini?” kemudian beliau memegang tanganku. Tatkala kami akan keluar, aku berkata, “Wahai Rasulullah, tadi engkau berkata, “Saya benar-benar akan mengajari  kamu sebuah surah yang paling agung dalam Al-Qur’an.” Baliau bersabda, “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin,” dia adalah tujuh ayat yang sering berulang-ulang dan merupakan Al-Qur’an yang agung, yang diberikan kepadaku.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1458), Nasa`i (2/139) dan Ibnu Majah (3785) dari beberapa jalan dari Syu’bah dengannya hadits ini.

Imam Ahmad berkata dalam Al-Musnad (4/177): Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami (dia berkata), Hasyim -yakni Ibnu Al-Buraid- menceritakan kepada kami (dia berkata), Abdullah bin Muhammad bin Aqil menceritakan kepada kami dari Ibnu Jabir dia berkata:

انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَهْرَاقَ الْمَاءَ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي وَأَنَا خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى رَحْلِهِ وَدَخَلْتُ أَنَا الْمَسْجِدَ فَجَلَسْتُ كَئِيبًا حَزِينًا فَخَرَجَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَطَهَّرَ فَقَالَ عَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اقْرَأْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَتَّى تَخْتِمَهَا

“Saya sampai kepada Rasulullah r dalam keadaan beliau baru saja buang air kecil,” lalu saya berkata, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” tapi beliau tidak menjawab salamku. Saya berkata lagi, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” maka beliau tapi menjawab salamku. Saya berkata lagi, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” tapi beliau tidak menjawab salamku. Kemudian Rasulullah r berjalan dan saya ikut di belakang beliau sampai beliau masuk di rumahnya dan saya masuk ke dalam masjid lalu duduk dalam keadaan sedih dan berduka cita. Kemudian Rasulullah r keluar mendatangiku dalam keadaan beliau sudah bersuci, lalu beliau berkata, “Alaikas salam warahmatullah, waalaikas salam warahmatullah, waalaikas salam warahmatullah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kukabarkan kepadamu wahai Abdullah bin Jabir sebuah surat yang terbaik di dalam Al-Qur’an?” saya menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bacalah ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ sampai kamu menyelesaikannya.” Sanadnya hasan karena kedudukan Ibnu Aqil, dan hadits ini telah ditakhrij[1] dalam  I’laus Sunan (28).

Al-Bukhari -rahimahullah- berkata (3/248): Adam menceritakan kepada kami (dia berkata), Ibnu Abi Dzi`b menceritakan kepada kami (dia berkata), Said Al-Maqburi menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah r bersabda:

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

“Induk dari semua surah dalam Al-Qur’an (Ummul Qur`an) adalah tujuh ayat yang sering berulang dibaca dan Al-Qur’an yang agung.” Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (1457) dan At-Tirmidzi (3124) dari jalan Ibnu Abi Dzi`b

Al-Bukhari berkata (3/342): Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami (dia berkata), Wahb menceritakan kepada kami (dia berkata), Hisyam menceritakan kepada kami dari Muhammad dari Ma’bad dari Abu Said Al-Khudri dia berkata:

كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Kami pernah bersafar lalu singgah di tengah perjalanan. Maka datang seorang budak perempuan lalu berkata, “Sesungguhnya pimpinan kampung ini tersengat oleh kalajengking sedang semua rakyat kami sudah dibuat lelah untuk mengobatinya, apakah ada di antara kalian yang bisa meruqyah?” Maka berdirilah seorang lelaki yang mana sebelumnya kami tidak pernah mengira dia bisa meruqyah. Lalu meruqyahnya dan ternyata orang itupun sembuh. Lalu pemimpin mereka memerintahkan agar kami diberi 30 ekor kambing dan memberikan kami minuman berupa susu. Tatkala yang meruqyah itu kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah kamu pintar meruqyah atau kamu biasa meruqyah?!” dia menjawab, “Tidak, saya tidak meruqyahnya kecuali dengan membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah).” Kami berkata, “Jangan kalian bercerita apa-apa sampai kita tiba atau hingga kita tanyakan kepada Nabi r.” Maka tatkala kami sampai di Madinah, kami menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi r, maka beliau bersabda, “Darimana dia mengetahui kalau dia (Al-Fatihah) itu adalah ruqyah? Bagilah kambing-kambing tersebut dan potongkan untukku satu bagian.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (4/1728) dan Abu Daud (3419) dari jalan Ma’bad bin Sirin.

Muslim (1/554) dan An-Nasa`i (2/138) meriwayatkan dari jalan Ammar bin Ruzaiq dari Abdullah bin Isa dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata: Tatkala Jibril duduk di sisi Rasulullah r, tiba-tiba dia mendengar suara retak dari arah atas lalu dia mengangkat kepalanya, seraya berkata:

هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Ini adalah suara salah satu pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini, belum pernah pintu ini dibuka kecuali hari ini. Maka turunlah darinya seorang malaikat,” lalu Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia tidak pernah turun sama sekali kecuali pada hari ini,” lalu malaikat itu mengucapkan salam dan berkata, “Bergembiralah kamu wahai Muhammad dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah) dan beberapa ayat penutup surah Al-Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf pun darinya kecuali pasti engkau akan mendapatkannya.”

An-Nasa`i meriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubra (5/12) dia berkata: Ishaq bin Ibrahim mengabarkan kepada kami (dia berkata), Sufyan -dan dia adalah Ibnu Uyainah- mengabarkan kepada kami dari Al-Ala` bin Abdirrahman bin Ya’qub dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda:

كُلُّ صَلَاةٍ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ فهِيَ خِدَاجٌ فهِيَ خِدَاجٌ

“Setiap shalat yang tidak dibaca padanya surah Al-Fatihah, maka itu adalah shalat yang kurang, shalat yang kurang, shalat yang kurang.”

Dia (Abdurrahman bin Ya’qub) berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya saya terkadang menjadi makmum, (apakah saya tetap membacanya, pent)?” Abu Hurairah berkata, “Wahai orang Persia, bacalah Al-Fatihah dengan suara yang sirr,  karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah r bersabda:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. قَالَ الْعَبْدُ: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي. فإِذَا قَالَ: { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِيز فإِذَا قَالَ: { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ الله: مَجَّدَنِي عَبْدِي. أوْ قَالَ: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي. فَإِذَا قَالَ: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذِهِ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Shalat ini (Al-Fatihah) dibagi antara Aku dengan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Jika hamba membaca, “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin”, Allah berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Jika dia membaca, “Arrahmanir rahim”, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika hamba membaca, “Maliki yaumid din”, Allah berfirman, “Hamba-Ku memuliakan-Ku.” -Atau Allah berfirman, “Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.”- Jika hamba mengucapkan, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, Allah berfirman, “Ini antara Aku dengan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”

Sufyan berkata: “Saya masuk menjenguk Al-Ala` bin Abdirrahman di rumahnya ketika dia sedang sakit, lalu saya menanyakan hadits ini kepadanya, maka dia menceritakannya padaku.”

Saya berkata: Ini adalah sanad yang shahih.

 

Kemudian saya mendapatkan Muslim -rahimahullah- telah meriwayatkannya (1/296) dari jalan Ishaq dengan jalan ini, dan beliau menambah di akhirnya:

فَإِذَا قَالَ: { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Jika hamba membaca, “Ihdinash shiratal mustaqim. Shiratalladzina an‘amta ‘alaihim ghairil magdhubi ‘alaihim waladh dhallin,” Allah berfirman, “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” Ibnu Majah (3784) juga telah meriwayatkannya dari jalan Abdul Aziz bin Abi Hazim dari Al-Ala` dengan jalan ini.

Kelihatannya Al-Ala` mempunyai dua orang guru dalam hadits ini: Salah satunya adalah ayahnya sendiri dan yang lainnya adalah Abu As-Saib maula Hisyam bin Zuhrah.

Malik dalam Al-Muwaththa’ (1/84) dan imam yang enam -kecuali Al-Bukhari- telah meriwayatkan hadits ini dari jalan yang kedua ini.



[1] Maksudnya: Telah disebutkan seluruh jalan-jalannya beserta para ulama yang meriwayatkannya beserta hukum atas hadits tersebut -jika dibutuhkan-, pent.

[Diterjemah dari Ar-Rauh wa Ar-Raihan fi Fadha`il wa Ahkam Al-Mashahif wa Al-Qur`an hal.36-39]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, April 8th, 2012 at 8:26 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Ilmu Al-Qur`an. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Keutamaan Al-Fatihah”

  1. wahyu said:

    Apakah ada bentuk “hadiah” Al-fatihah seperti yang biasa dilakukan oleh orang sufiyyah/ NU, yg lafalnya seperti berikut : ila hadhiroti (nama yg dihadiahi :mis syeikh abdul..), alfatihah ato yang lain : ila ruuhi…(nama yang dituju),al-fatihah.apakah amalan ini diajarkan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam dan sahabatnya?

    Tidak ada, hal itu tidak pernah diajarkan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan sahabatnya.

  2. putra said:

    apakah berdosa bila kita menghadiri undangan seperti tahlilan tetangga,tetapi dalam hati kita niatkan untuk menghormati undangan tetangga bukan berniat ikut bertahlil?

    Dalam masalah ini yang menjadi patokan adalah amalannya, bukan niatnya.