Keutamaan Akidah Islamiah

April 10th 2015 by Abu Muawiah |

Keutamaan Akidah Islamiah

Mewujudkan Akidah Islamiah merupakan misi para rasul Allah, tujuan diturunkannya semua kitab suci, dan kewajiban atas semua makhluk. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Dzariyat/51:56, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” Allah juga berfirman dalam Q.S. al-Nahl/16:36, “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat rasul, untuk menyerukan: Sembahlah Allah semata dan jauhilah tagut.”
Karena pentingnya Akidah Islamiah, maka sudah sepatutnya setap muslim menaruh perhatian besar padanya, mencari tahu tentangnya dan mempelajarinya. Terlebih kebahagian hidup manusia di dunia dan di akhirat ditentukan olehnya. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:256, “Maka siapa saja yang kufur kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat lagi tidak akan terputus.” Itu berarti siapa saja yang tangannya lepas dari Akidah Islamiah ini, berarti dia berpegang pada khayalan batil, karena tiada setelah kebenaran selain kesesatan. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-Hajj/22:62, “Hal itu karena Allah Dialah sembahan yang benar, dan semua sembahan yang mereka seru selain-Nya adalah batil.”
Akidah adalah apa saja yang diyakini oleh seseorang. Jika keyakinannya itu sejalan dengan ajaran yang dibawa oleh para rasul, maka itu berarti akidah yang shahih (benar), yang dengannya dia mendapatkan keselamatan dari siksaan Allah dan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan demikian halnya sebaliknya. Akidah yang benar akan melindungi nyawa dan harta seseorang. Nabi saw. bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Jika mereka telah mengucapkannya maka mereka telah menjaga nyawa dan darahnya dariku, kecuali dengan haknya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah) Beliau juga bersabda, “Sungguh Allah mengharamkan atas neraka semua orang yang mengucapkan “laa ilaaha illallaah” karena mengharapkan wajah Allah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Itban bin Malik) Akidah yang benar juga akan menggugurkan semua dosa. al-Tirmizi (w. 279 H) meriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, namun engkau tidak berbuat kesyirikan kepada-Ku, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
Ibnu al-Qayyim (w. 751 H) berkata, “Akan diampuni muwahhid (orang yang bertauhid), yang tidak mengotori tauhidnya dengan kesyirikan, namun tidak demikian dengan selainnya. Jika muwahhid berjumpa dengan Rabbnya dengan membawa dosa sepenuh bumi, niscaya Dia akan mendatanginya dengan ampunan sebesar itu pula. Ini tidak diraih oleh orang yang tauhidnya kurang karena terkotori oleh kesyirikan. Karena tidak ada satupun dosa yang tersisa di hadapan tauhid yang murni dan bersih dari kesyirikan.” (Ighatsah al-Luhfan: 1/64)
Amalan hanya diterima dan bermanfaat bagi pemiliknya jika ia memiliki akidah yang benar. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Nahl/16:97, “Siapa saja lelaki dan wanita yang beramal saleh dan dia seorang mukmin, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami balas mereka dengan balasan yang lebih baik dari amalan mereka.” Demikian pula sebaliknya jika seseorang memiliki akidah yang rusak, semua amal baik pelakunya akan terhapus. Allah berfirman dalam Q.S. al-Zumar/39:65, “Jika engkau (Muhammad) berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapus semua amalanmu dan kamu akan termasuk orang-orang yang merugi.” Juga dalam Q.S. al-An’am/6:88, “Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya akan terhapus semua amalan mereka.”
Akidah yang rusak akibat kesyirikan akan mengharamkan surga dan ampunan, dan menghalalkan siksaan dan kekekalan dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Nisa`/4:48, “Sungguh Allah tidak mengampuni kesyirikan.” Juga dalam Q.S. al-Maidah/5:72, “Siapa saja yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga atasnya, dan tempat kembalinya adalah neraka.”
Demikian seterusnya, akidah yang benar mempunyai manfaat yang sangat banyak, baik pada hati, kehidupan bermasyarakat dan jalan hidup seseorang. Pada masa Nabi saw., ada dua kelompok yang sama-sama membangun masjid namun dengan niat yang berbeda. Yang satu membangun masjid dengan niat yang saleh dan akidah yang ikhlas, sementara yang lainnya membangun masjid dengan tujuan yang buruk dan akidah yang rusak. Maka Allah menyuruh Nabi-Nya untuk shalat hanya di masjid yang dibangun di atas ketakwaan, dan melarang beliau untuk shalat di masjid yang dibangun dengan niat-niat yang buruk. Hal ini tertuang dalam surah al-Taubah/9:107-109, “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.”

[Dialihbahasakan secara ringkas dari al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad h. 9-12, karya Dr. Saleh al-Fauzan, Anggota Haiah Kibar al-Ulama dan al-Lajnah al-Daimah li al-Buhuts wa al-Ifta` KSA]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, April 10th, 2015 at 9:04 am and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.