Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Jum’at

December 3rd 2009 by Abu Muawiah |

Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Jum’at

1.    Mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat malam dan berpuasa di siang harinya.
Ini terlarang berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, ["Apakah Rasululah -Shallallahu 'alaihi wasallam- melarang untuk berpuasa pada hari Jum'at?"], beliau menjawab, ["Ya"]“.
Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لاَ تَخْتَصُّوْا لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي, وَلاَ تَخْتَصُّوْا يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ, إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِي صَوْمٍ يَصُوْمُهُ أَحَدُكُم
“Jangan kalian mengkhususkan sholat malam pada malam Jum’at dan jangan pula kalian mengkhususkan berpuasa pada hari Jum’at, kecuali puasa yang salah seorang di antara kalian biasa berpuasa padanya”.
Larangan (dalam hadits) ini -menurut jumhur- adalah bermakna makruh, dan menurut sekelompok ulama -di antaranya Syaikhul Islam- adalah bermakna haram. Dan tidak masuk ke dalam larangan jika pengkhususan (terhadap hari Jum’at untuk berpuasa) dikarenakan berpuasa Hari Arafah atau ‘Asyura` atau bagi orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari (1). Kebanyakan ulama menyatakan karena hal itu termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Kecuali puasa yang salah seorang di antara kalian biasa berpuasa padanya”.

2.    Bergampangan dalam mendengarkan khutbah Jum’at atau berbicara ketika imam berkhutbah.
Mendengarkan khutbah dan diam untuk mendengarnya adalah perkara yang sangat dituntut, dan larangan untuk berbicara dan (larangan) untuk tidak memperhatikan (khutbah) disebutkan dalam hadits-hadits yang banyak. Di antaranya sada beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ: (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah kamu” sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat kesia-siaan”. Muttafaqun ‘alaihi
Ucapan “diamlah kamu” teranggap memutuskan perhatian dari mendengar khutbah walaupun sebentar sehingga menghasilkan kesia-siaan. Ini adalah keadaan orang yang menasehati (baca: menegur), maka bagaimana lagi dengan orang yang berbicara pertama kali (yang ditegur-pent.)
Al-Hafzh menyatakan dalam Al-Fath, “Maka jika beliau (Nabi) menghukumi ucapan “diamlah kamu” -padahal dia adalah orang yang beramar ma’ruf- sebagai kesia-siaan, maka ucapan yang lainnya lebih pantas dianggap sebagai kesia-siaan”(2).

3.    Berjual beli setelah adzan kedua.
Tidak halal mengadakan transaksi jual beli setelah adzan(3) dan jual belinya teranggap fasid (rusak/tidak syah), berdasarkan firman Allah -Ta’ala-:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Maka dalam ayat ini Allah melarang berjual beli setelah adzan, yakni adzan kedua. Jual belinya fasid karena (melanggar) larangan mengharuskan fasad (rusak/tidak syah).

4.    Sholat setelah adzan ketika khathib masuk, yang dikenal dengan nama (sholat) sunnah (qabliyah) Jum’at.
Sholat ini bukanlah sunnah dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam masalah ini, “Jika Bilal sudah selesai adzan maka NaBi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- langsung berkhutbah dan tidak ada seorangpun yang berdiri mengerjakan (sholat) dua raka’at sama sekali, dan tidak ada adzan (pada hari Jum’at-pent.) kecuali satu kali. Hal ini menunjukkan bahwa (sholat) Jum’at sama seperti (sholat) ‘Id yang tidak mempunyai (sholat) sunnah sebelumnya. Inilah yang paling benar di antara 2 pendapat ulama dan inilah yang ditunjukkan oleh sunnah”. Kemudian beliau berkata, “Dan barangsiapa yang menyangka bahwa mereka (para sahabat-pent.) semuanya berdiri -tanpa kecuali- lalu mengerjakan 2 raka’at setelah selesainya Bilal mengumandangkan adzan, maka dia adalah orang yang paling bodoh tentang sunnah. Apa yang kami sebutkan ini berupa tidak adanya (sholat) sunnah sebelum Jum’at adalah madzhab Malik, Ahmad -menurut yang paling masyhur dari beliau-, dan salah satu sisi (pendapat) di kalangan ashhab (pengikut) Syafi’i”. Sampai akhir ucapan beliau

5.    Melangkahi tengkuk-tengkuk manusia (jama’ah)
Ini termasuk kesalahan yang tersebar dan merupakan bentuk gangguan kepada orang-orang yang sholat yang datang lebih dahulu. Telah ada hadits-hadits yang melarang darinya, (di antaranya) dari ‘Abdullah bin Busr -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata, “Seorang lelaki datang (ke masjid) pada hari Jum’at lalu melangkahi tengkuk-tengkuk jama’ah sementara Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang berkhutbah, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اِجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ
“Duduklah kamu, sungguh kamu telah mengganggu dan membuat orang terlambat.” Riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasa`i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dengan lafadz-lafadz yang hampir sama, sedang lafadz ini adalah lafadz Ahmad.

6.    Memperpanjang khutbah dan mempersingkat sholat.
Ini menyelisihi sunnah, karena yang merupakan sunnah adalah mempersingkat khutbah, memendekkannya dan tidak memperbanyak ucapan yang tidak bermanfaat, serta memperpanjang sholat. Dari ‘Abdullah bin Abi ‘Aufa, beliau berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيْلُ الصَّلاَةَ وَيَقْصُرُ الْخُطْبَةَ
“Adalah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- biasa memperpanjang sholat dan mempersingkat khutbah”. Riwayat An-Nasa`i.
Dan dari ‘Ammar bin Yasir beliau berkata, saya mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مُئْنَةٌ مِنْ فِقْهِهِ, فَأَطِيْلُوْا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوْا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا
“Sesungguhnya panjangnya sholat dan singkatnya khutbah seseorang merupakan tanda kefaqihannya. Maka panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah, sesungguhnya di antara bentuk penjelasan ada yang merupakan sihir”. Riwayat Muslim
Maka dalam hadits ini terdapat perintah untuk memperpanjang sholat dan mempersingkat khutbah, sehingga terkumpullah dalam masalah ini ucapan dan perbuatan beliau.

7.    Menyentuh (baca: bermain dengan) kerikil atau melakukan perbuatan sia-sia (baca: bermain-main) dengan menggunakan tasbih (arab: misbahah) dan semisalnya(4).
Ini adalah hal yang terlarang, termasuk di dalamnya bermain dengan al-gutroh atau pakaian atau alas masjid (sajadah atau terpal atau karpet-pent.) atau dengan siwak atau selainnya, seperti: tasbih, jam tangan, dan polpen. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya, bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمْعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ, غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ, وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَى
“Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi (Sholat) Jum’at, dia mendengarkan (khutbah) dan diam, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at ini dengan Jum’at yang akan datang ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang menyapu kerikil (dengan tangannya) maka sungguh dia telah berbuat sia-sia”.

8.    Menyendirikan hari Jum’at untuk berpuasa.
Ada banyak hadits yang menerangkan tentang larangan menyendirikan hari Jum’at untuk berpuasa, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- beliau berkata, saya mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لاَ يَصُوْمَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ أَنْ يَصُوْمَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”. Muttafaqun ‘alaih dan ini adalah lafadz Imam Al-Bukhari.
Dalam Shohih Muslim, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لاَ تُخُصُّوْا يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِي صَوْمٍ يَصُوْمُهُ أَحَدُكُمْ
“Jangan kalian mengkhususkan hari Jum’at dari hari-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali puasa yang kalian biasa berpuasa dengannya “.
Dan dalam Shohih Al-Bukhari dari Juwairiyah bintu Al-Harits (beliau bercerita) bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah masuk kepada beliau pada hari Jum’at sedang beliau dalam keadaan berpuasa, maka Nabi bersabda:
أَصُمْتِ أَمْسِ؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: فَتُرِيْدِيْنَ أَنْ تَصُوْمِي غَدًا؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: فَأَفْطِرِي
“Apakah kamu berpuasa kemarin?”, dia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Apakah kamu akan berpuasa besok?”, dia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Kalau begitu berbukalah kamu sekarang”.
Dan hadits-hadits (dalam masalah ini) sangat banyak.

Adapun hikmah larangan -wallahu a’lam- adalah apa yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam ucapan beliau, “Untuk menutup sarana masuknya apa-apa yang bukan agama ke dalam agama, dan wajib untuk menyelisihi ahli kitab dalam hal mengkhususkan sebagian hari untuk tidak mengerjakan amalan-amalan duniawi. Dan juga ditambahkan bahwa hari ini (Jum’at), tatkala keutamaannya dibandingkan hari-hari lainnya sangat jelas maka alasan untuk berpuasa padanya sangat kuat, sehingga jadilah dia (Jum’at) sebagai hari yang manusia berbondong-bondong berpuasa padanya dan merayakannya dengan apa-apa yang mereka tidak rayakan dengan berpuasa pada hari-hari lainnya, dan dalam hal ini ada perbuatan menambahkan ke dalam syari’at apa-apa yang bukan bagian darinya. Karena hal inilah -wallahu A’lam- dilarang untuk mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat dibandingkan malam-malam lainnya karena dia merupakan malam yang paling utama …”.
Dan telah berlalu dalam point pertama tentang hukum menyendirikan hari Jum’at untuk berpuasa jika dia bertepatan dengan (puasa) ‘Arafah atau Asyuro` bahwa hal tersebut tidaklah mengapa.
___________
(1)    Maksudnya jika kebetulan puasa-puasa ini jatuhnya pada hari Jum’at.

(2) Termasuk di dalamnya ketika seseorang berbicara menyuruh orang lain untuk mengedarkan celengan jumat atau ucapan lain yang diucapkan jamaah sementara khutbah berlangsung. Maka tidak termasuk ucapan sia-sia, ucapan yang diucapkan ketika khatib sedang duduk di antara dua khutbah dan tidak termasuk darinya percakapan yang terjadi antara khatib dan jamaah, sebagaimana yang tersebut dalam beberapa hadits.
(3)    Yakni bagi orang yang wajib untuk menghadiri jum’at. Adapun kaum wanita atau anak lelaki yang belum balig maka diperbolehkan bagi mereka berjual beli walaupun telah azan jum’at karena mereka tidak diwajibkan shalat jum’at.
(4)    Termasuk hal yang dimakruhkan adalah menyilangkan jari-jari kedua tangan sebelum shalat, berdasarkan beberapa hadits yang hasan dari seluruh jalan-jalannya, di antaranya adalah hadits Ka’ab bin Ujrah, Abu Hurairah, dan selainnya. Dan bisa termasuk di dalamnya perbuatan mengedarkan celengan jumat karena hal itu bisa membuat seseorang lalai dari mendengar khutbah sebagaimana yang telah berlalu. Karenanya hendaknya celengan jumat diedarkan sebelum khutbah atau setelah shalat jumat, wallahu a’lam.

[Diterjemah dari Al-Minzhar fii Bayan Al-Akhtha` karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh hal. 44-47, dan footnote dari penerjemah]

Incoming search terms:

  • Bagaimana jika kita tetap puasa setelah azan zuhur puasa terakhir
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, December 3rd, 2009 at 3:12 pm and is filed under Akhlak dan Adab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

39 responses about “Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Jum’at”

  1. Ahmad said:

    Assalamu’alaikum..
    Mau tanya ustadz,apa yg harus dilakukan jika khotibnya seorang ahlul bid’ah atau seorang yg tdk diketahui manhajnya,apakah tetap wajib mendengarkan khotbahnya? Berilah nasehat krn ditempat ana tdk ada khotib ahlussunnah..

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Jika khutbahnya tidak menyinggung bid’ahnya atau isi khutbahnya adalah hal yang benar, maka tetap wajib untuk mendengarkannya. Akan tetapi jika khutbahnya berisi seruan kepada bid’ah dan kerusakan, maka hendaknya dia tidak mendengarnya dan sebagai gantinya dia menyibukkan dirinya sendiri dengan zikir tapi dengan catatan jangan sampai mengganggu orang yang ada di sekitarnya. Wallahu a’lam.

  2. Ahmad said:

    Ust, dr point no 3 tertulis adzan kedua.. Bukankah sholat jum’at hanya satu adzan?

    Betul azan jum’at hanya satu kali. Tapi artikel yang kami tampilkan di atas adalah terjemahan, dan itu adalah pendapat yang dipilih oleh pemilik kitab (Asy-Syaikh Saleh), maka sebagai amanat ilmiah kami menampilkannya apa adanya. Walaupun kami pribadi berpendapat bahwa azan hanya satu kali.

  3. abuwildan aljakarty said:

    Bismillah
    Afwan yaa ustadz
    semoga disuatu hari Alloh Subhanahuwata’ala mudahkan antum untuk membahas artikel seputar hukum dan adab-adab sholat berjama’ah yang pada hari ini banyak dilalaikan oleh kaum muslimin spt:
    *pembahasan hukum merapatkan shoff
    *pembahasan hukum memakai kopyah,imamah,surban dsb
    *pembahasan hukum mendahului gerakan imam
    *dsb
    Barokallohufiekum

    Akhukum fillah

    Alhamdulillah masalah merapatkan shaf sudah dibahas di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=213
    Sisanya insya Allah diusahakan menyusul, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan waktu luang.

  4. Abu Muhammad Abdul Malik al Faqir said:

    @ Abu Wildan al Jakarty
    Permasalahan hukum memakai kopyah, imamah, peci dsb bisa dilihat di link berikut ini:
    (Sholat tanpa penutup Kepala)
    http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=1317

  5. Abidin said:

    Bismillah,
    Ana mau nanya, bila khotib jum’at berhalangan, badal khotib pun demikian, bagaimana seharusnya pengurus masjid menyelesaikan kasus semacam ini?

    Karenanya dalam memilih pengurus harian untuk masjid (terkhusus untuk acara jumatan) harus ada salah seorang di antara mereka yang mempunyai ilmu dalam agama, sehingga dia bisa langsung menggantikan. Kalaupun tidak ada maka pengurus bisa menyiapkan buku yang berisi khutbah-khutbah yang ditulis oleh para ulama walaupun asatidz, sehingga buku itu bisa dibacakan oleh salah seorang pengurus (yang jadi khathib dadakan) dalam khutbah jumat. Insya Allah tidak ada masalah berkhutbah dengan membaca teks, asalkan adab-adab dalam khutbah tetap diperhatikan, wallahu a’lam.

  6. rULLY said:

    aSSALAMUALAIKUM.

    Pak ustad saya mau tanya bacaan bilal saat sebelum khotib naik mimbar bagaimana?? mohon bisa dikirim kan ke email saya beserta arti dan maksud nya .. trims.

    wassalamualikum…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak ada bacaan yang disyariatkan bagi muazzin ketika khathib naik ke mimbar, kecuali mengumandangkan azan setelah khathib mengucapkan salam.

  7. kaka said:

    assalamualaikum

    setiap sholat jum’at masjid di tempat saya ada salah satu orang yang bagian mengatur sof …meskipun pada saat khotib sedang berkutbah ..

    bagaimana hukumnya pak?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak ada seorangpun jamaah yang boleh berbicara ketika imam sedang berkhutbah, walaupun itu untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar seperti meluruskan shaf. Maka perbuatan itu keliru. Sepantasnya shaf diatur sebelum imam khutbah atau setelahnya sebelum shalat.

  8. dewangga psp said:

    ustd insyaAllah bermanfaat.. ana copy ya

    tafadhdhal

  9. Atta kalya said:

    Ustadz, pd saat khatib di khutbh kedua berdo’a, apkh kta ikut menggkt tangan dan atau mengaminkan? Jazakallahu fikum

    Wallahu a’lam, kami tida kmengetahui adanya dalil dari berdoa berjamaah pada khutbah kedua, karenanya hendanya hal itu tidak dilakukan

  10. ibn Ibrahim said:

    Assalamu’alaykum,
    saya kerap kali melihat wanita yang sholat dzuhur setelah para pria pulang dari sholat Jumat.
    Bagaimana sebenarnya hukumnya? boleh kah wanita sholat manakala adzan pada sholat Jumat telah berkumandang?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Wallahu a’lam, hanya saja hal itu tidak diharuskan. Yang jelas kapan waktu zuhur sudah masuk maka wanita sudah boleh shalat zuhur walaupun shalat jumat belum didirikan

  11. ibrahim said:

    (post ke-tiga)
    Assalamu’alaykum,
    Bagaimana hukum pandangan sebagian wanita yg mlaksanakan sholat dzuhur setelah pria selesai sholat Jumat? apakah ada dalil yg mengaturnya?
    jazakumullah khoyr.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Wallahu a’lam, hanya saja hal itu tidak diharuskan. Yang jelas kapan waktu zuhur sudah masuk maka wanita sudah boleh shalat zuhur walaupun shalat jumat belum didirikan

  12. cahyo said:

    bismillah,

    ya ustadz -hafizhokallahu-, manakah pendapat yang rojih dari apakah disyariatkan shalat sunnah mutlak sampai khotib berbicara di mimbarnya ?,

    mengingat di satu sisi terdapat larangan untuk melakukan shalat ketika matahari tepat pada tengah siang hari, sedangkan di sisi lain terdapat hadits yang diriwayatkan oleh al imam an nasai & al imam ad darimi yang menjelaskan tentang shalat sunnah mutlak ini sebelum khotib mulai berbicara.

    Wallahu a’lam

  13. Darmawan said:

    Assalamu’alaikum ustadz.saya mau bertanya bgaimna klau shalat sunah tahiyatul masjid pda hri jum’at.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tetap disyariatkan bagi jamaah untuk tahiyatul masjid, walaupun imam sedang berkhutbah. Hanya saja dia kerjakan dengan singkat dan tidak memperlama.

  14. Anas Nasrudin said:

    Assalaamu’alaikum wr.wb.
    Ustadz ana mau nanya, kebetulan di RW ana ada sekitar 3 mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat dan ketiga-tiganya tidak penuh (tapi mencapai jumlah minimal 40 jamaah lebih sesuai pendapat imam asy-syafi’i) , ada ustadz yang bilang bahwa jika kondisinya seperti itu (mesjid tidak sampai penuh meskipun mencapai jumlah minimal 40 jamaah) maka jumatan yang dianggap sah adalah jumatan yang paling dahulu takbiratul ihram untuk shalat jumat, maka dengan demikian 2 masjid lainnya yang kedahuluan takbiratul ihramnya dianggap tidak sah shalat jumatnya dan diharuskan menggantinya dengan shalat dhuhur, betulkah demikian? syukran atas jawabannya

    Waalaikumussalam warahmatullah
    {Memperhatikan pelaksanaan jum’at di masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sholat jum’at hanya dilakukan di masjid Nabawy padahal ada mesjid-mesjid lain yang di lingkungan para shohabat untuk sholat lima waktu,
    juga memcermati makna syari’at dalam penegakan jum’at dan makna pelaksanaannya, yaitu untuk menyatukan kaum muslimin dan mendekat hubungan antara sesama mereka, dimana telah ada mesjid ditegakkan jum’at di sekitar kantor,
    serta memperhatikan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya tidak pernah melakukan jum’at di dalam perjalanan, bahkan hanya beliau lakukan di mesjid yang telah ditetapkan,
    maka seharusnya apa yang disebutkan dalam pertanyaan tidaklah terjadi dan seharusnya mereka menegakkan jum’at bersama kaum muslimin yang lainnya di mesjid yang telah ada.} (milis an-nasihah: 8 jan 2009)

    Adapun ucapan ustadz yang antum sebutkan tidaklah benar, karena selama ketiganya mendapatkan izin dari pemerintah untuk mendirikan jumat, memenuhi semua syarat dan rukun shalat jumat, maka insya Allah shalat jumatnya syah dan tidak perlu diulang.
    Walaupun sepantasnya antum shalat di masjid yang paling pertama mendirikan jumat, yakni yang lebih dahulu dibangun dan didirikan jumat padanya daripada yang lainnya. Karena masjid yang belakangan dibangun bisa dikategorikan sebagai masjid tandingan yang seorang muslim sebaiknya tidak shalat di tempat tersebut. Wallahu a’lam.

  15. Ilham said:

    Ustadz,
    Jika suatu masjid melakukan 2 kali adzan jum’at, adzan manakah yang wajib kita jawab; adzan pertama, kedua atau kedua-duanya?

    Wallahu a’lam, Keduanya hendaknya dijawab karena keduanya tetap merupakan azan dan berdasarkan keumuman dalil yang mensyariatkan menjawab azan.

  16. jihadi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

    Uztad, jika doa berjamaah tidak ada dalilnya dalam khotbah kedua maka dalam khotbah kedua apa yang harus disampaikan oleh Da’i (pekhotbah).

    Terima kasih sebelumnya.

    Semoga Allah memasukkan kita semua ke surga-Nya. Amin…

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam pada khutbah kedua adalah beliau melanjutkan materi dari khutbah pertama beliau. Wallahu a’lam

  17. Azmi said:

    Assalamu’alaikum, Pak Ustad,
    Mengenai Point Nomor 2, tentang berbicara ketika khutbah jum,at. bagaimana jika kita ditanya pada waktu tersebut, kita menjawab dengan isyarat mengangguk, apakah termasuk dengan hadist yang diatas,

    wassalamu’alaikum, wr. wb

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Jika isyarat atau anggukan itu bisa melalaikan kita dari mendengar khutbah maka dia termasuk dalam larangan hadits di atas. Wallahu a’lam

  18. Abidin said:

    Assalamu’alaikum
    1. Ustadz tolong dijelaskan mengenai keyakinan nyeleneh, malam jum’at malam serem.
    2. Ustadz, dulu ana kira malam jum’at itu adalah hari kamis malam. jadi kalau hanya kamis siang hari puasa tidak diikuti dengan puasa senin, boleh kan?

    Waalaikumussalam.
    1. Keyakinan seperti ini adalah tathayyur/pamali. Hukumnya syirik kecil. Silakan baca di artikel tentang pamali di situs ini.
    2. Malam jumat memang kamis malam. Tidak mengapa puasa seperti itu.

  19. herri said:

    sy bekerja di satu perusahaan yg pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan untuk shalat jumat,sedangkan dalam 1bagian kami hanya berjumlah 3org..apakah kita diperbolehkan tidak shalat jumat,apakah ada rukhsoh untuk itu?
    Trimakasih pa ustad
    aslmkm

    Jika memang akan timbul mudharat jika dia meninggalkan pekerjaannya (misalnya mesih harus selalu dijaga), maka insya Allah tidak mengapa dia mengganti shalat jumatnya dengan shalat zuhur. Dan tentunya sebaiknya mereka bergantian setiap jumat.

  20. Ummu Firdaus said:

    Afwn Ust,mw tny tt jual beli yg dlarang stl adzan kdua it ap trmsk jual beli kaum wanita yg tdk ikt shalat Jum’at?jazakallohkhoiir.

    Tidak termasuk. Larangan hanya berlaku bagi yang wajib shalat jumat, yaitu setiap lelaki yang balig.

  21. Achmad said:

    Bismillah,

    Ustadz hafizhakallahu,

    Ana bekerja di pabrik, dan di area pabrik tersebut ada masjid yang dibangun oleh perusahaan (bukan masjid umum):

    1. Bolehkah ana sholat jumat di masjid tersebut? Jarak ke masjid umum sekitar +/- 15 menit dengan motor, dalam hal ini masih memungkinkan ana ke masjid umum.

    2. Jika jawaban no.1 adalah ana harus ke masjid umum, bagaimana jika hujan, apakah ada rukhsah untuk sholat jum’at di masjid pabrik?

    3. Dalam bulan ramadhan jam istirahat menjadi jam 11.45 (normalnya 11.30) dan akan terlambat jika ana sholat jum’at di masjid umum, apakah ada rukhsah untuk shalat di masjid pabrik?

    Jazakallahu khairan

    Selama itu masjid yang didirikan shalat lima waktu, maka dia boleh shalat jumat di masjid mana saja.

  22. idris said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..
    pertanyaan saya:
    Apakah do’a yang dibacakan pada khutbah kedua (Allahumaghfir lilmuslimina walmuslimat, wal mu’minina wal mu’minat al ahya.. dst.) adalah kalimat yang seharusnya ada pada khutbah kedua?? apakah kalimat tersebut merupakan do’a yang harus di-amin-kan oleh jama’ah dan juga dengan mengangkat kedua tangan..??
    lalu saya pernah membaca tentang isyarat jari telunjuk oleh khatib di saat khutbah kedua. Kapankah isyarat itu harus dilakukan?? dan haruskah dengan menggerak-gerakkan telunjuknya??
    bagaimana keadaan seorang khotib yang menyampaikan khutbah dengan berdiri memegang tongkat?? apakah ini tradisi (bid’ah)??
    bagaimana seharusnya seorang khatib yang diundang menyikapi keharusan tradisi naik mimbar dgn shalawat-shalawat atau ragam bacaan yang nyatanya berbeda-beda di setiap masjid..

    Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.
    Insya Allah akan dibahas tersendiri satu persatu.

  23. arif momping said:

    bagaimana dengan khatib yang berkhutbah sementara ia jatuh (pingsan) apa boleh dilanjtkan oleh orang lain ?

    Wallahu a’lam. Boleh digantikan.

  24. barid said:

    hari ini saya lega setelah membaca tulisan ustad, sukron

  25. isna karima said:

    assalamu alaikum..
    Ustadz ana mo nanya, doa khotbah jumat ditmpt ana disertai doa tolak bala dgn membalikkan kedua telapak tangan kedepan. Yg ana tanyakan: apkh memang ada dalil yg mensyariatkn hal demikian?
    Syukron katsiron…

    Waalaikumussalam.
    Sepanjang pengetahuan kami tidak ada, wallahu a’lam.

  26. arir said:

    assalamualaikum ustad,ana mau nanya begini ada di sebagian mesjid khatib jumat khutbahnya memakai bahasa Arab,apakah di syariatkan dalam agama apakah ada dalil dan bagaimana hukum sholat jumat trsebut? terima kasih ustad atas jawabanya,wassalamualaikum.

    Waalaikumussalam.
    Khutbah jumat boleh disampaikan dengan bahasa apa saja, sesuai dengan yang dipahami oleh jamaah. Adapun hukum shalat jumatnya tidak terengaruh dengan khutbahnya, khutbah dan shalatnya tetap syah insya Allah.

  27. hamzah satria said:

    assalamu alaikum wr. Wb,,,?
    Mw nanya “di saat waktu acara jumatan sedang belangsung namun suara pengantar ataupun adzannya tdk kedengaran oleh kt, setelah kt dtg ke mesji namun shalat jum’at telah berlangsung yg rakaat keduanya.
    Pertanzaannya,
    bagaimana mengatasinya?
    Bagaimana pula kalau kt tdk lg mendengarkan khatib berhutba?

    Waalaikumussalam.
    1. Saya rasa ini hal yang sangat jarang terjadi, karena waktu shalat jumat itu sudah jelas dengan jam, karenanya dia jangan menunggu adzan. Jika dia sudah mengetahui waktu jumat sudah dimulai (biasanya sekitar jam 12.00 wib), lalu dia sengaja menunggu adzan untuk datang namun dia tidak mendengarkan adzan sehingga dia terlambat shalat, maka ini dianggap perbuatan sengaja.
    2. Shalat jumat syah walaupun tidak mendengar khutbah, hanya saja mendengar khutbah itu wajib, karenanya dia berdosa jika dia sengaja.

  28. Nur said:

    Afwn Ust,
    Apabila khotib sudah naik mimbar.. ada yg berbicara maka telah berbuat kesia-siaan..
    apakah sholat jum’at nya juga batal ustadz..?
    Karena tidk sah/sia-sia..Wajibkah stelah selesai sholat jum’at …melakukan sholat dzuhur 4 rakaat..?
    Syukron katsiron…

    Shalat jumatnya tetap syah tapi dia tidak mendapatkan pahalanya atau pahalanya berkurang.

  29. anshary mk said:

    kata ustadz tidak ada bacaan bilal ketika khatib naik mimbar. krn tid di syari’atkan. lalu gmna ulama kok melakukannya. itu kan ngarang namanya. ibadah kok dikarang. jadi gak puas pada ajaran Nabi klo gitu, ya bikin aja agama sendiri. bagi pelakunya tolong ajukan dalil hadisnya, aku tggu di link ini ya. trims.

  30. abu ubaidillah said:

    Bismillahirrahmanirrahim. @anshary
    Siapakah ulama yang melafadzkan atau meridhai bacaan bilal ketika khatib naik mimbar? Perlu diketahui bahwa di Indonesia tidak ada ulama. Banyak kriteria yang harus dipenuhi agar seseorang pantas disebut sebagai ulama. Orang-orang di Indonesia yg dianggap sebagai ulama adalah orang-orang yg sebenarnya belum memenuhi kriteria tersebut, sehingga belum pantas dianggap sebagai ulama.

  31. Ai said:

    Asalammualaikum, Pak Ustadz apabila didlm mendengarkan kutbah dia tertidur/ tdk mendengarkan ? Apakah harus berwudu lagi ? Dan apakah sholatnya Sah ?

    Waalaikumussalam.
    Kalau sekedar tidak mendengarkan, maka tidak perlu berwudhu lagi dan shalatnya tetap syah.
    Tapi kalau sampai tertidur maka wudhunya batal dan harus diulang.

  32. wahyu said:

    Bismillah,Bila kita tertidur ketika mendengarkan khutbah jum’at, lalu terbangun ketika iqomah sdh dikumandangkan, sedangkan jamaah telah berdiri u sholat jumat, apakah boleh kita bertayamum dengan mengusap tembok karena u berwudhu sdh tdk memungkinkan karena hrs melewati jamaah?

    Jika dia sanggup pergi berwudhu lalu kembali dan masih mendapati berdirinya imam di rakaat kedua, maka dia wajib berwudhu, tidak boleh bertayammum.

  33. Abul Fadhl said:

    Kalau misalnya shaf satu ada yang kosong tapi shaf dua penuh, bolehkah melangkahi orang do shaf kedua untuk mendapatkan shaf pertama?

    Ya, boleh, selama tidak mengganggu jamaah di shaf kedua.

  34. Abul Fadhl said:

    Sama satu lagi ustadz, kalau pas khutbah wudhu kita batal, bolehkah orang lain menempati tempat duduk kita?
    Jazakallahu khoiron

    Kalau kita masih mau kembali di situ, maka tidak boleh ada orang yang menempati tempat kita.

  35. ian said:

    bismillah,
    tadz, shalat sunnah ba’da jum’at itu berapa rakaat? dilakukan di masjid atau di rumah?
    jazakallahu khayran.

    Bisa 2 rakaat dan bisa 4 rakaat, bisa di masjid dan bisa juga di rumah.

  36. Abu Abdurrahman said:

    assalammu alaikum, ada kawan ana bertanya soal sholat dhuhur di hari Jum’at. Apakah ada dalilnya yang menyatakan bahwa sholat jum’at sudah menggantikan sholat dhuhur atau tidak usah dhuhur saat hari jum’at? jazakallah khair

    Waalaikumussalam.
    Ada, di dalam surah Al-Jumu’ah, ayat yang mensyariatkan shalat jumat.
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Apabila

    telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi

    ; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah: 10)
    Jadi, setelah shalat jumat ditunaikan, tidak perlu lagi shalat zuhur tapi disuruh kembali melakukan aktifitasnya.

  37. adira desrizky said:

    assalamualaikum.. pas ustadz saya mau bertanya.. saya bekerja di indomaret dan peraturan disana bahwa tidak boleh tutup toko pas sholat jumat.. Yang ingin saya tanyakan adalah

    1) saya sudah sering mengganti sholat jumat dengan sholat dzuhur dan hadist nabi mengatakan bahwa 3 kali tidak sholat jumat menjadi kafir.. apakah saya sudah menjadi kafir?

    2)apa boleh semisal mnggu ini saya sholat juamt lalu mnggu depannya menggantikan dengan sholat dzuhur sesuain dengan tuntutan kerja saya?

    demikian pak ustadz.. terima kasih

    1. Yang jelas kebiasaan itu harus anda hentikan dan bertaubat kepada Allah. Allah Maha Mengampuni semua dosa.
    2. Tidak boleh. Jika memang tidak ada teman wanita atau teman lelaki non muslim yang bisa menggantikan anda, maka kami sarankan anda mencari pekerjaan yang lain.

  38. adang said:

    assalamu’alaikum wr.wb.
    pa ustadz saya mau tanya. di masjid saya ada khotib yg setelah shalat sunnah ba’diah beliau shalat 2 rakaat tapi dengan cara duduk.dalam hadits ada tidak keterangannya?shalat sunnah apakah itu?

    Waalaikumussalam.
    Maksudnya ba’diah jumat?
    Apapun itu, selama dia disyariatkan, maka pada dasarnya boleh melakukan shalat sunnah sambil duduk walaupun kuat untuk berdiri.

  39. Achmad said:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Pa ustad saya mau tanya dalil tentang mengganti shalat jum’at dengan shalat dzuhur. Tirimakasih

    Waalaikumussalam.
    Shalat jumat adl pengganti shalat zuhur di hari jumat bagi yang mengerjakannya. Sehingga org yang tidak shalat jumat, dia tetap wajib mengerjakan asalnya, yaitu shalat zuhur.