Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (Final)

October 21st 2011 by Abu Muawiah |

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (Final)

Berikut kelanjutan dari 7 kesalahan dalam shalat, yang tersebut dalam artikel sebelumnya

8. Bermain-main dengan menggunakan pakaian, jam tangan, atau yang lainnya.
Amalan ini menafikan kekhusyukan, dan telah berlalu dalil-dalil (akan disyari’atkannya) khusyu’ dalam masalah ke-5. Dan sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melarang untuk menyentuh batu kerikil dalam sholat karena bisa menafikan kekhusyukan, beliau bersabda:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يَمْسَحِ الْحَصَى فَإِنَّ الرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ
“Jika salah seorang di antara kalian berdiri dalam sholat, maka janganlah dia menyapu kerikil (di tempat sujudnya), karena rahmat (Allah) berada di depannya”. Riwayat Ahmad dan Ashhabus Sunan dengan sanad yang shohih.
Dan tidak jarang perbuatan sia-sia itu bertambah sampai menjadi gerakan yang banyak yang mengeluarkan sholat dari gerakan asalnya, sehingga sholat bisa menjadi batal.

9. Memejamkan kedua mata dalam sholat tanpa ada keperluan.
Ini adalah perkara yang makruh, Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata, “Bukan termasuk tuntunan beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memejamkan kedua mata dalam sholat”. Beliau (juga) berkata, “Para ahli fiqhi berselisih pendapat tentang makruhnya, Imam Ahmad dan selain beliau memakruhkannya, mereka berkata, ["Ini adalah perbuatan orang-orang Yahudi (dalam sholat mereka)"] dan sebagian lain membolehkannya dan tidak memakruhkannya, mereka berkata, ["Perbuatan ini lebih cepat menghasilkan kekhusyukan yang merupakan mana dia merupakan ruh, rahasia, dan maksud dari sholat.
Yang benarnya adalah dikatakan, ["Jika membuka mata tidak menghilangkan kekhusyukan maka ini yang paling afdhol. Tapi jika dengannya (membuka mata) akan menghalangi dia untuk khusyu' karena di kiblatnya ada semacam hiasan, at-tazrawiq, atau yang semacamnya dari hal-hal yang bisa mengganggu hatinya, maka ketika itu tentunya tidak dimakrukan untuk menutup mata"]. Dan pendapat yang menyatakan disunnahkannya dalam keadaan di atas lebih mendekati ushul dan maksud syari’at dibandingkan pendapat yang menyatakan makruhnya, wallahu A’lam”. Selesai ucapan Ibnul Qoyyim -rahimahullah-.

10. Tidak meluruskan dan merapatkan (arab: taswiyah) shof-shof.
Allah telah memerintahkan untuk menegakkan (arab: iqomah) sholat:
وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ
“Tegakkanlah shalat”. (QS. An-Nur: 56, Ar-Rum: 31, dan Al-Muzzammil: 20)
Dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ, فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ
“Luruskanlah shof-shof kalian, karena sesungguhnya pelurusan shof termasuk menegakkan sholat”. Riwayat Al-Bukhary dan Muslim dari Anas.
Dan Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari An-Nu’man bin Basyir -radhiallahu ‘anhu-:
لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ
“Demi Allah, kalian harus benar-benar meluruskan shof-shof kalian atau Allah  betul-betul akan membuat hati-hati kalian saling berselisih”.
Dan telah datang perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf-shaf dan anjuran terhadapnya dalam beberapa hadits.

11. Kurang perhatian untuk sujud di atas tujuh tulang, yakni: Jidad bersama hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan jari-jari kedua kaki.
Dari Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththolib -radhiallahu ‘anhu- bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ: وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ
“Jika seorang hamba bersujud, maka ikut pula sujud bersamanya tujuh tulang: Wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya”. Riwayat Muslim sebagaimana yang disandarkan oleh Al-Majd dalam Al-Muntaqo dan Al-Mizzy, dan (hadits ini) juga diriwayatkan oleh selainnya (Muslim).
Adapun mengangkat kedua kaki dalam sujud, maka ini menyelisihi apa yang diperintahkan, berdasarkan hadits yang tsabit dalam Ash-Shohihain dari Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-:
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءِ, وَلاَ يَكُفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا: اَلْجَبْهَةِ, وَالْيَدَيْنِ, وَالرُّكْبَتَيْنِ, وَالرِّجْلَيْنِ
“Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang, dan memerintahkan agar jangan mengikat rambut dan menggulung pakaian. (Ketujuh tulang itu adalah) Dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki”.
Maka orang yang sholat diperintahkan untuk sujud di atas kedua kaki, dan bentuk sempurnanya adalah dengan menjadikan jari-jari kedua kakinya mengarah ke kiblat. Dan bentuk cukupnya adalah dengan meletakkan (merapatkan) bagian dari masing-masing kaki di atas bumi. Jika dia mengangkat salah satunya maka tidak syah sujudnya jika terangkatnya kaki terus-menerus sepanjang sujudnya.
Di antara manusia ada juga yang tidak meletakkan jidad dan hidungnya dengan baik ke bumi ketika dia sujud, atau dia mengangkat kedua kakinya atau tidak meletakkan kedua telapak tangannya dengan baik, dan semua ini menyelisihi apa yang diperintahkan.

12. Membunyikan jari-jemari.
Hal ini termasuk perkara-perkara yang dibenci dan dilarang dalam sholat. Adapun membunyikan (jari-jemari) maka Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Syu’bah maula Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang hasan, bahwa dia berkata, “Saya pernah sholat di samping Ibnu ‘Abbas lalu saya membunyikan jari-jemariku. Maka tatkala sholat sudah selesai, beliau berkata, ["Tidak ada ibu bagimu!, apakah kamu membunyikan jari-jemarimu sedangkan engkau dalam keadaan sholat?!"]“.
Dan telah diriwayatkan secara marfu’ tentang larangan membunyikan jari-jemari dari hadits ‘Ali riwayat Ibnu Majah akan tetapi haditsnya lemah dan tidak bisa dikuatkan.

13. Menyilangkan jari-jemari (arab: Tasybik) dalam sholat dan sebelum sholat.
Ini termasuk perkara yang dimakruhkan. Dari Ka’ab bin ‘Ujroh beliau berkata, saya mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الصَّلاَةِ, فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي الصَّلاَةِ
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian dia sengaja keluar untuk sholat, maka janganlah sekali-kali dia menyilangkan antara kedua tangannya, karena sesungguhnya dia sedang dalam sholat”. Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzy sedang dalam sanadnya ada perselisihan.
Dan Imam Ad-Darimy, Al-Hakim, dan selainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’:
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ, كَانَ فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ, فَلاَ يَفْعَلْ هَكَذَا -وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ-
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya kemudian dia mendatangi masjid, maka dia terus-menerus dalam keadaan sholat sampai dia pulang. Karenanya, janganlah dia berbuat seperti ini -beliau menyilangkan antara jar-jari beliau-”. Zhohir sanadnya adalah shohih.
Dan dalam masalah tasybik ada hadits-hadits lain yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

[Diterjemah dari Al-Minzhar hal. 24-40, karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh, dengan sedikit perubahan]

Incoming search terms:

  • hukum shalat menggunakan jam tangan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 21st, 2011 at 12:15 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (Final)”

  1. vava said:

    Asalamualaikum,Ustadz bagi seorang perempuan itu.lebih baik atau lebih utama sholat di mesjid/berjama’ah atau sholat sendiri dirumah?
    terimakasih ustadz.

    Waalaikumussalam.
    Lebih utama dia shalat di rumah sendirian.

  2. Abu Auza'i said:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Ana sekedar usul Ustadz, mungkin akan lebih memudahkan pemahaman dan lebih mudah untuk dihafal jika kesalahan2 dalam sholat ini dibagi sesuai dengan tingkatnya, misalnya: kesalahan2 yang membatalkan sholat, kesalahan2 yang tingkatnya haram atau makruh, atau dengan pembagian yang lain yang menurut Ustadz lebih baik.
    Insya Allah bagi yang berusaha menghafal, mudah untuk mengelompokkan dan tidak keliru apakah ini kesalahan yang sekedar makruh atau malah kesalahan yang membatalkan sholat.

    بارك الله فيكم يا أستاذنا

    Jazakallahu khairan atas sarannya, sangat baik.
    Hanya saja mengingat kami hanya menerjemah, jadi kami tidak bisa merubah atau menambahkan ucapan kami.

  3. argian said:

    assalamualaikum pak ustadz, saya punya masalah serius ketika solat,, yaitu sering was-was dan ragu ttg bacaan solat dan takbir saya.. terkadang terlintas dlm benak bahwa saya tidak mengucapkan takbir saat perpindahan gerakan solat..pertanyaannya
    1. bagaimana hukumnya jika lupa membaca takbir ketika hendak berpindah gerakan solat, misal berpindah dari sujud ke duduk diantara dua sujud
    2. bagaimana hukum jika lupa membaca salah satu bacaan solat, misal doa sujud

    syukron

    Waalaikumussalam.
    Kalau sudah pasti dia lupa, maka dia cukup sujud sahwi 2 kali sujud di akhir shalat, sebelum atau setelah shalat boleh.

  4. andri said:

    Bismillahirrahmanirrahim. Afwan tadz, apa hukumnya memejamkan mata ketika berdzikir atau berdoa? Apakah hal itu termasuk menyerupai orang-orang kafir?
    Jazakallahu khairan atas jawabannya.

    Wallahu a’lam. Yang jelas, bukan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa dan berdzikir sambil memejamkan mata.

  5. gladis said:

    assalamu’alaikum pak ustad

    saya mau tanya kalo kita ragu atau lupa bacaan tasyahud akhir , apakah harus diulang lagi , atau dilanjutkan saja?

    dan kalo waktu sujud katanya kita bs brdoa mengucapkan keinginan kita di sujud terakhir , apakah itu diboleh kan pak ustad? apakah ada hadist yang mendukung pernyataan tsb?

    Waalaikumussalam.
    1. Cukup sujud sahwi saja.
    2. Ya boleh, tapi harus dalam bahasa arab, itupun sebaiknya dengan menggunakan doa yang biasa digunakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Anda bisa melihat pembahasannya di dalam Sifat Shalat Nabi karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

  6. abdullah said:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    ustadz ana mau tanya, kalau kita sholat 2 atau 1 rokaat pada tahiyat akhir apakah harus membaca sholawat?

    Ya, tetap membaca shalawat, karena itu tahiyat akhir.

  7. Abdul Qayyum said:

    Pa hukumx jka org yg shlat tdak mngrti arti bcaan shlatx.?
    Bkan allah udh mnjlskan “laa taqrabussholah wa antum sukaaro”
    sukaro it artix mbuk, ato dgn kt lain dy tdk mngrti pa yg dy ucapkan
    Nah, skrg pa bdax antra org yg shlat tp tdk mngrti arti bcaan shlat dgn org mbuk.?

    Beda antara mabuk dengan ‘tidak paham’ seperti itu. Shalatnya tetap syah.