Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (1)

October 19th 2011 by Abu Muawiah |

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (1)

1. Tidak tuma’ninah dalam sholat
Masalah ini termasuk masalah yang kejahilan merebak di dalamnya, dan merupakan maksiat yang sangat jelas karena tuma`ninah adalah rukun yang sholat tidak teranggap syah tanpanya. Hadits al-musi`u sholatuhu (orang yang jelek sholatnya) sangat menunjukkan akan hal tersebut. Makna tuma`ninah adalah orang yang sholat tenang di dalam ruku’nya, i’tidalnya, sujudnya, dan ketika duduk di antara dua sujud, dengan cara dia tinggal sejenak sampai setiap tulang menempati tempatnya, dan dia jangan tergesa-gesa untuk berpindah dari suatu rukun (sholat) sampai dia tuma`ninah dan setiap persendian telah menempati posisinya.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada al-musi`u sholatuhu (orang yang jelek sholatnya) tatkala dia tergesa-gesa dan tidak tuma`ninah:
اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
 “Kembali ulangi sholatmua, karena (tadi) kamu belum sholat”.
Dan dalam hadits Rifa’ah (juga) dalam kisah al-musi`:
ثُمَّ يُكَبِّرَ وَيَرْكَعَ فَيَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِي, ثُمَّ يَقُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, وَيَسْتَوِيَ قَائِمًا حَتَّى يَأْخُذَ كُلُّ عَظْمٍ مَأْخَذَهُ
“Kemudian dia bertakbir lalu ruku’ dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya sampai semua tulang-tulangnya tenang dan rileks. Kemudian dia membaca “Sami’allahu liman hamidah” dan tegak berdiri sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing”.

2. Sengaja mendahului dan menyelisihi imam.
Ini membatalkan sholat atau (minimal) membatalkan raka’at. Sehingga barangsiapa yang ruku’ sebelum imamnya, maka batal raka’atnya kecuali jika dia ruku’ kembali setelah ruku’nya imam, demikian halnya pada seluruh rukun-rukun sholat. Maka yang wajib bagi orang yang sholat adalah mengikuti dan mencontoh imamnya, jangan dia mendahuluinya dan jangan pula terlambat dalam mengikutinya dalam satu rukun (gerakan) atau lebih.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dengan sanad yang shohih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ: فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَلاَ تُكَبِّرُوْا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا وَلاَ تَرْكَعُوْا حَتَّى يَرْكَعَ
“Tidaklah seorang imam dijadikan sebagai imam kecuali untuk diikuti; maka jika dia bertakbir maka bertakbirlah kalian dan janganlah kalian bertakbir sampai mereka sudah bertakbir, jika dia ruku’ maka ruku’lah kalian dan janganlah kalian ruku’ sampai mereka sudah ruku’ …”. sampai akhir hadits. Asal haditsnya ada dalam Ash-Shohihain, dan juga diriwayatkan semisalnya oleh Imam Al-Bukhary dari Anas -radhiyallahu ‘anhu-.
Dimaafkan dalam masalah ini orang yang lupa dan orang yang jahil.

3. Berdiri menyempurnakan raka’at yang tertinggal sebelum imam melakukan salam kedua.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لاَ تَسْبِقُوْنِي بِالرُّكُوْعِ وَلاَ السُّجُوْدِ وَلاَ الْاِنْصِرَافِ
“Janganlah kalian mendahuluiku dalam hal ruku’, tidak pula dalam hal sujud, dan juga dalam hal inshorof”.
Para ulama berkata, “Makna inshirof (pergi) adalah salam”.
Salam dikatakan inshirof karena orang yang sholat sudah dibolehkan pergi setelah salam, dan dia (imam) dianggap inshirof setelah salam yang kedua.
Maka orang yang masbuk hendaknya menunggu sampai imam menyempurnakan sholatnya, kemudian setelah itu baru dia berdiri lalu menyempurnakan dan mengqodo` raka’at yang luput darinya, wallahu A’lam.

4. Melafadzkan niat saat hendak sholat.
Ini adalah bid’ah, dan telah berlalu dalil-dalil akan haramnya berbuat bid’ah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sama sekali tidak pernah melafadzkan niat untuk sholat, Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam Zadul Ma’ad atau dalam Al-Hadyun Nabawy, “Kebiasaan beliau (Nabi) jika berdiri untuk sholat, beliau mengucapkan, ["Allahu Akbar"] dan tidak membaca apapun sebelumnya dan beliau juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak pernah mengucapkan, ["Usholli lillahi sholata kadza mustaqbilal qiblati arba'a raka'atin  imaman aw ma`muman" (Saya berniat melakukan sholat ini karena Allah dengan menghadap kiblat, 4 raka'at, sebagai imam atau sebagai ma`mum)]. Dan beliau juga tidak mengucapkan, ["ada-an"], tidak pula ["qodho-an"], dan tidak pula ["fardhol waqti"]. Ini adalah 10 bid’ah, yang sama sekali tidak pernah dinukil dari beliau dalam sanad yang shohih, tidak pula yang dho’if (lemah), tidak secara musnad (bersambung) dan tidak pula mursal (terputus) satupun lafadz darinya. Bahkan tidak pernah dinukil dari seorangpun dari para sahabat, tidak dianggap baik oleh seorangpun dari tabi’in dan tidak pula oleh Imam Empat”. Selesai ucapan beliau.

5. Mengangkat pandangan ke atas dalam sholat atau berpaling ke kanan dan ke kiri tanpa ada keperluan.
Adapun mengangkat pandangan ke atas, maka hal ini adalah terlarang dan telah datang ancaman bagi pelakunya. Jabir bin Samuroh telah meriwayatkan hadits, beliau berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلّيْهِمْ
 “Hendaknya orang-orang yang mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam sholat, berhenti dari perbuatan mereka itu. Atau pandangan mereka tidak akan kembali lagi kepada mereka”. Riwayat Muslim.
Adapun berpaling tanpa ada keperluan, maka hal ini mengurangi (nilai) sholat seorang hamba sepanjang tubuhnya tidak seluruhnya berubah arah, jika tubuhnya sudah berubah arah maka sholatnya batal. Dari ‘A`isyah -radhiallahu ‘anha- beliau berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- perihal berpaling dalam sholat, maka beliau bersabda:
هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
“Itu adalah curian yang setan curi dari sholat seorang hamba”. Riwayat Al-Bukhary.
Dan dalam riwayat At-Tirmidzy dan beliau menshohihkannya:
إِيَّاكَ وَالْاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ هَلَكَةٌ
“Hati-hati kalian dari menoleh dalam sholat, karena sesungguhnya itu adalah kebinasaan”. sampai akhir hadits.
Dan masih ada hadits-hadits yang lain berkenaan dengan masalah berpaling (dalam sholat).

6. Tidak mengangkat khimar ke atas kepala dalam sholat bagi wanita atau tidak menutup kedua kakinya.
Aurat wanita dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, tapi tidak mengapa baginya untuk menutup wajahnya jika ada lelaki yang lewat dan semisalnya. Maka yang wajib atasnya adalah memakai khimar, yaitu kain yang menutupi kepala dan dada, hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ
“Allah tidak menerima sholat wanita (yang sudah) haid (baca: balig) kecuali dengan memakai khimar”. Riwayat Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan selainnya
Dan juga wajib menutup kedua kaki berdasarkan hadits:
اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ
“Wanita adalah ‘aurat”. Riwayat At-Tirmidzy dengan sanad yang shohih.
Dan semakna dengannya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Abu Daud, dan selain keduanya dari Muhammad bin Zaid bin Qonfadz dari ibunya bahwa dia bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Pakaian apakah yang dipakai oleh seorang wanita dalam sholat?”, maka beliau menjawab:
تُصَلِّي فِي الْخِمَارِ وَالدِّرْعِ السَّابِغِ إِذَا غَيَّبَ ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ
“Dia sholat dengan memakai khimar dan pakaian yang luas sampai kedua kakinya tertutupi”.
Dan semakna dengannya juga dalam hadits Ummu Salamah, “Hendaknya dia (wanita tersebut) menurunkannya (pakaiannya) sepanjang satu dziro’ (dari mata kaki)”.

7. Tidak takbiratul ihram bagi masbuk yang mendapati imam sedang ruku’.
Ini adalah kesalahan besar karena takbiratul ihram adalah rukun sholat, maka wajib baginya melakukan takbiratul ihram dalam keadaan dia berdiri, kemudian setelah itu baru boleh baginya untuk ruku’ bersama imam. Dan takbiratul ihram sudah mencukupi takbir untuk ruku’ (takbir intiqol), tapi jika dia bertakbir untuk ihram (takbiratul ihram) lalu bertakbir juga untuk ruku’ maka maka itu yang lebih sempurna dan lebih berhati-hati. Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْكَعُ
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- jika sholat, selalu bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir ketika ruku'”.

Incoming search terms:

  • apa hukumnya jika sholat kata saat tahiyat lupa
  • apakah sholat itu batal apabila lupa bacaan tahiyat akhir
  • bolehkah doa iftitah diulang dalam shalat sunnah
  • sah tidak jika dalam sholat kita lupa bacaannya tapi kita ulang kembali
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, October 19th, 2011 at 10:11 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

28 responses about “Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (1)”

  1. Andri Irawan said:

    Saya mau nanya soal ini “Melafadzkan niat saat hendak sholat”

    berarti niat sholat itu tidak ada sama sekali meskipun didalam hati. Karena kalau menurut saya arti melafadzkan itu berarti mengucapkan secara lisan. mohon bantuan untuk penjelasannya

    Niat itu adalah kehendak. Jadi cukup memunculkan kehendak di dalam hati, tanpa perlu mengucapkannya dalam hati.

  2. Dea said:

    sering sekali biasanya saya tidak tumaninah, tp tidak tergesa-gesa juga. Saya selalu mencoba untuk tumaninah, sudah diniatkan, tp pada prakteknya, kadang saya malah bingung “apakah saya td tumaninah?” lalu, kalau dipertengahan shalat, kita lupa unt tumaninah, apa shalatnya kita ulang dari awal?

    Tuma’ninah di sini adalah berada pada posisi shalat dengan sempurna (berdiri tegak, duduk tegap, dan sujud di atas 7 tulang). Jika dia melakukannya maka dia sudah tuma’ninah, walaupun dia hanya membaca doa ruku’ atau sujud hanya sekali.
    Jadi harus dibedakan antara tuma’ninah dengan khusyu’.

  3. mnaufals said:

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Maaf, berarti Anda (Pak Ustadz) kalau solat tidak membaca niat?
    Tp apa hukumnya kalo membaca niat? Apakah dosa karena Nabi tdk begitu?

    Wassalamu’alaikum wr wb.

    Waalaikumussalam.
    Ya, kami tidak melafalkan niat dengan lisan. Ya itu berdosa, karena Nabi tidak pernah melakukannya.

  4. abdillah said:

    bismillaah
    ustadz saya mau tanya..
    jika seseorang masbuq dan mendapati imam yg sedang ruku’maka kita diperintah untuk ruku’ pula dengan didahului takbirotul ihrom. apakah sholat kita sdh terhitung mendapat satu roka’at??

    Belum terhitung satu rakaat, karena dia tidak membaca al-fatihah. Hadits yang menyuruh ikut ruku’ itu lemah. Jadi patokan dapat satu rakaat bersama imam adalah jika dia sempat membaca al-fatihah sebelum imam ruku’. Silakan baca artikel ‘Makmum Wajib Baca Al-Fatihah’ dalam blog ini.

  5. herlan yanuardi said:

    Assalamu’alaikum

    ustadz saya mau nanya

    jika saya lupa satu kata saja dalam tahiyat akhir contoh:Wa’ala a-li Muhammad.tapi saya membaca wa ala muhammad dan saya tidak sujud sahwi karna tidak tau bacaannya apakah sah shalat saya?

    Waalaikumussalam.
    Maksudnya tidak tahu bacaannya?
    Yang jelas, kalau dia tidak sujud sahwi maka sujud sahwinya sudah gugur dan shalatnya pun insya Allah tidak terpengaruh keabsahannya.

  6. Achmad said:

    Bismillah,

    Dalam sholat sirr, apakah boleh kita cukup menggerakkan bibir saja tanpa mengeluarkan suara?

    Ya boleh.

  7. Ida farida said:

    Assalamualaikum
    ustadz,
    bagaimana posisi tangan bagi laki laki ketika bersedekap?apakah tepat diatas perut atau ataukah dsamping posisi tulang iga?bagaimana jg dgn posisi perempuan?mohon penjelasannya.
    Terima kasih
    wassamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Boleh di atas perut dan boleh di atas dada. Perempuan juga sama.

  8. ahmad said:

    afwan,ana mau bertanya.apakah membaca doa ( selain dzikir ) setelah sholat diperbolehkan ?
    Dan kapan kita boleh mengangkat tangan ketika berdoa?
    Jazakallah ustadz

    Tidak diperbolehkan.
    Mengangkat tangan itu setiap kali berdoa, kapan dan dimana saja.

  9. fadli said:

    Mau nanya ustad, jika kita masbuq dalam keadaan imam msh berdiri, setelah takbir apakah tetap membaca iftitah atau langsung membaca al fatihah?

    Langsung membaca al-fatihah.

  10. fadli said:

    satu lagi,, misal kita sholat magrib sendirian dengan bacaan disirkan, masih dirakaat pertama tiba-tiba ada yang mengikuti sebagai makmum. apakah kita langsung menguatkan bacaan dirakaat pertama itu atau nanti pada saat rakaat ke dua?

    Terserah anda, bisa dikeraskan saat itu juga atau pada rakaat kedua. Wallahu a’lam.

  11. athia said:

    Assalamu’alaikum.

    Saya memiliki beberapa pertanyaan seputar bacaan tahiyat.
    1) Pada sholat-sholat sunnah, misalnya tarawih, apakah setiap akhir salam bacaan tahiyat diteruskan sampai akhir atau sampai shalawat saja,ataukah sampai akhir shalat tarawih bacaan tahiyatnya dibaca sampai habis?
    2) Banyak sekali orang-orang yang membaca tahiyat dengan versi yang berbeda-beda. Manakah yang lebih utama?
    3) Bacaan tahiyat yang dibaca sampai sholawat nabi, apakah harus dibaca sampai ‘wa’alaa aali sayyidinaa muhammad’ atau sampai ‘allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammad’ saja?
    4) Apakah kata ‘sayyidinaa’ boleh tidak dibaca? Dengan maksud agar menghemat waktu?

    Syukran.

    Waalaikumussalam.
    1.Tiap 2 rakaat, dibaca tahiyat sampai akhir, karena itu dihukumi tahiyat akhir, yang ditandai dengan salam setelahnya.
    2. Selama semuanya shahih dalilnya, membaca semuanya secara berganti-ganti, itu lebih utama.
    3. Lihat bacaan2 shalawat dalam buku Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.
    4. Memang kata ‘sayyidina’ tidak ada dalam hadits shalawat, karenanya tidak perlu dibaca.

  12. dadang said:

    Asslamualaikum,
    Ustadz pembahasan ini sangat menarik, bantu saya untuk bisa shalat yang baik dan benar sesuai apa yang telah disyariatkan.

  13. Ummu Atiqa said:

    Assalamu3alaikum warahmatullah..
    Afwan Ust,, sy memiliki balita yg ketika sy sdg dlm keadaan sholat terkadang dia nangis/rewel. ketika itu pula sy berusaha meredakan rengekannya dgn mengayun ayunannya atw menggendongnya. setelah reda, sy melanjutkan shalat sy tanpa mengulangi dr awal. bgmn Ust, apakah shalat sy sah??

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak boleh seperti itu, gerakan yang banyak tadi sudah membatalkan shalat anda.
    Yang tepatnya: Anda bisa menggendongnya sambil shalat. Jika anda ruku atau sujud, anda bisa letakkan dia. Dan jika duduk atau berdiri, anda gendong lagi. Tapi jangan sampai mengeluarkan ucapan yang bisa membatalkan shalat.

  14. fahrezi said:

    Ass. Wr. Wb

    P’ Ustadz saya mau nanya?

    bagaimana posisi pandangan kita pada saat Berdiri, ruku, sujud, tahiyat dsb. ane khawatir
    ada pandangan yg dpat membatalkan shalat.

    Wass. Wr. Wb.

    Kemana saja boleh asalkan tidak melalaikan dari shalat.
    Khusus ketika tasyahud, ada dalil yang menunjukkan dia memandang ke jarinya yang sedang menunjuk.

  15. muqie salim said:

    Assalamu alaikum warahmatullah,
    Saya mau bertanya ttg kebiaasaan imam yg melafazkan “shalata jamiah rahimakumullaah” dan kebiasaan para makmum yg menyahut “shalata la ilahaillallah”. Apakah hal ini serupa dengan point ke 4 di atas? Terima kasih

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Tidak serupa, tapi sama-sama kesalahan sebelum shalat.

  16. ahulkhan said:

    soal melafadzkan niat..adakah hadist yg bener2 shahih utk tdk perlu qt melafadzkan niat walaupun dalam hati ketika hendak sholat…

    Kita tidak melakukannya karena Nabi shallallahu alaihi wasallam memang tidak pernah melakukannya, walaupun di dalam hati.

  17. aisyah said:

    assalamualaykum wr. wb. afwan, terkait jawaban dan pertanyaan no 8 di atas, antum bilang setelah sholat tidak diperbolehkan berdoa (selain berdzikir), ini mksudnya seperti apa? mohon diperjelas.. dan apa alasannya sehingga tidak diperbolehkan?
    syukron.

    Waalaikumussalam.
    Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berdoa setelah selesai shalat 5 waktu. Kebiasaan yang beliau lakukan adalah berzikir dengan zikir2 yang sudah masyhur dalam buku-buku zikir.

  18. rois said:

    Ass .ustd .mau tanya .gmna klo imam tdk bca alfatihah dlm salat sunat I’d d rokkaat kedua

    Makmum sendiri wajib membaca Al-Fatihah.

  19. Yan Nanda said:

    Bismillah…
    Smg Pak Ustadz dan Keluarga selalu dalam Ridho ALLAH…

  20. Wulan said:

    Ass. . . Ustad mw tnx
    kdang di saat shlt sdh brusha untk ksyu’ tpi trkdng mmkrkn suat hal apkh shltnx bsa sah or tdk n apa hrus di ulng?trims . . .

    Shalatnya tetap syah, dan tidak perlu diulang sama sekali.

  21. muhammad Aminullah said:

    Assalaamu’alaykum.
    ijin copas, ustadz.
    barakallaahu fiik.

  22. fery said:

    Assalamualaikum pa ustadz,

    menanggapi pertanyaan mengenai lemahnya hadist tentang masuknya rakaat bagi masbuk pada ruku itu tidak dianggap 1 rakaat, karena sepengetahuan saya dengan makna hadist ada seorang sahabat pada waktu itu jamaah dalam keadaan ruku dan sahabat itu melakukan takbir dan melakukan ruku kemudian sahabat tersebut jalan sambil ruku sampai ke shaf,setelah shalat rasul menanyakan siapakah tadi yang melakukan ruku sambil berjalan,dan rasul berkata bahwa perbuatan itu jgn diulangi bukan shalatnya yang diulangi.bagaimana pendapata pa ustadz? terimakasih.
    Wassalam..

    Waalaikumussalam.
    Tidak juga ada keterangan dalam hadits itu yang menunjukkan bahwa shalatnya tidak diulangi.

  23. abu fayruz said:

    jika imam membaca qunut apa yg harus kita lakukan diam atau ikut mengangkat tangan? syukron

    Yang mana saja boleh. Tapi saya sendiri lebih memilih ikut mengangkat tangan. Wallahu a’lam.

  24. Ikhwah said:

    Afwan Ustad,,

    Boleh tau ustad,, Ada dalilnya yg melafalkan niat dengan lisan itu dosa (haram Hukumnya)…???
    Tolong Penjelasan Ustad..
    Syukran Jazakumullah Khairan Katsiran.

    Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Dan semua amalan yang tidak pernah beliau lakukan dalam agama, tidak boleh kita melakukannya.

  25. Nana said:

    Assalaamualaikum,
    Kalo saya tdk salah mengerti ustad mengatakan bhw tdk boleh berdoa setelah shalat? Dan hanya boleh berzikir saja? Why is that?
    Wassalaam

    Waalaikumussalam.
    Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Kebiasaan beliau sehabis shalat adalah berzikir.

  26. zuhri musonif said:

    Assalamualaikum Wr. wb.
    ustadz saya masih belum jelas ttg penjelasa bahwa Nabi SAW tdk pernah berdo’a setelah shilat lima waktu. lalu kapan waktu beliau berdo’a? karena saya diajarkan utk selalu berdo’a utk segala hal, terutama kpd org tua stlh selesai sholat. Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/waktu-waktu-mustajabah.html

  27. zulen said:

    ustat tolong perbanyak tulisan tentang tata cara sholat,,baik sebagai makmum atau imam,,karna sholat itu tiang agama,, semoga allah menghindari kita dari kejelekan,dan semoga orang2 yg berilmu ahlih sunah di berikan surga firdaus

  28. jullian said:

    Pak ustdat, apa shalat kita sah, jika masih ngomongin orang, masih merasakan orang lain!?

    Tetap syah. Namun ngomongin orang adalah dosa besar.