Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

April 10th 2012 by Abu Muawiah |

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

1.    Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib.
Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah.

2.    Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib.
Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 “Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”.

3.    Melalaikan kekhusyukan dan konsentrasi ketika berdo’a.
Allah -Ta’ala- berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
“Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut”. (QS. Al-A’raf: 55)
Dan Allah -Ta’ala- juga berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. “ (QS. Al-Anbiya`: 90)
Maka orang yang berdo’a sudah sepantasnya untuk khusyu’, merendah, tunduk, dan berkonsentrasi, inilah adab-adab dalam berdo’a. Orang yang berdo’a tentunya bersemangat agar permintaannya diberikan dan dipenuhi keinginannya, maka sudah sepantasnya kalau dia juga bersemangat untuk menyempurnakan dan memperindah do’anya untuk diangkat ke hadapan Penciptanya sehingga do’anya bisa dikabulkan.
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang dihasankan oleh Al-Mundziry dari ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ, فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ
“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dalam keadaan kamu yakin akan dikabulkan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan (permintaan) seorang hamba yang berdo’a kepada-Nya dengan hati yang lalai”.

4.    Putus asa dari dikabulkannya do’a dan terlalu tergesa-gesa ingin dikabulkan.
Perbuatan ini termasuk penghalang-penghalang dikabulkannya do’a, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
يُسْتَجَابُ أَحَدُكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ, يَقُوْلُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian sepanjang dia tidak tergesa-gesa (dalam berdo’a), dia mengatakan, “Saya sudah berdo’a tapi belum dikabulkan”.
Dan telah kita terangkan bahwa orang yang berdo’a hendaknya yakin do’anya akan dikabulkan, karena dia sedang berdo’a kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Baik. Allah -Ta’ala- berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian”. (QS. Ghafir: 60)

Dan barangsiapa yang tidak dikabulkan permintaannya maka dia tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Ada penghalang yang menghalangi dikabulkannya do’a, misalnya: do’anya untuk memutuskan silaturahmi atau untuk kesewenang-wenangan atau karena dia (orang yang berdo’a) telah memakan makanan yang haram. Maka hal ini kebanyakannya menghalangi dikabulkannya do’a.
Kedua: Pengabulan do’anya diundurkan atau dia diselamatkan dari kejelekan yang semisalnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry -radhiallahu ‘anhu-, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحْمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ, وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ, وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلِهَا. قَالُوْا: إِذَنْ نُكْثِرَ, قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
“Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: Akan dipercepat pengabulan do’anya, atau akan dipersiapkan (disimpan) untuknya di akhirat, atau dihindarkan dia dari bahaya yang semisal dengannya”. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (do’a)”. Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pemberiannya)”. Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid, dan haditsnya shohih dengan beberapa pendukung: dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit riwayat At-Tirmidzy dan Al-Hakim, dan juga dari Abu Hurairah riwayat Ahmad dan selainnya.
Adapun hadits yang diriwayatkan (dengan lafadz):
اِسْأَلُوْا بِجَاهِيْ, فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ
 “Mintalah kalian (kepada Allah) dengan menggunakan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangatlah besar”.
Maka ini adalah hadits yang palsu, tidak shohih penisbahannya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

5.    Melampaui batas dalam berdo’a, misalnya dia berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutuskan silaturahmi.
Ini termasuk penghalang dikabulkannya do’a, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:
سَيَكُوْنُ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الدُّعَاءِ
“Kelak akan ada kaum yang melampaui batas dalam berdo’a”. Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan selain keduanya, dan hadits ini hasan.
Allah -Ta’ala- berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-A’raf: 55)
Dan di antara bentuk melampaui batas dalam berdo’a adalah berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutus silaturahmi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dan selainnya dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit -radhiallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا, أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلِهَا, مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحْمٍ
“Tidak ada seorang pun muslim di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a kecuali Allah akan mengabulkannya atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang semisalnya. Sepanjang dia tidak berdo’a untuk sebuah dosa atau untuk memutuskan silaturahmi”. sampai akhir hadits, dan haditsnya hasan.

[Diterjemah dari Al-Minzhar hal. 41-43 karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh]

Incoming search terms:

  • bagaimana berdoa dalam sujud
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, April 10th, 2012 at 7:36 pm and is filed under Akhlak dan Adab, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

13 responses about “Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa”

  1. Pencari Ilmu said:

    Assalmu’alaikum.
    Ustadz, mohon penjelasannya.
    1. Untuk point 1 diatas, berarti boleh berdo’a dgn mengangkat kedua belah tangan setelah sholat2 sunnah, terutama sholat malam?
    2. Untuk point no 2 diatas, bagaimana kalau mengaminkan do’a qunut subuh dengan mengangkat kedua belah tangan berlandaskan disayriatkan mengikuti gerakan imam? Sedangkan sewaktu do’a qunut tsb imam mengangkat kedua belah tangan.
    3. Bagaimana sikap dan kapan sebaiknya berdo’a?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Ya boleh.
    2. Boleh saja.
    3. Silakan baca artikel adab-adab berdoa dalam blog ini.

  2. siti arafah ummu izul said:

    Bismillah…

    Sykrn udh bagi ilmux. Ijin share & copas. Jazaakumullahu khairan

  3. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Terimakasih atas jawaban pertanyaan saya sebelumnya ustadz. Bagaimana hukum untuk do’a bersama yg dilakukan di masjid2 ataupun dalam acara2 pengajian, syukuran dll?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Jika yang dimaksud adalah satu orang berdoa sementara yang lainnya mengaminkan, maka amalan ini pada dasarnya tidak mengapa. wallahu a’lam.

  4. mamat said:

    Asslkm wr.wb

    Trus bagaimana dgn salah satu hadits,

    “Artinya : Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengankat kedua tangannya (meminta-Nya), Dia kembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Hadits Riwayat Abu Dawud].

    1. Apa hadits diatas sahih?
    2. Apa kita sama sekali tidak boleh mengangkat tangan ketika berdoa?

    Haditsnya shahih dan kita amalkan. Jadi yang dipermasalahkan dalam artikel di atas adalah berdoa setelah shalat wajib, bukan masalah mengangkat tangannya. Jika dia berdoa pada sepertiga malam terakhir, maka disunnahkan dia mengangkat tangan.

  5. abi said:

    Mana dalil yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat tangan ketika berdoa???

    saya ingin penjelasan..

    TQ

    Hadits-hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat tangan ketika berdoa adalah mutawatir ma’nawi, karenanya tidak ada keraguan akan disunnahkannya mengangkat tangan ketika berdoa.

  6. mas didik said:

    Assalamualaikum Ustad
    Numpang tanya, kalo hadist tidak Shohih berarti Biad’ah ?

    Waalaikumussalam.
    Tidak mutlak seperti itu.

  7. Andi said:

    Assalamualaikum Ustad

    1. saya belum paham betul artikel yg diatas. yg point pertama. apa maksudnya setelah kita sholat wajib sama sekali tidak boleh melakukan do’a. berarti setelah sholat wajib. hanya boleh melakukan dzikir atau baca sholawat2 nabi.

    2. lalu waktu atau kapan berdo’a yg tidak salah.

    Waalaikumussalam.
    1. Yang menjadi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah shalat memang hanya berdzikir.
    2. Waktu2 berdoa sangat banyak, di antaranya:
    a. Di dalam shalat saat sujud dan sebelum salam, tapi harus dengan bahasa arab.
    b. Antara azan dan iqamah.
    c. Sepertiga malam terakhir.
    d. Saat sedang safar.
    e. Sepanjang hari saat berpuasa, dan waktu-waktu lainnya.

  8. me said:

    jadi bagaimana cara membaca doa qunut ketika sholat subuh? apakah tetap dibaca walaupun tidak mengangkat tangan atau bagaimana?

    Tidak ada sunnahnya qunut saat shalat subuh.

  9. me said:

    jadi sholat subuh tidak usah membaca doa qunut ya?

    Iya. (MT)

  10. seno said:

    assalamualaikum ustadz,
    saya mau tanya
    1. Bgmn yg harus dilakukan makmum, jika imam mbaca qunut, apakah ikut mengangkat tangan dan mengamini atau diam saja?
    2. Saya pernah dengar ada yg mengatakan bhwa setelah solat wajib adalah wktu yg baik untuk berdoa. Apakah benar atau tdk ustadz?
    3. Bgmn dzikir yg dilakukan nabi setelah sholat wajib?

    Syukron ustadz

    Waalaikumussalam.
    1. Sebaiknya ikut angkat tangan dan mengamini.
    2. Ada yang berpendapat seperti itu, tapi itu kurang tepat karena tidak didukung oleh dalil yang shahih lagi tegas.
    3. Kami sudah pernah memuat artikel tentang ini, silakan disearch.

  11. irwan pujianto said:

    assalamu`alaikum..

    ustad,, ijin copy semua artikelnya ya..

    bolehkan..??

  12. hamba alloh said:

    Ustadz disitu ada penjelasan kalau berdo’a saat sujud raka’at terakhir harus pake bahasa arab
    trus kalo berdo’a pake bahasa sembarang (indonesia) tidak boleh? hukumx apa kalo berdo’a pake bahasa selain arab? tolong penjelasanx serta atas dasar apa harus berdo’a pake bahasa arab pada saat sujud ra’at terakhir dari hadits maupun pendapat ulama…jazzakalohu….

    Karena kalau bukan bahasa arab, itu termasuk berbicara dalam shalat, dan berbicara dalam shalat itu membatalkan shalat. Jangankan bahasa indo, bahasa arab saja, tapi bukan doa dan bacaan shalat, lalu kita mengucapkannya ketika sujud, maka itu juga membatalkan shalatnya.

  13. Dwi said:

    Assalammu’alaikum pak ustad

    ada yang mau saya tanyakan mengenai jawaban pak ustad,

    2. Waktu2 berdoa sangat banyak, di antaranya:
    a. Di dalam shalat saat sujud dan sebelum salam, tapi harus dengan bahasa arab.

    berarti saat sujud, kita tidak boleh berdoa menggunakan bahasa indonesia ? kalau tetap di lakukan dengan bahasa indonesia, apakah menjadi bid’ah ??

    terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Ya, tidak boleh dengan selain bahasa arab.
    Tidak bid’ah, tapi bisa membatalkan shalat.