Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Pelamaran

December 26th 2010 by Abu Muawiah |

Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Pelamaran

Sebagai pelengkap pembahasan, kami akan menyebutkan beberapa kemungkaran yang biasa terjadi dalam fase pelamaran. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, mengingat kemungkaran-kemungkaran ini sangat sering terjadi dan tidak diragukan merupakan wasilah menuju perzinahan -wal’iyadzu billah-. Di antara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah:
1.    Seorang lelaki menazhor seorang wanita tanpa seizin dari wali wanita tersebut.

2.    Terjadinya khalwat dalam proses nazhor, dimana sang wanita berduaan dengan lelaki yang akan melihatnya.

3.    Terjadinya ikhtilat dalam proses nazhar, dimana lelaki pelamar ditemani nazhar oleh lelaki lain yang sudah menikah. Lalu mereka beralasan bahwa mahram dari wanita yang akan dinazhar adalah istri dari lelaki yang menemaninya itu.
Ini jelas merupakan kebodohan dalam memahami makna mahram. Karena yang dimaksud dengan mahram di sini adalah lelaki dewasa yang haram menikah dengan wanita itu selama-lamanya. Dan lebih aneh lagi dia membiarkan calon istrinya dilihat oleh lelaki yang menemaninya itu, dan istri lelaki itu juga merelakan suaminya melihat wanita lain. Subhanallah, betapa bodohnya mereka sehingga dipermainkan oleh setan.

4.    Mengadakan ritual saling mengikat antara seorang lelaki dan wanita sebelum pernikahan, yang ini sering dikenal dengan ritual ‘tunangan’.

5.    Mondar-mandirnya seorang lelaki ke rumah wanita yang sudah dia lamar, berduaan dengannya dan keluar bersamanya.
Telah berlalu dalil akan haramnya seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan wanita yang bukan mahramnya. Karena seorang wanita, walaupun dia telah dilamar oleh seorang lelaki dan telah disetujui oleh kedua belah pihak tetap lelaki tersebut bukanlah mahramnya sampai mereka berdua menikah, walaupun lelaki tersebut adalah keluarga dekatnya, seperti sepupunya.

6.    Terjadinya perbincangan antara keduanya tanpa ada hal yang mengharuskan mereka untuk berbincang, terlebih lagi jika perbincangannya dilakukan melalui telepon dan yang semisalnya, karena kebanyakan isi perbincangan mereka merupakan perkara yang tidak halal mereka perbincangkan sebelum keduanya menikah. Hal ini diperparah jika sang wanita melembutkan suara dan cara berbicaranya, karena dari sinilah awal munculnya berbagai macam bentuk perzinahan. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman memerintahkan kaum mu`minah:
يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab: 32)

7.    Seorang lelaki mengunjungi wanita yang telah dia lamar/tunangannya dengan alasan mau mengajarinya Al-Qur`an atau ilmu-ilmu agama lainnya.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya dengan nash pertanyaan sebagai berikut, “Saya telah melamar seorang wanita, dan saya telah membantunya menghafal 20 juz dari Al-Qur`an -walhamdulillah- selama fase pertunangan. Saya duduk bersamanya (mengajarinya) dengan keberadaan mahram di sisinya, dan dia juga konsisten dengan hijab yang syar’iy -walhamdulillah-. Pembicaraan kami tidak pernah keluar dari masalah agama atau membaca Al-Qur`an, waktu kunjunganpun singkat. Maka apakah dalam perbuatan saya ini adalah perkara yang dilarang secara syar’iy?”.
Maka Syaikh menjawab, “Ini tidak boleh (dilakukan), karena perasaan seorang lelaki ketika dia duduk bersama wanita yang telah dia lamar/tunangannya biasanya akan menimbulkan kejolak syahwat, sedangkan (perasaan) bergejolaknya syahwat kepada selain istri dan budak adalah diharamkan. Dan semua perkara yang bisa mengantarkan kepada yang haram maka dia juga haram”.

8.    Mengundur pernikahan setelah proses pelamaran selesai dan disetujui oleh kedua belah pihak atau panjangnya waktu pertunangan. Baik dikarenakan masih ada syarat yang belum dipenuhi oleh pihak lelaki, atau karena menunggu selesainya pendidikan salah satunya atau keduanya atau dengan alasan yang sering dilontarkan oleh kebanyakan orang yakni “sampai keduanya sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya”. Semua ini adalah alasan yang tidak syar’iy, karena bisa menimbulkan kerusakan di kemudian hari. Maka yang wajib diperhatikan adalah hendaknya setiap lelaki yang mau melamar seorang wanita haruslah sudah memiliki persiapan berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan sebelum dan setelah pernikahan, sehingga dia tidak menunggu lagi setelah disetujuinya pelamaran kecuali langsung mengadakan pernikahan, wallahul muwaffiq.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, December 26th, 2010 at 9:17 am and is filed under Fiqh, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Pelamaran”

  1. indra said:

    assalamualaikum…
    untuk zaman sekarang sangatlah susah untuk dilakukan hal diatas, bukannya Allah tdk akan memberatka umatnya ? Saya sering pergi berdua dgn pacar saya tp dlm batas biasa2 saja (nonton, makan, dll) apa hal ini mudah dihindari tuk zaman skrg ini ? Sudi kiranya ustad memberi pencerahannya. Wasalam

    Waalaikumussalam.
    Bahkan hal itu sangat mudah di zaman sekarang. Dan terbukti sudah ratusan juta manusia bahkan lebih yang menikah dengan tetap menjaga adab-adab di atas.

  2. tiwie said:

    assalamu’alaykum..
    mau menanyakan untuk kemungkaran point ke-3. apabila kondisi keluarga pihak akhwat belum paham proses ta’aruf yang syar’i dan bisa dibilang sangat awam untuk masalah agama, maka tentunya butuh membutuhkan proses yang mungkin sebelumnya tidak melibatkan orangtua atau mahram, karena belum ada kesepakatan untuk menikah, apalagi bagi orang kampung apabila ada seorang laki-laki yang datang ke rumah maka biasanya adalah proses melamar. sedangkan proses nadzor itu akan berlanjut ke jenjang berikutnya apabila ada kecocokan antara keduanya. apabila proses nadzor tidak berlanjut maka dikhawatirkan akan membebani pikiran orang tua yang kita paham bahwa mereka sangat sensitif untuk masalah anak-anaknya meskipun itu hal yang kecil, apalagi ini adalah hal yang boleh dibilang moment yang besar. bagaimana?

    Waalaikumussalam.
    Tetap tidak boleh, bagaimana bisa seorang muslimah yang baik membiarkan dirinya dikenal oleh lelaki asing tanpa seizin orang tuanya?! Bagaimana bisa seorang muslimah hanya memberitahu hal itu kepada temannya sementara orang tuanya sendiri tidak tahu?! Ini jelas tindakan yang tidak bisa diterima oleh hati dengan fitrah yang baik.
    Kalau memang orang tua belum paham, ya berusaha dipahamkan. Bahwa datangnya lelaki ini baru sekedar untuk mengenal, bukan melamar.
    Wallahu yahdi ila shirathil mustaqim.

  3. razak said:

    assalamu’alaykum ustad…
    mohon pencerahannya, sedikit curhat sebelumnya,
    ane sudah pacaran sekitar 8 tahun lamanya, dan baru-baru ini ane belajar islam yg bener, lalu memutuskan utk melamar pacar ane…sudah melamar, dan lamaran ane diterima baik oleh ortunya…kemudian timbullah masalah,ustad…calon yg ane lamar tersebut sekarang punya PIL (pria idaman lain). pertanyaannya, apakah ane berhak membatalkan lamaran ini ? disatu sisi, calon tidak mau untuk dibatalkan, dan ane sudah minta kepada calon untuk mengakhiri hubungannya dengan PIL-nya tersebut, dan dia bilang tidak bisa mutusin PIL ini begitu aja, kecuali, kalau ane dan calon ane ini sudah menikah, maka si PIL tersebut akan berhenti dengan sndirinya…ane si ragu memegang janji dari calon ane tersebut, karna sampai skrg (sdg menuju pernikahan, insya Alloh awal bulan thn depan)calon ane dan PIL-nya tersebut masih sms-an dan jalan bareng…mohon pencerahannya sekali lagi, ustad…

    jazakalloh

    Waalaikumussalam.
    Anda berhak membatalkan lamaran tersebut, dan sebaiknya memang seperti itu. Karena Islam telah melarang menikahi wanita atau lelaki yang masih mencintai orang lain. Silakan baca artikel ‘Adab-Adab Melamar Pinangan’.

  4. ita said:

    Assalmu’alaikum ustadz,,
    ana telah dilamar namun masa lamaran ke pernikahan ditangguhkan 1 th dikarenakan dari kedua belah pihak orang tua minta jangan terburu2, sedang kami tidak bisa meyakinkan orang tua karena ikhwan yang melamar ana blum siap dngn biaya nikahnya, jd disarankan untuk menabung terlebih dahulu, di pertengahan/dimasa2 menunggu ini terkadang kami berinteraksi dgn sms an namun itu jarang klo perlu saja, tp terkadang tergoda untuk sms yang tidak perlu walau jarang,dan kami bertemu langsung ketika dia ingin menyerahkan uang tabungannya yang dicicil /bulan, smakin kemari terkadang ana merasa ragu, terkadang ana merasa yakin.. ana takut klo akhirnya Allah tidk meridhoinya, karena smakin kesini beberapa ujian datang baik yang dilakukan ikhwan itu maupun ana… ana berusaha memperbaiki niat kembali karena Allah dan ikhlas dngan yang terjadi pada akhirnya nanti tp ana khawatir menyakiti hatinya bila ana bukan jodohnya nanti, begitu pula dngan ana,,, karena kami sudah saling menyatakan bahwa kami saling menyukai,,mohon nasehatnya ustadz…

    jazakallah khoiron..

    Waalaikumussalam.
    Kesalahan jelas nampak dari awal, dimana si ikhwan berani melamar sementara dia belum siap. Inilah yang menimbulkan banyak fitnah setelahnya. Karenanya hendaknya hubungan kontak selama ini dihentikan, dan anda berdua masih berhak untuk memutuskan atau melanjutkan, karena belum terjadi pernikahan.
    Yang jelas, terus beristikharah kepada Allah setiap kali dihinggapi keraguan.

  5. Ummu khubayb said:

    Bagaimana tentang mengenal calon melalui facebook?
    Dalam hal ini, pihak keluarga wanita memberikan alamat fb anak perempuannya kpd keluarga pihak lelaki.
    Kemudian pihak keluarga lelaaki ,memeriksa ,memperhatikan,menyelidiki keadaan si wanita tsb melalui apa saja yg terdapat di dalam fb nya.
    Tentu saja,si wanita dan keluarga dalam keadaan tahu hal tersebut.
    Ini benar2 terjadi!!!!! Dan ana terkadang kasihan dgn si wanita yg diperiksa seperti itu.diperiksa,lalu dikomentari ini itu,dan ujung2nya tak lulus seleksi.padahal photonya sudah dilihat,dan sang pria dan wanita sudah saling ngobrol melalui hp .

    Na’udzubillahiminzalik.
    Ini salah satu bentuk kemungkaran dan akibat jelek dari FB. Karenanya semua hal ini (pelanggarannya) harus ditinggalkan.

  6. Ayazka said:

    Assalamu’alaykum
    ustadz, boleh tahu dalil yg dijadikan sebagai hujjah bahwa nazhor itu wajib atas seizin wali dari wanita tsb?

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam. Sepengetahuan kami, nazhar itu hanya sunnah dan tidak diwajibkan.

  7. ummu aisyah al jakarty said:

    bismillaah..
    ustadz, teman ana akan nadzor dirumah wasilahnya. alasan wasilah (ummahat itu) itu dgn nadzor dirumahnya bukan dirumah orangtua si akhwat adalah bahwa ada banyak pendapat mengenai tata cara nadzor dan juga agar tidak timbul fitnah jika teman ana tidak berjodoh dgn ikhwan ini. yang mau saya tanyakan, apakah benar ada pendapat ulama yang mengatakan bolehnya nadzor dengan cara seperti itu, dimana si akhwat hanya didampingi seorang ummahat dirumah ummahat itu, bukan oleh walinya? jika proses nadzor itu berhasil baru si ikhwan ke rumah si akhwat.
    jazaakumullaahu khairan katsiro atas penjelesannya.

    Itu adalah was-was setan, dengan alasan tidak ingin timbul fitnah, dia telah membuat fitnah yang besar. Apa dia mau anak putrinya juga diperlakukan seperti itu? Anak putrinya ada yang melihat (untuk dilamar) tanpa sepengetahuan dia? Jangan perlakukan orang seperti itu jika dia sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu.

  8. Abdulloh said:

    ya ustadz, barakallahu fiek.
    apakah di perbolehkan nadzhor di tempat wasilahnya setelah si lelaki yg hendak menadzhor menghubungi pihak orang tua si perempuan, lalu pihak orangtua (karena keterbatasan waktu dan tempat) mewakilkan kepada seseorang yg dipercaya dimana seseorang itu bukanlah mahrom bagi si wanita,yakni suami si ummahat temannya si wanita yg hendak di nadzhor trsebut. jadi ketika proses nadzhor si wanita di temani oleh suami istri tersebut dengan di batasi hijab-hijabya. apakah ini bisa di sebut dengan perwalian? semoga ustadz bisa memahami pertanyaan ana.

    jazakulloh khoir

    Wallahu a’lam, kami berpendapat hal itu tidak dibolehkan guna menutup sarana timbulnya fitnah. Karena wanita hanya boleh dinazhar dengan cara seperti itu jika dia ditemani oleh mahramnya.

  9. avazea said:

    BismiLLAH,
    Ust mau nanya,apabila mau nadzor,apakah akhwat boleh duduk ber lama-lama dengan calonnya,dan di situ ada mahromnya yg menemani dan mahromnya saja yg berbicara dengan sicalon,jika tdk boleh bagaimana tatacara nadzor yg bnr?
    Syukron ust

    Sebaiknya dia duduk di situ hanya pada saat akan dinazhor. Setelah itu, hendaknya dia kembali masuk, dan biarkan mahramnya yang berbicara dgn calonnya.

  10. antoro said:

    Assallamuallaikum ustdz saya ada sedikit pertnya an… Ini yg mau sya pertnyakan sbb !!!
    Saya pernah mendengar seseorang yg mau mengadakan lamaran ata melamar anak gadis orang salah 1 yang mengantar dari keluarga laki2 ada yang belum menikah meskipun itu kakaknya tidak diperbolehkan ikut mengantar apa benar begitu ustdz mohon penjelasan nya … Terimakasih
    assallamuallaikum

    Waalaikumussalam.
    Itu tidak benar. Tidak ada aturan tertentu dlm hal ini.

  11. Kautsar said:

    asalamualaikum, Pa Ustd

    mohon pencerahannya, saya menyukai seorang wanita tapi belum saya ungkapkan ke wanita tsbt perasaan saya ini dan ada niat saya untuk menikahinya segera, namun saya baru mengetahui bahwa wanita tersebut sudah bertunangan dengan orang lain sejak 2009 lalu hingga kini belum dinikahi karena alasan pihak pria trsbt ingin menyelesaikan kuliahnya,

    saya sempat berfikir untuk mencoba saja bicara dengan orang tuanya langsung walaupun saya tahu wanita yang saya sukai sudah bertunangan, dan ada kemungkinan hajat saya ini akan di tolak besar oleh pihak wanita karena saya berfikir lebih baik di tolak daripada menyerah sebelum mencobanya

    pertanyaannya pa ustad, apakah saya berdosa jika saya berbicara dengan orangtua si wanita ini untuk hajat saya yang ingin melamarnya dan akan segera menikahi anaknya??

    Terimakasih, Ustd

    Waalaikumussalam.
    Jika wanita itu sudah dilamar, maka anda tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar oleh muslim yg lain. Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seorang muslim melamar wanita yg telah dilamar oleh muslim yg lain.