Kepada Siapa Kita Menimba Ilmu?

December 4th 2008 by Abu Muawiah |

Kepada Siapa Kita Menimba Ilmu?

Berkata Al-Imam Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata :
“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, maka tatkala fitnah telah terjadi, mereka pun berkata: ‘Sebutkanlah rawi-rawi kalian kepada kami, maka diperiksalah, bila berasal dari kalangan ahlus sunnah maka diambil haditsnya dan bila berasal dari ahlul bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Kedua atsar di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya).

Tatkala sebagian dari orang yang bertaubat (kepada jalan salaf) lalai untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar dan ketentuan-ketentuan tersebut, akhirnya merekapun menjadi lahan/ santapan syubhat¬syubhat dan menjadi tempat permainan kebanyakan orang yang mengaku berilmu dan bermanhaj salaf.
Maka tidaklah datang seorang yang mengaku berilmu atau menampakkan punya hubungan dengan ulama besar Ahlus Sunnah, kecuali engkau akan menemukan para pemuda yang bertaubat akan berkumpul disekelilingnya tanpa meneliti hakikat orang itu dan tanpa memeriksa riwayat hidupnya. Dan jika orang tersebut melihat bahwa pengikut-pengikutnya semakin banyak, dan para pencintanya semakin tergila-gila padanya, maka mulailah dia menampakkan apa yang selama ini disembunyikannya dan menjadi tujuannya. Kemudian engkau akan melihatnya meneriakkan imarah dalam dakwah atau mendirikan kemah tajammu’iyyah dan selainnya dari hal-hal yang menyelisihi prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah.

Ketika itulah orang-orang yang ingin bertaubat kembali pada manhaj salaf mulai guncang, dan terbagilah mereka menjadi dua atau tiga bagian; Ada yang mendukung, yang menentang, dan ada yang menyimpang.
Dan kegoncangan ini hanyalah terjadi karena dua perkara :
Pertama:
Bahwa orang-orang yang bertaubat tidak menekuni ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu tentang prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Hal tersebut karena ilmu adalah pelindung dari berbagai ketergeliciran.
Tidak engkau memperhatikan bagaimana ilmu itu dapat menjaga Abu Bakrah radhiyallähu ‘anhu pada perang Jamal, tatkala mereka memajukan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallähu ‘anha (sebagai pemimpin -pent). Maka Abu Bakrah telah dijaga oleh sebuah hadits yang pernah dia dengarnya dari Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam, dimana beliau ‘alaihish sholätu was salam bersabda tatkala datang kepada beliau berita kematian Raja Kisra dan penetapan putrinya (sebagai penggantinya), beliau bersabda :
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang nenyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.”
Maka tatkala terjadi fitnah tersebut, teringatlah Abu Bakrah akan hadits ini, yang akhirnya menjaganya dari fitnah tersebut, dimana Abu Bakrah berkata :
عَصَمَنِيَ اللهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنِ اسْتَخْلَفُوْا قَالُوْا : ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ تَعْنِيْ الْبَصْرَةَ ذَكَرَتُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِيَ اللهُ بِهِ
“Alläh telah melindungiku dengan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam saat kematian Kisra, beliau bertanya : “Siapa yang mereka angkat sebagai gantinya”, kata mereka : “Putrinya”. Maka Nabi shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam bersabda : “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.’
Kemudian Abu Bakrah berkata : “Maka tatkala ‘Aisyah tiba di Bashrah, akupun teringat sabda Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam sehingga Alläh melindungiku dengannya.”
(HR. Al-Bukhäri (7099), An-Nasä`i (5403), dan At-Tirmidzy (2365), dan konteks hadits diatas adalah konteks beliau)

Kedua:
Tidak merujuk kepada para ulama. Padahal yang sepantasnya adalah bertanya kepada ulama dan para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamä’ah, (mereka) yang punya pengetahuan tentang orang yang akan diambil faidah darinya, maka ditanyakan tentang orang tersebut :
Apakah ia termasuk penuntut ilmu yang bermanhaj salaf atau bukan?
Apakah ia telah belajar dengan bentuk studi ilmiyah yang benar, dimana telah pantas menuntut ilmu darinya atau tidak?
Maka bila jawabannya “tidak”, maka perkaranya selesai, walhamdulilläh. (artinya orang tersebut ditinggalkan,-pent.).
Dan bila jawabannya positif, maka tentunya dapat diambil faedah darinya tetapi dengan tidak berlebih-lebihan padanya, melainkan menempatkannya pada kedudukan dan martabatnya.

Dan disini ada point yang sangat penting, yaitu membedakan antara para ulama rabbany yang merupakan acuan ilmiyah dan acuan dalam masalah-masalah kontemporer, seperti Al-Imam Muhammad Näshirudïn Al-Albäni dan Al-Imam Abdul ‘Azïz bin Abdulläh bin Bäz –semoga Alläh merahmati keduanya-, dan ulama-ulama rabbany yang masih tersisa seperti syaikh Muhammad bin Sholïh Al-Utsaimïn, syaikh Sholïh bin Fauzän Al-Fauzän, syaikh Robï’ bin Hädy Al-Madkhaly, syaikhunä Muqbil bin Hädy A1-Wädi’iy dan selain mereka dari para ‘ulama yang selevel dengan mereka dari kalangan ahli ‘ilmu dan ahli fatwa, Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Dimana mereka ini, memiliki tingkatan dan kedudukan (tersendiri), dengan para penuntut ilmu yang menonjol, diketahui tingkat keilmuannya, telah nampak teguhnya mereka diatas sunnah melalui kitab-kitab karya mereka dan rekomendasi para ulama rabbany terhadap mereka. Maka untuk mereka ini, tingkatan dan kedudukan (tersendiri).
Serta dengan para penuntut ilmu yang berada di bawah tingkatan mereka, yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran.

[Dikutip dari buku ‘Wasiat Berharga Bagi yang Kembali ke Manhaj Salaf’ wasiat keempat]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, December 4th, 2008 at 11:01 am and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Kepada Siapa Kita Menimba Ilmu?”

  1. Kemana Orang yang Bertaubat Menimba Ilmu? « T.A.U.B.A.T said:

    […] Abu Muawiah di http://al-atsariyyah.com/?p=511 Categories: Nasihat Tags: Menuntut Ilmu Comments (0) Trackbacks (0) Leave a comment […]

  2. Rizal said:

    Assalamu’alaikum
    1. Ustadz ada syubhat disebagian kalangan yang mengabaikan kewajiban menuntut ilmu kepada Ahlu sunnah. Mereka beranggapan menuntut ilmu agama sih dimana saja bisa. Kalau hidayah itu urusan Allah. Lalu mereka mencontohkan tokoh seperti Imam Ghozali yang awalnya sering berpindah-pindah manhaj lalu meninggalnya memegang Kitab Bukhari. Mohon penjelasannya.
    2. Apakah boleh kita mengambil kebaikan dari Kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghozali

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Sebelumnya, sebagian ulama ada yang mengkritisi keabsahan kisah Al-Ghazali tersebut, walaupun sebagian lainnya menerima dan membenarkannya. Sesuatu yang diperselisihkan tidak boleh dijadikan sebagai dalil dalam suatu permasalahan.
    Kedua -anggaplah kisah itu benar- maka itu hanyalah imam Al-Ghazal, bukan Nabi dan bukan pula para sahabat, yang menjadi tempat kita mengambil dalil dalam suatu permasalahan.
    Ketiga, Al-Ghazali berpindah seperti itu dikarenakan ijtihad, dan orang yang berijtihad itu walaupun salah dapat satu pahala dan kesalahannya tidak boleh diikuti. Sementara orang yang ikut-ikutan dalam menuntut ilmu maka jika dia terjatuh dalam kesalahan maka dia berdosa dan jika dia benar pun tetap salah karena sekedar ikut-ikutan.
    Keempat, sekali lagi al-ghazali adalah mujtahid sehingga ketika beliau berada di atas ilmu kalam maka ketika itu dia menganggap itulah yang benar. Akan tetapi orang awam atau bukan mujtahid yang sudah diberitahu itu adalah kesalahan atau orang itu (pengajarnya) bukan di atas jalan yang benar, kita sampaikan dengan argumen yang kuat, lantas dia tetap menolak dengan alasan ilmu bisa diambil dari mana saja, maka tidak diragukan dia adalah orang yang tersesat dan terjatuh ke dalam kesalahan.
    2. Bagi orang awam atau yang tidak punya bekal ilmu mendalam sepantasnya tidak membaca buku itu. Faidah apa yang hendak dia ambil sementara dia belum mempunyai bekal dan filter yang bisa menjaga dirinya dari kesesatan?! Lagipula Ibnu Qudamah Al-Maqdasi -rahimahullah- telah meringkas kitab Ihya` ini dengan memilih yang baik-baiknya saja lalu beliau menjadikannya dalam karangan tersendiri yang berjudul Minhaj Al-Qashidin. Setau ana kitab Ibnu Qudamah ini juga telah diterjemahkan. Wallahu a’lam.

  3. Kemana Orang yang Bertaubat Menimba Ilmu? « التمسك التوحيد,تصويب العقيدة,الستصل الشرك و بدعة said:

    […] Dan disini ada point yang sangat penting, yaitu membedakan antara para ulama rabbany yang merupakan acuan ilmiyah dan acuan dalam masalah-masalah kontemporer, seperti Al-Imam Muhammad Näshirudïn Al-Albäni dan Al-Imam Abdul ‘Azïz bin Abdulläh bin Bäz –semoga Alläh merahmati keduanya-, dan ulama-ulama rabbany yang masih tersisa seperti syaikh Muhammad bin Sholïh Al-Utsaimïn, syaikh Sholïh bin Fauzän Al-Fauzän, syaikh Robï’ bin Hädy Al-Madkhaly, syaikhunä Muqbil bin Hädy A1-Wädi’iy dan selain mereka dari para ‘ulama yang selevel dengan mereka dari kalangan ahli ‘ilmu dan ahli fatwa, Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Dimana mereka ini, memiliki tingkatan dan kedudukan (tersendiri), dengan para penuntut ilmu yang menonjol, diketahui tingkat keilmuannya, telah nampak teguhnya mereka diatas sunnah melalui kitab-kitab karya mereka dan rekomendasi para ulama rabbany terhadap mereka. Maka untuk mereka ini, tingkatan dan kedudukan (tersendiri). Serta dengan para penuntut ilmu yang berada di bawah tingkatan mereka, yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran. dikutip dari: http://al-atsariyyah.com/?p=511 […]

  4. Belajar Kepada Selain Manhaj Salaf « AL-MANSUROH media said:

    […] Maka tatkala terjadi fitnah tersebut, teringatlah Abu Bakrah akan hadits ini, yang akhirnya menjaganya dari fitnah tersebut, dimana Abu Bakrah berkata : عَصَمَنِيَ اللهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنِ اسْتَخْلَفُوْا قَالُوْا : ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ تَعْنِيْ الْبَصْرَةَ ذَكَرَتُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِيَ اللهُ بِهِ “Alläh telah melindungiku dengan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam saat kematian Kisra, beliau bertanya : “Siapa yang mereka angkat sebagai gantinya”, kata mereka : “Putrinya”. Maka Nabi shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam bersabda : “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.’ Kemudian Abu Bakrah berkata : “Maka tatkala ‘Aisyah tiba di Bashrah, akupun teringat sabda Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam sehingga Alläh melindungiku dengannya.” (HR. Al-Bukhäri (7099), An-Nasä`i (5403), dan At-Tirmidzy (2365), dan konteks hadits diatas adalah konteks beliau) Kedua: Tidak merujuk kepada para ulama. Padahal yang sepantasnya adalah bertanya kepada ulama dan para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamä’ah, (mereka) yang punya pengetahuan tentang orang yang akan diambil faidah darinya, maka ditanyakan tentang orang tersebut : Apakah ia termasuk penuntut ilmu yang bermanhaj salaf atau bukan? Apakah ia telah belajar dengan bentuk studi ilmiyah yang benar, dimana telah pantas menuntut ilmu darinya atau tidak? Maka bila jawabannya “tidak”, maka perkaranya selesai, walhamdulillä h. (artinya orang tersebut ditinggalkan, -pent.). Dan bila jawabannya positif, maka tentunya dapat diambil faedah darinya tetapi dengan tidak berlebih-lebihan padanya, melainkan menempatkannya pada kedudukan dan martabatnya. Dan disini ada point yang sangat penting, yaitu membedakan antara para ulama rabbany yang merupakan acuan ilmiyah dan acuan dalam masalah-masalah kontemporer, seperti Al-Imam Muhammad Näshirudïn Al-Albäni dan Al-Imam Abdul ‘Azïz bin Abdulläh bin Bäz –semoga Alläh merahmati keduanya-, dan ulama-ulama rabbany yang masih tersisa seperti syaikh Muhammad bin Sholïh Al-Utsaimïn, syaikh Sholïh bin Fauzän Al-Fauzän, syaikh Robï’ bin Hädy Al-Madkhaly, syaikhunä Muqbil bin Hädy A1-Wädi’iy dan selain mereka dari para ‘ulama yang selevel dengan mereka dari kalangan ahli ‘ilmu dan ahli fatwa, Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Dimana mereka ini, memiliki tingkatan dan kedudukan (tersendiri) , dengan para penuntut ilmu yang menonjol, diketahui tingkat keilmuannya, telah nampak teguhnya mereka diatas sunnah melalui kitab-kitab karya mereka dan rekomendasi para ulama rabbany terhadap mereka. Maka untuk mereka ini, tingkatan dan kedudukan (tersendiri) . Serta dengan para penuntut ilmu yang berada di bawah tingkatan mereka, yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran. sumber: http://al-atsariyya h.com/?p= 511#more- 511 […]

  5. Janganlah Kamu Mengambil Ilmu Kecuali Dari Orang Yang Telah Diketahui Keteguhannya Di Atas Sunnah « Al Falimbany said:

    […] yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran. Sumber:http://al-atsariyya h.com/?p= 511#more- 511 Ditulis dalam Aqidah, Artikel Islam, Manhaj, Nasihat. Tag: ahlul bid'ah, ahlussunnah wal jama'ah, […]

  6. Belajar Kepada Selain Salafy? | Tholibah.web.id said:

    […] Maka tatkala terjadi fitnah tersebut, teringatlah Abu Bakrah akan hadits ini, yang akhirnya menjaganya dari fitnah tersebut, dimana Abu Bakrah berkata : عَصَمَنِيَ اللهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنِ اسْتَخْلَفُوْا قَالُوْا : ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ تَعْنِيْ الْبَصْرَةَ ذَكَرَتُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِيَ اللهُ بِهِ “Alläh telah melindungiku dengan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam saat kematian Kisra, beliau bertanya : “Siapa yang mereka angkat sebagai gantinya”, kata mereka : “Putrinya”. Maka Nabi shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam bersabda : “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.’ Kemudian Abu Bakrah berkata : “Maka tatkala ‘Aisyah tiba di Bashrah, akupun teringat sabda Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam sehingga Alläh melindungiku dengannya.” (HR. Al-Bukhäri (7099), An-Nasä`i (5403), dan At-Tirmidzy (2365), dan konteks hadits diatas adalah konteks beliau) Kedua: Tidak merujuk kepada para ulama. Padahal yang sepantasnya adalah bertanya kepada ulama dan para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamä’ah, (mereka) yang punya pengetahuan tentang orang yang akan diambil faidah darinya, maka ditanyakan tentang orang tersebut : Apakah ia termasuk penuntut ilmu yang bermanhaj salaf atau bukan? Apakah ia telah belajar dengan bentuk studi ilmiyah yang benar, dimana telah pantas menuntut ilmu darinya atau tidak? Maka bila jawabannya “tidak”, maka perkaranya selesai, walhamdulillä h. (artinya orang tersebut ditinggalkan, -pent.). Dan bila jawabannya positif, maka tentunya dapat diambil faedah darinya tetapi dengan tidak berlebih-lebihan padanya, melainkan menempatkannya pada kedudukan dan martabatnya. Dan disini ada point yang sangat penting, yaitu membedakan antara para ulama rabbany yang merupakan acuan ilmiyah dan acuan dalam masalah-masalah kontemporer, seperti Al-Imam Muhammad Näshirudïn Al-Albäni dan Al-Imam Abdul ‘Azïz bin Abdulläh bin Bäz –semoga Alläh merahmati keduanya-, dan ulama-ulama rabbany yang masih tersisa seperti syaikh Muhammad bin Sholïh Al-Utsaimïn, syaikh Sholïh bin Fauzän Al-Fauzän, syaikh Robï’ bin Hädy Al-Madkhaly, syaikhunä Muqbil bin Hädy A1-Wädi’iy dan selain mereka dari para ‘ulama yang selevel dengan mereka dari kalangan ahli ‘ilmu dan ahli fatwa, Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Dimana mereka ini, memiliki tingkatan dan kedudukan (tersendiri) , dengan para penuntut ilmu yang menonjol, diketahui tingkat keilmuannya, telah nampak teguhnya mereka diatas sunnah melalui kitab-kitab karya mereka dan rekomendasi para ulama rabbany terhadap mereka. Maka untuk mereka ini, tingkatan dan kedudukan (tersendiri) . Serta dengan para penuntut ilmu yang berada di bawah tingkatan mereka, yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran. sumber: http://al-atsariyyah.com/?p= 511#more- 511 […]

  7. Abu khidhr Azmi said:

    Bismillah.Bolehkah kita bermajlis atau mengambil ilmu (dengan cara membaca artikel, tulisan-tulisan dan mendengarkan rekaman ta’lim, dauroh) dari da’i-da’i yang menerima dana dari yayasan ihya’ ut turots, al sofwa, haramain dan yayasan al irsyad?sedangkan yang kita ambil hanya pelajaran-pelajaran aqidah salaf,manhaj salaf, fiqh, tauhid dan perkara-perkara yang baik, meskipun kita tahu hakikat mereka seperti apa (hal ini karena da’i-da’i tersebut juga mengenalkan dakwah salaf kepada ummat dan sebagian ikhwah merasa tenang, mantap hatinya ketika bermajlis dengannya). Selain itu, kita juga bermajlis dan mengambil ilmu kepada ustadz-ustadz ahlussunnah.

    Pertanyaan antum bersifat umum, karenanya kami juga menjawab dengan jawaban umum: Bahwa para ulama tidak membolehkan mengambil ilmu dari orang-orang yang berwala` (menyerahkan loyalitasnya) kepada firqah atau jamaah tertentu dalam Islam, karena semua itu merupakan bentuk perpecahbelahan dalam agama yang terlarang.
    Ini hukum umum, adapun hukum yang bersifat khusus maka butuh dilihat orang per orang dalam hal siapa yang mengajar dan siapa yang belajar serta bagaimana kondisinya. Wallahu a’lam.

  8. rully said:

    Assalamualikum..

    Maaf, ana awam ttg salafy.. pengen tau lebih banyak..
    Pengajian2 ahlussunnah di jakarta dimana sajakah?

    Wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Ada kajian tiap sabtu pagi jam 9-zuhur di masjid Al-I’tisham jakarta, di jalan Jend. Ahmad Yani (belakang bank BNI).
    Anda juga bisa bertanya kepada panitia perihal tempat kajian lain di daerah jakarta dan sekitarnya.

  9. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, saya karyawan. Insya Allah saya punya waktu longgar hari sabtu atau minggu. Saya ingin memperdalam ilmu agama islam dengan cara yg benar berdasarkan al-Qur’an & Al-Hadist. Kalau tidak salah alamat ustadz di daerah jatiasih & kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Bisakah saya menimba ilmu ke tempat ustadz? Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Tafadhdhal ditunggu.

  10. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Terimakasih atas kesediaanya ustadz.
    Saya pernah datang ke alamat yg di vila nusa indah 2, tapi ustadz tidak tinggal disana. Minta alamat lengkapnya ustadz, Insya Allah saya akan datang dengan istri saya. Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Itu adalah alamat madrasah. Maksud saya, kalau bapak sudah di sana, silakan minta tolong saja kepada santri untuk di antarkan ke rumah saya. Insya Allah mereka sudah pada tahu.

  11. Kepada Siapa Kita Menimba Ilmu? (Belajar Kepada Selain Manhaj Salaf) « KAJIAN ONLINE said:

    […]   Maka tatkala terjadi fitnah tersebut, teringatlah Abu Bakrah akan hadits ini, yang akhirnya menjaganya dari fitnah tersebut, dimana Abu Bakrah berkata : عَصَمَنِيَ اللهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنِ اسْتَخْلَفُوْا قَالُوْا : ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ تَعْنِيْ الْبَصْرَةَ ذَكَرَتُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِيَ اللهُ بِهِ “Alläh telah melindungiku dengan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam saat kematian Kisra, beliau bertanya : “Siapa yang mereka angkat sebagai gantinya”, kata mereka : “Putrinya”. Maka Nabi shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam bersabda : “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.’ Kemudian Abu Bakrah berkata : “Maka tatkala ‘Aisyah tiba di Bashrah, akupun teringat sabda Rasululläh shollallähu ‘alahi wa ‘alä älihi wa sallam sehingga Alläh melindungiku dengannya.” (HR. Al-Bukhäri (7099), An-Nasä`i (5403), dan At-Tirmidzy (2365), dan konteks hadits diatas adalah konteks beliau) Kedua: Tidak merujuk kepada para ulama. Padahal yang sepantasnya adalah bertanya kepada ulama dan para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamä’ah, (mereka) yang punya pengetahuan tentang orang yang akan diambil faidah darinya, maka ditanyakan tentang orang tersebut : Apakah ia termasuk penuntut ilmu yang bermanhaj salaf atau bukan? Apakah ia telah belajar dengan bentuk studi ilmiyah yang benar, dimana telah pantas menuntut ilmu darinya atau tidak? Maka bila jawabannya “tidak”, maka perkaranya selesai, walhamdulillä h. (artinya orang tersebut ditinggalkan, -pent.). Dan bila jawabannya positif, maka tentunya dapat diambil faedah darinya tetapi dengan tidak berlebih-lebihan padanya, melainkan menempatkannya pada kedudukan dan martabatnya. Dan disini ada point yang sangat penting, yaitu membedakan antara para ulama rabbany yang merupakan acuan ilmiyah dan acuan dalam masalah-masalah kontemporer, seperti Al-Imam Muhammad Näshirudïn Al-Albäni dan Al-Imam Abdul ‘Azïz bin Abdulläh bin Bäz –semoga Alläh merahmati keduanya-, dan ulama-ulama rabbany yang masih tersisa seperti syaikh Muhammad bin Sholïh Al-Utsaimïn, syaikh Sholïh bin Fauzän Al-Fauzän, syaikh Robï’ bin Hädy Al-Madkhaly, syaikhunä Muqbil bin Hädy A1-Wädi’iy dan selain mereka dari para ‘ulama yang selevel dengan mereka dari kalangan ahli ‘ilmu dan ahli fatwa, Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Dimana mereka ini, memiliki tingkatan dan kedudukan (tersendiri) , dengan para penuntut ilmu yang menonjol, diketahui tingkat keilmuannya, telah nampak teguhnya mereka diatas sunnah melalui kitab-kitab karya mereka dan rekomendasi para ulama rabbany terhadap mereka. Maka untuk mereka ini, tingkatan dan kedudukan (tersendiri) . Serta dengan para penuntut ilmu yang berada di bawah tingkatan mereka, yang diketahui kesalafian mereka dan kemampuan mereka dalam memberikan pelajaran. sumber: http://al-atsariyya h.com/?p= 511#more- 511 […]