Kebodohan dan Berdalih Dengannya

November 27th 2014 by Abu Muawiah |

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.
Wa ba’du:

Saat ini tengah ramai diperbincangkan mengenai tema kebodohan dan berdalih dengannya. Dan Ramainya perbincangan seputar ini merupakan salah satu sebab merebaknya sikap meremehkan agama di tengah-tengah manusia. Telah banyak orang yang terjun membahas serta membuat karya tulis dalam tema ini, sehingga memunculkan perdebatan bahkan pelanggaran hak dari sebagian orang atas yang lainnya.
Seandainya mereka mengembalikan permasalahan kepada kitab Allah, sunnah RasulNya, dan para ulama, niscaya semua ketidakjelasan akan sirna dan kebenaran akan Nampak. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
(وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ)
“Seandainya mereka mengembalikannya kepada ar Rasul dan kepada ulil amri (pemerintah dan ulama) di antara mereka, niscaya solusinya akan diketahui oleh orang-orang yang bisa memetik kesimpulan hukum di antara mereka.” (QS. an Nisa`: 83)
Dan jika itu mereka lakukan, maka kita juga tidak akan dibuat bingung dengan banyaknya karya tulis dan pembahasan yang saling berbantahan, yang akhirnya melahirkan chaos ilmiah yang tidak kita butuhkan. Kebodohan adalah tidak adanya ilmu. Dan manusia sebelum terutusnya ar Rasul shallallahu alaihi wasallam berada dalam zaman jahiliah (kebodohan) dan kesesatan. Namun tatkala Allah mengutus rasul ini dan menurunkan kitab suci ini, maka jahiliah secara umum telah sirna, aAlhamdulillah. Allah Ta’ala berfirman:
(هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al Jumuah: 2)

Jahiliah secara umum telah sirna dengan terutusnya beliau shallallahu alaihi wasallam. Adapun jahiliah secara lebih khusus, maka akan tetap ada pada sebagian manusia. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“إنك امرؤ فيك جاهلية”
“Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliah.”

Kebodohan ada dua jenis:
Kebodohan yang ringan.
Dan kebodohan yang rangkap.

Kebodohan yang ringan adalah yang pemilik kebodohan itu mengetahui kalau dirinya bodoh. Karenanya dia akan menuntut ilmu dan akan menerima saran yang benar.
Sementara kebodohan yang rangkap adalah yang pemilik kebodohan itu tidak mengetahui kalau ternyata dirinya bodoh. Bahkan dia mengira kalau dirinya seorang yang berilmu sehingga dia tidak akan menerima saran yang benar. Dan kebodohan jenis ini merupakan jenis kebodohan yang terparah.
Kebodohan yang bisa dijadikan dalih adalah kebodohan yang tidak mungkin bisa dihilangkan dikarenakan orangnya hidup terpisah dari dunia luar, dimana sedikit pun dia tidak pernah mendengar ilmu agama dan juga tidak ada orang di dekatnya yang bisa mengajarinya. Jika orang seperti ini meninggal, maka dia dikategorikan sama seperti orang yang hidup di zaman fatroh. Allah Ta’ala berfirman:
(وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً)
“Kami tidak akan menyiksa (suatu kaum) sampai kami mengutus rasul.” (QS. al Isra`: 15)
Kebodohan yang tidak bisa dijadikan dalih adalah kebodohan yang mungkin untuk dihilangkan jika orangnya mau berusaha untuk menghilangkannya. Semisal orang yang mendengar atau membaca al Qur`an dan dia adalah orang arab yang mengetahui bahasa al Qur`an. Maka orang seperti ini tidak bisa ditolerir jika dia tetap berada dalam kebodohannya, karena al Qur`an telah sampai ke telinganya dengan bahasanya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:
(قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلْ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ)
“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. al An’am: 19)
Maka orang yang al Qur`an telah sampai ke telinganya dan dakwah Islam telah sampai kepadanya, termasuk larangan berbuat syirik akbar, maka dia tidak bisa ditolerir jika tetap berada di atas kesyirikan. Demikian halnya jika dia terus-menerus berzina, atau melakukan riba, atau menikahi wanita yang merupakan mahramnya, atau memakan bangkai, atau memakan daging babi, atau meminum khamar, atau merampas harta manusia dengan cara yang batil, atau meninggalkan shalat, atau tidak mau mengeluarkan zakat, atau tidak mau melaksanakan haji padahal dia mampu melakukannya. Karena semua hukum ini sangat jelas pengharamannya atau kewajibannya bersifat pasti. Dia hanya ditolerir dengan kebodohannya jika amalan itu termasuk amalan yang hukumnya masih samar, sampai hukumnya dijelaskan kepadanya.

Jadi terdapat rincian pada hukum boleh tidaknya berdalih dengan kebodohan:
Pertama: Orang yang dakwah Islam dan al Qur`an belum sampai kepadanya, maka dia ditolerir dengan kebodohannya dan hukumnya sama seperti orang yang hidup di zaman fatroh.

Kedua: Orang yang dakwah Islam dan al Qur`an telah sampai kepadanya tidak bisa ditolerir dengan kebodohannya, jika dia menyelisihi perkara yang sangat jelas hukumnya dalam Islam, seperti kesyirikan dan dosa-dosa besar. Hal itu karena argumen telah tegak atasnya dan risalah sudah sampai ke telinganya. Dia masih bisa untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada para ulama mengenai masalah yang dia belum ketahui. Dia bisa mendengar al Qur`an, pelajaran-pelajaran, dan ceramah-ceramah melalui berbagai media informasi.

Ketiga: Ditolerir kebodohan dalam masalah-masalah yang hukumnya masih samar dan membutuhkan penjelasan, sampai hukumnya menjadi jelas baginya. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“إن الحلال بين والحرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه”
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang masih samar yang tidak diketahui hukumnya oleh banyak orang. Karenanya barangsiapa yang menjauhi hal-hal yang masih samar itu, maka sungguh dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh ke dalam hal-gal yang masih samar itu, maka dia telah terjatuh ke dalam sesuatu yang haram, bagaikan pengembala yang mengembalakan hewannya di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan nantinya dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah sesungguhnya setiap raja memiliki daerah yang terlarang untuk dimasuk, dan ketahuilah daerah larangan Allah adalah semua yang Dia haramkan.”
Maka yang halal itu jelas sehingga kita bisa mengambilnya dan yang haram itu jelas sehingga kita bisa menjauhinya. Sementara masalah yang hukumnya masih diperselisihkan maka harus didiamkan sampai hukumnya jelas, baik dengan jalan membahasnya maupun dengan jalan bertanya kepada ulama.
Orang yang bodoh wajib untuk bertanya kepada ulama dan tidak bisa ditolerir jika dia tetap berada di atas kebodohannya, padahal di sekitarnya ada orang yang bisa mengajarinya. Allah Ta’ala berfirman:
(إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلَئِكَ يَلْعَنُهُمْ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمْ اللاَّعِنُونَ* إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُوْلَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al Baqarah: 159-160)
Orang yang sok alim -padahal sebenarnya dia adalah orang yang bodoh dengan kebodohan yang rangkap- tidak boleh berkomentar dalam urusan agama tanpa ilmu.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita bersama menuju ilmu yang bermanfaat, amalan yang saleh, serta keikhlasan dalam ucapan dan amalan. Shalawat dan salam dari Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Ditulis oleh:
Saleh bin Fauzan al Fauzan
Anggota Haiah Kibar al Ulama
20 Rabiul Awwal 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.net/makalah/kebodohan-dan-berdalih-dengannya]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, November 27th, 2014 at 12:08 pm and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.