Kapan Puasa Dilarang?

September 13th 2010 by Abu Muawiah |

04 Syawal

Kapan Puasa Dilarang?

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا أَنْ يَصُومَ قَبْلَهُ أَوْ يَصُومَ بَعْدَهُ
“Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari jumat kecuali dia berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1929)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah kalian mengkhususkan malam jumat dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula mengukhususkan harinya dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari dimana kalian biasa berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144)
Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata:
هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْيَوْمُ الْآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ
“Inilah dua hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang puasa padanya: Hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (‘iedul fithri) dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan qurban kalian (‘iedul adh-ha) “. (HR. Al-Bukhari no. 1990)
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma keduanya berkata:
لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mempunyai hadyu (hewan qurban bagi yang menunaikan haji).” (HR. Al-Bukhari no. 1998)

Penjelasan ringkas:
Puasa sunnah mutlak disyariatkan secara mutlak sehingga bisa dikerjakan kapan saja, kecuali beberapa hari yang seseorang berpuasa padanya, baik dilarang secara mutlak maupun dilarang pada keadaan tertentu dan dibolehkan pada keadaan yang lain.

Puasa yang dilarang secara mutlak adalah berpuasa pada dua hari raya.

Puasa yang dilarang pada keadaan tertentu adalah:
a.    Mengkhususkan puasa sunnah mutlak pada hari jumat.
Akan tetapi berpuasa pada hari jumat boleh pada dua keadaan:
1.    Puasanya sunnah mutlak tapi dia berpuasa sehari (hari kamis) atau setelahnya (hari sabtu)
2.    Puasanya bukan sunnah mutlak akan tetapi puasa yang mempunyai sebab, misalnya 10 muharram jatuh pada hari jumat. Atau dia punya jadwal puasa rutin yang bertepatan dengan hari jumat, misalnya puasa daud yang sudah dipastikan dia akan berpuasa pada hari jumat
b.    Berpuasa pada hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 zulhijjah bagi yang tidak menunaikan haji atau yang menunaikan haji tapi dia mempunyai hadyu.
Adapun yang menunaikan haji tapi tidak mempunyai hadyu maka dia boleh untuk berpuasa pada ketiga hari itu.

Incoming search terms:

  • puasa selain senin ean jumat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, September 13th, 2010 at 6:05 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Kapan Puasa Dilarang?”

  1. Ridho Amrullah said:

    Assalammu’alaikum,

    Pak Ustadz dari penjelasan di atas berarti, saya puasa sunnah di hari senin dan kamis (dg niat puasa sunnah senin-kamis), juga puasa sunnah di sisa 5 hari yang lainnya yaitu selasa, rabu, jumat, sabtu, minggu. Apakah bisa begitu ?

    Syukron,

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja.

  2. Ridho Amrullah said:

    Berarti Pak Ustadz, dengan dalil puasa sunnah mutlak ini, berarti saya bisa puasa untuk selama-lamanya alias terus menerus (niat puasa mutlak) di hari-hari selain senin dan kamis? Apakah bisa seperti itu ?
    Jika dilarang puasa terus menerus, bagaimana dg dalil puasa mutlaknya ?

    Maksud puasa mutlak adalah berpuasa tanpa ada alasan tertentu yang disebutkan oleh syariat berupa pembatasan waktu. Hanya saja tetap dimakruhkan untuk berpuasa sunnah terus-menerus berdasarkan hadits Amr bin Al-Ash radhiallahu anhu.

  3. Ridho Amrullah said:

    Jadi, bagaimana caranya ingin puasa banyak tapi tidak sampai makruh ?
    1. Kalau begini, senin dan kamis puasa, untuk hari selasa, rabu juga puasa. Tapi, tidak di hari jumat, sabtu dan minggu. Itu mungkin bisa ya ? Jadi, tdk termasuk pada hadis Amr bin Al-Ash (tdk makruh).

    2. Kalau begini senin dan kamis puasa, untuk hari selasa, rabu, jumat, sabtu juga puasa kecuali hari minggu tidak puasa. Bukankah itu bukan termasuk puasa terus menerus (continue), jadi apakah boleh seperti itu, dikecualikan minggu ?

    3. Bisa diperjelas kembali oleh ustadz, maksud terus menerus itu bagaimana ? Apakah continue (tdk ada selangnya), atau bagaimana terus menerus itu ? Kalau memang yg dimaksud terus menerus itu adalah tdk ada selangnya (terus menerus continue) berarti kalau ada selangnya di satu minggu itu, misal diselangnya cuma satu hari yaitu hari Minggu. Apakah itu akan dimasukkan kepada terus menerus atau tdk ?

    Karena kan, kalau dilihat puasa senin kamis, daud semuanya itu juga bisa dikatakan terus menerus (terus menerus ada tiap minggu dilakukan).

    Syukron,

    Semua yang antum katakan di atas insya Allah sudah tepat dan bisa dilaksanakan.