Kaifiat Sujud

March 17th 2010 by Abu Muawiah |

1 Rabiul Akhir

Kaifiat Sujud

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dia berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ
“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya)‘, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Al-Bukhari no. 738 dan Muslim no. 390)
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ
“Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang (anggota sujud); Kening -dan beliau menunjuk hidungnya- kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari jemari dari kedua kaki. Dan saya diperintahkan untuk tidak menahan rambut atau pakaian.” (HR. Al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

Penjelasan ringkas:
Setelah i’tidal, maka disyariatkan bagi orang yang shalat untuk turun bersujud, dan sujud serta tuma`ninah padanya merupakan rukun shalat. Ketika turun untuk sujud, maka dia boleh mendahulukan kedua tangannya sebelum kedua lututnya atau sebaliknya mendahulukan kedua lututnya sebelum kedua tangannya untuk menyentuh tanah. Hal itu karena tidak ada satupun hadits yang shahih dalam masalah ini, sehingga kita kembali ke hukum asal yaitu bersujud, manapun dari kedua anggota tubuh ini yang didahulukan. Penjelasan akan lemahnya semua riwayat dalam masalah ini insya Allah akan kami sebutkan pada tempatnya.

Ketika dia akan sujud, maka tidak disyariatkan bagi dia untuk mengangkat kedua tangannya, akan tetapi dia cukup bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Demikian pula halnya ketika dia bangkit dari sujud.

Adapun sujud yang sempurna adalah: Menempelkan ketujuh anggota tubuh ke tanah (atau sajadah jika dia memakai sajadah), yaitu: Kening (diikutkan dengannya hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari jemari kedua kaki. Karenanya barangsiapa yang ketika sujud mengangkat kedua kakinya atau salah satunya sepanjang dia sujud, maka sujudnya tidak syah yang berarti shalatnya juga tidak syah. Ini berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Demikian pula halnya kita katakan pada kedua lutut dan kedua tangan.

Adapun hidung, maka ada silang pendapat di kalangan ulama. Dan pendapat yang lebih tepat insya Allah adalah pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa merapatkan hidung ke tanah saat sujud adalah sunnah dan tidak sama kedudukannya dengan kening, walaupun untuk sempurnanya adalah dia merapatkannya sebagaimana yang kami sebutkan di atas.

Saat sujud juga dilarang untuk memegang atau mengikat rambut dan pakaian dengan alasan agar tidak sampai ke tanah, karena perbuatan ini termasuk dari bentuk kesombongan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Jadi, bukan yang dimaksudkan di sini adalah dilarang melipat atau menggulung sarung atau celana, karena hal itu justru diharuskan bagi mereka yang memakai sarung atau celana yang melewati mata kaki. Termasuk dalam pelanggaran ini adalah amalan sebagian kaum muslimin yang mengikat atau mengebelakangkan rambutnya setiap kali dia sujud dengan alasan agar keningnya langsung menyentuh tanah. Kita katakan: Bukan syarat sujud, kening harus menyentuh tanah. Karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- sendiri pernah shalat dengan beralaskan tikar. Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • hukum sholat tangannya tidak menyentuh sajadah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, March 17th, 2010 at 6:55 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

12 responses about “Kaifiat Sujud”

  1. anwar sanusi said:

    Assalamu”alaikum Pak Ustad, mungkin ini salah ketik pak Ustad pada kalimat dibawah ini :
    “Ketika dia akan sujud, maka tidak disyariatkan bagi dia untuk mengangkat kedua tangannya, akan tetapi dia cukup bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Demikian pula halnya ketika dia bangkit dari “ruku”.

    Maksudnya bukan ruku’ mungkin yang dimaksud adalah “sujud”

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Betul pak, salah ketik, kami sudah rubah. Terima kasih atas koreksinya.

  2. abu salman said:

    afwan sedikit koreksi, paragraf kedua penjelasan ringkas mungkin yang dimaksud adalah tidak mengangkat tangan ketika akan sujud dan juga ketika bangkit dari sujud, bukan ketika bangkit dari ruku’ sebagaimana tertulis, atau bagaimana ya ustadz…?

    Ia, afwan salah tulis. Jazakallahu khairan atas ralatannya, sudah ana benarkan.

  3. putra said:

    assalamu’alaikum ust,
    apakah tidak syah juga, apabila ketika sujud, hidung tidak menyentuh lantai/tanah?
    jazakallahu khair

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Silakan baca kembali artikelnya, jawabannya sudah ada di situ.

  4. ummu yusuf abdurrahman said:

    Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh..
    Mau tanya berkenaan dengan 7 anggota sujud. Ana pernah datang kajian di i’tishom dan kala itu ikhwan akhwat masih 1 lantai. Suatu saat hijab yg dipasang agak kendur sehingga ketika hendak sholat dzuhur berjama’ah bagian pelipis akhwat bisa terlihat, oleh krn itu para akhwat yang berniqab memutuskan utk memakai niqabnya dikala sholat.
    Apakah hal ini tidak bertentangan dengan hadits tsb di atas?
    Bagaimana pendapat ustadz ttg hal ini?apa yang sebaiknya dilakukan? sedangkan saat itu sholat sudah akan dimulai dan tidak sempat membenarkan hijab.
    Jazakalloh khoir..

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Insya Allah tidak masalah. Wallahu a’lam.

  5. Iwan said:

    Assalamu’alaykum, afwan, bagaimana kalau ketika sujud kening kita terhalang peci? Apakah sah sujud atau sholatnya? Jazakalloh khoir….

    wa’alaikumussalam warahmatullah
    Insya Allah tidak ada masalah. Ini sama halnya dengan sujud di atas tikar atau sajadah, dan telah shahih dalam riwayat Al-Bukhari dan selainnya dari hadits Anas bin Malik bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah shalat dengan beralaskan tikar.

  6. Guest said:

    Assalaamaualaikum Ust kalau sujud kening/dahinya terhalang/tertutup rambut bagaimana tu ? syah ndak sujudnya?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Tidak mengapa, sujudnya tetap syah.

  7. ihsan said:

    assalamu’alaikum ustadz ada hadits yg mengatakan setiap helai rambut yg menyentuh tanah saat sujud ada ganjaran pahalanya dan dilarang mengikat rambut saat shalat bagi pria. shahihkah hadits ini ustadz.
    jazakallahu khair

    Betul ada hadits yang melarang untuk mengikat rambut. Tapi mengenai pahala itu, wallahu a’lam saya belum pernah mendengar hadits tentangnya.

  8. gan gan said:

    Assalamu alaikum akhi..
    mau bertanya sehubungan.. “Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud”.
    apakah ketika bangkit berdiri dari sujud menuju rakaat berikutnya kita mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ?”

    jazakallah

    Waalaikumussalam.
    Tidak, tidak ada dalil yang shahih dan tegas menunjukkan hal itu. Wallahu a’lam.

  9. Kaifiat Sujud « catatanmms said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/kaifiat-sujud.html Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this post. [...]

  10. Ibnu hari said:

    Assalamu’alaykum tadz
    mau tanya kalo jidatnya tertutup kopiahnya sehingga terhalang menyentuh tempat sujud gimana yah itu boleh atau tidak?

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tidak ada masalah insya Allah.

  11. Mujib said:

    Bgaimana dgn hadits dlam shohih muslim yg menyatakan bhwa ketika sujud,rambut tidk boleh menghalangi dahi ke tempat sujud ustadz?

    Tidak ada hadits dalam Shahih Muslim yang seperti itu bunyinya? Yang mana maksudnya?

  12. Abu Muawiah said:

    ada apa hadits riwayat muslim.yg lafazhnya seperti itu? bagaimaaa lafazhnya?