Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail)

April 8th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

23 Rabiul Akhir

Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail)

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا.
فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat (lail) baik di dalam bulan ramadhan maupun di luar ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Beliau memulai dengan mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Setelah itu beliau kembali mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.”
Aisyah berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak.”
(HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ
“Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kedua kaki beliau pecah-pecah.” (HR. Al-Bukhari no. 4460 dan Muslim no. 2820)
Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Al-Bukhari no. 1131)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam, biasanya beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim no. 767)

Penjelasan ringkas:
Qiyamullail termasuk shalat sunnah yang disyariatkan dalam Islam, bahkan dia merupakan shalat sunnah yang paling utama. Qiyamullail adalah penamaan untuk semua shalat sunnah yang dikerjakan di malam hari setelah shalat isya hingga subuh. Karenanya, yang termasuk qiyamullail (shalat lail) adalah: Shalat witir, shalat tahajjud, dan shalat tarawih. Shalat witir adalah shalat lail yang berakaat ganjil, shalat tahajjud adalah shalat lail setelah tidur, dan shalat tarawih adalah shalat lain di bulan ramadhan.

Waktu shalat lail
Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat isya dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat isya sampai subuh.” (HR. Muslim no. 736) Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119, “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua) adalah waktu untuk mengerjakan witir.”
Karenanya jika ada orang yang shalat maghrib-isya dengan jama’ taqdim, maka dia sudah boleh mengerjakan shalat lail walaupun waktu isya belum masuk. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam tapi jika dia belum shalat isya, maka dia belum diperbolehkan shalat lail.
Hanya saja waktu yang paling ideal adalah dikerjakan selepas pertengahan malam, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr di atas.

Jumlah rakaatnya
Rakaat yang dibicarakan di sini, khusus rakaat shalat lail yang genap. Adapun jumlah rakaat shalat lail yang ganjil (witir), maka telah berlalu pada artikel ‘Shalat Witir’. Shalat lail minimal 2 rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Hanya saja, walaupun dibolehkan mengerjakan shalat lail tanpa ada batasan rakaat (selama itu genap), akan tetapi sunnahnya dia hanya mengerjakan 8 rakaat (plus witir 3 rakaat) berdasarkan hadits Aisyah yang pertama di atas. Disunnahkan juga untuk mengerjakan 2 rakaat ringan sebelum shalat lail -berdasarkan hadits Aisyah yang terakhir di atas-, sehingga total rakaatnya adalah 13 rakaat.

Kaifiat pelaksanaannya
Kaifiat pelaksanaan shalat witir telah kami jelaskan sebelumnya. Adapun shalat lail yang jumlahnya genap, maka dikerjakan 2 rakaat-2 rakaat berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Hanya saja, terkhusus pada shalat lail 8 rakaat, sebagian ulama ada yang membolehkan mengerjakannya 4 rakaat-4 rakaat, berdasarkan hadits Aisyah yang pertama di atas.
Adapun bacaannya, maka disunnahkan untuk membaca surah-surah yang panjang. Di antara dalilnya adalah:
a.    Nabi shallallahu alaihi wasallam membuka shalat lail dengan 2 rakaat ringan. Ini menunjukkan shalat lail beliau adalah shalat yang berat karena bacaannya yang panjang.
b.    Nabi shallallahu alaihi wasallam juga shalat lail hingga kedua kaki beliau pecah-pecah. Ini dikarenakan lamanya beliau berdiri akibat membaca surah yang panjang.
c.    Ucapan Aisyah radhiallahu anha, “Kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau.” Ini menunjukkan shalat beliau sangat panjang.

Incoming search terms:

  • shalat lail
  • SHOLAT LAIL
  • niat sholat lail
  • shalat qiyamul lail
  • sholat qiyamul lail
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

Related posts:

  1. Keutamaan Qiyamullail (Shalat Malam)
  2. Shalat Witir
  3. Adab-Adab Shalat Witir
  4. Seputar Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh
  5. Shalat Sunnah Rawatib

This entry was posted on Thursday, April 8th, 2010 at 12:27 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

14 responses about “Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail)”

  1. Ahmad said:

    Ustadz,ada yg mengatakan kalau mau mengerjakan sholat tahajjud, harus tidur dulu..apakah betul begitu?

    Shalat tahajjud adalah shalat yang dikerjakan setelah hujud (tidur). Hanya saja jika dia belum tidur maka dia tetap bisa shalat lail dan witir. Jadi ini hanya sekedar penamaan dan perbedaan istilah.

  2. hasan said:

    Assalamu alaikum warohmatullohi wabarakatuh

    Ustadz, 2 rakaat ringan apakah masuk dalam 8 rakaat atau 2 rakaat ringan[surah pendek] + 8 rakaat + 3 witir. Mohon penjelasannya ustadz.

    Jazakallahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ia, lahiriahnya 2 rakaat ringan itu terpisah dari yang 8 rakaat.

  3. abu muadz said:

    Bismillah.
    Assalamu’alaikum Ustadz. Ana ingin bertanya beberapa hal:
    1. apakah boleh melakukan sholat tahajjud di akhir malam, sesudah sholat tarawih + witir di awal malam?
    2. apakah ada sholat hajat dan bagaimana caranya?

    jazakallahu khairan atas informasinya

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Ia boleh, tapi dia jangan lagi shalat witir, karena tidak ada 2 kali shalat witir dalam satu malam.
    2. Wallahu a’lam, kalau yang dimaksud adalah shalat istikharah maka dia disyariatkan. Tapi kalau selainnya maka sepengetahuan kami tidak ada.

  4. Jumroni said:

    Bismillah,Bagaimanakah adab seorang makmum dalam shalat tarawih,yang imamnya dalam mengerjakan 23 rakaat dan dikerjakan sangat cepat (tidak tu’maninah),apakah tetap mengikutinya sampai dengan selesai,atau mencukupkan diri dengan 8 rakaat,mohon penjelesan ustadz,jazakalloh khairan katsiro.

    Kalau dia bisa mengikuti sampai 8 rakaat, apa yang menghalangi dia untuk ikut sampai selesai?

  5. arie said:

    Assalamualaikum,

    Pak ustadz, apakah bacaan solat tarwih harus bacaan seperti orang2 yg melakukannya (Rakaat ke 7-inna ‘atoina, rakaat ke 10-tabbat) -berurutan-

    Kalau iya, apa hukumnya jika kita mau solat tarawih di rumah sendiri dan membaca ayatnya tidak berurutan (terserah kita). apakah sah?

    Terimakasih

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Tidak harus, tidak ada bacaan surah khusus dalam shalat tarawih, semua surah bisa dibaca.
    Shalat tarawih sendiri di rumah tetap syah, hanya saja dia kehilangan pahala shalat berjamaah bersama imam

  6. abdullah said:

    Allahu A’lam,
    Jika 2 rakaat ringan dianggap terpisah maka ini bertentangan dengan hadis aisyah dimana rosulullah tidak pernah salat malam lebih dari 11 rakaat, karena salat lail beliau menjadi 13 rakaat. namun hal ini tdk menjadi masalah krn makin banyak rakaatnya makin baik.

    Tidak bertentangan, karena penyebutan 11 rakaat hanya sepanjang pengetahuan Aisyah, sementara Ibnu Abbas telah menetapkan Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat 13 rakaat.

  7. haikal said:

    Bismillah,assalamu’alaikum,ustadz,sholat lail yg 2rekaat 4x niat dihati kita apa?,terus niat yang 1 atau 3 rekaat apa? mohon petunjuknya.

    Tidak perlu berniat tiap dua rakaat, cukup niat shalat lail di awal shalat maka itu sudah cukup untuk 8 rakaat setelahnya. Demikian halnya shalat witir, cukup niat witir di awal rakaat, tidak perlu dua kali niat. Wallahu a’lam

  8. Roni said:

    Assalamualaikum,
    1. Ustadz, apa hukumnya meninggalkan kebiasaan baik seperti shalat malam, shalat rawatib, dhuha padahal sebelumnya dibulan romadhon rutin mengamalkannya. Makruh atau apa?
    2. apa ukuran seseorang dikatakan rutin menjaga kebiasaan baik?

    Waalaikumussalam
    1. Hukumnya makruh berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:
    يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
    ” Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    2. Dia senantiasa berusaha untuk selalu melakukannya jika memang keadaan memungkinkan dan jika dia meninggalkannya sesekali karena keadaan yang tidak memungkinkan atau ada uzur syar’i misalnya dia sakit atau sedang safar maka itu tidak dianggap membatalkan kebiasaannya.

  9. fariz yuniar said:

    Assalamualaikum,
    1. pak saya mau tanya bolehkah mengerjakan sholat tahajjud mendekati subuh, misal karena kesiangan bangun jam 1/4 malam, kemudian mengerjakan sholat dapat 3 x 2 rakaat, rakaat yang ke empat sudah sholah2/masuk waktu imsyak (ada orang ngaji2 di langgar atau surrau atau masjid), gimana hukumnya apakah yang 3 x rakaat itu tidak diterima? sebenarnya waktu akhir sholat tahajud pasnya kapan (krn ada yang bilang tidak boleh shalat tahajud, ketika sudah jam 1/2 4 subuh atau sudah ada suara ngaji2 di langgar) bolehkah hanya mengerjakan 2 atau 3 sholat tahajud?
    2. bagaimana klo sholat tahajudnya cuma dapat tidak sampai 11 (katakan 3 x 2 rakaat atau 2 x 2 rakaat) terus ketiduran waktu zikir diantarnya sampai subuh, bagaimana hukumnya?

    terima kasih sebelumnya

    Waalaikumussalam
    1. Boleh shalat tahajjud menjelang subuh, karena waktu paling akhir shalat tahajjud/lail adalah sampai azan subuh, bukan waktu imsak. Adapun shalat yang sudah dikerjakan itu syah insya Allah.
    2. Tidak mengapa, karena shalat tahajjud itu minimal 2 rakaat dan 1 rakaat untuk witir

  10. Awal said:

    Assalamu Alaikum Wr.Wb.
    Ustadz,apakh klu mengerjakan shalat witir 1 rakaat juga membaca 3 surat trkhr alqur’an(alikhlas,alfalaq,annas) atokah tidak?

    Waalaikumussalam
    Terserah dia mau baca surah apa.

  11. ikhsan said:

    assalamu’alaikum, mau tanya ustad, kalau kita sedang shafar, lalu tertidur di perjalanan, dan hendak qiyamul lail setelah nya, padahal belum shalat maghrib dan isya(jama ta’khir), bagaimana hukumnya, apakah harus tidur kembali setelah shalat isya?

    Tidak boleh shalat lail sebelum shalat isya. Tidak harus tidur dulu kalau mau shalat lail.

  12. shahidah said:

    Assalamulaikum ya ustaz,

    Selepas solat maghrib, saya kepenatan lalu tertidur dan tidak solat isya’ dan terawih. Bila terjaga, sudah 12 tengah mlm. Selepas menunaikn solat isya’,adakah saya melakukan solat terawih dahulu kemudian solat qiam ramadhan ATAU qiam ramadhan sahaja kerana sebab saya terlepas waktu terawih selepas isya’ secara berjemaah. Minta penjelasan.

    Syukran jazilan, ya ustaz.

    Waalaikumussalam.
    Shalat tarawih dan qiyamullail itu sama, hanya saja di dalam bulan ramadhan, qiyamullail dimajukan setelah isya dan dinamakan tarawih.

  13. rush said:

    Ustadz, bagaimana hukumnya seseorang yg bangun kesiangan dan baru menjalankan sholat shubuh jam 7 pagi?
    Padahal dia biasanya menjalankan sholat subuh berjamaah d masjid..

    Tidak ada masalah insya Allah kalau dia memang ketiduran.

  14. TATA CARA SHOLAT TAHAJUD & WITIR YANG BENAR: Keutamaan & keajaiban Sholat Lail/Sholat malam, Jumlah Roka’at “Sholat Tahajjud”, Niat Sholat Tahajud, Waktu utama, Do’a/Bacaan Sholat Tahajud, Kaifiyat & Tuntunan Sholat malam | ma7xm said:

    [...] Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail) [...]

Tafadhdhal komentari artikel
Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail)