Kaifiat Mandi Junub

March 17th 2009 by Abu Muawiah |

Kaifiat Mandi Junub

Para ulama menyebutkan bahwa kaifiat mandi junub ada 2 cara:
1. Cara yang sempurna, yaitu mengerjakan semua rukun, wajib dan sunnah dalam mandi junub.
2. Cara yang mujzi’ (yang mencukupi), yaitu hanya melakukan yang merupakan rukun dalam mandi junub.
(Lihat Al-Mughni: 1/287, Al-Majmu’: 2/209 dan Al-Muhalla: 2/28)
Kaifiat mandi yang mujzi’:
1. Niat.
2. Mencuci  dari kotoran yang menimpa atau najis –kalau ada-.
3. Menyiram kepala sampai ke dasar rambut dan seluruh anggota badan dengan air.
Ada beberapa dalil yang menunjukkan cara ini, diantaranya:
1. Firman Allah Ta’ala, “Dan kalau kalian junub maka bersucilah.” (QS. Al-Maidah: 6)
Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla (2/28), “Bagaimanapun caranya dia bersuci (mandi) maka dia telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan padanya.”
2. Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah -shalllallahu alaihi wasallam-, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah wanita yang mempunyai gulungan rambut yang tebal, apakah saya harus membukanya saat mandi junub?” beliau menjawab, “Tidak perlu, yang wajib atas kamu hanyalah menuangkan air di atas kepalamu sebanyak tiga kali tuangan kemudian kamu menuangkan air ke seluruh tubuhmu. Maka dengan itu kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 742 dan selainnya)
3. Hadits Imran bin Hushain yang panjang dalam Ash-Shahihain, dia berkata, “Dan yang terakhir adalah diberikannya satu bejana air kepada yang orang yang terkena janabah lalu beliau (Nabi) bersabda: Pergilah dan tuangkan air itu ke seluruh tubuhmu.” (Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/424).
Kami katakan: Bagi mereka yang kekurangan air atau yang tidak punya banyak waktu untuk mandi -karena harus segera shalat atau selainnya-, maka hendaknya mereka cukup mengerjakan kaifiat ini karena ini adalah ukuran minimal syahnya mandi.

Kaifiat mandi sempurna:
Sifat mandi yang sempurna ada dua cara, disebutkan dalam hadits Aisyah dan Maimunah yang keduanya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Berikut penyebutannya:
A. Cara mandi junub yang pertama:
Aisyah berkata, “Sesungguhnya kebiasaan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kalau beliau mandi junub adalah: Beliau mulai dengan mencuci kedua (telapak) tangannya, kemudian beliau berwudhu (sempurna) seperti wudhu beliau kalau mau shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukkan jari-jemarinya ke dasar-dasar rambutnya, sampai tatkala beliau merasa air sudah membasahi semua bagian kulit kepalanya, beliau menyiram kepalanya dengan air sebanyak tiga kali tuangan, kemudian beliau menyiram seluruh bagian tubuh yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 248, 272 dan Muslim no. 316)
Kesimpulan cara yang pertama adalah:
1. Mencuci kedua telapak tangan tanpa ada pembatasan jumlah.
2. Berwudhu sempurna, dari mencuci telapak tangan sampai mencuci kaki. Jadi telapak tangannya kembali dicuci, berdasarkan lahiriah hadits.
3. Setelah berwudhu sempurna, beliau mengambil air dengan kedua telapak tangan beliau lalu menyiramkannya ke kepala seraya memasukkan jari jemari beliau ke bagian dalam rambut agar seluruh bagian rambut dan kulit kepala terkena air.
4. Setelah yakin seluruh bagian kulit kepala telah terkena air, beliau menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan.
5. Kemudian yang terakhir beliau menyiram seluruh tubuhnya yang belum terkena air.

B. Cara mandi junub yang kedua:
Ini disebutkan dalam hadits Maimunah, istri Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 259, 265, 266, 274, 276, 281 dan berikut lafazh gabungan seluruh riwayatnya:
Maimunah berkata, “Saya meletakkan air yang akan digunakan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- untuk mandi lalu menghijabi beliau dengan kain. Maka beliau menuangkan air ke kedua (telapak) tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak dua kali atau tiga kali, kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya dan bagian yang terkena kotoran, kemudian beliau menggosokkan tangannya ke lantai atau ke dinding sebanyak dua kali atau tiga kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian beliau mencuci wajahnya dan kedua lengannya (tangannya sampai siku), kemudian beliau menyiram kepalanya sebanyak tiga kali kemudian menuangkan air ke seluruh tubuhnya. Kemudian beliau bergeser dari tempatnya lalu mencuci kedua kakinya.” Maimunah berkata, “Lalu saya membawakan sepotong kain kepada beliau (sebagai handuk) tapi beliau tidak menghendakinya lalu beliau mengusap air dari badannya dengan tangannya.” (Diriwayatkan juga yang semisalnya oleh Muslim no. 723)
Kesimpulan cara yang kedua:
1. Menuangkan air ke kedua telapak tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak dua atau tiga kali.
2. Mengambil air dengan tangan kanannya lalu menuangkannya ke tangan kirinya, lalu beliau mencuci kemaluannya dengan tangan kirinya dan juga mencuci bagian tubuh yang terkena kotoran (madzi atau mani).
3. Menggosokkan tangan kirinya itu ke lantai atau dinding atau tanah untuk membersihkannya, sebanyak dua atau tiga kali.
4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya.
5. Mencuci wajah lalu mencuci kedua tangan sampai ke siku.
6. Lalu menyiram kepala sebanyak tiga kali siraman.
7. Menyiram seluruh bagian tubuh yang belum terkena air.
8. Bergeser dari tempatnya berdiri lalu mencuci kedua kaki.

Inilah dua kaifiat mandi junub sempurna yang setiap muslim hendaknya mengerjakan keduanya secara bergantian pada waktu yang berbeda, terkadang mandi junub dengan kaifiat Aisyah dan pada kesempatan lain dengan kaifiat Maimunah, wallahu a’lam.

Berikut beberapa permasalahan dalam mandi junub yang tidak tersebut pada kedua hadits di atas:
1. Wajibnya niat dan tempatnya didalam hati.
Karena niat adalah syarat sahnya seluruh ibadah, sebagaimana dalam  hadits Umar bin Al-Khaththab yang masyhur, “Sesungguhnya setiap amalan -syah atau tidaknya- tergantung dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan 54 dan Muslim no. 1907)
2. Hukum membaca basmalah.
Tidak disebutkan dalam satu nash pun adanya bacaan basamalah dalam mandi junub, karenanya kami berpendapat tidak adanya bacaan basmalah di awal mandi junub. Kecuali kalau dia membaca bismillah untuk gerakan wudhu yang ada di tengah-tengah kaifiat mandi, maka itu kembalinya kepada hukum membaca basmalah di awal wudhu. Dan telah kami bahas pada beberapa edisi yang telah berlalu bahwa hukumnya adalah sunnah.
3. Diharamkan seorang yang mandi junub untuk menceburkan dirinya ke dalam air yang diam seperti kolam dan sejenisnya. Berdasarkan hadits Abu Hurairah secara marfu, “Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang diam sementara dia junub.” (HR. Muslim no. 283)
4. Disunnahkan untuk memulai dengan anggota tubuh bagian kanan. Aisyah berkata, “Kami (istri-istri Nabi) jika salah seorang di antara kami junub, maka dia mengambil air dengan kedua tangannya lalu meletakkannya di atas kepalanya. Salah satu tangannya menuangkan air ke bagian kepalanya yang kanan dan tangannya yang lainnya di atas bagian kepalanya yang kiri. Dia melakukan itu sebanyak tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 277)
5. Bagi yang mengikat rambutnya, apakah dia wajib melepaskan ikatannya?
Imam Al-Baghawi berkata -tentang hadits Ummu Salamah yang telah berlalu di awal pembahasan- dalam kitab Syarh Sunnah (2/18), “Hadits inilah yang diamalkan di kalangan semua ahli ilmi, bahwasanya membuka kepang rambut tidak wajib pada mandi junub selama air bisa masuk ke dasar rambutnya.”
Kami katakan: Kalau tidak bisa masuk maka wajib membukan ikatan rambutnya.
6. Bolehkah memakai handuk setelah mandi junub?
Wallahu a’lam, lahiriah hadits Maimunah di atas dimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menolak handuk yang diberikan oleh Maimunah, menunjukkan disunnahkannya untuk tidak membasuh badan dengan kain akan tetapi dengan tangan. Walaupun hukum asalnya adalah boleh membasuh tubuh dengan kain setelah mandi, hanya saja yang kita bicarakan adalah mana yang lebih utama.
7. Setelah mandi junub, seseorang boleh langsung shalat tanpa berwudhu kembali karena mandi junub sudah mencukupi dari wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah, “Adalah Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak berwudhu lagi setelah mandi.” (HR. Abu Daud no. 172)
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny 1/289, “Mandi (junub) dijadikan sebagai akhir dari larangan untuk shalat, karenanya jika dia telah mandi, maka wajib untuk tidak terlarang dari sholat. Sesungguhnya keduanya yaitu mandi dan wudhu, dua ibadah yang sejenis, maka yang kecil di antara keduanya (wudhu) masuk (terwakili) ke dalam  yang besar sebagaiamana halnya umrah di dalam haji.”
8. Tidak boleh menggabungkan antara mandi junub dengan mandi haid, karena kedua jenis mandi ini telah tegak dalil yang menerangkan wajibnya untuk mengerjakan masing-masing darinya secara tersendiri, karenanya tidak boleh disatukan pada satu mandi. Lihat pembasan masalah ini dalam Tamamul Minnah hal. 126, Al-Muhalla (2/42-47)
Adapun mandi junub dengan mandi jumat, maka boleh digabungkan. Berdasarkan hadits Aisyah secara marfu’, “Barangsiapa yang mandi pada hari jumat maka hendaknya dia mandi dengan cara mandi junub.” (HR. Ahmad)
Para ulama menerangkan bahwa pengamalan hadits di atas bisa dengan dua cara:
a. Apakah dia sengaja membuat dirinya junub yaitu dengan berhubungan dengan istrinya pada hari jumat, agar dia bisa mandi junub pada hari itu.
b. Ataukah dia mandi jumat dengan kaifiat mandi junub, walaupun dia tidak dalam keadaan junub, wallahu a’lam.
9. Dimakruhkan untuk berlebih-lebihan (boros) dalam menggunakan air, baik dalam wudhu maupun dalam mandi junub. Ini berdasarkan dalil umum yang melarang untuk tabdzir (boros) dan berlebih-lebihan dalam segala sesuatu.
10. Cara mandi bersih dari haid/nifas sama dengan mandi junub kecuali dalam dua hal:
a. Disunnahkan setelah mandi untuk menggosok kemaluan dan yang bagian terkena darah dengan kapas atau yang semacamnya yang telah diolesi dengan minyak wangi. Ini untuk membersihkan dan mensucikan dari bau yang kurang sedap.
Hal ini berdasarkan hadits Aisyah secara marfu’, “Salah seorang di antara kalian (wanita haid) mengambil air yang dicampur dengan daun bidara lalu dia bersuci dan memperbaiki bersucinya. Kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya seraya menggosoknya dengan gosokan yang kuat sampai air masuk ke akar-akar rambutnya, kemudian dia menyiram seluruh tubuhnya dengan air. Kemudian dia mengambil secarik kain yang telah dibaluri dengan minyak misk lalu dia berbersih darinya.” Aisyah berkata, “Dia mengoleskannya ke bekas-bekas darah.” (HR. Muslim no. 332 dari Aisyah)
b. Disunnahkan mandi dengan air dan daun bidara sebagaimana dalam hadits di atas.
Wallahu a’lam bishshawab

Incoming search terms:

  • kaifiat mandi wajib
  • Apakah bisa mandi wajib menggunakan shampo dan sabun
  • mandi junub
  • apakah mandi wajib boleh dilakukanberulang kali
  • sah atau tidak jika mandi wajib masih ada tinta spidol
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, March 17th, 2009 at 12:58 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

167 responses about “Kaifiat Mandi Junub”

  1. adi said:

    Assalamu alaikum
    Pak ustad , kan sudah diterangkan bahwa dimakruhkan berboros air ketika mandi junub … Saya mau tanya pak ustad , apakah berboros air membuat mandi junub menjadi tidak sah ??? Atau hanya hukumnya saja yang dimakruhkan ???

    Waalaikumussalam.
    Hukumnya saja makruh, tapi tidak mempengaruhi mandi junub.

  2. idam said:

    assalamu’alaikum… saya ingin bertanya.. apakah syah mandi junub apabila didalamnya terdapat ketidaksengajaan mengucapkan perkataan kotor , maaf seperti ( g*bl*k , t*l*l , dan sbgainya ).. kata2 ini terucap bgtu saja dan tdk diniatkan untuk berkata ini , namun krna ada perasaan sedikit kesal.. perkataan itu terucap setelah berusaha mnghindari masuknya air musta’mal yg masuk ke bak mandi , dan saya baru tw jg bahwa air bekas mandi itu suci .. setelah mandi sya jd berfikir mandi junub saya perlu diulangi.. apakah harus ? apa makruh jg ? apakah syah ? kata2 tadi pun tentu saja tdk dimaksudkan kepada Allah SWT.. saya tw sebuah keraguan itu bisa jadi perbuatan syaitan yang mmbuat was-was perasaan manusia agar kita jd malas beribadah… mohon dibantu..

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah pada mandinya. Apa yang kita ucapkan tidaklah berpengaruh pada keabsahan mandi junub, jadi mandinya tetap syah dan tidak perlu diulang.

  3. roy said:

    assalamualaikum pak ustadz
    saya telah membaca penjelasan pak ustadz tentang mandi junub…insya allah saya mengerti dan memahami tata cara nya,,namun ada pertanyaan yang saya ingin tanyakan karena membuat keraguan dalam diri saya,,begini pak ustadz :

    1. karena kamar mandi tempat saya biasa mandi itu menjadi satu dengan tempat buang air besar/WC,apakah sah jika saya mandi junub di tempat itu?padahal membaca niat wudhu,dan mandi junub nya kita kan menyebut nama Allah,sedang kita berada/mandi di dalam WC…apakah sah atau malah berdosa pak ustadz?
    2. karena saya kurang yakin air bak mandi tersebut bersih dari najis,maka saya menggunakan selang,jadi air mengalir langsung dari keran melalui selang itu pak ustadz untuk berwudhu,dan mandi junubnya,apakah itu diperbolehkan pak?atau bagaimana pak ustadz?

    mohon pencerahannya pak ustadz,,terima kasih…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Dia bisa menyebut nama Allah di luar kamar mandi.
    2. Ya, tetap syah, tidak ada masalah sama sekali.

  4. candra said:

    ass…
    Pak ustad saya mau tanya pak tadi malam saya mimpi basah dan terbangun sekitar jam 1 mlm lalu saya tertidur lagi untuk menunggu sahu niatnya jam 3 saya mandi dulu dan makan sahur tapi saya keboblosan terbangun jam 5.30 subuh dan waktu sahur telah habis saya belum madi wajib dan akirnya saya madi wajib jam 5.30 itu lalu saya solat subuh.. apakah puasa saya sah pak.. mohon dibalas secepatnya pak..
    thanks before

    Puasanya syah. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengalami keadaan persis seperti itu dan beliau tetap berpuasa.

  5. evin said:

    masih ada pertanyaan saya ustaz:

    7.misalnya saja ustaz,ada bak mandi yang kosong yg terdapat najis d dalamnya,trus bak mandi tersebut diisi air sampai penuh dan sifat air tersebut tdk berubah baik warna,rasa, dan baunya.najiskah air tersebut?apakah air tersebut bisa dipakai bersuci?

    8.apabila ada bak mandi yang berisi air,kemudian air tersebut terkena najis sehingga sifat air tersebut berubah sifatnya baik warna,rasa, dan baunya.akan tetapi npada bak mandi tersebut,air kran tdk pernah berhenti mengalir sampai kemudian sifat air tersebut menjadi netral kembali,dalam arti sifat air dlm bak mandi tersebut kembali kesifat asalnya,yang tdk ada rasa,bau,dan warnanya(air kembali mnjdi bening dan bersih tanpa bau dan rasa).pertanyaan saya apakah air yg bersih kembali ini sdh bs dipake bersuci kembali?dalam arti apakah air tersebut kembali menjadi tdk najis lagi?

    saya selalu merasa sangat was2 dengan semua hal2 tersebut d atas, sehingga saya sangat membutuhkan jawaban ustaz.terima kasih banyak sebelumnya ustaz…

    wassalaamualaikum.wr.wb.

    Waalaikumussalam.
    Pada kedua kasus di atas, air tetap bisa dipakai bersuci.

  6. evin said:

    afwan saya mau menambahkan sedikit pertanyaan saya yang nomor satu d atas ustaz:

    1.setelah mandi junub saya baru melihat bekas lem yang menempel di kuku dan jari sebesar titik saja yang tdk bisa dibilang besar tetapi tdk bs juga dibilang kecil (kurang lebih titik sebesar biji beras),padahal lem tersebut sy pegang sebulan lalu dan sy sudah membersihkannya dengan baik dgn memperhatikan secra detail tangan saya sampai saya mengikirnya dengan silet,tapi masih ada yg terlewati dan baru saya lihat setelah mandi junub beberapa hari yg lalu,dan sampai saat ini saya belum mandi junub kembali.sahkah mandi junub saya?sahkah puasa2 n solat2 saya yg sy lakukan setelah mandi junub itu?perlukah sy mandi ulang?

    Tidak perlu diulang semua ibadahnya yang telah lalu. Dia cukup mandi junub sekarang setelah dia membersihkan lem tersebut.

  7. abu hasan said:

    BismiLLAAH
    ‘afwan ustadz mau tanya:
    pada kaifiyat mandi junub berdasar hadist ‘aisyah rodhiyaLLAAHU ‘anhaa, kapan waktu kita mencuci kemaluan dan aktivitas membersihkan najis, sebelum atau setelah wudhu atau kapan?dan dalilnya?

    BaarakaLLAAHU fiik

    Membersihkan najis bisa dilakukan saat mencuci kemaluan.

  8. widi said:

    Assalamu alaikum..
    pak ustad..
    sya ingin bertanya.jika setelah selesai mandi junub kmudian ada sabun yg mnempel di kulit atau di kuku apakah sah mandi junubnya ?

    Waalaikumussalam.
    Ya, tetap syah selama seluruh tubuh sudah terkena air.

  9. adi said:

    Assalamu alaikum
    Pak ustad , saya mau tanya apakah kalau air masuk ke telinga dapat membatalkan puasa , dan itu dilakukan dengan sengaja ??? Dan pak ustad , kalau kita ragu-ragu puasa kita tidak sah karena sesuatu , apakah boleh kita mengqadhanya ???

    Waalaikumussalam.
    Tidak membatalkan puasa, karena telinga tidak mempunyai saluran masuk ke tenggorokan dan perut.
    Puasa tidaklah batal dengan sekedar ragu-ragu. Dan puasa tidak boleh dibatalkan dengan sekedar ragu-ragu akan sesuatu.

  10. emzabdila said:

    assalamuallaikum Wr.Wb.
    bolehkah mandi junub dengan menggunakan shower

    Waalaikumussalam.
    Boleh, tidak ada masalah selama seluruh tubuh terkena air.

  11. roy said:

    assalamualaikum pak ustadz

    terima kasih jawaban pak ustadz soal pertanyaan saya di nomer 153 di atas,yang mau saya tanyakan lagi pak,di pertanyaan pertama kan pak ustadz menjawab bisa menyebut nama allah di luar kamar mandi,apa artinya saya bisa berniat di luar kamar mandi/WC baru kemudian masuk untuk melaksanakan mandi junub nya pak ustadz??terus terang agak bingung nih pak..:D

    Waalaikumussalam.
    Ya. Niat itu tidak perlu dilafalkan dengan mulut, cukup dimunculkan keinginan di dalam hati, maka itulah niat.

  12. ahmad saiful said:

    pak ustad saya mau tanya..kan kita mandi dikamar mandi dan kamar mandinya jg ada WC gt..pdhal qita harus niat dan pada niat kan qita melafalkan asma Allah…tapi kita niatnya dalam hati saja..apakah boleh dan tetap syah mandinya?
    Y

    a, memang niat di dalam hati dan tidak perlu dilafalkan, jadi tidak ada masalah.

  13. adi said:

    Assalamu alaikum
    Pak ustad , mau tanya lagi ni , kalau seandainya kamar mandi hanya untuk mandi , apakah boleh menyebut nama Allah ketika berniat ???
    Mohon pak ustad , saya masih bingung …

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah boleh.

  14. adi said:

    Assalamu alaikum …
    Pak ustad , ketika saya mandi , saya selalu berniat seperti ini , “sengaja aku berniat mandi wajib untuk membersihkan hadas besar di seluruh badanku fardhu karena Allah Ta’ala” . Kata teman saya itu keliru , kalau memang keliru , apakah berarti mandi saya tidak sah pak ustad ???

    Waalaikumussalam
    Niat itu cukup memunculkan keinginan mandi junub di dalam hati, dan tidak perlu dilafalkan. Jadi melafalkannya keliru tapi mandinya tetap syah.

  15. hendi said:

    assalamu ‘alaikum pak ustadz . . .
    sya mw tanya .
    begini, tdi pagi saya kan mandi junub tapi saya junubnya kemarin malam, nah sebelum saya mandi junub saya buang air (BAB & BAK) terlebih dahulu. nah pada saat mandi junub yakni saat menggosok bagian bawah kemaluan, saya merasakan geli saat menggosok bagian tersebut. terus pada saat selesai mandi junub yakni saat mencuci kaki, saya melihat ada yang keluar dari kemaluan saya dan saat saya memakai handuk dan akan memakai celana dalam, saya merasakan dan melihat lagi ada cairan yang keluar dari kemaluan saya. . .
    yang ingin saya tanyakan, cairan yang keluar ini apa pak ustadz ?!
    madzi, mani atau cairan lain ?!
    apakah mandi junubnya harus diulang atau tidak ?!
    mohon wawasannya . . .

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam, yang jelas tidak wajib diulang.

  16. anto apriantono said:

    Pak ustadz, mau nanya ni.
    1. Ketika shalat berjemaah di mesjid seperti ada angin(kentut) yang mau keluar, lalu saya sekuat tenaga menahannya, tapi gara” itu saya jadi tidak khusuk (was-was), gimana yah kalau anginnya tadi keluar?
    2. Saat Shalat berjemaah walaupun sudah ditahan angin(kentut)nya saya merasa ada sedikit angin yang keluar, tapi saya tetap melanjutkan shalat sampai selesai, gmna pak? Saya takut shalat saya gak diterima.
    3. Saat mau shalat berjemaah, saya merasa ada setetes air kencing yang keluar dari kemaluan saya, padahal saya sudah kencing dan berwudhu. Gmna pak? Apa shalat saya diterima.
    Jazakummullahkhairankhatsiran…

    Untuk ketiga pertanyaan di atas:
    Jika dia yakin ada yang keluar maka dia wajib mengulangi shalatnya dan berdosa kalau masih melanjutkan shalatnya.
    Jika dia belum yakin ada yang keluar maka dia tidak wajib mengulang shalatnya.

    Tambahan:
    Menahan kentut dalam shalat adalah makruh, karenanya seharusnya dia membuang hajat -kalau memang diperlukan- sebelum shalat.

  17. evin said:

    maaf ustaz,saya memiliki banyak pertanyaan,tapi kenapa d delete dan tdk dijawa ustaz?

    Maaf pertanyaan sangat menumpuk dan kami mempunyai alasan tersendiri untuk tidak menjawab pertanyaan, seperti:
    a. Mungkin pertanyaannya tidak layak ditampilkan di depan umum.
    b. Atau itu sudah dijawab dalam pertanyaan penanya lain.
    c. Atau kami tidak tahu jawabannya, jadi kami hapus agar tidak memakan tempat.
    Jadi harap dimaklumi.
    Tapi seingat saya, ada pertanyaan anda yang kami jawab. Coba dicek di artikel mana anda menginput pertanyaan.