Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata

March 19th 2012 by Abu Muawiah |

Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya
Keshalihannya Belum Tentu Nyata

Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.

Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan. Akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa. Sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat bahkan sampai ke arah pernikahan.

Terkesan shalih dan shalihah di dunia maya

Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang. Dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberpa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukai banyak orang

Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan aklaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,
فمن اتقى الله و حقق تقواه, و خالق الناس غلى اختلاف طبقاتهم بالخلق الحسن
: فقد جاز لخير كله, لآنه قام بجق الله و حقوق الغباد,
ولآنه كان من المحسنين في عبادة الله, المحسنين إلى عباد الله
“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya.” [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Tidak amanah ilmiyah

Ada juga yang ingin nampak alim dan berilmu di dunia maya dengan niat yang tidak ikhlas [Alhamdulillah ini cukup sedikit]. Selain cara-cara di atas seperti update status agama setiap jam, menaut link beberapa kali sehari, membuat note setiap hari [waktunya sangat terbuang di dunia maya]. Ada cara lainnya yaitu tidak melakukan amanat ilmiyah misalnya:

-membuat note hampir tiap hari dengan copas dari tulisan orang lain tetapi tidak mencantumkan sumber sehingga orang menyangka dia yang menulisnya

-membuat note dengan copas dari tulisan lainnya, kemudian mengubah-ubah sedkit atau menambah komentar sedikit kemudian menisbatkan tulisan pada dirinya.

Dan masih banyak contoh yang lainnya, silahkan baca Menunaikan Amanah Ilmiyah dan Jujur Dalam Tulisan

Maka tidak heran ada yang mengaku pernah bertemu dengan seseorang yang di dunia maya terkesan sangat alim dan berilmu. Namun tatkala bertemu di dunia nyata, ternyata ia jauh dari apa yang ia sandiwarakan di dunia maya. Jauh dari ilmu, akhlak dan takwa.

Perlu husnudzan juga

Kita perlu mengedapankan husnudzon juga, karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia internet seperti ahli IT dan berdagang via internet. Jadi mereka sangat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdakwah mengingat sekarang dunia maya sangat digandrungi oleh masyarakat dunia. Sebaiknya kita jangan berburuk sangka kepada mereka dengan mengira sok alim, sok update status bahasa arab, sok serba syar’i dan sok suci. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS al-Hujuraat: 12)

Kita juga perlu melihat panutan para ulama dan ustadz, mereka lebih sibuk dan lebih memprioritaskan dengan ilmu dan dakwah di dunia nyata, karena kita hidup di dunia nyata. Ilmu dan dakwah di dunia maya adalah prioritas kemudian setelah ilmu dan dakwah di dunia nyata.

Terperdaya dengan cinta dunia maya

Dan mereka yang tidak kuat imannya, terperdaya sekaligus dengan hubungan tak halal yang mereka lakukan, mereka sudah terperangkap cinta. maka semakin lengkap sudah, mereka melihatnya sebagai sebuah keindahan tiada tara sampai-sampai menutup beberapa kekurangan yang harusnya menjadi pertimbangan paling terdepan yaitu agama dan ahklak.

Keindahan bisa membuat jatuh cinta…

Dan cinta bisa membuat segalanya menjadi indah…

Seorang penyair berkata,
هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها
“Kecintaanku kepadamu menutup mataku
Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri”

[[Al-Jawabul Kaafi 214, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah]

Inilah salah satu yang dikhawatirkan, karena cinta sudah menancap tidak peduli lagi, padahal kenal hanya di dunia maya, kemudian memutuskan untuk ketemu, ta’aruf ala kadar dan menikah. untuk mengetahui bagaimana kehidupan dunianya saja sulit, bagaimana wajah aslinya [walaupun tukar foto, maka foto sekarang bisa berbalik 180 derajat dengan aslinya], bagaimana masa depannya dan bagaimana tanggung jawabnya, apalagi untuk mengetahui agama dan akhlaknya yang menjadi prioritas utama, walaupun terkesan shalih tetapi sekali lagi itu hanya di dunia maya, belum tentu.

Wanita korban utama

Jelas wanita yang lebih menjadi korban, karena wanita umumnya memiliki hati yang lemah, lemah dengan pujian, lemah dengan perhatian, lemah dengan kata-kata puitis. Bisa kita lihat di berita-berita bagaimana wanita tidak sedikit yang menjadi korban, baik korban kejahatan, pelecehan seksual sampai pemerkosaan oleh teman yang ia kenal di dunia maya.

Begitu juga dengan wanita penuntut ilmu agama, mengingat pentingnya agama dan akhlak suami, sampai-sampai ada yang berkata, “agama istri mengikuti suaminya, jika ada wanita yang multazimah menikah dengan laki-laki yahudi, maka ia akan terpengaruh”. Jika wanita tersebut terjerumus dengan cinta di dunia maya dan sudah tertancap cinta dan sudah tertutup kekurangan laki-laki tersebut dengan cinta buta.

Sebagaimana kisah nyata yang kami dapatkan, mereka berdua kenal di dunia maya, kemudian sang laki-laki dari kota yang jauh menyebrang dua pulau datang untuk bertemu ke kota wanita tersebut. Maka sang wanita yang sudah terperangkap cinta, langsung “klepek-klepek” dengan sedikit pengorbanan laki-laki tersebut dan langsung ingin menikah. Padahal lak-laki tersebut, wajahnya kurang, porsi tubuh juga kurang, ilmu agama juga belum jelas, dan masa depan juga masih belum jelas karena hanya lulusan SMA. [Semoga mereka berdua bertaubat dan selalu berada dalam penjagaan Allah, Amin]

Jangan memulai sesuatu yang suci dengan kemurkaan Allah

Pernikahan dan membangun rumah tangga adalah sesuatu yang suci dan anjuran syariat. Dari pernikahan berawal segala sesuatu dan mengubah kehidupan seseorang dengan perubahan yang besar. Kemudian dari pernikahan lahirnya manusia, lahirlah masyarakat dan lahir berbagai perihal kehidupan. Maka janganlah kita memulainya dengan kemurkaan dan ketidakridhaan dari Allah. Jangan kita mulai dengan hubungan yang tidak halal. Karena ia adalah dasar dan pondasinya.

Hendaklah yakin dengan janji Allah dan bersabar dengan ta’aruf yang syar’i, perbaiki diri dan tingkatkan kualitas ilmu, iman, akhlak dan takwa maka kita akan mendapat pasangan yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

6 Shafar 1432 H, Bertepatan  31 Desember 2011

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http//muslimafiyah.com
[sumber: http://muslimafiyah.com/jangan-cari-jodoh-di-dunia-maya-keshalihannya-belum-tentu-nyata.html]

Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata

Incoming search terms:

  • kenal di sosmed tidak puasa melihat aslinya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, March 19th, 2012 at 11:12 pm and is filed under Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

18 responses about “Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata”

  1. sobari said:

    yg bgini di bahas

    Kenapa? Lagi PDKT sama seseorang ya? Takut ketahuan?

  2. mashudi syaikhan said:

    Barakallaah,…smoga tulisan antum ini menjadi sarana amal sholeh dan mendapat pahala di sisi ALLOH Swt, amien

  3. amil said:

    tad sungguh sangat sangat bermanfaat mengingat dunia maya saat ini mendapatkan peranan penting dalam peradapan manusia, :)
    dsini ana ingin menyanyakan gmn hukum a blajar agama melalui dunia maya seperti yg ana lakukan dengan ustad? karena jjur saja ana tidak pernah kenal ustad n melihat rupa ustad. ana mengikuti link ustad karena menurut saya penjelasan ustad sangat terang itu saja…
    wassalam

    Menuntut ilmu itu bisa menggunakan wasilah apa saja dan tidak harus dia bertemu dengan orang yang mengajar secara langsung. Kita membaca kitab-kitab para ulama padahal kita tidak pernah melihat mereka dan kita menerima penjelasan mereka karena berdasarkan dalil yang shahih dan tegas. Karenanya selama orang itu menisbatkan diri kepada sunnah, maka jangan lihat siapa orangnya tapi lihat apa yang dia sampaikan.

  4. rahmah said:

    bismillah. ana izin copas… jazaakumullohu khayr

  5. mencari pendamping? nyata, bukan dari dunia maya « ummu ruqayyah's blog said:

    […] Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata […]

  6. Humairoh said:

    Bismillah, Afwan izin copas artikel2 nya. Semoga bermanfaat untuk seluruh umat. Jazakallohu khoir..

  7. faqih (semut kecil) said:

    terimalasih atas tulisannya, semoga allah membalas dengan yang lebih baik dari yang anda tulis.. sungguh bermanfaat.

  8. faqih (semut kecil) said:

    kadang ada sebagian orang mengumbar ayat-ayat alquran yang mulia di situs jejaring sosial ( made in kafir) hanya karena ingin terlihat tampil beda, lalu sebagian orang berkomentar dengan ucapan yang tidak diperkenankan dalam alquran dan menyikapinya seolah-olah itu bukan ayat Allah. bukan kah kalau kita ingin menulis atau memetik ayat alquran ada forum khusus untuk menuangkan hal itu bukan di jejaring sosial yang memang penggunanya mayoritas awam… terimakasih atas tulisannya, ini mengingatkan kita semua.. agar berhati hati. ihdinassirootolmustaqiim…wallahu a’lam

  9. Jangan Cari Jodoh di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata « Perahu Itu Tidak Berlayar di Atas Daratan said:

    […] ulang di Al Atsariyyah] Bagikan:Like this:SukaBe the first to like this […]

  10. fitri said:

    assalamualaikum wr.wb
    maaf numpang nanya ustad, bagaimana caranya agar Allah memudahkan kita untuk mencari jodoh yang baik? dosa apa saja yang dapat menjauhkan kita dari jodoh? apabila wanita yang sholihah mendapatkan suami yg akhlaknya tidak baik apakah itu sudah takdir, ataukah salah dalm memilih jodoh? sedangkan Allah berfirman ““Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26) bagaimana itu ustadz. mohon solusinya. maaf banyak nanya….assalamualaikum wr.wb

    Waalaikumussalam.
    Sebelumnya, kami mau bertanya dulu kepada anda, apa itu jodoh menurut persepsi anda? Karena jodoh ini bahasa indonesia, bukan bahasa arab.

  11. Habibu said:

    bismillah. ana izin copas… jazaakumullohu khayr

  12. anonym said:

    bagus artikelnya, makasih. semoga bermanfaat bagi kita semua,, amiin

  13. hasbullah said:

    شُكْرًا جَزَاك اللّهُ خَيْرًا يَا أُسْتَاذُ
    Izin copas atrikelnya يَا أُسْتَاذُ
    بارك الله فيكم وجعل ذلك في ميزان حسناتكم آمين

  14. soleh said:

    Ana sangat setuju ustadz, ana juga pernah menemui berbagai status, catatan, link atau yang semisalnya dari seorang teman di fb, ana sering membacanya untuk menyamakan dengan artikel-artikel yang ada disini, ternyata ada sedikit perbedaan. Terutama pada bagian bahasan masalah musik, tahlilan, dan rajaban.

    Ana tidak mengetahui aslinya beliau, yg ana tau dari tulisan-tulisannya dia betul-betul perhatian pada syariat Islam

  15. Abu Abdillah said:

    Mungkin awalnya bukan cari jodoh..tapi main-main,Allahu a’lam

  16. Lia said:

    Iya, sy setuju dg y/ustad tulis. Wallahu’alam baik buruknya jodoh y/dikenal melalui dunia maya, tulisan bukannya juga bisa sedikit banyak menunjukkan “akhlak seseorang”. Dalam S.Al Ashr (3) …saling menasehati u/kebaikan…

    Mengenai baik buruknya akhlak seseorang wallahu’alam bishawab hanya ALLAH Y/Maha Tahu, manusia hanya menilai sebatas perkiraan/naruni hati & insyaALLAH u/semakin menyakinkan hati insyaALLAH bisa dikomunikan dg ALLAH SWT dg sholat istiqaroh, insyALLAH ALLAH SWT akan memberi petunjuk dlm qalbu melalui berbagai jalan.

    Mudah2an qt semua selalu dlm petunjuk tuntunan Kasih Sayang ALLAH SWT, amiiin yaa Robbal alamiiin

  17. eyana said:

    Assalamualaikum,,
    Alhamdulillah,,
    kata2 semua ni amat bermanfaat pada sy..
    sy minta izin share dr ustaz bloq,,
    ingin copay paste dr ustaz ke wall fb sy,,
    berkongsi dgn rakan2 di fb sy,,
    syukran,,,

  18. shayfuddin azzuhri said:

    mungkin judulnya kurang tepat ,,
    tidak semua orang kayak gitu ,,
    teeeman saya , status & koment di Fbnya tidak bgitu penting ,,,,, tapi orangya di dunia nyata sungguh malah pandai ilmu agama islam ,,

    seperti Firman Alloh swt yg sudah anda tulis di atas
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS al-Hujuraat: 12)

    renungkan , wassalam