Jamak Shalat Bagi Musafir

April 15th 2010 by Abu Muawiah |

30 Rabiul Akhir

Jamak Shalat Bagi Musafir

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –  يَجمَعُ بَينَ صَلاةِ الظُّهرِ وَالعَصرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهرِ سَيرٍ، وَيَجمَعُ بَينَ المَغرِبِ وَالعِشَاءِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa menjamak antara zuhur dan ashar jika sedang dalam perjalanan. Beliau juga menjamak antara maghrib dan isya.” (HR. Al-Bukhari no. 1107)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu dia berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرُ فِي السَّفَرِ يُؤَخِّرُ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ
قَالَ سَالِمٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرُ وَيُقِيمُ الْمَغْرِبَ فَيُصَلِّيهَا ثَلَاثًا ثُمَّ يُسَلِّمُ ثُمَّ قَلَّمَا يَلْبَثُ حَتَّى يُقِيمَ الْعِشَاءَ فَيُصَلِّيهَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَا يُسَبِّحُ بَيْنَهُمَا بِرَكْعَةٍ وَلَا بَعْدَ الْعِشَاءِ بِسَجْدَةٍ حَتَّى يَقُومَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau tergesa-gesa dalam perjalanan, beliau menangguhkan shalat maghrib dan menggabungkannya bersama shalat isya”.
Salim (anak Ibnu Umar) berkata, “Dan Abdullah bin Umar radhiallahu anhu juga mengerjakannya seperti itu bila beliau tergesa-gesa dalam perjalanan. Beliau mengumandangkan iqamah untuk shalat maghrib lalu mengerjakannya sebanyak tiga raka’at kemudian salam. Kemudian beliau diam sejenak lalu segera mengumandangkan iqamah untuk shalat isya, kemudian beliau mengerjakannya sebanyak dua rakaat kemudian salam. Beliau tidak menyelingi di antara keduanya (kedua shalat yang dijamak) dengan shalat sunnah satu rakaatpun, dan beliau juga tidak shalat sunnah satu rakaatpun setelah isya hingga beliau bangun di pertengahan malam (untuk shalat malam).”
(HR. Al-Bukhari no. 1109)
Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Tabuk, ketika matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau menjamak antara shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan jika beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, maka beliau mengundurkan shalat zuhur sehingga beliau singgah untuk shalat Ashar (lalu mengerjakan keduanya dengan jamak ta`khir). Demikian pula ketika shalat maghrib, apabila matahari terbenam sebelum beliau berangkat, maka beliau menjamak antara maghrib dan isya (dengan jamak taqdim), dan jika beliau berangkat sebelum matahari terbenam maka beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga beliau singgah pada untuk shalat isya, kemudian beliau menjamak keduanya (dengan jamak ta`khir).” (HR. Abu Daud no. 1220, At-Tirmizi no. 553, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 1344)

Penjelasan ringkas:
Di antara kemudahan yang Allah Ta’ala berikan kepada para hamba adalah Dia mensyariatkan kepada mereka untuk menjamak shalat dalam keadaan safar. Hal itu karena musafir -biasanya- mendapatkan kesulitan dan kerepotan kalau mereka harus singgah ke sebuah tempat untuk mengerjakan setiap shalat pada waktunya masing-masing. Karenanya, boleh bagi musafir untuk menjamak shalat maghrib dan isya pada waktu salah satu dari keduanya (taqdim atau ta`khir) dan demikian pula antara shalat zuhur dan ashar. Jamak ini boleh dia lakukan selama dia masih berstatus sebagai musafir, baik sedang dalam perjalanan maupun dia singgah di sebuah tempat. Semua ini berdasarkan dalil-dalil yang tersebut di atas.

Hukum jamak shalat bagi musafir
Tidak ada satupun dalil yang memerintahkan jamak shalat bagi musafir, yang ada hanyalah nukilan ada perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Karenannya, hukum jamak shalat bagi musafir adalah sunnah dan tidak sampai dalam derajat wajib, berbeda halnya dengan qashar shalat yang hukumnya wajib bagi musafir.

Azan dan iqamah dalam shalat jamak
Dalam menjamak dua shalat, disyariatkan untuk mengumandangkan azan di awal dari dua shalat tersebut dan keduanya serta iqamah di awal kedua shalat tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dimana beliau berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم –  صَلَّى الصَّلاتَينِ بِعَرَفَةَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتِينِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam mengerjakan (menjamak) dua shalat di Arafah dengan sekali azan dan dua kali iqamah.” (HR. Muslim no. 1818)
Juga berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma di atas.

Jamak shalat jumat dan ashar
Tidak ada satupun dalil yang mengecualikan shalat jumat dari keumuman hadits-hadits tentang jamak shalat. Karenanya dibolehkan untuk menjamak shalat jumat dengan shalat ashar berdasarkan keumuman semua dalil di atas. Seandainya shalat jumat mempunyai hukum tersendiri yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya dalam hal menjamak, niscaya para sahabat dan para ulama setelahnya akan semangat dalam menukilnya karena hukum tersebut keluar dari hukum asal. Karenanya, tatkala tidak ada satupun nukilan dari para sahabat radhiallahu anhum yang membedakan antara shalat jumat dengan selainnya. Dan barangsiapa yang hendak membedakannya maka hendaknya dia mendatangkan dalilnya, wallahu a’lam.

Hukum shalat jumat bagi musafir
Sehubungan dengan pembahasan di atas kami katakan: Tidak disunnahkan bagi musafir untuk mengerjakan shalat jumat, akan tetapi dia disyariatkan untuk hanya mengerjakan shalat zuhur lalu menjamaknya dengan ashar -jika dia ingin-.
Dalil dalam masalah ini adalah tidak adanya satupun dalil yang menunjukkan kalau Nabi dan para sahabat beliau mengerjakan shalat jumat dalam keadaan safar. Di antarnya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma yang panjang dalam riwayat Muslim no. 1218 tentang sifat haji Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara para ulama menyebutkan bahwa hari arafah pada tahun itu jatuh pada hari jumat. Jabir berkata setelah menyebutkan isi khutbah beliau di Arafah, “Kemudian Bilal mengumandangkan azan kemudian iqamah kemudian beliau mengerjakan shalat zuhur. Kemudian iqamah kembali dikumandangkan lalu beliau shalat ashar, dan beliau tidak melakukan shalat sunnah satu rakaat pun di antara keduanya.”
Dari shalat yang beliau lakukan di Arafah pada hari jumat di atas berbeda bukanlah shalat jumat, ditinjau dari empat perkara:
1.    Jabir menamakannya sebagai shalat zuhur dan bukan shalat jumat.
2.    Azan di sini dikumandangkan setelah khutbah, sementara pada shalat jumat, azan dikumandangkan sebelum khutbah.
3.    Hadits Jabir di atas hanya menyebutkan sekali khutbah, sementara shalat jumat memiliki dua khutbah.
4.    Tidak dinukil bacaan beliau pada kedua rakaat tersebut, padahal Jabir menukil bacaan beliau pada shalat sunnah tawaf. Ini menunjukkan shalat yang beliau lakukan saat itu adalah shalat sirriah. Maka shalat ini tentunya bukanlah shalat jumat karena shalat jumat adalah shalat jahriah.
Sejumlah ulama seperti Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar (5/76), Shiddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhah, dan selainnya menukil kesepakatan ulama akan tidak adanya shalat jumat bagi musafir. Hanya saja nukilan ijma’ ini kurang detail karena Ibnu Hazm rahimahullah berpendapat tetap wajibnya jumat bagi musafir. Karenanya ini hanya merupakan pendapat mayoritas ulama, dan inilah pendapat yang kuat insya Allah.

Jika musafir shalat jumat, apakah shalatnya syah?
Tatkala Nabi shallallah alaihi wasallam tidak pernah shalat jumat dalam keadaan safar, maka sudah bias dipastikan bahwa amalan mengerjakan shalat jumat dalam keadaan safar adalah salah dan menyelisihi tuntunan beliau, serta pelakunya telah terjatuh ke dalam dosa penyelisihan kepada Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja, apakah shalat jumatnya dan khutbahnya -jika dia adalah khatib- syah atau batal? Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan syahnya shalat jumat serta khutbahnya walaupun dia berdosa. Sebagaimana halnya jika ada seorang musafir yang shalat itmam (4 rakaat), maka shalatnya syah akan tetapi dia berdosa karena menambah 2 rakaat dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menambahnya dalam safar.

Kapan musafir mulai boleh menjamak?
Dari hadits Muadz bin Jabal di atas menunjukkan bolehnya menjamak shalat walaupun masih berada di negerinya, selama dia sudah ada niat untuk mengerjakan safar. Karenanya, jika dia sudah ada niat untuk berangkat setelah shalat zuhur, maka ketika shalat zuhur dia sudah bisa menjamaknya dengan shalat ashar walaupun dia masih belum memulai perjalanan.
Jika setelah menjamak, dia mengundurkan perjalanannya -karena ada uzur- hingga masuk shalat ashar, maka dia tidak wajib mengulangi shalat asharnya, karena shalatnya yang pertama tadi sudah mencukupi. Hanya saja jika dia sedang berada di dalam masjid sementara shalat ashar didirikan atau dia sengaja datang ke masjid untuk shalat ashar, maka shalatnya saat itu dia niatkan sebagai shalat sunnah dan bukan niat shalat ashar.
Tidak boleh dia mengerjakan shalat ashar kembali dengan alasan shalat ashar yang pertama itu dirubah menjadi shalat sunnah, karena merubah niat dalam keadaan seperti itu tentunya tidak memberikan pengaruh apa-apa. Demikian pula tidak boleh walaupun alasannya untuk berjaga-jaga, karena itu lebih mendekati amalan was-was daripada amalan ihtiyath (jaga-jaga).

Adapun masalah kapan seorang dikatakan musafir sehingga diperbolehkan menjamak. Demikian pula berapa lama dia boleh menjamak, maka jawabannya sama seperti pada pembahasan qashar shalat bagi musafir dalam artikel sebelumnya.

[Rujukan utama: Dhiya` As-Salikin fii Ahkam wa Aadab Al-Musafirin karya Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafizhahullah]

Incoming search terms:

  • sholat jumat bagi musafir
  • sholat jamak berjamaah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, April 15th, 2010 at 3:13 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

58 responses about “Jamak Shalat Bagi Musafir”

  1. Arham said:

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Sebelum ini yang saya ketahui, jika melaksanakan jama’ ta’khir, urutannya disesuaikan dengan waktu shalat, misalnya ketika waktu Ashar, urutannya tetap Zhuhur dulu baru Ashar. Tetapi kemudian saya jumpai pendapat yang menyatakan bahwa yang didahulukan adalah “pemilik” waktunya, jadi ketika waktu Ashar, shalat Ashar dulu baru shalat Zhuhur. Yang manakah pendapat yang benar?

    Jazakallahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Yang benar adalah bahwa dalam menjamak harus disesuaikan dengan urutan waktu. Jika menjamak zuhur dengan ashar maka zuhur terlebih dahulu baru kemudian ashar, dan demikian pula antara shalat maghrib dengan isya.

  2. Abu Izzan said:

    Assalamu’alaykumwarohmatullohi wabarokatuh.

    Ustadz, saat ini ana tinggal dijakarta. Jika suatu saat ana pulang kampung untuk beberapa hari kemudian ikut sholat jum’at berjamaah dikampung, apa itu diperbolehkan?apa tindakan ana juga termasuk menyelisihi sunnah sehingga ana akan berdosa?

    Jazakallohu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Mengingat masalah ini masih asing di tengah masyarakat dan adanya kekhawatiran timbulnya fitnah dan tuduhan miring kepada agama orang yang melakukannya (tidak shalat jumat dalam safar), maka hendaknya dia menghadiri shalat jumat, mendengarkan khutbah, tapi dalam shalatnya dia meniatkan shalat zuhur, karena kebetulan shalat zuhur bagi musafir juga 2 rakaat.

  3. Arham said:

    Jazakallahu khairan atas jawaban sebelumnya.

    Satu hal lagi yang ingin saya tanyakan, jika ingin melakukan shalat jama’ taqdim di waktu zhuhur (dalam keadaan safar), tetapi shalat zhuhurnya berjama’ah dengan imam yang shalat zhuhur 4 raka’at (karena imam tidak dalam keadaan safar), apakah shalat asharnya 4 raka’at juga atau harus di-qashar?

    Silakan baca artikel ‘hukum shalat qashar bagi musafir’ (artikel sebelumnya), jawabannya sudah tertera dengan jelas di sana.

  4. Jamak Shalat Bagi Musafir « Salafiyunpsusu's Blog said:

    [...] : al-atsariyyah [...]

  5. ali said:

    jika saya dalam perjalanan, tapi tidak dalam jarak sebagai seorang musafir, ketika dalam perjalanan tersebut telah masuk waktu shalat,dan kendaraan saya lewat depan masjid apakah saya wajib berhenti untuk shalat berjamaah di masjid tersebut?? mohon penjelasannya.

    Ia, menghadiri shalat berjamaah bagi lelaki yang balig adalah wajib. Karenanya sepantasnya dia berhenti terlebih dahulu tuk shalat berjamaah baru melanjutkan perjalanan. Penjelasan wajibnya shalat berjamaah telah kami bahas dalam situs ini, silakan disearch.

  6. ali said:

    tapi bagaimana kalau kendaraan yang saya tumpangi adalah kendaraan umum, apa jga harus berhenti di masjid tersebut, tapi tentunya mobil tersebut tidak akan menunggu saya sampai selesai shalat berjamaah.

    Kalau sedang dalam keadaan safar maka tidak ada masalah dia shalat setelah tiba di tempat tujuannya selama waktu shalat belum habis. Tapi jika tidak dalam keadaan safar maka sepantasnya dia turun dari kendaraan umum untuk shalat berjamaah di masjid selama memang hal tersebut memungkinkan. Adapun jika tidak memungkinkan -misalnya angkotnya masih di jalan tol saat dikumandangkannya azan- maka insya Allah tidak mengapa dia mengundurnya sampai di rumah selama waktunya belum habis.

  7. Arham said:

    ‘Afwan, setelah saya baca kembali artikel ‘hukum shalat qashar bagi musafir’, masih belum saya temukan jawaban yang tegas mengenai masalah terakhir yang saya tanyakan. Untuk lebih mudahnya, yang saya tanyakan adalah apakah jika shalat jama’ taqdim zhuhurnya 4 rakaat, maka asharnya 4 rakaat juga?

    Sekali lagi ‘afwan, Barakallahu fikum

    Pertanyaan terakhir antum kemarin tidak sama dengan yang sekarang. Jawabannya sama, kapan dia shalat di belakang imam maka dia ikuti rakaat imam dan kalau dia shalat sendiri dalam keadaan safar maka dia hanya shalat 2 rakaat saja. Jadi, jika dia jamak takdim zuhur-ashar dan shalat zuhurnya bersama imam yang mukim, maka dia shalat zuhur 4 rakaat bersama imam lalu shalat ashar 2 rakaat.

  8. ummu sayna said:

    assalamu alaikum ustad, apakah tdk bolehnya sholat jumat jg berlaku buat org yg safar tetapi menetap? jd seminggu atw lbh dinegara org atw dikota lain tp tdk berniat untuk tinggal dgn kata lain bepergian?
    jazakumullahu khairan katiron

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia, tetap berlaku selama dia tidak menetap di negara tersebut.

  9. ummu sayna said:

    assalamu alaikum ustad, mw menambahkan pertanyaan yg kmrn, disyariatkan untuk mengumandangkan azan di awal dari dua shalat tersebut dan keduanya serta iqamah di awal kedua shalat tersebut. apakah ini berlaku untk seorang yg sholat sendirian? n apakah berlaku jg utk wanita? dan apakah cnth dr pengerjaanx seperti ini: jk sholat dhuhur m ashar dijamak n qoshor. sblm sholat dhuhur qta adzan lalu iqomah stlh sholat dhuhur mw memulai sholat ashar qta iqomah apakah seperti itu?
    jazakumullahu khairan kastiron

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia, tetap berlaku bagi yang shalat sendirian. Praktek yang saudari sebutkan itu insya Allah sudah benar.

  10. ummu sayna said:

    apakah ad batas waktu thdp larangan sholat jumat itu jika menetapnya agak lama jika sampai sebulan gitu perginya?

    Ia tetap berlaku selama dia hanya bersafar ke tempat tersebut, wallahu a’lam

  11. fahry said:

    Bismillah,
    Ustad ana tanya …
    ana menikah di jawa tengah purwokerto (jelas-jelas itu adalah lokasi mukim ana), sekarang ana kerja di Bandung dan numpang tinggal dirumah kaka ipar.
    Dimanakah letak lokasi mukim ana? apakah di Bandung sekarang atau nanti kalo ana pulang di Purwokerto (rumah mertua)?

    Tergantung niat antum mukimnya dimana.

  12. pengunjung said:

    bismillah.

    ya ustadz, terkait dgn poin 1 di atas,
    bagaimana jika saat dia mau melakukan jama’ ta`khir sudah “mepet”?
    misal seseorang menjama’ antara maghrib dgn ‘isya`, sementara saat dia mau melakukan shalat, waktu ‘isya sudah mau habis (sudah mendekati pertengahan malam.

    Manakah yang ia dahulukan untuk shalat?

    jazakumullahu khairan

    Tetap dia mendahulukan shalat maghrib, karena waktu shalat isya jika ada uzur (seperti safar) adalah hingga fajar kedua.

  13. Roni said:

    benar-benar jawaban ringkas dan mudah dipahami. Jazakumullahu khair Ya Ustadz.

  14. Abu Zaky said:

    Assalamu’alaikum…..

    ustadz, bila kita bekerja di tempat kerja yang jauh dari rumah selama 2 minggu (dalam komplek tempat kerja), dan kemudian libur 1 minggu (terkadang pulang ke rumah, kadang hanya menginap di kost di kota terdekat). Jadi manakah yang terhitung safar ustadz??
    saya bingung mana yang terhitung safar karena waktu di rumah lebih sebentar dari waktu di tempat kerja.

    Kemudian dari pertanyaan diatas bila di tempat kerja bukan yang terhitung sebagai safar, maka bolehkah meninggalkan sholat jum’at karena tempat kerja tidak boleh kosong sama sekali (dalam hal ini dilakukan bergantian dan diperkirakan dalam 2 bulan tidak mengikuti shalat jum’at sekali)??

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Yang teranggap safar adalah ketika antum berada di tempat kerja.
    Ia, asalnya musafir tidak mengerjakan shalat jumat, cukup dia shalat zuhur saja dengan mengqashar. Apalagi jika ada uzur seperti harus berjaga di tempat kerjanya.

  15. Abu Zaky said:

    Jazakumullohu Khoir ustadz..

  16. Abu Zulfa said:

    As-Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Ustadz -zadakallahu ‘ilman-, kami tinggal di Bekasi, dan biasanya, kami berkunjung ke tempat saudara kami di Sukabumi dan Indramayu. Jika ke Indramayu (kurang lebih, butuh waktu 3 sampai 4 jam untuk ke sana), kami tidak meniatkan menginap, hanya terkadang, menginap satu atau dua hari (secara dadakan -karena suatu hal-) tanpa diniatkan dari awal keberangkatan. Dan, jika ke Sukabumi (kurang lebih, juga butuh waktu 3 jam untuk ke sana), kami niatkan untuk menginap beberapa hari (dan biasanya tidak sampai 1 pekan) di sana.

    Dan, pertanyaannya:

    (1). Jika ke Indramayu, apakah berlaku hukum musafir bagi kami?

    (2). Dan, jika ke Sukabumi, apakah berlaku hukum mukim bagi kami?

    Jazakumullahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Bekasi ke Indramayu atau ke Sukabumi terhitung safar, karenanya hukum-hukum safar berlaku bagi antum.

  17. deddy said:

    assalamualaikum ustadz

    saya adalah pegawai negeri yang insya Allah selalu ditempatkan di seluruh Indonesia setiap 2 atau 3 tahun, jadi selalu berpindah pindah, sementara asli saya di Madiun dan sudah memeliki sebuah rumah.
    Bagaimana status saya ini ustadz? apakah sebagai mukim atau safar?
    terima kasih sebelumnya

    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia, antum berstatus sebagai musafir, tempat mukim antum adalah di Madiun.

  18. deddy said:

    assalamualaikum

    terima kasih atas jawabannya ustadz.
    jadi meskipun saya sudah pindah KTP dan catatan sipil, saya tetap musafir ya?
    berarti selama 2 atau 3 tahun itu saya tidak shalat jum’at tapi hanya shalat dhuhur safar?

    terima kasih

    wassalamu alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sebelumnya ana minta maaf, karena pertanyaan antum kemarin ana jawab bersamaan dengan belasan pertanyaan lainnya jadi ana kurang memperhatikan kata ‘2 atau 3 tahun’, ana pikir antum tulis ‘2 atau 3 bulan’. Karenanya kami ralat jawabannya:
    Jika antum di sana selama itu, apalagi membawa istri dan anak-anak maka butuh dilihat niat antum di daerah tersebut, apakah niat muqim atau niat safar. Jika niat muqim maka tidak berlaku hukum musafir.
    Tapi jika niat safar, maka sebagaimana yang telah kami jelaskan pada pembahasan ‘shalat qashar’ bahwa hukum-hukum musafir maksimal hanya berlaku hingga 19 hari, dan setelah itu dia wajib mengerjakan kewajiban sebagaimana orang yang muqim. Demikian pendapat mayoritas ulama, wallahu a’lam.

  19. deddy said:

    assalamualaikum
    saya masih bimbang ustadz (semoga Allah menetapkan saya)
    di situs lain disebutkan bahwa pendapat yang rajih adalah yang tidak ada batasan hari, karena Ibnu Umar pernah terjebak salju di Azerbaizan semalam 6 bulan dan mengqashar sholatnya, dan kami tidak berniat untuk muqim di bukittinggi, saya sudah 1,5 tahun disini. Seandainya saya tetap mengqashar bagaimana ustadz?
    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Apakah hati antum merasa tenang melakukan qashar shalat terus-menerus selama 1,5 tahun?
    Kalau memang menurut antum pendapat yang tanpa ada pembatasan itu dalilnya lebih kuat dan hati antum tenang mengamalkannya, maka silakan antum mengamalkannya.
    Tapi jika tidak, maka tidak boleh seorang mencari-cari keringanan dalam agama.

  20. abu saif said:

    As-Salamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    ustadz, apakah ada jarak tertentu sehingga orang bisa dikatakan sedang safar? kalo ada berapa jaraknya?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
    Silakan baca artikel berikut: http://al-atsariyyah.com/fiqh/hukum-shalat-qashar-bagi-musafir.html

  21. niel said:

    ass.wr.wb mohon tanya, jika kita berangkat ke medan pada jam 6 pagi hari dan sampai medan jam 9 siang, apakah sholat dzuhur dan asharnya serta maghrib dan isya nya bisa/boleh di jama,sedangkan di medan hanya untuk membeli oleh2 atau belanja. terima kasih wass.

    Saya tidak paham, jam 6 pagi sampai jam 9 siang, dimana shalat zuhur dengan asharnya? dimana juga shalat maghrib dan isyanya?

  22. zahiyah said:

    Assalamu’alaykum warahmatullah.
    ustadz,
    sy dpt kontrak kerja 1 thn di luar kota (skitar 3 jam dr t4 tggl sy)
    2mgg sekali tiap jum’at/sabtu sy pulkam & senin pagix kmbl lg k t4 tgs.
    yg sy tykn:
    1. apakah sy bila di t4 tgs WAJIB m’qashar & m’jamak shalat sy krn slama ini sy shalat sm sperti shalat di t4 sy tinggal (tanpa jamak & qasar)
    2. apakah perempuan disunnahkan jg azan di awal shalat yg d jamak atau hy iqamah sy bila sdg shalat sendirian.
    Jazakallahu khairan
    Baarakallahu fiik

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Jika antum sudah tiba di tempat tujuan safar dan tinggal beberapa lama, maka antum harus ikut berjamaah bersama masyarakat yang ada di situ, dan shalat itmam (4 rakaat) jika antum shalat di belakang imam. Jika suatu saat antum kebetulan shalat sendirian maka baru antum boleh melakukan qashar. Wallahu a’lam.

  23. muslimah said:

    bismillah,assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokaatuh,apakah boleh sesekali menjama’ sholat walaupun tanpa udzur,dan adakah dalil ttg hal ini,jazaakumulloh khoir wa baarokallohu fiikum

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Dari Ibnu Abbas dia berkata:
    جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan.” (HR. Muslim no. 1151)
    Dari sini sebagian ulama menyatakan bolehnya menjamak shalat dalam keadaan mukim dengan syarat:
    1. Jarang atau kadang-kadang
    2. Bersama imam di masjid.
    Karenanya hal ini tidak berlaku untuk kaum wanita di rumah, wallahu a’lam.

  24. Abu Salman said:

    Bismillah

    Afwan ustadz, ana pernah mendapat penjelasan tntg yg tdk disyari’atkannya shalat jum’at adl bagi musafir saair, sdgkan bg musafir naazil ttp disyari’atkan baginya, bagaimana penjelasan hal tsb ustadz?

    jazakallahu khairan

    Wallahu a’lam, sepanjang pengetahuan kami tidak ada perbedaan dalam hal ini. Para ulama berdalil akan tidak adanya jumat bagi musafir dengan tinggalnya Nabi shallallahu alaihi wasallam di Makkah selama 19 hari ketika haji. Dan sudah dimaklumi beliau tinggal di Makkah dan bukan sekedar lewat.

  25. abu salman said:

    assalamualaykum

    apakah orang yang safar wajib mendatangi sholat berjamaah bila sudah datang waktu adzan?

    Waalaikumussalam
    Ini dikembalikan kepada masalah hukum menghadiri shalat berjamaah. Tapi tidak diragukan jika seharusnya dia tetap mendatangi shalat berjamaah

  26. abu hasan said:

    ‘Afwan ustadz, ana mau tanya:
    ana tiap pekan melakukan perjalanan safar dalam rangka bekerja, misal: tiap senin ana berangkat safar ke suatu tempat bernama B, trus ana tinggal di B sampai hari Jum’at sore, trus balik lagi ke tempat asal Jum’at sore tsb..seperti itu ana lakukan tiap pekan,apakah ana wajib MengQoshor Sholat selama di tempat B atau ana ikut sholat jama’ah dengan masyarakat?mohon jawabanya karena ana masih bingung..

    Jika ada shalat berjamaah di tempat tujuannya maka dia ikut shalat berjamaah. Tapi kapan dia shalat sendiri atau menjadi imam maka dia wajib mengqashar shalatnya.

  27. ahnaf said:

    ustad,bolehkah bagi musafir yg sudah sampai tujuan dan tinggal selama bbrp hari setelah sholat (dhuhur misalya) itmam dengn imam mukim,lalu mnjamak qoshor sholat asar.jazakallahu khoiran.

    Ya boleh saja, maksimalnya 19 hari. Akan tetapi lebih utama jika dia tetap mengikuti shalat pada waktunya masing-masing.

  28. Bolehkah Menjamak Shalat Jum’at Dengan Shalat Ashar? | Ilmu.Us said:

    [...] Jawab: Jika yang dimaksud dalam pertanyaan ini adalah menjamak shalat jumat dengan shalat ashar pada saat safar, maka jamak seperti ini tidak disyariatkan dan tidak diperbolehkan karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal itu karena dalam safar, Nabi shallallahu alaihi wasallam sama sekali tidak pernah mengerjakan shalat jumat. Mengenai tidak disyariatkannya shalat jumat bagi musafir, silakan baca pembahasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/jamak-shalat-bagi-musafir.html [...]

  29. Abdullah said:

    Bismillah,
    Ust. Mau tanya bagaimana kalau menjamak shalat jum’at dng ashar dilakukan sebelum berangkat safar (waktu shalat jum’at masih mukim dan berangkat safarnya setelah shalat jum’at)
    Jazakallah khair..

    Insya Allah tidak mengapa kalau memang dia butuhkan untuk menjamak.

  30. ana said:

    assalamu’alaikum, afwan apakah syari’at adzan dan iqomah pada sholat yg dijamak ini juga berlaku untuk wanita yang sholat sendirian? bagaimanakah jika saya sdg dlm perjalanan dg menumpang kapal yang di dalamnya banyak orang, apakah wajib bg saya ketika sholat dg menjamak untuk adzan dan iqomah juga?

    Waalaikumussalam.
    Azan dan iqamah hukumnya fardhu kifayah, jika sudah ada yang adzan di kapal tersebut maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya.

  31. abu salman said:

    assalaamu’alaikum warahmatuLLAHI. Ana hendak bertanya.
    Ana berasal dr Jakarta dan sekarang untuk sementara ditempatkan bertugas di Kalimantan Timur (Samarinda). Yang hendak ditanyakan kapan dlm kondisi seperti ini ana boleh melakukan jamak shalat wajib (misalnya antara Maghrib dan Isya)? Apakah ketika dalam perjalanan ke Kaltim (dan sebaliknya) saja ataupun juga meliputi saat-saat di mana saya bertempat di kota Samarinda? JazakaLLAHU khairon..

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hanya di saat perjalanan pulang balik. Adapun ketika di kaltim, maka dia tidak dibenarkan menjamak shalatnya. Wallahu a’lam.

  32. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh,

    Pak Ustadz, apakah perjalanan untuk berhaji atau umroh termasuk perjalanan safar?
    Mohon penjelasannya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Kalau dari Indonesia jelas safar. Yang dari Madinah ke Makkah saja sudah teranggap safar.

  33. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatulloh,

    Pak Ustadz, jika begitu artinya sebagian shalat wajib yang dilakukan pada saat haji dan atau umroh boleh dijamak atau harus qashar?

    Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh.

    Waalaikumussalam Warahmatullohi Wabarokatuh.
    Ya, boleh dijamak dan diqashar.

  34. Mohammad Wildan Maulana said:

    Assalamualikum Wr. Wb
    Ustad yang semoga dirahmati Allah. Pertanyaan saya adalah: Ketika safar bolihkah saya mengkosor dhuhur 2 rakaat (pada waktu duhur/ jam 13.00). Kemudian saya menkosor ashar 2 rakaat (pada waktu ashar/Jam 16.00). Jelasnya, bahwa duhur dan ashar tidak saya gabung, namun berdiri sendiri sesuai waktunya hanya saja masing-masing saya kosor 2 rakaat.

    Waalaikumussalam.
    Ya, boleh.

  35. gan gan said:

    Assalamu ‘alaikum.

    ustadz, saya sering bepergian dari Bandung ke Jakarta dengan Kereta Api. Berangkat 4.30 sore dan tiba di Jakarta jam 7.30. Apakah sy tetap melaksanakan sholat di kereta api atau diperbolehkan menjamaknya di waktu isya?

    Jazakallahu khairan

    Waalaikumussalam.
    Boleh menjamak, karena jakarta bandung terhitung safar. Wallahu A’lam

  36. Anto said:

    Asalamu’alaikum
    maaf pertanyaan sy keluar dri pembahasan.
    apakah sy wajib shalat berjamaah sedangkan
    1.jarak tmpat sy dari masjid adl jika sy mendengar adzan sesampai masjid maka shalat terkadang sudah selesai.
    2.suara adzan terkadang tidak terdengar.
    3.sy merasa berat karna bensin boros.
    4.sy tdk bermukim selama 4thn (merantau).

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya tetap diusahakan berjamaah.

  37. Eko said:

    mau tanya ustadz..
    misalkan rumah saya karananyar, terus pergi ke solo, jaraknya 26 km apakah sudah dihitung musafir. terus ketika waktu dhuhur saya sholat jama’ qoshor di solo apakah diperbolehkan…
    padahal saya pulangnya jam 14.00, sampai dirumah karanganyar jam 15.00 wib dimana waktu sholat ashar masih ada? mohon pencerahanya…

    Kami tidak tahu kebiasaan orang-orang di situ. Yang jelas kalau orang-orang di situ menganggap karanganayr ke solo itu bukan safar, maka berarti itu bukan safar dan tidak boleh menjamak dan mengqashar shalat.

  38. Abu Dzikro said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Ustadz, ketika safar dan mendapatkan hari jum’at, apakah bisa langsung menjamak dengan sholat ashar, karna waktu ikut sholat jum’at niatnya adalah sholat dhuhur ?

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
    Ya, boleh.

  39. derri said:

    berarti ustadz, kalo kita safar boleh kita ikut jamaah yg salat jumat tapi dengan niat slaat dhuhur qasar?

    Ya, boleh saja insya Allah.

  40. luqman said:

    assalammu’alaikum..
    ustadz skrng lg kuliah d kota B,stiap 1minggu atau 2minggu skali ana pulang kampung.dan d kampung ana hanya 1-2hari kmudian blik lg k kota B untk kuliah.Yg ana tnyakan:Yg terhitung mukim bg ana,saat ana d kampung atau saat d kota B,atau kduanya mukim bg ana?
    Jazakalloh Khoiron..

    Waalaikumussalam.
    Tergantung niat anda.

  41. muhamad dian said:

    Assalamu’alaikum.
    ana safar dr smg ke jkt berangkat pagi hari.setelah sampai di jkt waktu ashar dan solat ashar sedang ditunaikan berjamaah di masjid,sedangkan saya belum salat zuhur.Apakah saya harus ikut salat ashar berjamaah dulu atau jamak zuhur baru kemudian ikut salat ashar?
    Jazakumullah khoir

    Waalaikumussalam.
    Anda bisa langsung ikut ke jamaah ashar tersebut tapi dengan niat shalat zuhur. Setelah selesai, anda baru shalat ashar dua rakaat jika anda sedang safar.

  42. ita said:

    Ass Ustadz, jarak rumah saya dengan kantor adalah 35 km dan beda kabupaten. Saya selalu pulang pergi setiap hari dengan berangkat jam 06.30 dan sampai rumah kembali jam 17.00. Bagaimana cara terbaik bagi saya untuk melaksanakan shalat dhuhur dan ashar? shalat biasa 4 rakaat, dijama’ apa dijamak qhasar? Mohon penjelasan dan terimakasih
    Wass

    Apakah jarak antara kedua kabupaten itu sudah dianggap safar oleh penduduk di kedua kabupaten itu?

  43. andri said:

    bismillah
    ustadz, pertanyaan ana bolehkah menjamak dan mengqosar sholat di dalam mukim sendiri tetapi sudah ada niat safar (mis. safarnya setelah maghrib, namun di ambil terus isya nya)..atau gimana hukumnya menurut ustadz, boleh dilakukan keduanya (jamak dan qosar) atau di jamak tanpa qosar… syukron
    jazakumulloh…

    Yang boleh hanya jamak saja, sementara qashar tidak boleh kecuali jika sudah di tengah perjalanan.

  44. alwi said:

    Ass Ustadz. ada seseorsng bertanya tentang batas waktu kita menjamak sholat,berapa harikah kita bisa menjamak sholat setelah kita sampai tujan? misalnya dari banten ke jawa timur

    Jika dia sudah sampai di tempat tujuan maka hendaknya dia mengikuti shalat jamaah di situ pada waktunya masing-masing. Dia dia jangan menjamak kecuali dalam keadaan udzur. Wallahu a’lam.

  45. ita said:

    Melanjutkan pertanyaan saya nomor 42,
    Selama ini ada 2 pendapat yang berbeda ustadz. sebagian orang menganggap safar, dan sebagian lainnya menganggap bukan safar karena saya melakukannya setiap hari. makanya saya bingung harus menyikapi seperti apa. Disatu sisi saya ingin bisa beribadah dengan benar, disisi lain banyak perbedaan pendapat tentang hal ini. Mohon arahan….

    Wallahu a’lam. Yang jelas masalah ini dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat di situ, bukan kepada kebiasaan anda pulang balik setiap hari.

  46. Wahyu said:

    Assalamu’alaikum.
    Saya tinggal di Bogor dan bekerja di Tangerang, setiap hari saya pergi-pulang.
    waktu tempuh dari rumah ke kantor hampir 3-4 jam (tergantung lalu lintas).
    Apakah saya sudah termasuk musafir?

    Jika termasuk musafir, bagaimana dengan sholat jum’at saya selama ini? kebetulan kantor bersebelahan dengan masjid sehingga setiap jum’at saya bisa sholat jum’at.
    Dan untuk magrib dan isya, artinya saya juga diperbolehkan untuk menjamak qasharnya jika saya termasuk musafir?
    Mohon penjelasannya.

    Terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Tergantung kebiasaan orang2 di bogor. Apakah ke tangerang dianggap safar atau bukan.

  47. zaini said:

    apakah boleh jamak sholat asar dengan magrib dan menjamak sholat isya dengan subuh?trimksih

    Tidak boleh.

  48. abu muhammad usamah said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz. ana bekerja di kapal selama 6 bulan. dalam perjalanan ada waktu2 yang memberatkan ada yang ringan. apakah diperbolehkan menjamak qoshor sholat rutin setiap hari?
    Jazakallah khair.

    Waalaikumussalam.
    Boleh, karena anda masih berstatus sebagai musafir.

  49. Rafi said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, masih bolehkah mengerjakan jamak takhir ketika sudah berada dikota asal kita??

    Waalaikumussalam.
    Masih boleh, selama dia belum memasuki lingkungan tempat tinggalnya. Wallahu a’lam.

  50. syaf fatek said:

    assalamualaikum…. ustadz ana ni saya berpergian dr satu pulau kepulau yang lain,jarak antara 2 pulU ITU Sekitar 3 km apakah sya termasuk seorang musafir??
    jazakumullah khoiran katsir…

    Waalaikumussalam.
    Bukan musafir.

  51. mustakim said:

    Bagaimana cara pelaksanaan sholat jama’ qashar jika ikut berjamaah misalnya shalat zhuhur

    Ikut jamaah zuhur dulu 4 rakaat, baru shalat ashar sendiri 2 rakaat.

  52. abdullah said:

    ustadz bolehkah menjamak sholat ashar dan maghrib?
    jazakallah.

    Tidak boleh.

  53. abu fathim susanta said:

    Asalamu’alaykum warahmatullah
    ustad. sy mau pulangk kampung dengan kendaraan umum, berangkat 14.30wib,bolehkah saya menjamak sholat ashar dengan dhuhur (jamak ta’dhim)tetapi masih didaerah mukim saya?syukron jazakallahu khoiron.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Insya Allah sudah boleh.

  54. rustam said:

    aslamualaikum afwan ustadz ana mau nanya, sampai berapa hari batas akhir waktu shalat jama’?

    Waalaikumussalam.
    Menurut sahabat Ibnu Abbas, maksimal sampai 19 hari.

  55. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, pada waktu safar pulang kampung saya mempunyai keleluasaan waktu (tidak tergesa2/nyantai). Yang ingin saya tanyakan:
    1. Apakah boleh saya sholat sendirian dgn tidak menjamak dan meng-qoshor sholat (mis:dhuhur 4 roka’at)?
    2. Bolehkah mendirikan sholat berjama’ah dgn anggota keluarga yg ikut bersafar tanpa di jamak maupun di qoshor (tetap 4 roka’at)?
    Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak menjamak boleh, tapi tetap harus mengqashar. Karena qashar shalat bagi musafir adalah wajib, bukan sunnah, berbeda halnya dengan jamak.
    2. Jawabannya sama seperti di atas.

  56. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, terimakasih atas jawabanya di atas.
    Berarti qoshor adalah wajib bila ber safar, terus bagaimana bila kita bermakmum dengan imam yg mukim? Apakah roka’atnya mengikuti imam sebanyak 4 roka’at?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Tetap wajib ikuti imam, 4 rakaat.

  57. iin said:

    assalamu alaikum
    setiap melakukan shalat jumat, saya melakukan perjalanan pulang ke kampung sy alias pulang ke rumah sy, tiba sampai rumah sudah masuk waktu magrib, bagaimana dgn ashar sy pak ustad apakah yg harus sy lakukan, apakah sy harus meng kasar shalat jumat dgn ashar? seandainya jawaban nya iya berapa rakaat kah sy musti shalat ashar nya.

    Waalaikumussalam.
    Anda shalat ashar di perjalanan jika memungkinkan.

  58. iin said:

    terima masih jawaban nya pak ustad.
    maaf sy bertanya sekali lagi, apa bila tidak memungkinkan apa yg musti sy lakukan.

    Harap pertanyaan sebelumnya disertakan.