Istri Yang Ditalak Masih Berhak Mendapat Nafkah?

November 20th 2011 by Abu Muawiah |

Istri Yang Ditalak Masih Berhak Mendapat Nafkah?

Soal:

Asy-Syaikh yang mulia, apakah suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya yang telah ditalak? Semoga Allah memberikan pahala kepada anda.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد :

Nafkah tetap wajib diberikan kepada istri yang sudah ditalak tapi dengan talak raj’i[1], karena dia masih merupakan istrinya, sehingga dia masih tercakup dalam nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ

“Maka suami-suami mereka lebih berhak mengembalikan mereka dalam hal itu.”

Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala masih menamakan lelaki yang mentalaknya sebagai suaminya.

Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.umat ini bahwa wanita-wanita (ditalak) yang masih bisa dirujuk oleh suami-suami mereka, mereka masih berhak mendapatkan pemenuhan nafkah dan kebutuhan dari suami-suami mereka, baik mereka dalam keadaan hamil maupun tidak. Karena para wanita ini masih mempunyai hukum sebagai istri dalam hal nafkah, tempat tinggal, dan warisan selama mereka masih berada dalam masa iddah.” (Al-Istidzkar: 18/69)

Nafkan juga tetap wajib diberikan kepada wanita yang diputuskan secara al-ba`in[2], baik dengan fasakh (pembatalan nikah) maupun dengan talak, jika wanita itu diceraikan dalam keadaan hamil. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَإِن كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Jika mereka (wanita-wanita yang ditalak) itu dalam keadaan hamil maka berikanlah nafkah kepada mereka sampai mereka melahirkan kandungan mereka.”

Ibnu Abdil Al-Barr berkata, “Jika wanita yang al-mabtutah[3] itu dalam keadaan hamil, maka dia masih berhak mendapatkan nafkah berdasarkan ijma’ ulama.” (Al-Istidzkar: 18/69)

Yang paling tepat dari dua pendapat di kalangan ulama adalah bahwa nafkah wajib diberikan kepada wanita yang hamil karena dia tengah mengandung anak dari laki-laki tersebut (mantan suaminya). Karenanya nafkah kepada wanita (mantan istrinya) ini sebenarnya merupakan nafkah bagi anaknya (yang dalam kandungan), bukan bagi dirinya (wanita itu) dikarenakan dia istrinya. Ini adalah pendapat Malik serta salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Asy-Syafi’i dan Ahmad. Karenanya, nafkah tetap wajib diberikan kepada wanita (mantan istrinya) yang hamil walaupun dia adalah durhaka dan membangkang (sebelum diceraikan), juga tetap wajib diberikan kepada wanita yang hamil akibat pernikahan syubhat[4], dan juga kepada wanita yang hamil akibat pernikahan yang fasid (tidak syah). Karena anak yang dikandung itu adalah anaknya (mantan suaminya), sehingga dia wajib memberikan nafkah kepadanya. (Lihat: Al-Mughni: 11/405-406, Qawa’id Ibni Rajab: 3/398, Al-Fatawa As-Sa’diah hal. 546)

Al-Qur`an telah menunjukkan bahwa nafkah yang diberikan kepada wanita hamil dan menyusui adalah merupakan bentuk nafkah seorang ayah kepada anaknya, bukan merupakan bentuk nafkah suami kepada istrinya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala:

وإن كنَّ أولات حمل

“Jika mereka (wanita-wanita yang ditalak) itu dalam keadaan hamil.”

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bagi yang dilahirkan (anak) untuknya, wajib atasnya untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka (istri-istri) dengan cara yang ma’ruf.”

Wanita yang ditalak ba`in, tidaklah wajib diberikan nafkah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَإِن كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Jika mereka (wanita-wanita yang ditalak) itu dalam keadaan hamil maka berikanlah nafkah kepada mereka sampai mereka melahirkan kandungan mereka.”

Pemahaman (kebalikan) dari ayat di atas adalah: Bahwa jika mereka tidak dalam keadaan hamil maka mereka tidak wajib diberikan nafkah. Karena seandainya wanita yang ditalak ba`in tidak berhak mendapatkan nafkah secara mutlak, maka tidak akan dikhususkan penyebutan wanita yang hamil dalam ayat di atas. Maka ini menunjukkan bahwa wanita yang tidak sedang hamil tidak berhak mendapatkan nafkah. Hal ini dikuatkan oleh keterangan yang terdapat dalam hadits Fathimah bintu Qais bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:

لا نَفَقَةَ لَكِ إِلا أَنْ تَكُونِي حَامِل

“Tidak ada nafkah untukmu kecuali jika kamu dalam keadaan hamil.” (HR. Muslim no. 1480)

Yang menjadi patokan dalam hal ukuran banyaknya nafkah wajib kepada istri adalah yang mencukupinya. Yang menjadi patokannya adalah dalam ukuran yang ma’ruf. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Hindun, istri dari Abu Sufyan:

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالمَعْرُوفِ

“Ambillah apa yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari no. 5364 dan Muslim no. 1714)

Maksudnya: Dengan ukuran yang disetujui oleh syariat dan ‘urf (kebiasaan masyarakat). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah ukuran yang diketahui dengan adat (kebiasaan masyarakat di situ) bahwa itu sudah mencukupi.” (Fath Al-Bari: 9/509)

Wallahu A’lam

[Diterjemahkan dari Fatwa Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan dengan sedikit perubahan, sumber: http://www.alfuzan.islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=28777]


[1] Yaitu talak 1 dan talak 2, dimana istri masih bisa kembali kepada suaminya, jika suaminya ingin rujuk.

[2] Yaitu perceraian dimana istri sudah tidak bisa kembali kepada suaminya walaupun suaminya ingin rujuk.

[3] Wanita yang diputuskan oleh suaminya baik dengan talak ba`in maupun dengan fasakh (pembatalan) nikah.

[4] Yaitu pernikahan yang diyakini syah oleh mereka padahal sebenarnya menurut syar’i tidaklah syah.

Incoming search terms:

  • hak wanita yang sedang di talak rajiyyah
  • dowload dakwah tentang menceraikan istri dalam keadaan hamil
  • nafkah setelah talak 3
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, November 20th, 2011 at 11:56 am and is filed under Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Istri Yang Ditalak Masih Berhak Mendapat Nafkah?”

  1. derry said:

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    saya mao bertanya pak ustadz
    apakah sah bagi seorang istri melayani suami nya apabila suami nya sudah mengeluarkan kata talak lbh dari 3x…dan apakah sah hukum nya seorang istri melayani suami nya..sedangkan suami nya berkata saya akan bayar asal mao tidur sama saya…mohon saran nya

    Waalaikumussalam.
    Apa maksudnya ‘kata talak lebih dari 3 kali’? Apakah maksudnya: Dia mengucapkan ‘kamu saya ceraikan’ sebanyak 3 kali atau di antara setiap talak itu ada masa rujuknya?

  2. nurul said:

    Assalammualaikum ustaz…

    Saya mau bertanya.Ada isteri semasa hamil 4 bulan, melakukan taklik suaminya. “Jika kamu pergi ke ofisku, maka jatuh talak”. Isteri itu tetap pergi ke ofis suaminya.Kerna mereka suami isteri itu tidak tahu hukum taklik, maka mereka hidup seperti biasa. Mereka tidak pernah LAFAZ RUJUK kerna tidak tahu hukum.

    Semasa isteri hamil 7 bulan, mereka bertengkar lagi. Suami dalam keadaan serabut tanpa sengaja melafazkan”Aku ceraikan kau.”Suami amat menyesal dan rasa tertekan.
    Berapakah bilangan talak bagi wanita hamil ini. Satu atau dua.

    Waalaikumussalam.
    Jika mereka melakukan jima’, maka itu sudah menjadi tanda rujuk dari talak pertama.
    Itu baru talak 2, wallahu a’lam.

  3. sujoko said:

    Assalamualaikum.

    Ustadz saya mau nanya. Begini, saya sudah menikah. Saat ini saya bekerja di jakarta, sedangkan istri saya berada di jogja. Jadi kami hidup terpisah, dan hanya bertemu ketika libur akhir pekan (Sabtu/Ahad).

    Suatu hari saya sedang jengkel dan emosi dengan istri saya. Ditambah saat itu saya sedang banyak pikiran dan kecapekan. Karena keadaan emosi dan pikiran yang kalut, ketika itu saya tidak sengaja mengucapkan (dengan mengigau) “cerai wae (cerai saja)” namun dengan pengucapan yang tidak jelas pelafalannya (karena mengigau) dan suaranya pelan (berbisik). Dan saya mengigau seperti itu pada saat saya naik motor sendirian di jalan, tidak ada orang lain yang mendengar, dan tentu tidak di depan istri saya (karena istri saya ada di jogja).

    Pertanyaannya, apakah talak sudah jatuh dan sah, dengan mengigaunya saya seperti itu? Ada rasa was-was dalam diri saya kalau itu sudah jatuh talak. Padahal saya tidak ada niatan untuk mentalak.

    Syukron ustadz. Saya tunggu jawabannya. Barokallohu fiik…

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tidak jatuh. Karenanya lain kali hendaknya berhati2 berucap ketika marah.